Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 48


__ADS_3

Lea merupakan anak perempuan yang keras kepala, tidak peduli akan ucapan orang-orang. Dia akan melakukan apa yang dirinya inginkan, melihat Daffa tersenyum tipis kepadanya, Lea langsung menegur dengan wajah dingin. Setelahnya gadis itu pergi meninggalkan dua cowok yang masih duduk dipinggir jalan.


Kehadiran Lea membuat Daffa bertanya-tanya, sedangkan Leo hanya membalasnya dengan senyuman. Tidak biasanya sang sahabat bertanya masalah perempuan.


Cukup lama kedua orang itu berbincang dipinggir jalan. Telpon dari Bima menghentikan obrolan mereka, Daffa izin pamit untuk melanjutkan perjalannya menuju rumah sakit karena kedua teman lainnya sudah menunggu.


Di sisi lain, Biru sudah memantapkan diri melamar Silla. Ara dengan Galang sangat mendukung, mereka berdua bahkan meminta sang kakak untuk segera menikahi gadis tersebut. Sebelum pergi ke rumah Silla, Biru terlebih dahulu mampir ke rumah Arka dan Nadia. Dia meminta bantuan agar lamarannya diterima.


Mengetahui jika sahabatnya itu ingin melamar seorang perempuan, mereka tertawa. Sebab Biru sama sekali tidak tahu cara mengungkapkan perasaannya. Di satu mereka juga turut bahagia akan berita itu.


“Lihat google sana cara biar nggak gugup bertemu calon mertua.”


“Ah elah lu Ka, beneran deh gue bingung nanti harus ngomong apa sama ibunya Silla. Gugup loh gue,” ungkapnya.


“Abisnya lu, masa gitu doang nggak bisa. Tinggal bilang saya mau melamar anak Tante. Lagian lu itu cowok pemberani, masa ngelamar cewek aja ciut.”


Nadya tertawa melihat sang suami dengan sahabat berdebat. Kini wanita itu terlihat lebih anggun, di sisinya ada Mama Arka. Nadya selalu diperlakukan baik karena tengah mengandung, mereka tidak ingin terjadi sesuatu dengan sang ibu juga calon anaknya. Arka membawa Biru ke taman depan rumahnya mereka berdua mengobrol serius. Entah apa yang dibicarakan namun raut wajah keduanya terlihat sedih.


Silla yang sedang bekerja di kedai Biru tiba-tiba mendapatkan sebuah paket dari seseorang. Padahal dirinya sama sekali tidak memesan barang online, tapi dalam paket tersebut tertera nama Biru yang menuliskan jika paket itu untuk Silla. Awalnya wanita tersebut tersenyum, akan tetapi setelah dibuka betapa kagetnya dia mengetahui bahwa isi dari paketnya adalah sekantong belatung.


Karena kekagetannya itu dia melemparkan kedepan, para pelanggan yang menunggu cakenya siap berteriak melihat banyaknya belatung yang berhamburan. Silla menelan ludahnya, dia cepat-cepat pergi kebelakang mencuci tangan. Setelahnya menelpon Biru memberitahu tentang paket tersebut.

__ADS_1


Dirumah sakit, Bintang, Bima dan Daffa masuk ke ruangan Pak Arya, dengan sopan mereka menyapa dan menanyakan keadaannya. Di sana juga masih ada Laura, wanita itu terus menjaga suaminya walau sudah ada Senja sang putri dia rela tidak tidur. Melihat mata Laura yang hitam karena begadang ketiga teman Senja terkejut. Mereka bersamaan mengucapkan istighfar.


“Dia bukan setan, ngapain lu bertiga istighfar?” ucap Senja menahan tawa. Dalam hatinya dia merasa kasian kepada Laura, Senja sudah memeriksa cctv yang telah dirinya pasang. Ternyata yang membuat Papanya jatuh pingsan adalah Daniel sesuai dengan perkataan sang Mama. Namun tetap saja jika Laura lah penyebab utamanya. “Oh iya si Leo kemana tumben nggak ikut?” tanyanya.


“Sorry katanya dia nggak bisa datang karena ada masalah keluarga. Asal lu tahu Sen, adiknya si Leo cakep bener,” jawab Daffa tersenyum.


“Astagfirullah Daf, ingat adiknya Leo masih bocah.”


