Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 58


__ADS_3

Senja tersenyum lebar melihat ke arah langit, layangan yang indah itu terbang tinggi di atas sana. Meli memanggil namanya dan menyuruh dia memegang layangan tersebut. Awalnya Senja menolak karena dia tidak tahu cara menerbangkannya, namun Meli memaksa bahkan gadis itu meminta Reno untuk mengajarkan Senja.


Keasikan bermain bersama Meli dan Reno, dia sampai lupa waktu. Matahari sudah mulai menenggelamkan diri, jam pun menunjukkan pukul 17:30. Senja berpamitan pada dua remaja desa itu, dia mengucapkan terimakasih karena mereka berdua telah mau mengajaknya bermain bersama. Saat sampai di villa, suasana di sana begitu sepi, hening, tidak seperti biasa yang ramai akan candaan teman-temannya.


Senja tak sengaja berpapasan dengan Ara, dirinya memberikan senyuman pada ibu sang kekasih. Baru kali ini wanita yang selalu ramah dan perhatian padanya itu bersikap cuek. Senja benar-benar merasa canggung saat berdekatan dengan Tantenya. Mereka berdua hanya saling tatap lalu melanjutkan langkahnya.


Sesampainya di kamar, Senja merebahkan diri, memandang atap-atap langit villa. Dia berpikir salah apa yang telah diperbuat sampai Ara tidak menginginkan putranya berpacaran dengannya. Hubungannya beberapa minggu terakhir selalu baik namun kali ini dia dan Pram harus mengalami rintangan. Sang kekasih merupakan anak yang penurut, Senja menebak jika sebentar lagi Pram akan memutuskan hubungan dengannya.


Suara ketukan membuat dia terkejut. Dengan malas Senja bangun dan berjalan menuju pintu. Setelah dibuka ternyata Bintang dan Daffa lah yang mengetuk. Kedua lelaki tersebut ingin melihat keadaannya. Senja mempersilahkan kedua sahabatnya masuk namun dengan pintu kamar terbuka. Mereka bertiga mengobrol, awalnya hanya obrolan biasa namun lama-kelamaan Senja menitikkan air matanya.


Bintang tidak tega melihat gadis yang dia cintai menangis seperti itu. Dia mengusap air mata Senja sembari memberikan semangat, tanpa ketiganya ketahui Pram sudah berdiri didepan pintu. Dia melihat kekasihnya tengah bersandar dipundak Bintang. Walau dirinya tahu sedekat apa Senja dengan Bintang, tetap saja hatinya terasa sakit melihat itu semua.


“Daf, gue keluar bentar.”


“Mau kemana Bin?”


Bintang tak menjawab, dia bergegas pergi. Di bawah sana dirinya menghentikan langkah Pram. Saat akan bicara kekasih Senja itu langsung berkata duluan.


“Kayaknya Senja lebih nyaman sama kamu Bin. Dan sepertinya hubungan aku sama dia sampai di sini aja. Titip Senja ya, jaga dia dan jangan buat dia sedih ataupun nangis,” ungkapnya.


“Lu ngomong apaan sih Pram? Senja itu cintanya sama lu bukan ke gue. Gue nggak ada niatan buat rebut dia dari sahabat gue sendiri, cukup mencintai dalam diam udah cukup bagi gue karena cinta nggak harus memiliki.”


“Gue minta sama lu pertahankan hubungan kalian berdua, gue nggak mau lihat dia sedih,” sambung Bintang pelan.

__ADS_1


“Percuma Bin, aku sama dia adik kakak. Kita berdua nggak dibolehin bersama,” ucapnya sembari menggeleng. Bintang mengangkat kepalanya memandang serius pada Pram.


“Maksud lu? Adik kakak gimana?”


Pram tak menjawab dia hanya tersenyum lalu pergi. Sedangkan Bintang masih berdiam diri memandang kepergian sahabatnya. Lea yang tak sengaja mendengar percakapan itu pun ikut terdiam, gadis itu berpikir jika Pram benar-benar putus dengan Senja maka akan ada banyak peluang bagi Bintang menjadi kekasih sahabat kakaknya itu.


“Kalo itu terjadi berarti niat gue buat deketin kak Bintang bakal gagal dong,” pikirnya.


