
Di malam hari, Senja bersama Papa juga Mamanya berkumpul bersama di ruang televisi. Sejak pulang sekolah gadis itu terus menempel pada Laura. Membuat Pak Arya yang melihatnya merasa senang, dia menganggap sekarang anaknya sudah bisa menerima istrinya tersebut. Jika bukan karena kecelakaan itu Senja tidak akan mungkin menempel seperti yang dilihatnya.
Saat akan tidur pun Senja meminta Mamanya untuk menemani. Laura hanya menurut, dia duduk disamping putrinya sambil mengelus rambut dengan lembut. Mata Senja sudah mulai terpejam, dia berniat meninggalkan kamar putrinya itu. Namun baru saja berdiri sebuah tangan menghentikannya. Dia pun melihat ke belakang, nampak putrinya membuka mata lalu bangun dari tidurnya.
Laura kembali duduk di kasur, awalnya tidak ada satupun yang berbicara. Tiba-tiba Senja meminta saran apa yang harus dirinya lakukan jika mencintai seseorang? Laura mengernyitkan dahi.
“Mah, salah nggak sih kalo misalkan kita suka sama cowok yang udah ada pacar?”
“Maksud kamu Pram? Dia kan udah jadi pacar kamu,” jawab Laura heran, setahunya Senja tengah menjalin hubungan dengan lelaki itu. Dia tak tahu bahwa putrinya sudah putus sejak pulang dari liburan. Itu semua karena ditentang oleh Ara.
“Bukan Pram, lagipula aku sama dia udah putus. Kata temen-temen.”
“Kalo bukan dia terus siapa? Emangnya cowok mana yang kamu suka itu?” tanyanya penasaran. Selain Bima dan teman geng motornya tidak ada lagi cowok yang dekat dengan putrinya. Senja menjelaskan jika dia jatuh cinta pada Bintang, namun cowok itu baru saja menjalin hubungan dengan siswi lain. Laura terkejut dia tidak menyangka akan hal itu. Sang Mama pun menjadi bingung, dirinya tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan putrinya.
“Kalo kamu benar-benar cinta sama Bintang, biarin dia bahagia sama pasangannya yang sekarang. Jodoh nggak akan kemana,” jawabnya.
“Tapi aku nggak suka lihat dia sama cewek itu, rasanya sakit banget Mah. Dulu aku sama dia kayak apa sih? Sedekat sekarang kah?”
__ADS_1
“Kamu sama Bintang sudah dekat sejak lama. Asal kamu tahu, dia dulu pernah menyatakan cinta tapi kamu hanya menganggap dia sebagai saudara. Walau begitu, setiap dia main ke sini Mama selalu merhatiin matanya. Tatapan Bintang selalu tulus saat dia membantu kamu.”
“Terus aku harus gimana?”
Laura menghela napas, memegang kedua bahu putrinya. Dia berkata sembari tersenyum, menyuruh Senja untuk mengikhlaskan Bintang dengan wanita lain. Seperti katanya barusan, jika cowok itu benar-benar jodohnya dia tidak akan pergi. Senja hanya mengangguk mendengar penuturan Mamanya, lalu merebahkan tubuhnya kembali.
...----------------...
Hari-hari terus berjalan. Setiap sekolah Senja selalu melihat Bintang berjalan berdua dengan Cantika. Dia hanya bisa melihat itu dari kejauhan, jika dua orang tersebut mengajaknya pergi maka Senja akan segera menolak. Selama amnesia itu pula dia tidak pernah ikut lagi berkumpul bersama anak-anak geng motor.
Menghabiskan waktu sendirian dengan melukis. Terkadang memasak ditemani oleh Laura. Kedekatan keduanya pun di abadikan oleh Pak Arya dengan memotret mereka. Waktu terus berjalan, dimana 5 bulan kemudian Biru memberikan kabar baik pada keluarganya bahwa Silla tengah hamil anak pertama mereka. Semuanya turut bahagia akan kabar tersebut, kandungan Nadia pun sudah sangat besar. Wanita itu tinggal menunggu beberapa bulan lagi untuk melahirkan.
