
Tanpa ba-bi-bu, Pram langsung naik ke atas kursi dan menyuruh Senja untuk menyalakan musiknya. Semua murid bersorak melihat lelaki tampan itu menari dengan lihai, bahkan Senja dan keempat temannya terlihat bengong, mereka berlima tidak percaya jika Pram begitu lincah dan lihai menari.
Sambil terus bergoyang, Pram bergumam dalam hatinya. Dia sedikit merasa malu dengan apa yang dirinya lakukan, namun karena perintah dari Senja maka apapun itu akan dia lakukan.
Beberapa menit kemudian...., Senja menyuruh Pram berhenti menari. Seharusnya lelaki itu yang merasakan malu, tapi ini malah dirinya sendiri. Leo dan Daffa bertepuk tangan kagum karena Pram begitu berani akan tantangan yang diberikan sahabatnya.
Mereka semua telah selesai makan lalu balik ke kelas. Secarik kertas tersimpan dimeja Senja, gadis itu membukanya tanpa sepengetahuan keempat temannya. Tertulis di sana jika para pembully tersebut menantang Senja untuk datang ke gudang sekolah saat pulang nanti.
Bintang sempat melirik ke arah Senja yang tengah membaca surat. Gadis itu yang sadar sahabatnya memperhatikan langsung menyembunyikan kertas tersebut. “Guys! Pulang sekolah nanti gue ada urusan, jadi kalian balik duluan aja.”
“Urusan apa?” tanya Bintang. Dia curiga akan kertas yang dipegang Senja tadi.
“Kepo lu Bin,” jawabnya.
“Ya udah, tapi ingat hati-hati,” seru Bima.
“Aelah kayak nggak tahu gue aja. Santai Bim gue pasti hati-hati kok,” jawab Senja menepuk pundak Bima.
Pukul 15.00, jam sekolah telah berakhir. Semua murid telah pulang kecuali Senja, dia berdiri di depan kelas lalu melangkahkan kakinya menuju gudang sekolah. Saat sampai di sana, tidak ada siapapun. Dia menghela napasnya kasar, merasa bodoh karena mau saja diajak bertemu dengan para pembully. Seharusnya dia tidak meladeni mereka.
Pintu gudang tiba-tiba saja tertutup. Senja berusaha membukanya namun sayang pintu itu terkunci dari luar. Sedangkan Resti beserta antek-anteknya tertawa bersama, mereka berhasil mengerjai Senja. Setelah itu, para pembully pergi meninggalkan gudang sekolah.
__ADS_1
“Sialan! Gue dijebak,” ujar Senja berdengus kesal. Dia merogoh ponselnya dan ingin memberitahu Bintang, namun sayang baterai ponselnya lemah, hanya tersisa 5% lagi. Hari semakin gelap, Senja sendirian berada di gudang sekolah, tidak ada seorang pun yang dapat dia hubungi.
Pak Arya yang baru pulang kerumah menanyakan keberadaan putrinya kepada Laura. Wanita itu berkata jika Senja belum pulang dari sekolahnya. Mendengar perkataan istrinya, Pak Arya langsung menghubungi Bintang dan ketiga teman Senja lainnya. Jawaban keempat cowok itu sama, mereka tidak pulang bersama dan tidak mengetahui kemana gadis remaja tersebut pergi. Mendapati kabar jika Senja belum pulang kerumah, keempat cowok itu langsung bergegas mengambil jaket dan menyalakan motornya. Mereka akan berkumpul di kedai Biru.
Kedatangan Bintang dkk ke kedai tanpa adanya Senja membuat Biru mengerutkan kening. Biasanya mereka berempat jika datang selalu ditemani gadis kesayangannya. Belum sempat bertanya tentang Senja, Bintang sudah terlebih dahulu menanyakan keberadaan gadis tersebut.
“Senja nggak datang ke sini, emangnya kenapa?”
“Begini Om, kata Papanya Senja belum balik juga kerumah. Tadi sih pas disekolah bilang kalo dia ada urusan, makanya nggak pulang bareng kita.”
