Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 45


__ADS_3

Dua hari kemudian Senja dkk bersiap untuk acara persami. Pram pun sudah pulang dasi rumah sakit, mereka berenam langsung menghampiri ketua osis. Sore harinya semua siswa yang ikut dalam acara tersebut dikumpulkan di lapangan. Para pengurus lain menyiapkan kayu bakar untuk api unggun, sisanya mengurus anak-anak Pramuka. Dimalam harinya, saat api unggun dimulai beberapa siswa menampilkan pentas seni, setiap grup wajib mengikutinya dan itu semua akan dinilai oleh beberapa guru yang berada di sana.


Sebagai acara tambahan, Senja dkk diperintahkan tampil. Jelas saja hal itu membuat mereka heran sebab sejak awal para anggota osis tidak memberitahunya. Bima bingung harus menampilkan apa, siswa-siswa juga sudah bertepuk tangan ingin melihat High Five tampil. Dengan terpaksa serta tanpa persiapan apapun, maka keenam orang itu maju kedepan, Leo menyalakan musik dari sebuah band terkenal.


Semua yang berada di sana bersorak melihat penampilan dance dari Senja dkk. Tidak disangka mereka semua bisa selincah itu. Beberapa menit kemudian acara selesai, ketua osis meminta semuanya untuk segera tidur karena tengah malam nanti mereka akan dibangunkan kembali, melakukan jurit malam. Senja dkk bukannya tidur mereka malah mengobrol, namun dengan suara yang kecil agar tidak mengganggu orang-orang. Tidak ada satu pun diantara mereka yang merasakan kantuk.


Tanpa mereka semua sadari, ada beberapa orang yang masuk kesekolah secara diam-diam. Entah apa yang orang itu rencanakan, mereka menunggu anak-anak yang persami bangun. Tengah malam pun tiba, anggota osis berkeliling membangunkan yang lain. Selama 5 menit semuanya harus berada di lapangan dengan pakaian yang lengkap.


“Ini nih acara yang paling gue suka, jurit malam,” ungkap Leo bahagia. Sejak awal hanya jurit malam lah yang dirinya tunggu. Senja mengejek Leo, pasalnya cowok itu penakut namun dengan beraninya dan bahagia menunggu acara jurit malam.


Senja pun teringat dengan kejadian dulu dimana saat dirinya dijebak oleh para pembully digudang. Dia melihat Leo yang menangis karena takut, tatapan sang sahabat begitu tajam melihat Senja, Leo seperti tahu apa yang sedang gadis itu pikirkan.


Ditempat lain, Orang-orang yang menyusup telah siap dengan rencana mereka. Barang-barang untuk mengerjai anak-anak persami sudah lengkap, kejahilan mereka begitu niat karena sampai ada yang memakai make-up untuk menjadi hantu. Aldrian yang memimpin meminta teman-temannya berpencar, bersembunyi ditempat yang akan para anggota persami lewati.


Di kegelapan malam, Senja yang bersama dengan Bima membimbing adik kelasnya. Kedua orang itu asik mengobrol dan tidak menyadari ada seseorang disamping sedang bersembunyi.

__ADS_1


“Bim, kalo gue suatu saat berubah nggak kayak sekarang gimana?” tanya Senja.


“Maksudnya? Jangan berubah lah Sen, gue dan yang lain suka sama sikap dan gaya ku yang sekarang. Saran gue jangan meniru orang lain agar lu menjadi lebih baik, jadilah diri lu sendiri.”


“Oh gitu.”


“Emangnya kenapa sih hah? Kok tiba-tiba nanya gitu?” tanya balik Bima. Gadis itu menggeleng dan tersenyum, meminta pokus menjaga anak-anak Pramuka dan osis. Para senior sudah menunggu di setiap ruangan, saat kelompok Senja masuk tidak ada orang didalamnya. Bima bertanya pada Senja, apakah mereka salah ruangan?


