Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 92


__ADS_3

Senja masih berduaan dengan Bintang di taman. Mereka saling melempar canda, bermesraan membuat beberapa orang yang tengah memperhatikan dari jauh merasa tidak suka terhadap keduanya. Sedangkan yang lain merasa gemas serta iri, wanita mana yang tak tertarik akan ketampanan Bintang. Nasya melemparkan botol minumnya ke sembarang arah, sang kembaran yang melihat merasa heran.


“Lu kenapa Sya?”


“Nggak papa, gue kesel aja kalo lihat tuh cewek sama pacarnya,” jawab Nasya. Melissa mengangguk dia paham ternyata kembarannya tersebut diam-diam suka kepada Bintang. Jika sikapnya seperti itu maka sudah dipastikan bahwa Nasya tengah suka pada seseorang, hal tersebut pernah terjadi juga ketika sang kembaran menyukai Gio.


Dering telpon mengganggu dua insan yang sedang bermesraan, Senja merogoh saku almamater dan mengambil handphone. Tertera nama Laura di sana, buru-buru gadis itu pun mengangkatnya. Beberapa saat kemudian raut wajahnya berubah yang tadinya senang kini menjadi sedih. Bintang mengangkat sebelah alis, mempertanyakan apa yang Laura katakan.


Mata Senja berkaca-kaca, dia bangkit dari duduk mengambil tas dan pergi ke parkiran tanpa berkata apa-apa kepada Bintang membuat sang kekasih bingung. Di tempat lain, Laura bersama ibunya sedang berada dirumah sakit. Mereka berdua mengantarkan Pak Arya yang kejang-kejang.


20 menit kemudian Senja sampai. Bibir dan tangannya bergetar, gadis itu langsung memeluk sang Mama. Laura mengusap air mata yang mengalir ke pipi putrinya dengan lembut. Bintang menyusul pacarnya karena khawatir, mereka berempat pun menunggu dokter keluar dari dalam ruangan. Tak berselang lama, pintu terbuka, segera Laura dan Senja bertanya tentang keadaan pria didalam.


Dengan suara berat dokter mengatakan jika Pak Arya telah meninggal dunia. Mendengar perkataan itu sontak membuat Senja terkulai lemas, air matanya tak bisa dibendung lagi. Dia terduduk dilantai sembari menangis begitu juga Laura dan ibunya. Bintang menelpon Biru, memberitahu berita tersebut.


Senja benar-benar tak percaya dengan pernyataan dokter barusan. Dia masuk kedalam melihat sang Papa yang terbaring di ranjang. “Pah..., bangun. Papa udah janji bakal terus ada disamping aku.”


“Paahh..., ayo bangun Senja nggak mau ditinggal sendiri. Papa!” sambungnya. Gadis itu berkata dengan nada yang sedikit keras, terus memeluk Pak Arya sambil menangis tanpa henti.


Pukul 15.00. Senja sedikit lebih tenang dari sebelumnya walau air mata masih mengalir. Ketika Omnya datang dia langsung memeluknya menyembunyikan wajah cantik yang penuh kesedihan. Melihat Senja seperti itu membuat Biru ikut menangis. Ara, Galang, Silla dan Shena terdiam, mereka menelan ludah masing-masing saat tahu berita meninggalnya Pak Arya.


Jenazah dibawa pulang, keluarga tidak menunda-nunda pemakaman setelah semuanya selesai. Daffa, Bima dan lainnya yang baru diberitahu oleh Bintang langsung menuju ke rumah Senja. Para cowok tersebut menenangkan sahabat perempuannya.

__ADS_1


“Turut berdukacita Tante, Om, Nek,” ucap Daffa dkk. Setelah itu mereka kembali ketempat Senja berada. Di sana sudah ada Biru yang duduk disampingnya.


“Om, semua udah nggak ada. Aku nggak punya siapa-siapa lagi, kenapa mereka semua ninggalin aku sendirian?”


“Kamu nggak sendiri sayang, masih ada Laura, Om, Tante Ara, Tante Nadia, Bintang dan teman-teman yang lain. Ikhlasin ya, jangan nangis terus kasian Papanya.”


“Iya Sen, lu masih punya kita,” seru Bima.


