
Shena senang kedatangan teman-teman kakaknya kerumah. Dia celingukan mencari seseorang, Pram bertanya pada gadis kecil itu ternyata Shena tengah mencari keberadaan Bintang, cowok tampan yang jadi idamannya. Bima dan Leo menikmati waktu bermainnya, mereka bahkan diajak makan bersama oleh Galang. Dan tak sengaja Leo menceritakan masalah Senja kepada Ara.
“Kok Bintang begitu? Coba nanti kalian suruh Senja buat ngomong berdua sama dia, mungkin ada kesalahpahaman diantara mereka.”
Semuanya mengangguk bersama, setelahnya melanjutkan makan malam. Di lain sisi, Senja memandangi ponselnya menunggu sang kekasih mengabari. Tapi sudah beberapa jam lamanya cowok itu sama sekali tidak menelpon ataupun mengiriminya pesan. Ketika suara notifikasi terdengar buru-buru dia membukanya, ternyata itu pesan dari grup. Senja menghela napas,bangkit dari rebahan lalu berjalan menuju meja riasnya.
Dia bercermin berbicara sendiri sambil memperhatikan wajah cantiknya. Setelah itu melihat ponsel dan mulai menelpon sang pacar. Senja terkejut sebab yang mengangkat telpon itu seorang perempuan, dia menebak pasti sekarang ini Bintang tengah dengan Diana di suatu tempat. Hatinya terasa sakit mengetahui pacar sendiri lebih memilih jalan bersama perempuan lain. Senja mengambil kunci motor dan jaket, lalu berpamitan pada Laura.
Tak butuh waktu lama dia sampai di cafe milik kekasihnya. Baru saja membuka pintu dia sudah melihat pemandangan yang membuatnya kesal. Mengapa tidak, cowok yang sangat dicintainya itu sedang menyuapi orang lain dengan romantis. Thalia langsung memanggil Senja, suaranya terdengar keras sampai Bintang pun menolehkan kepala.
Tanpa merasa bersalah dia tersenyum kepada gadis yang ada diambang pintu, melambaikan tangannya menyuruh Senja duduk bersama. Primadona geng motor itu berjalan mendekat, dia memasang wajah datar. “Hay sayang! Aku tadi nelpon kamu kenapa nggak di angkat?”
“Iya kah? Maaf tadi aku ada urusan didalam dan lupa bawa handphonenya.”
“Oh, tadi juga di angkat sama cewek. Mungkin itu lu ya?” ujar Senja melirik Diana dengan wajah datarnya.
“Bin. Aku mau ngomong berdua sama kamu, BERDUA!” sambungnya, dia sengaja menekan perkataannya. Bintang mengangguk, dia heran akan sikap kekasihnya itu yang terlihat jutek. Akhirnya mereka berbicara empat mata diruangan Bintang, awalnya Diana merengek ingin ikut tapi dilarang oleh Senja.
__ADS_1
Di dalam ruangan keduanya mulai berbicara serius. Senja terlebih dulu menghela napasnya, dia berkata jika dirinya merasa tak suka kepada Diana yang terus menerus menempel. Bintang tersenyum, menggoda Senja tapi gadis di depannya sama sekali tidak tertarik akan godaan tersebut.
“Aku tahu dia sahabat masa kecil kamu, tapi ingat juga kalo aku itu pacar kamu, Bin. Sejak kedatangan dia sikap kamu berubah seolah keberadaan aku nggak kamu anggap. Mungkin Diana lebih berharga dan spesial. Semisal kamu masih suka sama dia mending kita udahan aja. Maaf....,” ucap Senja menunduk. Menahan air matanya saat dia berkata seperti itu.
“Ngomong apasih, dia sahabat aku. Kita murni bersahabat tidak melibatkan perasaan. Diana udah aku anggap seperti adik sendiri, dan maaf kalo sikap aku sedikit buat kamu kesal. Aku nggak bisa menolak permintaan dia...”
