
Tantangan dari ketiga temannya itu diterima oleh Senja. Selama seminggu dia harus berpenampilan layaknya perempuan feminim serta berkata halus apapun kondisinya. Hal tersebut menguntungkan bagi mereka karena bisa berbuat jail seenaknya tanpa harus mendengar omelan kasar. Pram juga memberanikan diri kembali mendekati Senja, dia ingin menjalin hubungan baik sebagai adik kakak semana mestinya. Berbeda dengan Bintang, hari demi hari cowok itu selalu menghindar dan menolak setiap kali diajak bermain bersama.
Suatu ketika, saat Senja dkk akan masuk kedalam kelas mereka tidak sengaja mendengar percakapan sahabatnya dengan Bu Ana. Setelah tahu apa yang Bintang alami, semuanya terdiam, merasa bersalah karena telah berburuk sangka.
“Ini yang gue nggak suka dari dia, kalo ada masalah pasti dipendam sendiri. Nggak pernah mau buat cerita padahal kita sahabatnya, sesusah apapun yang dia alami gue, lu dan anak-anak yang lain pasti bakal bantu ya?” ungkap Daffa. Kelima orang didepannya menganggukkan kepala, setelah itu mereka saling bisik untuk merencanakan sesuatu.
Bintang keluar dari kelas, dia melihat keenam sahabatnya tengah berkumpul. Ingin ikut gabung namun masih merasa tidak enak hati, setiap diajak selalu menolak. Kini mereka lah yang bersikap cuek padanya, tidak pernah lagi mengajak bermain atau apapun itu. Bintang sadar tanpa Senja dkk kehidupannya berkurang, dia merasa kesepian tidak ada lagi orang yang menghibur, membuat lelucon seperti Bima, Leo dan Seon. Dan tak ada juga orang yang selalu peduli memberikan saran seperti Daffa, penyemangat seperti Senja.
Menjalin hubungan dengan Cantika membuatnya kehilangan itu semua. Penyesalan memang selalu datang terakhir.
“Sen, ikutan event fashion show sana. Lumayan loh hadiahnya bisa buat bantu Bintang bayar hutang sama si Cantika,” seru Daffa. Dia yang asik men-scroll media sosial tak sengaja melihat poster tersebut.
“Tapi berdua harus ada pasangannya, gimana?” lanjutnya.
Semua mata langsung tertuju kepada Pram, orang yang cocok untuk menjadi pendamping dalam event itu ialah dia. Dari segi fisik sudah mendukung, Pram memiliki wajah yang tampan dan badan tinggi. Jika disandingkan dengan Senja pada event fashion show itu maka keduanya akan terlihat serasi.
“Udah nggak usah banyak mikir. Gue daftarin lu berdua, bentar.”
__ADS_1
Acara akan diselenggarakan seminggu lagi, Senja dan Pram terus berlatih dirumah. Laura mengajarkan dua anak remaja itu berjalan dengan benar. Dia juga yang menyiapkan kostum yang akan putrinya kenakan. Senja menghela napas dengan berat, dia merasa gugup melihat banyak orang yang duduk untuk melihat penampilan para peserta. Pram tersenyum mengelus pundak kakaknya. Tiba saatnya nama mereka berdua dipanggil.
Beberapa orang terkenal yang melihat acara tersebut tertarik kepada Senja dan Pram. Matanya terus melihat kedua anak remaja itu, dia tersenyum dan memberikan tepuk tangan. Dibelakang panggung Daffa, Leo serta dua lainnya menghampiri. Mereka memuji kemampuan Laura yang telah mengubah dua temannya. Pengumuman juara akan diumumkan di hari senin nanti, semua peserta dipersilahkan untuk pulang terlebih dahulu.
Senja pamit ke toilet untuk berganti pakaian. Tidak sengaja dirinya berpapasan dengan orang terkenal itu. Rasa canggung Senja rasakan, apalagi orang tersebut memuji kecantikannya. Dia hanya bisa tersenyum dan bersikap ramah atas apa yang diucapkan.
“Lama banget lu di toilet ngapain aja?” tanya Bima.