Senja mengangguk dan tersenyum tipis. Merasa bersyukur memiliki orang-orang yang peduli kepadanya. Menjadi bagian dari keluarga Pak Arya membuat Senja berterimakasih banyak, dia tak tahu jika tidak ada mereka mungkin hidupnya berbeda seperti sekarang ini. Hidup sebatang kara dan tanpa kasih sayang kedua orang tua.


Banyak sekali orang-orang yang datang kerumah Senja, semuanya adalah orang yang dahulu pernah Pak Arya tolong, dari warga biasa hingga rekan kerja. Bu Ana melihat kesedihan diwajah Senja, dia memikirkan sesuatu hingga membuatnya mengalirkan air mata tanpa sadar.


Malam harinya suasana rumah masih ramai bahkan hingga pagi karena anak-anak geng motor semuanya menginap. Senja sendiri tidak dapat tidur, semalaman matanya susah untuk terpejam walau merasa lelah. Dia izin kepada Daffa untuk tidak pergi ke kampus. Namun, para lelaki itu juga memutuskan untuk tak pergi, ketujuh orang tersebut sepakat akan masuk setelah keadaan Senja membaik.


“Ini beneran apa bohong? Siapa yang nyebarin berita begini?” tanya Thalia. Belum sempat melanjutkan ucapannya gadis itu kembali dikejutkan dengan berita meninggalnya Papa Senja.


“Kasian banget dia, kerumahnya yuk Gib, Gio.”


“Emang lu tahu rumahnya?” tanya Gibran.


“Ini kan Pak Arya yang meninggal, gampang nyari alamatnya. Dia pengusaha terkenal, yuk pergi keburu siang,” ucap Thalia.

__ADS_1


Daffa berjalan mendekat ke Biru, diam-diam memberikan ponselnya dan memperlihatkan berita tentang Senja yang anak haram. Biru dan Ara langsung menelan ludahnya, mereka berdua tak percaya, siapa orang yang telah membuat berita seperti itu. Walau kenyataan benar bahwa Senja dan Pram adalah anak haram, anak yang lahir diluar pernikahan tapi mengapa harus hari ini berita itu tersebar.


“Permisi,” ucap Thalia dan kedua temannya. Ketiga orang tersebut kaget saat melihat banyaknya anak geng motor yang sedang duduk.


“Siapa ya?” tanya Silla. Gibran menjelaskan jika dirinya adalah senior Senja di kampus. Mereka datang untuk berbelasungkawa. Silla pun mempersilakan ketiganya masuk kedalam bertemu si tuan rumah. Seon, Leo dan Bima melihat kedatangan Thalia dkk.


“Kak sini,” panggil Seon. Langsung saja mereka bertiga berjalan ke tempat juniornya. Biru menyambut dengan ramah dan menyuruh Gibran masuk bertemu Laura serta Senja.


“Nanti kita bahas lagi Daf, sekarang Om mau pergi dulu kerumah sakit buat cek kandungan Silla. Tolong jaga Senja, hibur dia jangan biarin sedih terus,” ucapnya.


Daffa mengangguk, dia mencium punggung tangan Biru. Di ruangan lain, Bu Ana, Ara dan Laura tengah mempersiapkan bahan-bahan untuk malam nanti. Darah keluar dari mulut Mama Bintang saat terbatuk, dia segera pergi ke kamar mandi membersihkannya, namun tanpa di sadari putranya melihat itu semua.


“Bintang tolong bantu Tante angkat ini,” ujar Ara.


“Iya Tan, bentar.”


Setelah membantu Ara, Bintang menunggu Mamanya diluar kamar mandi. Ketika Bu Ana keluar putranya tersebut langsung menarik lengan sang Mama. Membawanya keruangan lain lalu bertanya apa yang terjadi, Bu Ana malah mengerutkan kening.


“Mama nggak papa kok, kenapa mukanya gitu hah?!”


“Jawab Bintang. Mama sakit kan? Aku lihat kok tadi, malam itu juga aku lihat kalo Mama minum obat. Kenapa nggak bilang Mah? Jujur sama Bintang.”

__ADS_1


“Orang nggak papa, udah ah kamu ganggu aja. Sana bantuin yang lain. Tuh lihat pacar kamu lagi sedih, bukannya hibur.”


Bu Ana pergi meninggalkan putranya yang masih mematung. Wanita tua itu mengusap pipinya, berjalan dalam keadaan menangis.


__ADS_2