Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 84


__ADS_3

Hari pun berganti malam. Senja yang memang sendirian dirumah pun didatangi oleh Biru dan Silla. Omnya tersebut ingin memastikan keadaan sang ponakan, mereka berdua akan menginap dirumah Pak Arya. Pukul 19.00, Bintang serta yang lain juga datang untuk bermain. Senja menyuruh semuanya masuk kedalam, saat itu dirinya bersama Silla tengah masak.


“Anterin gue ke toilet yuk Bin,” ucap Leo. Sang sahabat mengangguk, dia mengantarkan Leo ke kamar mandi lalu melihat pacarnya yang asik memotong sayur. Si cowok pun berdiri didekat lemari sambil memperhatikan Senja, Silla yang ada di sana hanya tersenyum lalu izin pergi kedepan menghampiri suaminya.


Bintang berjalan mendekat, mengambil pisau yang kekasihnya pegang. “Udah cantik, pinter, jago masak, apalagi coba yang kurang. Ah iya, calonnya.”


“Nggak ada yang kurang kok, calonnya udah ada disamping aku,” seru Senja. Bintang memalingkan wajahnya malu, dia menahan senyum. Leo yang baru selesai dari kamar mandi pun melongo melihat kemesraan dua sahabatnya. Cowok itu memegang kedua pinggang sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Leo ikut mendekat dia berdiri ditengah-tengah. Melihat kanan-kiri sambil memberikan senyum. “Haruskah gue kasih soundtrack lagu India?” ujarnya.


Bole chudiyan, bole kangna


Haai main ho gayi teri saajna


Tere bin jiyo naiyo lag da main te margaiya


(Le jaa le jaa, dil le jaa le jaa


Le jaa le jaa, soniye le jaa le jaa)


(Le jaa le jaa, dil le jaa le jaa


Le jaa le jaa, soniye le jaa le jaa)


Aah aah aah aah, aah aah aah


Leo berputar, joget didepan dua temannya dengan terus bernyanyi. Dia melilitkan gorden ke leher lalu meloncat-loncat dan menabrak Silla yang membawa gelas kotor bekas kopi sang suami dan teman-teman Senja. Suara pecahan itu membuat Biru datang melihat, Bintang menatap Leo tajam sedangkan orang yang ditatap malah cengengesan sambil menggaruk kepala.


“Hayoh Leo kena marah Om Biru, petakilan sih,” ledek Senja.


“Maafin ya Tante Silla, Om Biru. Ini biar aku aja deh yang beresin.”

__ADS_1


“Nggak usah biar Tante aja, kamu mending kumpul lagi sama yang lain. ini bahaya nanti kamu kena pecahannya,” jawab Silla dengan senyuman.


“Nggak papa Tante, ini kan salah aku. Hehe sekalian mau bantu-bantu Senja di sini biar nggak berduaan sama Bintang ntar ada orang ketiga bahaya.”


“Setan? Lu berarti,” seru Senja.


Silla pun membolehkan Leo membersihkan gelas yang pecah, Biru kembali ke depan menemani anak-anak lain. Sambil terus memasak dua remaja itu diberikan banyak pertanyaan, mereka hanya tersenyum dan malu-malu. Sedangkan Leo berdoa dengan suara sedikit keras berharap jika ada seorang perempuan yang menyukai dirinya. “Ya Allah, kapan jodoh saya terlihat. Pengen juga kayak mereka berdua. Yang kurus nggak papa asal cantik nanti kan saya kasih makan.”


“Lu mau cewek? Nanti gue kenalin deh sama seseorang,” seru Senja.


“Nggak percaya lu mau ngasih gue cewek. Orang tiap hari main sama anak-anak cowok, mana ada lu punya temen perempuan.”


“Yeh kagak percayaan. Tanya sama Om Biru dia juga tahu. Ada cewek di depan sana cantik banget, gue kenal karena sering lihat.”


“Serius? Okay besok pas berangkat sekolah lu antar gue lihat tuh cewek.”


Senja tersenyum, gadis itu ingin tertawa namun ditahan. Bintang bertanya dan dijawab oleh kekasihnya jika cewek yang dia maksud adalah orang gila. Esok hari dirinya akan mengajak Leo melihat perempuan yang dimaksud. Beberapa menit kemudian masakan telah selesai, mereka berempat membawa semua makanan ke meja.