“Maaf, maafin aku ya Sen. Nggak bermaksud buat kamu cemburu tapi emang Diana itu baru sembuh dan orang tuanya nitipin dia ke aku selama di sini”
“Ya udah,” seru Senja pasrah. Lagi dan lagi dia menghela napasnya, berjalan keluar dengan wajah kecewa. Sedangkan Bintang mematung ditempat, dia menelan ludahnya dan tak lama menyusul kepergian sang kekasih. Di depan cafe, Bintang menghentikan langkah Senja, memegang lengannya meminta untuk tidak pergi.
“Silakan, lagian gue juga sibuk nggak ada waktu jalan sama Bintang," jawabnya.
“Sen tunggu!” seru Bintang.
“Tuh kan Bin apa kata aku, pacar kamu itu pasti ngizinin. Ya udah nanti kita pergi berdua, okay. Makasih ya Senja,” ujar Diana dan di balas senyuman yang terpaksa.
Senja berlalu pergi, dia menundukkan kepalanya saat melewati Daffa dkk. Gadis itu menahan air matanya untuk tidak jatuh didepan para cowok. Pram menarik tangan Bintang menjauh dari tempatnya.
__ADS_1
“Jauhi kakak aku, kamu nggak pantas sama dia Bin. Harusnya kamu peka sama perasaan Senja, dia begitu karena merasa cemburu dan takut kehilangan cowok yang sangat dicintainya. Kalo Om Biru tahu kesedihan ponakannya gara-gara kamu sudah pasti hubungan kalian akan berakhir malam ini.”
“Intinya sekarang lu pilih Senja atau cewek itu?" seru Theo.
Bintang terdiam, dia terpojok.“Gue nggak bisa milih, keduanya sama-sama orang yang gue sayang.”
“Gue sayang dan cinta sama Senja begitu juga ke Diana, tapi gue sayang sama dia hanya sebatas sahabat aja nggak lebih. Perasaan gue nggak akan pernah berubah, Senja tetap jadi nomor satu di hati gue.”
“Ingat Bin, banyak cowok yang suka sama cewek lu. Dan Senja lebih memilih lu sebagai kekasihnya. Harusnya lu bisa memahami perasaan dia, jaga jarak dengan cewek lain,” sambung Seon.
“Sorry ya Bin, tapi menurut gue lu itu pecundang. Nggak bisa memilih salah satu dari mereka. Kalo lu masih mau sama Senja jauhi Diana, jaga jarak sama cewek itu. Gue sebagai perempuan juga ngerasain sakit yang Senja rasakan," lanjut Thalia.
Semuanya setelah menasihati Bintang langsung membubarkan diri. “Lu harus ingat Bin, Senja juga punya sahabat kecil yaitu Theo. Bahkan mereka dulu saling cinta, menunggu satu sama lain. Senja rela nggak balik ke sahabatnya demi lu, padahal keduanya udah membuat janji. Kalo Theo pulang maka mereka bakal jadian. Lu juga harus sadar bahwa banyak cowok yang suka sama dia, salah satunya Gibran. Tatapan senior kita itu terlihat tulus, gue sering lihat dia melamun dan menyebut nama Senja.”
“Gue kecewa sama lu Bin. Padahal Pak Arya dan Bu Ana mempercayai lu buat jaga dan lindungi Senja. Sekarang lu udah nyakitin perasaanya, mana janji lu untuk terus buat dia bahagia? Kalo lu masih begini dan nggak sadar juga mungkin sebaiknya relain Senja ke Gibran ataupun Theo. Gue lebih percaya sama mereka berdua,” ucap Daffa. Dia berbicara panjang lebar membuat sahabatnya itu menunduk. Menepuk pundak Bintang dan setelahnya berjalan pergi.
Diana datang menghampiri, mengerutkan kening melihat wajah Bintang yang sedih menunduk. Gadis itu membawa sahabatnya masuk kembali ke cafe, Thalia dan Gio hanya diam memperhatikan. Keduanya menyibukkan diri dengan pekerjaan masing-masing. Bintang menepis tangan Diana, dia ingin pergi menyusul pacarnya untuk meminta maaf. Baru saja melangkahkan kaki tiba-tiba gadis itu tak sadarkan diri.
__ADS_1