Di tempat lain, Sasa tengah berlari dari kejaran tiga orang lelaki. Dia terus bersembunyi jika bertemu mereka, ternyata selama ini wanita itu berhutang pada salah satu preman. Uang yang dipinjamnya dia habiskan untuk berbuat jahat kepada Echa dan Biru. Sasa masih tidak suka akan kebahagiaan yang mereka semua dapat.
Saat berlari tiba-tiba saja kakinya tersandung. Dia meringis kesakitan, membuang high heels yang dikenakan jauh-jauh. Sebuah cahaya mendekat, ternyata itu motor yang dikendarai oleh Daffa. Kebetulan dia akan pergi kerumah Bintang untuk mengembalikan buku. Awalnya Daffa tidak mau menolong namun melihat keadaan Sasa yang seperti itu membuatnya merasa kasian.
Sesampainya dirumah Daffa merebahkan tubuh Sasa dikasur. Entah pingsan atau tidur, wanita itu begitu pulas. Sampai esok paginya dia terbangun dan terkejut berada disebuah rumah. Sasa berjalan keluar untuk melihat siapa yang telah membawanya.
__ADS_1
Dia mengintip lewat jendela, nampak seorang cowok yang sedang melayani pembeli. Sembari menunggu cowok tersebut selesai, Sasa duduk diruang tamu sembari melihat-lihat poto yang ada di dinding.
“Senja, Biru?” pikirnya. Sasa terkejut melihat ada poto musuhnya didalam rumah itu. Tak lama Daffa masuk kedalam dan menyapanya. Dia tahu jika wanita yang kini berada dirumahnya itu merupakan orang yang selalu mengganggu kehidupan Biru.
“Makan dulu Tan, saya udah siapkan dimeja makan. Silakan ambil sendiri karena saya masih harus melayani pembeli.”
“Terima kasih.”
Daffa tersenyum lalu berbalik badan dan kembali kedepan. Sebuah mobil memasuki pekarangan rumahnya, mereka adalah Biru dan Silla. Keduanya selalu datang sebulan sekali untuk melihat keadaan Daffa, Biru sudah menganggap cowok itu sebagai keponakannya. Sudah sering dirinya menyuruh Daffa ikut namun selalu ditolak dengan alasan tidak mau membebani keluarga itu.
Bintang dan Cantika sudah 6 bulan menjalin hubungan. Sikap sang pacar lambat laun berubah, tidak seperti Cantika yang dulu. Kini gadis itu selalu melarang hal apapun yang Bintang suka. Apalagi jika itu bersangkutan dengan motor. Bima, Leo serta Seon seperti kekurangan sesuatu, setiap malam mereka selalu merindukan kehadiran Daffa serta Senja ke basecamp. Ditambah dengan Bintang yang sekarang, cowok itu selalu dilarang oleh Cantika untuk berkumpul.
“Beberapa bulan terakhir kita udah nggak kayak dulu lagi ya? Kayaknya gue kangen sama anak-anak yang lain, andai aja Senja sembuh, Daffa ikut main lagi dan Bintang.....”
“Mereka udah sibuk masing-masing, kalo Daffa sama Senja sih masih okay lah. Lah ini si Bintang, bisa-bisanya dia takut sama tuh cewek yang dulunya cupu,” seru Leo. Seon mengangguk-angguk kepalanya. Mereka bertiga merebahkan diri di basecamp sambil menatap langit.
“Kapan ya ingatan Senja bisa balik? Gue berharap itu secepatnya, kita bertiga doang nggak seru.”
__ADS_1
“Berdoa aja Bim.”
Mata mereka bertiga sudah terpejam namun harus terbuka lagi karena mendengar suara seorang perempuan. Setelah dibuka ternyata Lea lah yang datang. Bima dengan semangat bangkit dari tidurannya. Dia menyapa adik tiri Leo itu dengan sangat ramah.