
Ketiganya melanjutkan perjalanan pulang. Tidak ada lagi yang bersuara semuanya diam pokus melihat ke depan. Suasana di luar begitu gelap, apalagi saat akan menanjak menuju villa. Setelah sampai mereka langsung berpamitan menuju kamarnya masing-masing. Bintang merebahkan tubuhnya tak lama mata lelaki tersebut mulai terpejam.
Besok paginya, Ara mengajak Galang beserta Shena untuk berkemas. Padahal liburan mereka tinggal satu hari lagi, namun wanita itu ingin segera pulang. Mau tak mau sang suami menurut, mengikuti apa keinginan istrinya.
“Loh Ra, mau pulang sekarang?” tanya Nadia yang baru saja keluar dari kamar. Ara mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan sahabatnya.
“Kalo gitu kita bareng aja, gue juga mau pulang sama Arka.”
Nadia segera kembali ke kamarnya, dia membangunkan Arka yang masih terlelap. Semalam kedua orangtuanya meminta dia untuk segera pulang karena akan ada sebuah kejutan dari para keluarga.
“Ara kamu mau kemana?” tanya Echa. Wanita itu tengah membantu Meli mempersiapkan sarapan pagi.
“Gue mau pulang sekarang Ca. Nanti bilangin ke kak Biru kalo gue sama Nadia duluan.”
“Nadia juga? Kenapa?” tanyanya lagi. Ara beralasan jika Galang memiliki banyak pekerjaan, jadi mereka memutuskan untuk pulang lebih dulu.
Echa mengangguk, menyuruh Ara serta Nadia berhati-hati saat perjalanan pulang. Beberapa saat kemudian Arka dan istrinya keluar, mereka berlima pun langsung pergi tanpa menunggu yang lain bangun untuk berpamitan. Setelah mobil meninggalkan pekarangan villa, Silla bersama dengan Lea menghampiri Echa.
“Sepi banget pada belum bangun ya yang lain?” tanya Silla. Matanya melihat ke meja makan yang sudah terisi banyak hidangan.
“Senja, Bintang sama teman-temannya kayaknya masih tidur. Coba tolong bangunin mereka ya nak Lea,” ujar Echa lembut.
Lea mengangguk lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Senja. Beberapa kali dirinya mengetuk kamar Senja namun tidak ada jawaban. Pintu kamar tidak terkunci, Lea pun masuk dan melihat jika sahabat kakaknya tersebut masih tertidur, dengan pelan dia membangunkan Senja dan menyuruhnya sarapan pagi. Senja menggeliat sembari mengigau. “Kak, bangun. Tante Echa sama yang lain udah nunggu dibawah buat sarapan.”
“Hm..., duluan aja. Dingin ini, gue males,” jawabnya dengan mata masih terpejam.
“Ya udah deh, nanti aku bilangin ke Tante Echa.”
__ADS_1
Lea berjalan keluar, sebelum menutup pintu dia menatap Senja terlebih dahulu. Saat membangunkannya tadi, Lea melihat dengan sangat dekat wajah gadis tersebut. Dalam hati berkata pantas saja jika Bintang tidak tergoda atau tertarik dengan wanita lain, sebab Senja begitu cantik saat dilihat lebih dekat. Sebagai seorang perempuan Lea merasa insecure, dia sendiri mengakui kecantikan sahabat kakaknya itu.
Kini dia berada didepan pintu kamar Bintang. Baru saja akan mengetuk pintu tersebut sudah terbuka. Lea menelan ludahnya saat melihat ketampanan Bintang di pagi hari. Seketika dirinya pun menjadi salah tingkah apalagi saat si cowok menyapanya dengan suara lembut dan ramah.
“Ada apa?” tanya Bintang.
“Eh anu, itu tadi apa ya. Oh iya Tante Echa nyuruh kalian turun buat sarapan.”
“Oh, okay!”
Selesai berbincang sedikit Lea pamit kembali ke bawah. Saat menuruni anak tangga dia terus tersenyum. Karena terlalu kesenangan dia hampir saja terjatuh, untungnya ada Daffa di belakang dan langsung menarik lengan gadis tersebut.
