
Selesai sarapan, Laura segera berpamitan pada suami dan ibunya untuk mengantarkan Senja ke sekolah. Sepanjang perjalanan putrinya itu terus bertanya, dia yang berada di samping menghela napas mendengarkan semua perkataan sang anak. Laura senang jika Senja tidak benci lagi kepadanya, namun dia lebih senang kalo gadis itu kembali seperti semula, menjadi anak yang pemberani, tidak banyak tanya dan lainnya.
Menurut Laura sikap Senja yang sekarang berbanding terbalik dengan sikapnya yang dulu. Beberapa menit kemudian mereka pun sampai. Senja turun, tak lupa mencium punggung tangan Mamanya dan menyuruh wanita itu untuk berhati-hati saat pulang. Beberapa murid yang baru melihat Senja lagi menyapa ramah serta menanyakan keadaan dirinya. Dia hanya bisa tersenyum karena tidak mengenal orang-orang tersebut.
Saat akan melanjutkan langkahnya, seorang cowok menyenggol dan tak sengaja membuat Senja terjatuh. Dia mengulurkan tangan, berniat membantu sekaligus meminta maaf. Senja mengangkat wajahnya, memperhatikan sosok cowok itu dengan seksama. Lalu bergumam dalam hati bahwa dirinya seperti mengenali cowok tersebut.
Tengah serius bertatapan, Bima, Leo dan Seon datang membuyarkan keduanya.
“Ayo masuk Sen, si Bintang udah nunggu di kelas.”
“Eh iya.”
Mereka berempat berjalan bersama meninggalkan Pram yang masih berdiri sembari melihat kepergian sang mantan. Dia merasa senang jika gadis itu yang merupakan kakak tirinya sudah baik-baik saja. Sesampainya dikelas, nampak Bintang tengah bersama seorang perempuan. Senja menyipitkan mata lalu bertanya kepada Bima siapa orang tersebut.
Dari belakang seseorang menjawab pertanyaannya. Keempatnya kompak berbalik badan. Ternyata itu para siswa yang satu kelas dengan Cantika, mereka menjawab jika perempuan yang bersama Bintang itu adalah kekasihnya.
Senja melirik pada Bima namun sahabatnya itu malah mengangkat kedua bahu. Dia sendiri tidak percaya jika Bintang telah menerima cinta dari Cantika. Untuk mengetahui apakah perkataan siswa itu benar atau tidaknya, mereka berempat segera masuk dan menyimpan tas di tempat masing-masing lalu menghampiri meja Bintang.
Betapa terkejutnya mereka setelah mendengar langsung dari sang sahabat. Senja tertegun, dia salah mengira bahwa Bintang bukanlah kekasihnya. Sikap baik dan perhatian yang selama ini cowok itu berikan hanyalah tanda peduli sesama sahabat. Daffa dan Seon saling pandang, mereka berdua tahu perubahan sikap Senja.
“Yang satu udah putus eh satunya lagi malah pacaran,” seru Bima.
“Siapa yang putus? Kamu Daf?” tanya Senja.
“Lu lah, si Daffa mana ada putus. Pacar aja kagak punya,” jawab Bima. “Mungkin sebentar lagi gue nyusul Bintang, punya pacar. Leo kasih gue restu dong,” sambungnya.
__ADS_1
“Emang aku pernah punya pacar?” tanyanya lagi. Leo mengangguk lalu menunjukkan jarinya ke arah Pram yang tengah berdiri di ambang pintu. Senja menatap mantannya itu lama, lalu pandangannya kembali teralih pada Bintang. Entah mengapa gadis itu merasakan hal yang berbeda dengan hatinya saat melihat tangan Bintang digenggam oleh Cantika.
Bel masuk berbunyi. Para murid sudah mulai ber-masukkan ke dalam kelas. Tak lama Paris sebagai wali kelas datang, dia mengucapkan selamat masuk kembali kepada Senja. Setelahnya memanggil Bima dan Leo untuk mencatat yang telah dia perintahkan kemarin.
“Baiklah anak-anak, buka buku halaman 153. Baca terlebih dahulu setelah itu kerjakan soal yang ada di halaman berikutnya. Bapak akan menyusul Bima dan Leo dulu, memastikan pekerjaan mereka benar.”
“Baik Pak,” jawab para murid serentak. Mereka semua pun mulai membuka bukunya masing-masing.