“Dia ngasih kabar atau apa gitu ke kalian?” tanya Biru. Sebenarnya dia tidak terlalu panik sebab sudah biasanya gadis itu pergi tanpa berkata apapun.
“Nggak ada Om, tadi kita juga udah coba buat hubungi handphonenya tapi nggak aktif,” jawab Bima.
Lain dimulut lain dihati, Biru juga khawatir akan Senja. Dia berkata seperti itu hanya untuk menenangkan keempat cowok tersebut. Baru saja selesai berbincang handphonenya berdering. Ternyata Pak Arya yang menelpon, dia menebak jika lelaki tua itu pasti akan menanyakan keberadaan putrinya juga.
Tidak berapa lama kemudian Biru menutup telponnya. Pamit kepada yang lain dengan alasan ingin kerumah Ara, padahal dirinya akan mencari keberadaan Senja. Bintang, Bima serta kedua teman lainnya masih khawatir akan teman perempuannya. Mereka sepakat untuk mencari Senja ke sekolah. Karena hari sudah malam, maka suasana di sekolah begitu gelap dan menyeramkan. Keempat orang itu yang malas untuk datang mencoba memberanikan diri masuk demi mencari Senja.
Hanya disinari cahaya dari ponsel, mereka berjalan saling berdampingan. Menelusuri setiap kelas mencari Senja, tanpa mereka sadari, Biru juga ada di sana. Pak Arya menyuruhnya untuk mencari sang putri di sekolah. “Bin, ini kan belum terlalu malam banget ya. Tapi kok suasananya nyeremin,” ungkap Leo.
“Duh Leo! Bisa nggak sih lu itu jangan terlalu nempel?” ujar Bima.
__ADS_1
“Takut ege, gue paling malas kalo datang ke sekolah malam hari. Kalian tahu sendiri kan, katanya setiap sekolahan itu angker.”
“Cemen lu! Sama setan aja takut, tapi preman lu hajar,” ledek Daffa.
“Berisik lu pada,” ucap Bintang. Cowok itu sangat serius mencari keberadaan Senja berbeda dengan ketiga temannya. Mereka malah bercanda dan ketakutan. Karena tidak ada orang satupun di sana, suara napas mereka terdengar dengan jelas. Saat sedang serius, langkah kaki menuju ke arah mereka terdengar. Bima, Leo dan Daffa menelan ludahnya, ketiga orang itu mengira jika yang menuju ke arahnya makhluk halus. Namun Bintang langsung memukul temannya satu persatu. “Mana ada setan jalan kaki. Palingan itu satpam yang lagi keliling, mendingan kita ngumpet aja. Kalo sampai ketahuan bisa-bisa besok kita dihukum lagi datang kesekolah malam hari.”
“Tapi kan Bin, satpam disekolah kita udah pulang jam 19.00. Mereka nggak berani kalo harus jaga terlalu malam, itu gue tahu dari Pak satpamnya sendiri,” seru Leo.
“Nah hayoh, terus itu langkah kaki siapa?” sahut Daffa.
Langkah tersebut semakin mendekat, Leo juga semakin memegang erat lengan Bintang. Mereka serempak membalikkan badannya, tidak berani melihat kedepan dimana suara langkah itu berasal. Leo yang benar-benar ketakutan tiba-tiba saja pundaknya ada yang memegang, kakinya bergetar.
“Lu semua jangan nakutin gue dong, Bin, Bim, Daf.”
“Apaan sih lu Leo?”
“Tangan lu turunin, nggak nyaman tahu.”
“Lah? Kita daritadi pegangan ya, nggak ada yang megang pundak lu. Lihat sendiri deh nih tangan kita,” jawab Daffa.
“Terus...terus yang pegang pundak gue siapa dong? Lari yuk, gue pen kencing serius!”
__ADS_1
Di kediaman Pak Arya, Laura tengah menenangkan suaminya. Laki-laki tua itu tampak gelisah karena belum mendapatkan kabar dari Biru. Dia juga sudah beberapa kali menelpon sang putri. Dalam hati Laura dirinya begitu senang jika gadis nakal yang berani padanya itu hilang, dia bahkan berdoa agar Senja tidak ditemukan.