
Tidak terasa oleh mereka semua bel masuk pun kembali berbunyi. Seon yang sudah mendaftar tidak perlu lagi datang ke ruang guru, dia hanya tinggal berkenalan dengan teman sekelasnya. Tanpa di duga ternyata cowok itu masuk ke dalam kelasnya Senja. Beberapa jam berlalu, para murid tengah bersiap pulang, mereka memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
Dikediaman keluarga Laura, dia menangis melihat ibunya yang terbaring lemah. Padahal beberapa hari lalu saat dirinya berkunjung sang ibu masih terlihat sehat, segar bugar. Kondisinya memburuk akibat Daniel dan Sea, gadis itu berubah drastis setelah bebas berhubungan dengan sang kekasih. Tidak perlu repot-repot lagi sembunyi dari kakaknya, Laura.
Sifatnya yang perhatian pada sang ibu seketika berbeda, entah apa bisikan dari Daniel sampai membuat seorang anak yang tadinya penurut kini menjadi pembangkang. Sang ibu terbaring seperti itu setelah melihat dengan matanya sendiri jika Sea bersama Daniel tengah berhubungan badan. Tak hanya itu, anak perempuannya tersebut sampai mendorong karena kepergok. Bukannya menolong saat sang ibu terjatuh, Sea malah pergi di ajak oleh Daniel.
Mengetahui semuanya Laura sontak saja menampar pipi adiknya didepan keluarga yang lain. Kekesalan masih ada, raut wajah Laura pun terlihat sangat marah, kini hidupnya ingin tenang dari berbagai masalah dan berubah dari sifat jeleknya. Namun malah adiknya sendiri lah yang mengikuti jejak buruknya itu. Padahal sebelum dibawa kerumah Pak Arya Sea merupakan gadis yang penurut, baik dan sangat menyayangi ibunya.
“Ya udah, kalo kakak mau rawat ibu silakan. Aku akan pergi bersama Daniel, tapi ingat harta warisan ibu seluruhnya akan jatuh ke tanganku.”
“Sea! Jaga mulut kamu, ibu belum mati kenapa kamu udah ngomong soal warisan.”
“Nggak usah munafik kak, aku tahu kok kalo kakak juga ngincar harta ibu. Selama ini kakak nunggu ibu mati kan? Aku udah tahu sejak lama,” ucapnya.
Sang ibu menghentikan perdebatan kedua putrinya. Dia benar-benar tidak menyangka jika dua anak yang telah dirinya rawat sejak kecil sampai sekarang memiliki sifat yang kurang ajar. Namun sang ibu lebih marah kepada Sea, karena dia tahu jika Laura sudah mulai berubah setelah perselingkuhannya diketahui. Fakta selanjutnya mulai terkuak, ternyata Laura adalah anak angkatnya, hal itu lah yang membuat Sea berkata demikian, harta sang ibu akan diwariskan kepada dirinya semua.
Suasana di rumah seketika hening. Laura pun hanya terdiam mengetahui bahwa dia bukan anak kandung ibunya. Sedangkan Sea tersenyum, dia sudah siap dengan kopernya untuk meninggalkan rumah. Sebelum pergi Sea meminta Laura menjaga ibunya.
__ADS_1
“Ingat ya kak, semua harta ibu itu semuanya milik aku. Kamu nggak berhak mendapatkannya.”
“Aku tidak minat,” ucap Laura dengan wajah datar. Sea menyunggingkan bibirnya.
“Ah iya aku lupa. Untuk apa kamu menginginkan harta ibu, bukannya kamu sudah memiliki suami tua yang nggak lama lagi mati. Lalu semua harta itu akan jatuh padamu serta anak nakalnya itu.”
Setelah kepergian Sea bersama Daniel, sang ibu menangis meminta maaf kepada Laura. Tidak tega melihat perempuan di depannya menangis, sang anak pun memeluknya. Dia juga berniat mengajak ibunya untuk tinggal bersama dirumah Pak Arya, supaya Laura bisa memantau keadaan sang ibu setiap hari. Tidak mungkin juga kerabatnya yang lain mau merawat, mereka semua sibuk akan keluarganya masing-masing.