Karena tidak ada satu orang pun di sana yang menjaga, maka mereka memutuskan untuk kembali ke luar. Tidak ada angin tiba-tiba saja pintu terbanting keras membuat yang lain berteriak. Beberapa junior menangis ketakutan dan Senja menenangkannya. “Apa ini termasuk dalam acara? Mungkin anggota lain sengaja buat kita takut,” ujar Bima.


“Bisa jadi Bim, coba deh lu buka pintunya.”


“Gila nih para osis sama anak pramuka. Ada rencana kayak gini kok nggak pada bilang, kan jadinya horor,” gumam Bintang. Junior yang ikut bersamanya melihat sesuatu yang melayang berwarna putih, dia menjerit membuat semuanya terkejut. Bintang maju kedepan, bertanya apa yang juniornya lihat. Tidak ada jawaban dari siswa tersebut, dia malah menggelengkan kepala melanjutkan langkahnya sembari terus menunduk.


Berbeda dengan Daffa dan Pram, keduanya saat melihat yang aneh langsung menghampiri. Mereka mendapatkan Aldrian yang tengah tertidur sembari duduk. Dalam benaknya bertanya-tanya mengapa ada Aldrian disekolah, dilihatnya lagi ternyata cowok yang mengejar Senja itu membawa perlengkapan hantu. Daffa dan Pram pun langsung paham dengan maksud Aldrian tersebut.

__ADS_1


Keduanya saling lirik lalu tersenyum. Para juniornya diminta untuk mengikat Aldrian. Setelah itu Daffa beraksi dengan berpura-pura menjadi hantu. Sedangkan yang lainnya bersembunyi melihat aksi yang akan kakak kelasnya lakukan. Hanya menggunakan kain putih lebar dan panjang, Daffa sudah seperti hantu. Ditambah dengan senter dari handphone Pram.


Pelan-pelan dia berjalan ke samping Aldrian, lalu berbisik membangunkan cowok tersebut. Awalnya Aldrian hanya terbengong melihat putih-putih yang berada disampingnya, lalu lambat laun setelah mata dia terbuka benar baru lah dirinya sadar.


Aldrian berteriak serta lari terbirit-birit, bahkan cowok itu sampai menabrak tiang. Para junior beserta Pram tertawa melihat tingkah Aldrian yang ketakutan. Tanpa sadar dia telah sampai ditempat guru-guru dan ketua osis berada, mereka kaget akan keberadaannya. “Bu.., di sana ada setan..” ucapnya. Bu guru meminta Aldrian mengambil napas terlebih dahulu, wajahnya terlihat pucat. Kembali pada Daffa dkk, dia membuka kain putihnya.


“Aelah cowok kok penakut sih. Lagipula ngapain juga dia ada di sini.”


“Udah Daf, mending kita lanjut aja sebelum jam 3 pagi.”


Daffa mengangguk lalu mengajak adik kelasnya pergi. Tak lama mereka sampai didepan ruangan Senja, di mana sahabat perempuannya itu tengah terkunci akibat ulah teman-teman Aldrian. Melihat Daffa lewat Bima pun menggedor jendela agar temannya bisa tahu. Namun sayang, gedoran itu dianggap horor oleh mereka semua, para junior Daffa terlebih dahulu lari meninggalkan dua kakak kelasnya.


“Kampret si Daffa,” ujar Bima.


“Terus kita keluarnya gimana kak?”

__ADS_1


“Kalian tenang aja, masih ada beberapa rombongan lagi yang akan lewat sini. Kita minta bantuan ke mereka nanti,” seru Senja menenangkannya juniornya. Dilihat satu persatu wajah mereka sudah lelah. “Gimana kalo yang lain juga sama kayak kak Daffa, nggak denger?”


“Kalian udah diem aja nggak usah banyak bicara. Sama gue aman kok!” jawab Senja. Gadis itu menghela napasnya kasar, suara tawaan yang begitu nyaring membuat junior Senja berteriak. Ternyata teman-teman Aldrian menyetel suara kuntilanak dari ponselnya.


__ADS_2