“Daffa, ini jawabannya apa ya? Kamu udah belum?” tanya Senja. Sang sahabat mengernyit heran, padahal soal yang ada dibuku begitu mudah namun mengapa Senja bertanya padanya.
“Ternyata amnesia bisa membuat orang blo'on.”
“Maksudnya?”
Daffa memukul pelan kepala Senja dengan buku. Dia tidak habis pikir akan perubahan yang terjadi pada sahabat perempuannya itu.
Senja memanyunkan bibirnya ke depan. Kesal kepada Daffa karena tidak mau memberi tahu jawabannya. Bintang menyodorkan buku miliknya, namun dikembalikan lagi oleh perempuan didepannya itu.
“Nggak usah Bin, aku bisa kok.”
Dua jam berlalu, Bima, Leo kembali bersama Paris. Entah apa yang mereka kerjakan sampai terlihat lelah. Pergantian jam pun tiba, sebelum meninggalkan kelas sang guru memberitahu anak muridnya untuk tidak langsung pulang. Ide yang Senja berikan padanya soal mengecat dan menghias kelas akan dilakukan sore nanti. Dia sudah membeli semua bahan serta peralatannya.
“Jangan ada yang ke luar. Tunggu guru selanjutnya datang.”
“Iya Pak.”
__ADS_1
“Heh! Lu semua tahu nggak tentang gosip kalo Pak Paris kencan sama itu tuh, tahu lah pasti,” ucapnya. Bima mengambil kursi dan duduk ditengah-tengah murid yang lain. Dia mencondongkan tubuh lalu mulai berbicara lagi dengan nada pelan.
“Katanya kemarin ada salah satu murid yang lihat Pak Paris berduaan di perpustakaan, kira-kira menurut lu semua dia itu beneran pacaran apa cuman deket doang?”
Leo, Daffa beserta murid lainnya mengangguk bersamaan. Mata mereka semua melihat ke depan dengan raut wajah tegang. Bima yang masih serius berbicara tidak sadar jika sang guru sudah datang ke kelas. Ternyata anggukan tadi bukan karena cerita dari Bima melainkan perintah sang guru untuk tidak mengatakan jika ada dirinya.
Si guru mengambil kursi, menaruhnya disamping Bima. “Terus ceritanya gimana lagi si Pak Paris itu sama guru lain?”
“Gue nggak tahu sih yang pasti mereka berdua kayaknya punya hubungan spesss....siall!” jawab Bima sembari melihat ke arah orang yang bertanya padanya. Cowok itu terkekeh saat tahu ada guru di samping. Cepat-cepat mengambil kursi dan menaruhnya di tempat semula.
“Sini lanjut Bim, ibu mau denger kelanjutan ceritanya.”
“Udah bersambung Bu, besok lanjut lagi.”
Semua yang berada dikelas tertawa terbahak. Sedangkan Bima menutup wajahnya dengan buku. “Bu! Si Bima mukanya merah merona, aduh...”
“Kampret lu Leo,” seru Bima sambil menjitak kepala sahabatnya.
“Nanti kalo mau gosip lagi panggil ibu ya Bim, pengen tahu juga cerita tentang Pak Paris sama guru itu,” ucap sang guru menggoda anak muridnya. Beberapa jam kemudian bel istirahat berbunyi. Leo dan Seon masih terus mengejek Bima, namun keduanya pun penasaran akan kelanjutan ceritanya.
Saat akan pergi ke kantin, Bintang dijemput oleh Cantika. Cowok itu pun izin kepada teman-temannya, dia tidak bisa ikut dengan mereka. Senja yang awalnya tersenyum senang kini berubah. Lagi-lagi dia menelan ludah melihat Bintang berjalan sembari bergandengan dengan Cantika. Tak hanya para sahabatnya saja yang terkejut akan hubungan mereka berdua, tetapi seluruh murid juga sama.
“Pacar kita semua sekarang udah ada pawangnya,” seru salah satu siswi.
“Padahal gue berharap Bintang nggak ada jodoh di sekolah ini.”
__ADS_1
“Cantika pake pelet apa ya? Kok bisa sih Bintang jadian sama dia,” jawab yang lain.
“Tapi gue nggak percaya sih kalo si Bintang jatuh cinta beneran sama tuh cewek. Kita semua tahu kalo tuh cowok sukanya cuman sama Senja.”