
Senja maju ke depan, menghadap ke arah Pram dengan tatapan serius. “Gue bakal jadi pacar lu lagi, kalo tantangan dari gue lu terima. Gimana?”
“Apa? Apapun tantangannya bakal aku sanggupi.”
“Kalahin Bintang, tiga tantangan dari gue. Yaitu, balapan motor, basket, juga berbicara 3 bahasa.”
Bintang melirik Senja tak menyangka. Sedangkan para murid lain terdiam, memikirkan apakah Pram bisa mengalahkan Bintang yang merupakan seorang paling ahli dalam ketiga tantangan tersebut. Banyak yang berbisik-bisik tentang Senja, mereka mengira jika gadis itu sengaja karena tidak mau menerima Pram kembali menjadi kekasihnya.
•
•
•
Sekolah telah berakhir, Senja dan keempat temannya yang akan pulang dihentikan oleh guru mereka, yaitu Paris. Gurunya itu menanyakan kabar tentang Biru. Setelah berbincang beberapa menit mereka pamit.
“Kedai Om Biru kuy! Pen lihat Tante cantik,” ajak Bima.
“Nggak ah, gue kangen sama Laura,” jawab Senja. Keempat cowok di samping langsung meliriknya bersamaan.
Senja tertawa, lalu tak berkata lagi. Gadis itu pergi meninggalkan teman-temannya diparkiran. Laura yang shock karena kejadian kemarin ulah dari si anak tiri tidak berani lagi untuk keluar malam. “Sepi banget nih rumah, si mahmud kemana ya?” ujarnya. Senja membuka pintu depan namun tidak melihat keberadaan Laura, saat akan naik ke atas dia mendengar suara seseorang dari dalam kamar Papanya.
Senja berjalan dengan suara pelan, dia menempelkan telinganya di tembok untuk mendengar suara itu lebih jelas. Senja menelan ludahnya saat suara ******* terdengar. “Jangan-jangan....” Tak lama setelah dirinya menguping, suara deru mobil terdengar, dia langsung berlari keluar menghampiri Papanya. Benar saja Pak Arya telah pulang, lelaki tua itu melihat putrinya berlari.
Senja mencium lengan Papanya terlebih dahulu setelahnya dia menarik Pak Arya masuk kedalam dan menyuruh memeriksa kamar. Wajahnya keheranan dengan tingkah sang putri akan tetapi dia pun menurut.
Pintu kamar terbuka, nampak Laura yang sedang tiduran. Wanita itu membuka matanya pelan lalu menyapa si suami. Senja mengerutkan keningnya, mata dia terus memantau kanan kiri.
__ADS_1
“Kamu udah pulang mas? Maaf ya aku ketiduran,” ucap Laura sembari mengucek matanya.
“Iya nggak papa kok sayang,” jawabnya tersenyum. Laura melihat Senja dan bertanya namun gadis itu tidak menjawabnya, dia malah pergi memeriksa toilet.
“Kamu kenapa hah? Tadi nyuruh Papa cepet-cepet masuk ke kamar terus sekarang kamu periksa toilet. Ada apa emangnya dikamar Papa?” tanya Pak Arya.
“A—anu, nggak ada apa-apa kok Pah. Ya udah Senja ke kamar dulu mau mandi udah bau keringat.”
Didalam kamar gadis itu masih memikirkan apa yang dia dengar dari kamar Papanya. Jika Laura sedang menonton film dewasa mengapa saat dirinya dan sang Papa masuk wanita tersebut baru bangun tidur. Pikiran Senja mulai kemana-mana, dia curiga jika Mama tirinya itu tengah bermain dengan Daniel.
“Kok bisa nggak ada ya orangnya? Dimana si mahmud umpetin tuh cowok?”
Berbeda dengan Laura, dia menghela napasnya lega setelah kepergian sang kekasih. Namun saat Pak Arya akan merebahkan dirinya disofa kamar, mata wanita itu melotot. Dia melihat sesuatu yang membuatnya panik seketika.
“Mas, kamu mending makan dulu. Abis itu baru deh rebahan atau mau tidur juga nggak papa. Kebetulan aku udah pesanin kamu makanan,” ucapnya sedikit kelagapan.
“Kamu nggak tidur sayang? Jangan begadang terus, nggak baik buat kesehatan kamu,” ujar Pak Arya.
“Tumben nggak keluar sama teman-teman cowok mu itu?” seru Laura.
