
Kedatangan Lea membuat ketiga cowok yang ada di sana teringat akan sosok Senja. Sifat mereka hampir terlihat sama, keduanya menyukai motor dan selalu berpenampilan tomboi. Selama beberapa bulan ini gadis itu selalu ikut gabung dengan sang kakak. Kehidupannya tidak lagi menyendiri didalam rumah terus-menerus. Sang Papa pun turut senang melihat anak gadisnya sudah bisa akrab dengan Leo sejak dibawa ke sana.
Di tempat lain, Senja merasakan pusing yang teramat sakit pada kepalanya. Laura panik melihat sang putri yang berteriak, dia pun langsung menelpon Pak Arya untuk segera pulang. Saat itu si suami tengah berada dirumah Bu Ana, mendengar informasi bahwa Senja histeris Bintang izin kepada sang Mama untuk ikut dengan Papa sahabatnya.
Dalam lubuk hati yang paling dalam, masih tertulis nama Senja di sana. Walau sudah menjadi milik Cantika dia tidak pernah lelah memberi perhatian dan mencuri pandang pada cinta pertamanya. 15 menit kemudian mereka berdua telah sampai di rumah. Laura yang mendengar suara mobil suaminya pun bergegas membuka pintu. Dia menarik napasnya dalam-dalam, wajah cantik sang istri terlihat panik dan pucat.
Setelah melihat keadaan sang putri, mereka pun membawa Senja ke rumah sakit untuk diperiksa. Sea tersenyum miring saat tahu gadis yang dirinya celakai itu meringis kesakitan pada kepalanya. Selama 6 bulan ini keluarga Pak Arya masih belum tahu siapa dalang dibalik kecelakaan Senja. Padahal pelakunya berada di satu rumah. Sang ibu yang mengetahui sikap anaknya itu menggelengkan kepala, dia ingin melawan serta menghentikan tingkah Sea namun apa daya, untuk sekedar berdiri saja dirinya tidak mampu.
Di rumah sakit, setelah diperiksa dokter. Pak Arya melirik kepada Laura. Dia ingin tahu mengapa putrinya itu bisa terbentur dinding dengan sangat keras? Cepat-cepat si istri menggeleng, dia tidak tahu karena sibuk mengurus sang ibu yang masih sakit-sakitan.
“Pasti ini ulah Sea. Kalo itu benar dia udah sangat keterlaluan! Harus cepat usir Sea dari rumah Mas Arya,” gumamnya. Mata Bintang tak hentinya melirik pada wanita disamping. Dia ingin menaruh curiga pada Laura namun teringat jika wanita tersebut sudah bertobat dan selalu memperlakukan Senja dengan sangat baik.
Sasa tertegun melihat kegigihan Daffa, dia merasa malu pada dirinya sendiri yang sudah berbuat jahat pada teman-temannya dahulu. Rupanya kematian Heru tidak membuat dia bertobat, dia justru menjadi lebih semangat untuk menghancurkan kehidupan Biru dkk. Namun setelah ditolong oleh Daffa dan di izinkan dirinya tinggal di sana serta melihat betapa kuatnya mental lelaki tersebut membuat Sasa tersadar akan semua kesalahannya.
“Tante, besok kan libur sekolah boleh bantu aku belanja ke pasar?”
“Iya Daf, ngomong-ngomong kenapa kamu setiap malam nggak pernah ikut main sama yang lain? Padahal mereka suka ngajak tapi selalu kamu tolak.”
“Nggak papa kok ingin pokus aja sama sekolah, belajar dengan giat. Urus usaha yang sekarang,” jawabnya sambil tersenyum.
__ADS_1
“Kamu masih muda, habiskan masa-masa muda kamu dengan yang lain,” ujar Sasa.
“Aku beda dengan mereka yang terlahir dari keluarga berada. Mereka dapat meneruskan usaha milik orang tuanya sedangkan aku? Maka dari itu mulai sekarang ini aku belajar untuk menjadi pengusaha sukses.”
