Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 16


__ADS_3

Seorang pria tengah duduk di taman. Tak lama kemudian datanglah perempuan dengan penampilan modis. Mereka berpelukan.


“Gimana kabar lu, Sa?” tanya Heru.


“Gue baik, lu sendiri gimana? Apa udah berhasil bawa anak lu dari Biru dan Ara?


“Masih nyusun rencana, tapi gue selalu ngawasin Senja. Nggak nyangka ternyata anak gue sama Ara itu tumbuh jadi gadis cantik,” ucapnya.


“Denger-denger sih dia jadi ketua geng motor kayak Biru dulu, emang iya?”


Heru mengangguk membenarkan perkataan Sasa. Entah apa lagi masalah yang akan mereka buat, keduanya sama-sama belum puas mengusik kehidupan Biru dan adiknya. Padahal Sasa sudah mendapatkan hukuman penjara akibat bekerjasama dengan Heru, kini wanita itu mau ikut campur lagi, benar-benar tidak membuatnya berubah.


Dari tempat mereka berada, nampak juga wanita yang sedang bermesraan. Dia adalah Laura, seorang cowok muda yang seumuran dengannya tengah menyuapi es krim. Mereka terlihat bersenang-senang, tertawa bersama. Dalam perbincangan itu Laura menjelek-jelekan Pak Arya sebagai lelaki tua yang bodoh.


Kembali kesekolah, Pram pergi ke kelas seni. Dia berniat menuangkan hobi melukisnya di sana. Dalam pikirannya hanya ada wajah Senja, dan tanpa dirinya ketahui seorang siswa tengah memperhatikannya dan merekam. Dalam hati siswa tersebut dia berdecak kagum akan hasil lukisan Pram yang objeknya Senja, siswi populer.


Setelah itu dia mulai menyebarkan video tersebut ke grup sekolah. Baru beberapa detik dikirimkan sudah banyak yang melihat. Salah satu murid yang berada dikelas menyuruh Daffa untuk membuka grup. Karena penasaran dia dan teman-temannya pun melihat. Senja terkejut saat tahu Pram melukis wajah dirinya. Bintang sendiri sudah menduganya jika murid baru tersebut menyukai sang pujaan hatinya.


Senja beranjak dari duduknya dan pergi ke ruangan seni. Melihat Pram yang sedang membereskan alat lukisnya dia langsung menghampiri. Kedatangan Senja yang begitu dadakan membuat Pram terkejut, apalagi hasil lukisannya itu belum dia sembunyikan. Mata gadis di depannya begitu tajam menatap, dia sampai menelan ludahnya karena takut akan tatapan itu.


“Sorry, Sen. A-aku nggak bermaksud lukis wajah kamu tanpa izin, sekali lagi aku minta maaf.”

__ADS_1


“Lu gue maafin, tapi lukisan ini buat gue, gimana?”


“Oh iya iya boleh, ambil aja. Kirain aku kamu mau marah.”


“Santai, gue suka karya seni lu.”


Senja kagum dan sangat suka akan hasil lukisan Pram, wajahnya terlihat begitu cantik. Sedangkan laki-laki yang melukisnya mengelus dada dan menghela napasnya. Dia sangat takut jika Senja marah kepadanya akan tetapi tidak diduga gadis itu menyukai hasil karyanya.


Tak terasa hari sudah sore. Senja yang sedang dalam perjalanan pulang tidak sengaja melihat Mama tirinya yang sedang makan di sebuah restoran bersama seorang pria. “Itu di mahmud ngapain dan sama siapa? Ahhh..., pasti sama pacarnya. Gue poto lu berdua terus simpan sebagai bukti buat kasih ke Papa.”


Dia mengeluarkan ponselnya dan mulai memotret Laura. Pas saat sedang dipoto, mereka berdua tengah saling bersuapan. Itu merupakan momen yang bagus bagi Senja. “Cakep juga cowoknya si mahmud, ah hah! Gue punya rencana nih, kayaknya seru buat ngerjain mereka berdua.”


Dia turun dari motor berjalan menuju restoran tempat Laura berada. Agar tidak ketahuan Senja memakai topi dan duduk agak sedikit jauh. Setelah itu dia memanggil pelayan lalu memesan banyak makanan. Beberapa menit kemudian datanglah pesanannya, Senja menyantap dengan sangat lahap kebetulan juga dirinya belum makan.