“Malam Chubby. Udah makan?”


“Ini lagi makan sih, ngapain ke sini?”


“Main. Emangnya nggak boleh ya? Oh iya kamu lagi makan ya udah lanjut dulu sana aku tunggu di sini.”


Senja mengangguk kembali masuk kedalam, dia duduk ditempat lalu melihat ke arah Bintang. Biru bertanya siapa tamu yang datang, gadis itu pun menjawab jika temannya. “Kayaknya gue harus bilang ke Theo. Lagipula udah nggak ada perasaan lagi sama dia, sekarang ada Bintang yang gue sayang, kehadiran dia di hidup gue udah cukup berarti.”


“Suruh masuk dan ajak kedalam ikut makan,” ujar Silla.


“Eh nggak usah Tan, dia tadi bilang mau nunggu diluar aja.”


“Temen lu yang mana Sen, bukannya di sini udah ada semua? Ya kecuali si Daffa sih, tapi kan dia nggak bakal datang,” seru Bima.

__ADS_1


“Anu, eum... bukan Daffa sih tapi Theo. Murid baru disekolah,” jawabnya. Seon, Pram, Bima dan Leo langsung melirik ke Bintang. Raut wajah cowok tersebut pun sedikit berubah, apalagi saat melihat pacarnya menaruh setangkai bunga mawar dimeja. Senja yang sadar Bintang cemburu langsung menggenggam tangannya.


Segera dia menyelesaikan makannya. Setelah itu kembali kedepan menghampiri Theo untuk memberitahu cowok itu jika dia sudah mempunyai Bintang. Meminta maaf karena tidak bisa menepati janjinya dulu. Saat Theo memeluk Senja, Bintang telah berdiri dibelakang kekasihnya, dia tertegun lalu membalikan badan dan masuk lagi.


“Percaya sama Senja, dia nggak akan berpaling ke cowok lain. Kamu harus menyimpan rasa kepercayaan terhadap pasangan, jangan berpikiran negatif,” ujar Biru dari depan. Dia memegang sebelah pundak Bintang.


“Eh Om, iya Bintang percaya kok. Cuman lihat dia dipeluk cowok lain agak gimana gitu.”


“Paham-paham. Ya udah sana samperin dan bilang ke Theo kalo kamu adalah pacarnya Senja.”


Belum sempat menjawab Biru terlebih dulu memanggil. Theo yang melihat langsung menghampiri, dia memeluknya dan berkata kangen pada pria yang berusia 35 tahun tersebut. “Gimana Om kabarnya? Kok nggak ada perubahan ya, masih kelihatan muda kayak dulu.”


“Jelas dong.”


“Rumah dukunnya dimana? Aku juga mau pakai pelet biar awet muda.”


“Hushh! Kalo ngomong suka sembarangan. Ini asli nggak pakai pelet atau operasi plastik.” Theo tertawa mendengar ucapan Biru, keduanya terlihat sangat akrab. Tak lama datanglah Seon, dia berlari karena dikejar oleh Bima dan Leo. Cowok itu mengadu kepada Omnya karena dua teman dia telah menggoda Silla terus menerus.


Senja menarik lengan Bintang menjauh dari Theo, Biru dan ketiga temannya. “Aku udah ngomong ke Theo kalo kita pacaran. Jadi nggak usah takut ataupun cemburu ya, pangeran aku cuman kamu doang kok.”


“Siapa juga yang cemburu, kepedean banget.”


“Oh nggak mau ngaku. Ya udah bilang lagi aja ke Theo kalo tadi itu aku salah ngomong.”


“Jangan dong, iya-iya aku cemburu. Terus respon dia gimana?”


“Katanya sih nggak papa aku pacaran sama kamu. Selagi jalur kuning belum melengkung dia akan terus ngejar.”


“Nggak akan aku biarin kamu jatuh cinta ke dia.”


Senja tersenyum melihat wajah Bintang yang kesal namun terlihat lucu. Dia mencubit perutnya lalu memeluk dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2