Sasa menelan ludah, dia jadi teringat pada masa mudanya dulu. Dia sudah terlahir dari keluarga kaya raya, dan sang Ayah akan mewariskan seluruh harta padanya. Namun kelakuan dia malah membuat semua keluarga kecewa. Mulai dari membully sampai menjadi wanita pelakor. Sasa memegang kedua pundak Daffa, dia memberikan beberapa petuah pada remaja tersebut.
Kehadiran Sasa di rumahnya membuat Daffa merindukan sosok ibu. Biru sempat memperingatinya agar berhati-hati pada wanita itu namun dia berhasil menyakinkan sang Om jika Sasa sudah berubah menjadi lebih baik.
Pagi hari pun tiba, Silla dan Biru begitu sibuk menyiapkan acara pembukaan kedai baru mereka. Usahanya terus sukses, dia sudah memiliki banyak cabang kedai cake. Selain itu Biru juga membuka kedai makanan yang isinya kesukaan anak-anak remaja.
Setiap bulan dia selalu mengajak sang istri untuk ziarah ke makam orang tuanya, Andi, serta Pak Baba. Menceritakan kesuksesan dirinya, memperkenalkan Silla dan mengucapkan terimakasih pada mereka yang telah lebih dulu pergi. Di rumah sakit, Senja masih juga belum sadar. Pak Arya takut kehilangan gadis yang tengah terbaring lemah diranjang itu. Tangannya tidak lepas menggenggam Senja.
“Loh Bin, kok lu ada di sini sih?” tanya Senja sembari memegang kepalanya yang masih terasa sakit. Dia juga melihat kedua orang di samping, namun saat matanya bertatapan dengan Laura. Senja langsung menunjukkan wajah malas.
“Akhirnya sayang kamu sadar juga. Papa sama Mama khawatir, masih sakit kepalanya?”
“Dikit Pah. Emangnya Senja kenapa?”
“Lu nggak ingat Sen, kan lu abis kebentur dinding semalam,” ucap Bintang. Lagi dan lagi Senja mengernyitkan dahi, dia lupa apa yang telah terjadi pada dirinya sendiri. Seingat Senja jika dia mengantarkan Sea ke restoran lalu datang sebuah mobil yang melaju dengan sangat cepat.
__ADS_1
“Nak Bintang tolong panggilkan dokter, sepertinya Senja sudah mulai mengingat semuanya.”
“Baik Om,” jawabnya.
Laura masih terdiam, dia senang anaknya kembali sembuh seperti dulu. Namun dia juga memikirkan akan kebencian Senja pada dirinya. Sudah dipastikan mereka berdua akan seperti Tom and Jerry kembali. Tidak lama kemudian sang dokter datang dan mulai memeriksa Senja.
Bintang langsung memberikan kabar gembira pada teman-temannya lewat grup. Mendapat informasi jika Senja sudah sembuh dari amnesianya mereka semua merasa senang. Bima berencana akan membuat sebuah kejutan pada ketua geng motornya itu, dia meminta seluruh anak-anak di basecamp untuk siap-siap.
Daffa yang sedang di pasar pun turut senang akan kesembuhan Senja. Namun dia tidak bisa ikut memberikan kejutan, Daffa hanya menitipkan sebuah hadiah untuk sahabat perempuannya. Saat asik memilih bahan-bahan bersama Sasa, dia tidak sengaja melihat Cantika berjalan dengan seorang lelaki. Wanita di sampingnya heran mengapa Daffa memotret gadis tersebut.
“Tante tunggu di sini, aku mau ke sana sebentar.”
Wajah Cantika berubah ketika melihat Daffa yang akan menghampiri. Dia segera melepaskan genggaman tangannya pada lelaki disamping. Mereka berdua bersapaan, Daffa berbasa-basi sebentar lalu menanyakan apa yang Cantika lakukan di pasar bersama seorang lelaki.
“Oh ini, di suruh Mama buat beli bahan-bahan. Ini sepupu aku namanya Farid.”
“Hay, Daffa temannya Cantika,” sapanya tersenyum.
“Kamu sendiri ngapain di sini Daf, oh pasti buat dagangan kamu ya?” tanya Cantika sedikit terbata-bata.
__ADS_1