“Yeh! Kalo nggak diajak ngobrol sama tuh orang gue pasti udah keluar daritadi.”
Mereka melirik ke arah yang ditunjukkan Senja. Leo tersentak kaget melihat idolanya berada ditempat tersebut, dia berjalan mendekat lalu dengan gugup meminta poto bersama. “Leo cepetan! Gue tinggal nih,” teriak Senja.
Pada malam harinya, Ara dan Biru berkunjung kerumah Senja. Laura dengan senang hati menyambut kedatangan keluarga suaminya. Selesai makan bersama semua orang berkumpul diruang tamu. Ara menjelaskan kepada Pak Arya jika Senja sudah mengetahui asal-usulnya. Bahwa dia adalah anak dari Heru dan Tita, dan juga kakak tiri Pram/ Nugraha. Pak Arya menghela napas dia meminta maaf telah menyembunyikan identitas Senja, sang putri tersenyum, mendekat lalu memeluk Papanya. Dia merasa bersyukur bisa diasuh oleh keluarga Andi, yang menyayangi sepenuh hati seperti anak kandungnya sendiri. Kini sudah tidak ada lagi rahasia diantara keluarga itu.
Sea yang baru pulang jalan dengan Daniel merasa malas karena dirumah banyak orang. Dia sama sekali tidak menyapa keluarga Senja, Laura merasa malu melihat sifat adiknya tersebut yang tidak memiliki sopan santun pada orang tua. Ketika sedang asik mengobrol, suara gaduh terdengar dilantai atas. Laura izin pada sang suami untuk melihat, sesampainya di sana dia terkejut mendapati sang ibu tergeletak dibawah.
“Kalo nggak bisa ngapa-ngapain mending tidur aja Bu, nyusahin kan jadinya,” ucap Sea tanpa memfilter mulutnya. Laura merasa kesal akan perkataan adiknya yang berkata demikian pada ibunya sendiri. Sudah tidak tahan akan sikapnya, dia pun berniat mengusir beban dari rumah sang suami.
__ADS_1
“Heh! Mending lu cabut aja dari sini, nggak guna juga. Ngerepotin orang doang, lagian napa sih balik ke sini, si Daniel itu nggak sanggup buat beliin atau sewa rumah buat lu? Apa jangan-jangan pacar lu itu ada cewek lain makanya nggak pernah ngajak nikah,” seru Senja dari belakang.
“Kata siapa? Gue sama Daniel bentar lagi mau nikah.”
“Bagus deh, cepet-cepet pergi. Jangan sampai balik lagi kerumah Papa gue!”
“Mahmud lu dipanggil, suruh ke bawah,” lanjutnya.
Sea kembali ke kamar dan Laura turun menemui sang suami. Kini tinggal Senja dengan neneknya, dia duduk disamping memegang lengan ibu Laura sambil menceritakan isi hatinya. Wanita tua itu merasa senang mendengarkan curhatan cucunya. Di tempat lain, Daffa melihat Sasa yang duduk seorang diri.
“Lambat laun Om Biru sama Tante Ara bakal maafin kok. Mungkin mereka masih butuh waktu karena sikap Tante dan Om Heru yang sangat keterlaluan sama mereka.”
Sasa menoleh, dia terdiam sejenak. Lalu dengan canggung berkata bahwa dia ingin meminjam uang. Rasanya tidak enak hati mengetahui keadaan Daffa yang pas-pasan, namun Sasa bingung harus meminta bantuan ke siapa lagi. Dia sudah lelah terus dikejar oleh orang-orang penagih hutang, keberadaannya pun telah diketahui.
“Aku ada tabungan, nggak banyak sih tapi kayaknya cukup deh. Permintaan aku cuman satu, yaitu Tante harus jadi orang baik. Untuk bayar pinjamannya cukup bantu aku aja, mau?”
“Padahal saya bukan saudara kamu Daffa, tapi kenapa baik banget mau bantu orang lain. Tante janji akan berusaha menjadi lebih baik dan bantu dagangan kamu.”
__ADS_1
“Om Biru yang ngajarin buat membantu orang lain. Dia juga belajar dari ibunya Tante Echa,” jawab Daffa.