
Saat istirahat, Senja asik sendiri bersama keempat temannya. Dia tidak mengajak Pram sang kekasih untuk ikut bercanda ria bersamanya. Padahal cowok itu sangat ingin berkumpul juga, namun sayangnya sang gadis tidak peka.
Pram menghela napasnya kasar saat melihat Senja dan Bintang saling menyuapi, hatinya merasa sakit akan pemandangan di depannya.
“Sen, aku mau bicara,” ujar Pram menarik tangan Senja pergi. Kini keduanya ada dibelakang sekolah, Senja terkejut di saat Pram memeluk dirinya. Walau di sana tidak ada orang tetap saja membuat dia tak nyaman akan pelukan tersebut.
“Lepasin Pram, malu. Ada apaan sih emangnya?” ucap Senja berusaha melepaskan pelukan dari sang kekasih.
Dia malah mempererat pelukannya, tidak peduli dengan yang Senja katakan. “Aku benar-benar cinta sama kamu Sen, tolong mengerti!”
“Iya gue tahu! Lepasin dulu pelukannya gue sesak nih. Kita duduk,” jawabnya. Akhirnya Pram menurut, mereka berdua duduk di kursi taman. Mata keduanya saling tatap lalu si cowok membuka pembicaraan. Lama mereka berbincang, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Senja hanya Pram yang berbicara.
Tak lama bel kembali berbunyi, Senja tersenyum tanpa sepengetahuan pacarnya. Tidak disangka Pram akan berkata demikian sampai membuat hatinya merasa senang. Entah sekarang Senja akan benar-benar menerima cinta Pram atau tidak setelah sang kekasih berkata bahwa dirinya bersungguh-sungguh mencintainya. Di tempat lain, Ara bersama Galang tengah mengajak Shena berjalan-jalan. Menghirup udara segar di taman rumah sakit. Di perjalanan tidak sengaja mereka bertiga berpapasan dengan Heru yang sedang di dorong oleh seorang suster memakai kursi roda.
Mantan pacarnya itu meminta sang suster berhenti karena Shena yang menyapanya. Tidak disangka gadis kecil itu mengenali Heru, dia berbicara manis lalu memperkenalkan pada kedua orangtuanya. Ara hanya mengangguk dan tersenyum kepada putrinya.
“Om sakit apa?” tanya Shena polos.
“Hanya sakit biasa,” jawab Heru singkat.
“Maaf, Pak Heru nya harus segera menjalani operasi,” potong suster.
__ADS_1
Wajah Shena terlihat sedih, sebelum Heru benar-benar dibawa sang suster gadis kecil itu memegang tangannya lalu tersenyum menyemangati. Si ibu yang melihat putrinya baik kepada Heru hanya terdiam. Dikediaman Pak Arya, Laura sangat berani membawa masuk pacarnya. Dia tidak takut jika nanti suaminya datang tiba-tiba.
Semua harta dan perhiasan yang Pak Arya belikan untuknya diperlihatkan kepada sang kekasih. Matanya berbinar melihat banyaknya emas, kemudian mereka tertawa bersama.
Hari berganti sore, Senja pulang ke rumah. Laura serta kekasihnya tidak mendengar suara motor si gadis nakal. Keduanya pun terpergok oleh Senja tengah bermesraan di ruang keluarga. “Bagus-bagus! Lu pacaran di rumah gue, nggak takut kalo Papa pulang? Atau lu berdua emang sengaja biar Papa gue lihat terus syok? Pemandangan kayak gini bagusan direkam,” ucap Senja sembari bertepuk tangan lalu mengeluarkan ponselnya.
Laura langsung berlari menghampiri anak tirinya. Dia berusaha mengambil ponsel milik Senja guna untuk menghapus beberapa video yang telah anaknya ambil. Bagaikan seekor tikus, Senja sangat sulit untuk Laura tangkap. Gadis remaja itu benar-benar lincah sampai kekasih Mama tirinya harus ikut mengejar. Pintu depan terbuka, Pak Arya dan Biru yang datang ternyata. Kedua lelaki itu terdiam melihat Senja, Laura dan seorang pria tengah kejar-kejaran.