Di tempat lain...., Echa sedang menyapu halaman rumahnya di temani oleh Ara. Adik Biru tersebut sengaja bermain karena Echa yang selalu berdiam dirumah. Tidak lama Galang dengan Bara datang, kedua lelaki itu tersenyum melihat tiga orang perempuan yang tertawa bersama.
“Enak ya bro kalo ada anak, lu pasti di rumah nggak pernah sepi. Selalu rame karena Shena.”
“Gue udah berusaha sama Echa tapi sampai sekarang masih belum juga diberi anak sama Tuhan,” ucap Bara. Matanya terus pokus ke depan memperhatikan sang istri yang tertawa senang bermain dengan Shena.
Galang menyemangati Bara, dia berkata kepada temannya itu untuk tidak menyerah, selalu berdoa kepada Tuhan maka suatu saat mereka akan diberikan seorang bayi dalam keluarganya. Contohnya adalah Nadia dan Arka, mereka berdua pun sama seperti Echa. Namun sahabat Biru tersebut selalu sabar menunggu sampai akhirnya apa yang mereka harapkan hadir setelah sekian lama.
Melihat suaminya sudah datang, Ara berpamitan kepada Echa. Pada malam harinya, Senja yang baru saja pulang terkejut dengan adanya seorang wanita tua. Dia tidak tahu jika itu adalah ibu Laura, sebab saat pernikahan Papanya dulu wanita itu tidak terlihat oleh matanya. Dengan sopan dan ramah Senja mencium lengannya sambil mengucapkan salam.
__ADS_1
Papanya datang, turun dari atas sambil membawa secangkir kopi. Dia tidak bertanya mengapa putrinya itu pulang malam, padahal sekolah sudah bubar sejak jam lima sore.
“Pah dia siapa?” bisik Senja.
“Oh iya sayang, kenalin dia ini ibunya Mama kamu. Nenek berarti ya, dia akan tinggal bersama kita mulai sekarang. Karena ibu tidak bisa naik ke atas maka dia akan tidur di kamar kamu yang sekarang.”
“Aku pindah lagi dong ke atas? Ah Papa, sebenarnya Senja senang sih tapi kan repot harus bawa barang-barang lagi.”
“Nanti Mama Laura bakal bantu kamu, ya udah sana mandi ganti baju terus makan. Mama kamu masih ada di meja makan, nunggu di sana.”
Senja memutarkan bola matanya, dia hanya menjawab ucapan Papanya dengan anggukan saja. Beberapa menit kemudian gadis itu keluar dari kamar dan langsung menuju meja makan. Benar saja Laura masih berada di sana menunggunya. Saat akan mengambil piring, Mama tirinya tersebut meminta izin kepada Senja agar memperbolehkan ibunya tinggal dirumah Pak Arya.
“Ughh...! Santai aja Lau, lagipula ini rumah bokap bukan milik gue. Jadi keputusan untuk siapa yang boleh tinggal di sini hanya dia ngapain juga lu izin ke gue. Nggak ada gunanya,” jawab Senja sembari sibuk mengambil nasi serta lauk pauk.
“Maafin ya, selama ini udah jahat sama lu. Gue benar-benar akan berubah jadi istri dan Mama yang lebih baik lagi. Gue harap lu mau menerima itu semua, menganggap gue selayaknya Mama kandung lu sendiri.”
Senja memperhatikan raut wajah Laura yang benar-benar sedih. Tanpa sengaja juga gadis itu melihat air mata jatuh dari Mamanya. “Ck! Cengeng juga lu, gue kira cewek kuat ternyata...., udah nggak usah nangis gue kagak gigit kok.”
__ADS_1
Seketika Laura tersenyum mendengar perkataan putrinya. Senja makan di temani oleh Mama tirinya, ada sedikit rasa canggung karena mereka sama sekali tidak mengobrol. Bahkan sampai dirinya selesai makan pun keduanya sama-sama diam. Namun saat Senja akan membawa piring kotor bekasnya makan untuk dicuci, Laura menghentikannya dan meminta piring tersebut.