Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 42


__ADS_3

Pukul 21.00, Senja hari ini tidak pergi bermain dengan anak geng motornya. Dia bersama Bintang, Daffa, Leo, serta Bima memutuskan untuk berkomunikasi lewat grup. Kelimanya membahas soal acara persami, kebetulan ketua osis mengajak Daffa beserta teman-temannya untuk ikut. Dengan senang hati kelimanya pun menerima ajakan tersebut, karena malam adalah hari yang menyenangkan bagi mereka semua. Apalagi adanya api unggun, dan jurit malam.


Setelah membicarakan masalah persami, satu persatu mulai membahas masalahnya masing-masing. Mereka berharap dengan saling bertukar cerita akan ada sebuah solusi. Sudah seperti saudara kandung, apapun yang menimpa salah satu dari mereka maka yang lainnya akan segera membantu. Di saat semuanya tengah serius membahas masalah Bintang, tiba-tiba Bima mengirimi voice not. Suara ketawa yang renyah terdengar oleh orang-orang yang sedang nimbrung digrup.


Leo pun mengirim pesan, dia bertanya apakah Bima kesurupan? Tanpa ada angin atau hujan tiba-tiba saja tertawa. Padahal topik yang tengah mereka bahas adalah sebuah masalah yang menurut mereka tidak ada hal lucunya. Setelah beberapa saat, Senja pamit untuk tidur dan yang lain pun ikut. Sebelum pergi menuju alam mimpinya, gadis itu terlebih dahulu mengambil air minum. Saat melewati kamar Sea atau bekas kamarnya, tidak sengaja dia mendengar adik Laura itu sedang telponan dengan Daniel.


“Seru nih, cinta segitiga antara adek, kakak dan pacar.”


Baru saja akan menempelkan telinganya tiba-tiba Laura datang dan bertanya apa yang Senja lakukan didepan kamar Sea. Karena tidak mau ketahuan maka gadis itu menarik lengan Mama tirinya pergi menjauh. Sampailah mereka berdua di pinggir kolam renang, Senja menyunggingkan bibir serta mengangkat sebelah alisnya. “Mendingan lu hati-hati deh sama Sea.”


Laura mengernyitkan dahi, dia merasa heran akan perkataan anak tirinya barusan. Karena tak mau ambil pusing dan menganggap ucapan Senja adalah candaan dia pun pergi. Keesokan paginya, saat Pak Arya tengah ber-telponan dengan rekan bisnisnya membahas masalah proyek besar, Laura berdiri disamping sang suami, lalu mengatakan jika dia ingin mengatasi proyek tersebut. Awalnya Pak Arya ragu, karena proyek itu sangat besar. Jika dilakukan dengan asal atau tidak niat maka dirinya akan rugi dan bisa mengalami kebangkrutan.


Laura terus membujuk suaminya. Karena keseriusan dari sang istri maka Pak Arya pun mengizinkannya. Semua masalah proyek dia berikan pada Laura. Setelah berhasil wanita itu pergi menuju kamar, mengambil ponselnya lalu menelpon Daniel. Di tempat sang kekasih, dia tersenyum sembari merangkul Sea. Mereka tertawa bersama, berhasil memanfaatkan Laura.


“Ya udah Mas, aku pergi ke kantor kalo gitu. Kamu hari ini istirahat aja, jangan terlalu memikirkan kerjaan karena itu semua aku yang handle.”


“Baiklah, tapi ingat! Itu adalah proyek besar jangan sampai kamu melakukan kesalahan. Jika itu terjadi maka kita akan jatuh miskin.”


Laura tersenyum lalu mencium lengan suaminya pamit pergi ke kantor. Senja yang baru saja keluar dari kamar merasa heran melihat Mama tirinya yang terus tersenyum. Sebelum kesekolah dirinya terlebih dahulu sarapan bersama sang Papa. “Om kamu kemarin datang, dia bawa perempuan. Apa calon istrinya?” tanya Pak Arya membuat Senja tersedak. Gadis itu berpikir bagaimana bisa Biru membawa seorang perempuan, sedangkan Omnya saja sangat susah untuk dekat dengan makhluk yang berjenis wanita.

