
Obrolan para murid pun harus terpotong saat melihat guru mereka berjalan berdua dengan guru lainnya. Ternyata satu minggu lalu saat Senja berada di rumah sakit, beberapa murid melihat Pak Paris yang memeluk Bu Meta di perpustakaan. Jadilah topik hangat di sekolah.
Di kediaman Pak Arya, Bu Ana datang untuk membahas kerja sama mereka. Laura tidak berani lagi mengurus perusahaan milik suaminya itu, dia takut hasil kerjanya akan membuat sang suami serta Bu Ana kecewa. Selagi Pak Arya mengobrol dia menghabiskan waktu dengan mengurus sang ibu. Di dalam kamar wanita itu menangi mendengar perkataan ibunya. Sea yang lewat depan kamar seketika berhenti saat ibunya itu berkata bahwa seluruh harta akan jatuh ke tangan Laura.
Sea heran, semua harta yang sang ibu miliki telah dirinya ambil. “Apa ibu masih simpan sisa hartanya di tempat lain?” ucapnya di dalam hati. Tanpa mengetuk atau mengucapkan salam wanita itu langsung menerobos masuk kedalam. Dia menanyakan keberadaan sisa harta ibunya dengan nada sedikit tinggi.
Sebuah tamparan melayang ke pipi halus Sea. Laura sudah benar-benar kesal kepada adiknya tersebut, dia tidak peduli akan kesehatan ibunya yang ada di otak Sea hanyalah harta. Sang adik menyeringai, dia maju dan melayangkan tangannya namun di tahan oleh Pak Arya.
“Lu nggak usah munafik Lau. Ingat! Dia itu ibu kandung gue jadi seluruh hartanya hanya untuk anaknya.”
Setelah berkata demikian Sea pergi keluar. Matanya menatap tajam kepada sang kakak. “Kamu nggak papa sayang?” tanya Pak Arya khawatir. Hampir saja istrinya itu ditampar oleh Sea.
Laura menggeleng, matanya melirik pada sang ibu. Terlihat wanita tua yang tengah terbaring itu mengeluarkan air matanya. Dia tidak menyangka jika anak kandungnya sendiri seperti itu.
Suara bel berbunyi, Laura izin untuk membuka pintu. Sedangkan suaminya diminta menjaga sang ibu, kebetulan waktunya meminum obat. Pak Arya mengangguk paham dia dengan hati-hati memberikan obat pada mertuanya.
Sesampainya dibawah, ternyata yang datang Biru dan Silla. Laura mempersilakan sepasang suami istri itu masuk.
“Lagi ada tamu ya?”
“Iya. Silakan duduk saya ambilkan minum sebentar,” ujar Laura sopan. Pak Arya turun menyambut Biru. Lelaki tua itu sudah menganggapnya sebagai anak, dia menanyakan tentang usaha putra angkatnya tersebut, dia juga begitu kagum akan kerja keras Biru. Tidak lupa Pak Arya meminta seorang cucu pada pasangan suami istri itu.
“Sepertinya pembicaraan kita soal perusahaan dilanjutkan nanti saja Pak Arya. Nggak enak lagi ada tamu,” potong Bu Ana.
“Baiklah. Nanti saya kabarin kembali.”
__ADS_1
Di kantin.., lagi dan lagi Bima melanjutkan gosipnya. Dia masih menceritakan tentang wali kelasnya itu, menurut Bima topik hangat jangan sampai tertinggal. Dia mendapatkan info tersebut karena akhir-akhir ini sering berkumpul dengan siswi dikelasnya. Leo yang selalu setia padanya pun ikut serta menggosip dengan murid-murid lain. Mereka berdua tidak ingin ketinggalan berita hangat tersebut.
“Sekali lagi lu berdua gosip gue lempar nih mangkok,” ucap Daffa.
“Lempar duit gue ikhlas Daf,” jawab Bima terkekeh. Senja hanya tersenyum, tidak ada Bintang di sisinya seperti kekurangan sesuatu. Satu minggu dirinya berada dirumah sakit, ditemani, dijaga serta diberi perhatian oleh Bintang membuat perasaan suka muncul. Jika berdekatan dengan cowok itu Senja selalu senang. Namun sekarang, cowok yang baru saja dia sukai sudah memilki seorang kekasih.
“Heh jangan bengong! Ngeri kalo misalkan lu kesurupan nanti,” ucap Bima. Senja terkejut lalu beranjak dari kursinya dan pergi ke toilet.