Karena tidak ingin menerima banyak pertanyaan dari Papanya, Senja pun berlari menuju kamar. Kini hanya tersisa Laura, sang kekasih, Pak Arya juga Biru di ruang keluarga. Awalnya tidak ada yang bersuara, namun Laura langsung menyambut kepulangan suaminya dengan ramah. Tak lupa dia juga menjelaskan siapa pria yang bersamanya serta Senja tadi. Sayangnya Pak Arya percaya saja dengan apa yang istrinya katakan kecuali, Biru.
“Kamu susul saja Senja ke kamarnya,” titah Pak Arya, Biru menganggukkan kepalanya.
Sang Om menjelaskan jika dirinya terlalu sibuk sampai jarang bermain. Kedatangan dia adalah untuk mengajak Senja ke rumah sakit melihat Shena. Gadis kecil itu meminta Omnya membawa Senja dan keempat cowok tampan. Tidak butuh waktu lama, dia sudah siap dengan jaket kulitnya. Baru saja akan melangkahkan kaki, Biru menghentikannya menyuruh Senja berganti pakaian.
“Kenapa begitu Om?”
“Itu permintaan Shena, Senja! Ayo ganti baju kamu, setelah itu kita pergi.”
“Ish! Om ini gimana sih! Senja kan nggak punya baju yang diminta Shena. Om tahu sendiri kan kalo semua koleksi baju aku itu style nya kayak cowok,” ujar Senja dengan raut wajah malas.
“Makanya kalo di ajak shopping sama Tante Nadia tuh kamu ikut,” jawabnya menjitak pelan kepala gadis kesayangannya.
__ADS_1
Senja terdiam, dia tengah berpikir akan memakai baju apa untuk menjenguk Shena. Lalu Biru berbisik, meminta Senja meminjam baju milik Laura. “Bukannya mahmud kamu banyak tuh baju yang anggun. Ambil aja satu,” ucapnya.
“Ogah! Aku? Pakai baju tuh Mak lampir, idih. Mending pakai karung aja,” seru Senja menyunggingkan bibirnya tak suka. Sang Om tertawa melihat reaksi Senja yang seperti itu, wajahnya yang mengejek sang Mama tiri terlihat begitu lucu baginya. Beberapa saat kemudian..., mereka berdua berpamitan kepada Pak Arya. Nampak Laura menyipitkan matanya menatap tajam Senja.
Rencananya Biru akan membawa gadis tomboy itu ke kedai untuk bertemu Nadia. Sahabatnya tersebut akan merubah tampilan Senja menjadi perempuan yang cantik nan anggun. Bintang, Daffa, Bima dan Leo telah berada di kedai duluan, mereka berempat berpenampilan bak seorang pangeran. Dengan percaya dirinya keempat cowok itu berdiri sambil berpose memperlihatkan ketampanan mereka kepada sahabat perempuannya.
“Mual gue lihat kalian begitu! Lagipula ini Shena apa-apaan sih nyuruh kita semua dandan kayak gini?”
“Tuh mulut, kita udah cakep kayak gini malah mau mual. Emang beda nih cewek, padahal banyak yang bilang kita ganteng cuman dia doang yang nggak,” ujar Bima.
“Matanya belum dibersihkan,” sambung Leo.
“Nyenyenye! Bawel lu semua. Tante Nadia ayo! Biar cepat nih ketemu sama Shena nya,” ucap Senja.
Nadia pun membawa Senja masuk, sekitar 30 menit mereka berdua kembali keluar. Para lelaki yang ada di sana melihat takjub dengan penampilan Senja yang sangat berbeda. Dress putih serta rambut tergerai rapih membuatnya seperti seorang putri.
Awalnya gadis itu selalu terjatuh saat menggunakan high heels, namun setelah beberapa saat berlatih dia sudah sangat pandai memakainya.
“Ini beneran lu Sen?” tanya Bima terpana akan hasil make-up Nadia.
__ADS_1