__ADS_1


“Papa serius? Kok bisa sih, Om Biru nggak ada kasih tahu aku loh.”


“Ya mana Papa tahu, coba nanti kamu tanya langsung aja. Syukur kalo memang benar itu calonnya, masa udah tua gitu belum kepikiran nikah juga, karir bagus apalagi coba yang kurang.”


Senja tertawa, Pak Arya yang melihatnya merasa bahagia. Setelahnya sang putri pun berpamitan. “Belajar yang rajin sayang, maafin Papa ya kalo selama ini udah bikin kamu emosi terus.”


“Bukan Papa yang bikin aku emosi, tapi Laura. Senja juga minta maaf Pah karena nggak bisa nerima istri Papa untuk jadi pengganti Mama. Senja lebih suka kalo misalkan Papa nikah sama Mamanya Bintang, Bu Ana.”


“Kamu itu ngomong apa sih? Mana ada Bu Ana mau sama Papa, itu nggak mungkin sayang. Lebih cocok kamu sama anaknya.”


“Kalo boleh jujur nih Pah, Senja selalu merasa tenang dan damai saat berada didekat Bu Ana. Dia itu mengingatkan Senja ke Mama.”


“Maaf ya Sen, malam ini aku akan bertanding dengan Aldo. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa, dengan adanya pertandingan itu maka kamu tidak akan berurusan lagi dengan geng tersebut,” gumam Pram. Melihat pacarnya bengong Senja pun mengibaskan tangannya didepan wajah Pram.


“Are you okay, Pram?” tanya Senja.


“Aku baik kok, tenang aja.”


“Cie-cie khawatir nih ceritanya?” ujar Bima menggoda.

__ADS_1


“Heh kunyuk! Semalam lu kenapa? Ketawa kayak orang gila,” ucap Senja.


“Kunyak, kunyuk, kunyak, kunyuk! Gue Bima, nggak ada lagi yang manggil gue begitu.”


“Kampret aja bagusan gimana?” seru Leo. Bima memanyunkan bibir dan mengembungkan pipinya. Entah setan apa yang memasuki tubuh cowok itu sampai bertingkah lucu. Teman-teman yang berada di sana merasa jijik dengan sikapnya.


“Setan semalam belum ilang kayaknya Sen, rukiyah cepet rukiyah. Bahaya ini kalo dibiarin terus,” ungkap Leo.


“Daf cabut, jangan sampai kita berdua ikutan nggak waras kayak mereka,” seru Bintang dan di angguki Daffa.


Bintang dan Daffa pun pamit pergi ke kantin, sedangkan keempat teman lainnya masih berada dikelas bercanda bersama. Selagi menunggu Daffa memesan makanan, Bintang memainkan ponselnya lalu datanglah Cantika. Gadis itu meminta izin untuk duduk satu meja dan Bintang mengangguk tanpa berbicara. Beberapa murid berbisik-bisik, mereka membicarakan kedekatan antara Cantika dengan sahabat Senja itu. Jika sampai dugaan semuanya benar bahwa ada hubungan diantara mereka berdua maka satu sekolah akan terkejut.


Bahwasanya tidak ada yang bisa meluluhkan sikap dingin Bintang kecuali teman-temannya. Apabila Cantika berhasil maka mereka akan merasa iri. Apalagi sekarang semuanya tahu jika gadis berkacamata tersebut merupakan anak orang kaya, banyak yang menduga-duga kepolosan Cantika hanyalah pura-pura semata.


“Ekhem! Cewek cantiknya dianggurin aja nih?” ucap Daffa tersenyum.


“Halo,” sapa Cantika ramah.


“Halo juga, nih Bin pesanan lu. Es teh nya gue ganti jadi air mineral ya soalnya nggak ada.”

__ADS_1


“Ya.”


__ADS_2