Biru, Silla serta Galang sudah berada di meja makan. Mereka bertiga menunggu yang lain ke luar dari kamar. Tak lama datanglah Echa, Bara, Arka dan Nadia. Mereka berempat heran mengapa meja masih kosong, biasanya sudah ada para anak remaja yang duduk duluan menunggu Meli dan bapaknya menyiapkan makanan.


“Ara dimana?” tanya Nadia.


“Dia masih di kamarnya, nemenin Shena nanti juga ke sini,” jawab Galang. Beberapa saat kemudian datanglah Bima, Leo, Lea, Seon dan Daffa.


“Malam semuanya,” sapa mereka berlima. Makanan sudah terhidang, namun empat orang lainnya masih belum juga keluar dari dalam kamar. Leo dan Daffa mendapatkan notif pesan dari dua sahabatnya. Mereka pun menyampaikan pesan tersebut jika Bintang serta Senja tidak ikut makan bersama. Biru mengangguk lalu menyuruh Galang memanggil putra juga istrinya.


“Harusnya sejak awal gue nggak usah kenal sama yang namanya cinta. Ternyata sesakit ini ya hubungan nggak dapat restu padahal ini baru fase pacaran, belum ke jenjang pernikahan.”


Senja menghela napas kasar, memasang earphone pada telinganya lalu mulai memejamkan mata. Di tempat lain, Bintang sedang berada di warung kemarin. Dia makan di sana sembari mencari udara segar. Beberapa remaja desa termasuk Reno tengah membicarakan Senja. Ternyata dia terpesona akan kecantikan gadis kota tersebut. Tidak lupa Reno menceritakan keseruannya bermain layangan bersama Senja.


“Gila cantik banget dilihat dari dekat. Tangannya lembut terus wangi lagi.”


“Menang banyak dong tadi, si Meli pake manggil kamu lagi bukan saya.”

__ADS_1


“Sudah rejeki saya itu mah,” ucap Reno tersenyum.


Bintang masih terus mendengarkan mereka berbincang. Sampai dimana saat dirinya akan pulang ke villa, salah satu anak remaja tersebut mengatakan hal yang membuat Bintang kesal. Tanpa berbicara dia langsung memukul wajah teman Reno.


“Sekali lagi lu ngomong kayak gitu berurusan sama gue!” ucap Bintang penuh penekanan. Reno berdiri di depannya dan bertanya siapa Bintang, apa penyebab dia memukul temannya?


“Dia kan salah satu anak kota itu,” seru yang lain.


“Jadi kamu nggak terima sama perkataan kita barusan? Emangnya kamu siapanya Senja? Pacar, bapak atau babu? Hahaha....”


Bintang mengepalkan tangannya, untung saja Seon bersama Bima datang. Keduanya langsung mengajak sang sahabat pergi dari sana. Dalam perjalanan ke villa, Bima bertanya masalah apa yang terjadi, sayangnya Bintang hanya diam tak menggubris ucapan dirinya. Seon mengangkat kedua bahunya saat Bima melirik ke arahnya.


“Gue kira liburan kita itu bakal menyenangkan, kalo tahu bakal kayak gini mending nggak usah adain liburan segala, main sama anak-anak yang lain lebih seru. Gue kangen sama motor, pengen kebut-kebutan,” ujar Bima.


“Satu hari lagi kita pulang Bim, sabar aja nanti juga ketemu sama ayang motor.”


“Ayang motor, stress lu! Gue maunya tuh ayang beneran, kapan ya bisa punya cewek. Pacaran kayak Senja sama Pram, kira-kira kalo gue nembak si Lea bakal diterima apa nggak?”


“Menurut gue sih nggak bakal diterima,” jawab Seon.


“Alasannya?”


“Kayaknya ada orang lain yang dia suka,” jawabnya. Bima mengangkat sebelah alisnya, dia kembali bertanya siapa lelaki yang Lea suka. Seon menggeleng dan ke jawab tidak tahu. Padahal sebenarnya dia tahu betul siapa lelaki yang Lea cinta, yaitu orang yang berada di sampingnya.

__ADS_1


“Bintang! Lu diem aja kenapa sih? Sakit?” tanya Bima.


“Nggak papa.”


__ADS_2