Saat di kamar mandi ketika dia sedang mencuci tangan. Orang-orang yang dulu membully Cantika datang menghampiri. Ternyata mereka masih kesal kepada Senja yang sok keren. Salah satu dari mereka mengambil sebuah ember dengan berisikan air. Dia menumpahkannya ke arah Senja.
“Baru segitu aja nangis, cengeng banget sih. Cabut guys!”
Senja terduduk dilantai, dia menatap badannya yang telah basah kuyup. Saat keluar dari kamar mandi, kebetulan Bintang lewat. Dia akan menyusul teman-temannya namun langkah dia harus terhenti ketika melihat Senja. Dengan cepat jaketnya dibuka dan dikenakan pada sang sahabat.
Di uks, Bintang bertanya apa yang terjadi namun Senja tetap diam. Matanya merah, badannya pun menggigil kedinginan. Sedangkan dikelas para pembully, mereka merasa heran mengapa Senja tidak melawannya seperti dulu. Mereka tidak tahu jika gadis itu berubah drastis setelah mengalami kecelakaan yang membuatnya amnesia. Cantika yang tak sengaja mendengar percakapan mereka pun langsung melemparkan buku yang dipegangnya.
“Wah nih anak sekarang mulai berani ya, jangan mentang-mentang udah jadi pacarnya Bintang lu jadi nggak takut lagi sama kita.
Cantika seketika mundur saat orang-orang itu maju mendekat. Mereka menyunggingkan bibirnya lalu melemparkan buku tadi kepada pemiliknya dengan sangat keras. Salah satu dari mereka menyuruh ketiga temannya untuk membawa si mantan gadis berkacamata pergi dari kelas. Entah akan dibawa kemana Cantika, yang pasti gadis itu dalam bahaya.
“Si Senja lama banget ke toilet. Apa jangan-jangan dia udah ke kelas duluan?”
“Maybe. Ya udah balik kelas aja deh.”
Di perjalanan menuju kelas mereka berpapasan dengan Bintang dan Senja. Daffa dkk terkejut melihat sahabatnya yang basah. “Senja kenapa Bin?”
__ADS_1
Bintang mengangkat bahunya, sejak tadi Senja selalu diam. Dia tidak menceritakan apa yang telah terjadi padanya. Para cowok langsung membawa Senja masuk kedalam kelas. Di belakang sekolah, Cantika didorong dengan keras oleh para pembully. Pram yang sedang duduk seorang diri di sana mendengar suara keributan. Karena penasaran dia pun pergi ke sumber suara.
“Ngapain kalian?” teriak Pram. Cantika menangis, rambut serta seragamnya acak-acakan. Karena ketahuan mereka berempat pun pergi.
“Kamu nggak papa?”
“Nggak, makasih udah nolongin aku,” jawab Cantika. Kepalanya menunduk, Pram mengangkat wajah gadis itu betapa terkejutnya dia saat melihat wajah Cantika penuh coretan. Dia langsung membawa gadis tersebut ke kran air yang ada lalu membantu membersihkannya.
Tanpa mereka sadari ada siswa yang memotret. Setelahnya siswa itu datang ke kelas dan menunjukkan hasil potonya pada teman sekelas. Bima yang tidak ingin ketinggalan berita pun langsung ikut nimbrung dengan mereka. Saat ponsel sudah ada ditangannya dia terkejut.
“Ini seriusan?” tanyanya penasaran. Melihat raut wajah Bima yang kaget Leo dan Seon menghampiri. Mereka berdua mengambil ponsel itu, seketika wajahnya sama seperti Bima. Ketiga cowok tersebut saling lirik lalu memandang ke arah Bintang, Senja dan Daffa.
“Ada apa sih Bim?”
“I—itu, biasa berita tentang Pak Paris. Iya kan Seon, Leo,” jawabnya sambil mengedip-ngedipkan mata.
“Iya-iya bener, kan lagi hangat tuh berita.”
“Oh,” serunya lalu kembali pada Bintang dan Senja.
Tak lama datanglah Pram ke kelas. Para siswa langsung diam dan kembali ke tempatnya masing-masing. Kebetulan Cantika lewat depan kelas Senja, dia melihat Bintang sedang merangkul gadis itu. Leo menepuk-nepuk pundak Bima, dia menunjukkan keberadaan Cantika.
“Waduh! Pacar yang tertukar, kayaknya seru.”
“Senja sama Pram kan udah putus ege,” seru Leo.
__ADS_1
“Eh iya juga ya. Terus apa dong namanya? Pulang sekolah kerumah Tante Echa yuk, kita suruh buat novel tentang kisah cinta mereka.”
“Ngadi-ngadi lu!”