“Nanti aku tidur kok Pah, sekarang masih mau nonton sama Papa,” jawab Senja. Dia sengaja tidak menjawab pertanyaan dari Mama tirinya. Laura dalam hati kesal karena ucapannya yang tidak ditanggapi oleh gadis nakal itu, ketika ketiganya sedang serius menonton tiba-tiba suara dering telpon terdengar. Pak Arya meminta sang istri untuk mengangkat telepon tersebut dan Laura pun pergi meninggalkan suami serta anaknya.
Tak lama kemudian sang istri kembali dan pamit lagi karena mengantuk. Pak Arya mengangguk, dia pun ikut dengan Laura pergi ke kamar. Kini tinggal lah Senja seorang diri di ruang televisi. Dia mengambil ponselnya memeriksa grup dan sudah ada banyak pesan yang tak jelas dari keempat temannya. Dirasa kedua orang tuanya sudah terlelap tidur, Senja diam-diam mengambil kunci motornya lalu pergi menuju Bintang dkk berada.
Jam telah menunjukkan pukul 22.00, Senja masih dalam perjalanan. Saat hendak berbelok tidak sengaja dirinya menabrak seorang perempuan. Dibantunya berdiri dan meminta maaf, perempuan tersebut tersenyum sembari mengucapkan terimakasih. Karena merasa bersalah dan tidak enak juga Senja pun menawarkan untuk mengantarkan si perempuan pulang.
“Nggak usah dek, nanti malah ngerepotin.”
__ADS_1
“Nggak papa kok Tan, ini sebagai tanda minta maaf aku aja. Lagipula kayaknya kaki Tante terluka sedikit,” ucapnya. Perempuan tersebut akhirnya mau di antarkan oleh Senja, beberapa saat kemudian mereka berdua sampai disebuah rumah sederhana.
“Aduh nak, bikin khawatir aja kamu ini. Ibu udah nunggu dari sore, eh ini siapa? Ayo disuruh masuk,” ujar seorang wanita tua dengan wajah cemas. Ternyata dia adalah ibu dari perempuan yang Senja tabrak.
“Maaf nek Senja nggak bisa mampir, udah malam juga mau ke suatu tempat,” ucapnya sopan.
“Makasih ya udah nganterin.”
“Iya sama-sama, sekali lagi aku minta maaf ya Tante,” jawabnya.
Sebelum pergi dia merogoh ponselnya memberitahu Bintang jika tidak jadi datang. Senja memutuskan untuk pulang kerumah. Keesokkan harinya, pagi-pagi sekali dia sudah bersiap pergi sekolah. Padahal jam masih menunjukkan pukul 5:30. Saat sedang mampir disebuah warung makan, dirinya kembali melihat perempuan yang semalam. Nampak perempuan tersebut tengah menyemangati dirinya sendiri sembari melihat barang yang dibawanya.
“Bu, totalnya berapa ya?” tanya Senja pada si pemilik warung. Setelah membungkus makanan dia pergi menuju motornya. Pandangan dia teralihkan melihat si perempuan yang tengah diganggu beberapa preman. Awalnya Senja cuek dan tidak mau ikut campur, namun lama-kelamaan preman itu semakin keterlaluan membuat dirinya harus menghampiri mereka.
“Woy! Ngapain lu?” teriak Senja seperti menantang.
“Bukan urusan lu! Sana pergi sekolah jangan ikut campur,” jawab salah satu preman yang berbadan gemuk.
“Gue nggak akan ikut campur kalo misalkan lu berdua nggak bersikap kasar sama perempuan ini,” ucapnya.
“Udah nak kamu pergi aja, bahaya. Ini mas uangnya maaf cuman ada segitu, dagangan saya belum laku.”
Si preman membuang uang pemberian si perempuan, dia meminta uang yang lebih besar. Tak lupa juga preman satunya lagi mendorong keras. Melihat itu Senja pun langsung memukul lalu membantu si perempuan berdiri. Karena masih pagi dan dia mengenakan seragam sekolah, maka Senja berbisik mengajak si perempuan kabur menggunakan motornya.
Beberapa kemudian...., mereka sampai di kedai Biru. Si perempuan memperkenalkan dirinya, dia bernama Silla, mengucapkan terimakasih kepada Senja karena telah menolongnya. Gadis remaja di depannya hanya tersenyum dan menyuruh Silla duduk.
“Tumben pagi-pagi udah ke sini,” ujar seseorang dari belakang. Ternyata Biru, dia baru saja datang dan melihat keberadaan Senja bersama seorang perempuan.
__ADS_1