“Hati-hati,” ucap Daffa dengan wajah datar. Sikapnya begitu dingin membuat Lea mengerutkan kening.
“Makasih kak.”
“Oh iya Bi, tadi Ara sama Nadia pamit pulang duluan. Katanya sih ada urusan penting jadi nggak sempat pamitan sama kita,” ucap Echa di sela-sela makan.
“Nggak papa.”
Echa melirik ke arah sang suami, Bara begitu pokus melihat ponselnya. Bahkan saat sang istri menegur pun dia tidak merespon, karena penasaran Echa pun mengintip sedikit apa yang membuat suaminya tidak menghiraukan perkataan dirinya.
“Maksudnya apa ini?” tanyanya membuat semua orang yang tengah makan melirik ke arahnya.
“Kenapa Ca,” tanya Biru heran.
“Nggak kok Bi,” jawabnya menghela napas dan melirik sang suami tajam.
__ADS_1
Echa segera menyelesaikan makannya, setelah itu mengajak Bara ke kemar untuk meminta penjelasan tentang poto yang dia lihat barusan. Di saat yang lain sedang menjalani aktivitasnya masing-masing, Senja baru saja bangun dari mimpi indahnya. Dia menyapa semua orang sembari tersenyum lebar. Namun setelah dia tak sengaja melihat Pram senyuman itu seketika pudar. Dia langsung menghampiri Biru yang sedang duduk santai disofa bersama Silla.
“Om tahu nggak?” ucapnya.
“Apaan? Kamu belum mandi ya? Bau ih.”
Senja terkekeh, dia bangun tidur langsung turun ke bawah. Dirinya merasa malas menginjakkan kaki ke kamar mandi dengan alasan dingin. Biru menjitak kepalanya pelan sedangkan Silla merapikan rambutnya. Gadis yang berusia 17 tahun itu terlihat seperti anak kecil, dia begitu manja kepada Omnya. Bima dan Leo yang melihat sikap sahabatnya itu langsung menyindir.
“Inget umur, udah gede masih kayak bocah.”
Senja menyunggingkan bibirnya melihat ke arah kedua teman cowoknya. “Titisan Fir'aun dilarang ngomong!”
“Heh lu titisan mak lampir!”
“Apa lu! Sini berantem,” ucap Senja.
“Sini.”
Senja bangkit dari duduknya dan siap menghampiri Bima. Namun belum juga melangkahkan kaki kedua temannya itu sudah lari menjauh. Lea, Seon dan Silla tertawa melihat mereka berdua, yang belum apa-apa sudah kabur duluan padahal mereka yang menantang. Bintang bersama Daffa sama-sama menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua orang tersebut.
Di dalam kamar Echa. Bara mencoba menjelaskan pada istrinya jika dia tidak tahu menahu akan poto tersebut. Namun sang istri tidak mau mendengarkan, Bara bingung mengapa ada poto dia bersama dengan Sasa yang tidur bersama di sebuah hotel. Selain itu ada poto lain juga, dimana Sasa duduk di pangkuannya saat berada di kantor.
“Beneran Ca, aku sama dia nggak ada hubungan apa-apa. Lagipula sejak kapan aku pergi keluar sama dia, sehabis kerja aku langsung pulang kerumah. Nggak pernah mampir ke sana ke sini, apalagi ke hotel.”
“Tapi itu? Coba jelasin, kan aku udah bilang kamu pindahin aja Sasa ke perusahaan lain. Aku nggak suka sama dia.”
“Iya iya nanti, tapi tolong kamu percaya dulu. Aku nggk mungkin selingkuh,” ucapnya. Bara mengelus punggung sang istri dengan lembut, meminta Echa agar percaya padanya bahwa dia tidak bermain dibelakangnya bersama Sasa. Walau wanita itu selalu mencoba menggodanya dengan berpakaian seksi serta lainnya, Bara tetap setia kepada sang istri.
__ADS_1