“Mama,” ujar Senja tersenyum. Laura terkejut akan kehadiran anak tirinya. Tak lama seorang pelayan datang memberikan nota makanan. Lelaki yang berada disamping Laura menelan ludahnya, dia tidak percaya makanan yang selesai dia santap bersama kekasihnya sampai menghabiskan uang sebanyak 4 juta rupiah.


“Oh iya, mereka berdua yang bayar makanan saya ya mbak. Kebetulan perempuan cantik ini Mama saya, jadi mereka saja yang bayarnya,” ucap Senja ramah, tersenyum melirik Laura.


“Berapa mbak totalnya?” tanya Laura. Dia menatap Senja kesal, bisa-bisanya gadis nakal itu mengerjainya.


“4 juta rupiah.”

__ADS_1


Senja pergi begitu saja, dia kabur membawa 50 bungkus makanan. Karena tidak tahu harus dia apakan makanan tersebut, maka Senja berinisiatif untuk membagikan semua itu kepada anak-anak jalanan yang sedang beristirahat. Setelah selesai dia melanjutkan perjalanan pulang. Sesampainya dirumah sudah ada Biru dan Pak Arya di depan. Senja bersalam lalu izin masuk ke kemar untuk mandi karena badannya sudah bau dengan keringat.


Di malam harinya, Laura mengetuk pintu kamar Senja. Sepertinya perempuan tersebut ingin anak tirinya agar tidak memberitahu sang suami soal kejadian sore tadi. Pintu dibuka, melihat Laura yang datang Senja menutupnya kembali.


“Nggak bisa dibiarin nih bocah sialan! Bisa gawat kalo dia ngadu ke Papanya soal kejadian tadi. Gagal sudah buat gue dapatkan semua harta Pak Arya.”


Ditempat lain, Daffa sedang membantu neneknya berjalan menuju kamar mandi. Ternyata dia mempunyai seorang nenek yang tengah sakit-sakitan. Motor kesayangannya harus dia jual untuk berobat sang nenek, dirinya terpaksa berbohong kepada Senja karena tidak mau merepotkan sahabat perempuannya lagi.


Setelah membantu sang nenek, Daffa mengeluarkan bukunya untuk belajar. Dia sengaja tidak bermain bersama Bintang, Bima dan Leo. Sebenarnya nenek dia sudah dirawat dirumah sakit, namun karena biaya maka dengan terpaksa membawanya pulang. Sang nenek juga merasa tidak betah berlama-lama di sana, ditambah dia tidak mau membuat susah cucunya.


Saat tengah malam, Daffa terbangun karena mendengar sang nenek memanggil. Perempuan renta tersebut ingin pergi lagi ke toilet. Setelah selesai, si nenek meminta sang cucu duduk disampingnya.


“Daffa, kalo misalkan umur nenek udah cukup sampai di sini. Satu yang nenek minta buat kamu, jangan kebanyakan bermain, kamu harus rajin belajar agar menjadi lelaki sukses.”


“Nenek apasih bilang kayak gitu, Daffa nggak suka!” serunya. Daffa berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir.


“Sampaikan rasa terimakasih nenek kepada nak Senja dan Biru. Mereka berdua sudah banyak membantu keluarga kita, kamu jangan lupa untuk membalas kebaikan mereka berdua,” ucapnya dengan nada lemah.


“Ingat pesan nenek, kamu harus rajin belajar. Jangan keseringan bermain, begadang atau balapan liar lagi. Nenek hanya berharap kamu baik-baik saja saat tidak ada lagi nenek di samping kamu.”


Kali ini Daffa benar-benar tidak dapat menahan air matanya. Dia memeluk perempuan tua itu dengan hangat. “Daffa janji, akan mendengarkan perkataan nenek.”

__ADS_1


“Tapi nenek juga harus mau mendengarkan perkataan Daffa. Besok kita pergi kerumah sakit lagi ya, biar nenek cepat sembuh. Daffa udah punya uang sekarang,” ungkapnya. Tangan sang nenek begitu dingin, dia juga tidak mendapatkan respon dari perempuan tua yang kini sedang dipeluknya.


__ADS_2