“Rossa? Maksud gue adeknya yang lain, ish cakep bener tapia kayaknya tuh cewek es deh.”


Senja, Bintang dan Bima mengernyitkan dahi bingung karena setahu mereka adik Leo hanyalah Rossa seorang. Itu pun usianya baru 10 tahun. Jika bukan gadis kecil itu yang dimaksud Daffa maka siapa?


“Terserah lu deh Daf, orang si Leo cuman punya adek bocil. Namanya juga Rossa sejak kapan jadi Lea,” seru Bima. Obrolan keempatnya terhenti setelah Pak Arya memanggil putrinya. Dia ingin segera pulang untuk mengurus perusahaan yang hampir bangkrut. Namun hal itu dilarang keras oleh anaknya, Senja tidak mau terjadi sesuatu dengan sang Papa. Apalagi kondisinya belum membaik dan harus banyak istirahat.


Senja juga tidak mungkin menyuruh Laura mengurus perusahaan Papanya, dia sudah tak percaya lagi pada wanita tersebut. Gara-gara dia Papanya terbaring di rumah sakit, terkena serangan jantung. Meminta bantuan kepada Biru juga tidak mungkin, sudah pasti Omnya sangat sibuk dengan usahanya sendiri. “Papa tenang aja, masalah perusahaan biar nanti Senja yang urus. Oh iya bukannya Papa punya sekertaris yang Papa percaya kan? Minta bantuan ke dia aja, suruh handle semua pekerjaan.”


“Dia sudah Papa pecat,” jawab Pak Arya.


“Kenapa? Dia udah bekerja dengan Papa sejak lama bukan? Apa dia melakukan sesuatu sampai Papa tega memecatnya?” tanya Senja heran.


Sang Papa tidak menjawab, lalu Bintang menyarankan agar Mamanya saja yang membantu perusahaan Pak Arya agar bisa bangkit kembali. Masalah dana bisa mereka bicarakan, Bu Ana pasti akan menolong. Awalnya Pak Arya menolak karena merasa tidak enak, selain kurang dekat dia juga tidak mungkin merepotkan orang yang tidak dirinya kenal. “Om tenang aja, Mama saya kebetulan selalu membantu teman-temannya yang mengalami kesusahan pada perusahaan mereka. Dia akan menjadi investor, lagipula Senja sudah Mama saya anggap sebagai anaknya. Jika Om tidak sembuh dan terus memikirkan masalah perusahaan maka putri Om juga akan merasa sedih.”

__ADS_1


“Terimakasih nak Bintang, mohon maaf jika saya merepotkan kamu dan Bu Ana.”


“Nggak Papa kok Om, saya senang membantu.”


“Mendekatkan diri dengan calon mertua ya?” ucap Daffa berbisik.


Kembali ke kedai, Biru heran mengapa orang-orang berdiri. Para karyawannya pun hanya melihat ke suatu tempat, di mana letak belatung itu berada. Lalu dirinya menyuruh semua tenang dan meminta para karyawan kembali bekerja melayani pelanggan. Sedangkan Silla dibawa olehnya pergi menjauh, sesampainya di depan mobil Biru menyuruh masuk kedalam.


“Kita mau kemana?” tanya Silla bingung. Niatnya setelah kedatangan Biru dia akan marah, namun melihat senyuman manis yang terpancar pada wajah lelaki tampan tersebut membuatnya lupa.


“Kerumah kamu,” jawabnya sembari pokus menyetir.


“Untuk apa?”


“Untuk melamar kamu!”


Perkataan Biru barusan membuat Silla terdiam. Dia menelan ludahnya dan bertanya pada dirinya sendiri apakah dia tidak salah dengar dengan apa yang Biru katakan tadi. Silla menyuruh Biru berhenti, dia menatap lelaki tersebut dengan serius. Lalu memintanya untuk kembali mengucapkan perkataan yang Biru lontarkan. Bukannya menjawab lelaki di sampingnya malah mendekat, tinggal beberapa senti lagi wajah keduanya menempel, Silla sudah memejamkan mata namun Biru hanya meniup wajah serta mencubit hidungnya.


“Kenapa? Kamu berharap yang lebih?” tanya Biru menyadarkan wanita yang berada di sampingnya. Silla membuka mata lalu memasang wajah cemberut.


“Apasih.”

__ADS_1


__ADS_2