
Saat akan memasukan bola ke ring, Senja tak sengaja melihat Pram yang tengah memperhatikannya dari kelas. Gadis itu menghentikan permainan lalu mengajak ketiga temannya untuk pergi ke kantin. Sesampainya di kantin, seperti biasa mereka memesan makanan favoritnya, yaitu batagor kuah dengan minum es lemon.
“Pulang sekolah jenguk nyokapnya Bintang kuy,” ajak Daffa sambil menyantap makanannya.
“Lah iya, si Bintang nyokapnya dirawat ya? Bawa apa nih kira-kira?” seru Leo.
“Bawa doa aja,” sahut Senja.
“Ciri-ciri orang pelit, jenguk orang nggak mau bawa apa-apa. Masa bawa doa doang, dasar cewek!”
“Yang penting ikhlas,” jawabnya dengan tersenyum.
Mereka berempat melanjutkan makannya, setelah selesai, Senja terkejut akan kedatangan perempuan yang kemarin bersama Papanya ke sekolah. Dia terhenti dan diam membuat ketiga cowok disamping mengerutkan kening. Bima bertanya namun tak dijawab, Senja melangkahkan kakinya melewati perempuan tersebut, padahal perempuan itu baru saja membuka mulutnya untuk menyapa.
“Gadis sialan! Harus sabar menghadapi gadis seperti itu,” ucapnya dalam hati.
Si perempuan yang bernama Laura itu berputar balik, karena orang yang dicarinya telah kembali ke kelas. Entah apa tujuannya datang ke sekolah, saat sedang berjalan dia tak memperhatikan jalan karena sibuk dengan ponsel. Tidak sengaja Laura menabrak Pram yang tengah membawa buku menuju kantor. Mata mereka berdua saling pandang, Laura sama sekali tidak mengedipkan matanya saat melihat Pram.
“Maaf Bu,” ujar Pram sembari memungut buku-buku yang berjatuhan.
“Eh nggak papa kok, saya bantu beresin,” jawabnya ramah memberikan senyum.
Beberapa saat kemudian buku telah rapih, Pram pamit kepada Laura. Perempuan tersebut terus melihat kepergian Pram. “Ganteng banget, harus dapatin dia nih. Lagipula aku sama dia umurnya nggak jauh beda.”
Dia terus tersenyum sepanjang koridor membuat Senja yang berada di luar kelas merasa heran. Dan Laura yang sibuk membayangkan wajah Pram pun tak melihat keberadaan Senja. “Cewek aneh!” gumamnya.
__ADS_1
Ditempat lain, para pelayan di kedai Biru tengah memperhatikan keromantisan antara Arka dan Nadia. Keduanya selalu datang ke sana untuk bermain dan makan cake terfavorit-nya. Sungguh hubungan yang sangat langgeng, mereka tak pernah bertengkar. Arka begitu menyayangi sang istri, dia selalu memperlakukan Nadia bak seorang ratu.
Tak lama kemudian datanglah Galang dan Ara. Mereka disambut hangat oleh teman-temannya termasuk sepasang suami istri itu, Nadia dan Arka. Shena yang melihat keberadaan istri Arka langsung berlari dan memeluknya dengan erat.
“Shena apa kabar?” tanya Nadia ramah.
“Baik Tante. Itu cake rasa strawberry favorit Shena ya?” jawabnya. Pandangan gadis kecil tersebut teralihkan ke arah cake yang tengah berada dimeja Nadia.
“Iya sayang, Tante sama Shena suka cake itu. Kalo kamu mau ambil aja, Tante Nadia udah kenyang juga. Bolehkan Om Arka?” ucapnya lalu melirik sang suami.
Si suami mengangguk tersenyum ke arah Shena, dia mencubit gemas gadis kecil tersebut. Selama beberapa tahun menikah, Arka dan Nadia masih belum juga dikaruniai anak seperti Echa juga Bara. Biru yang baru saja datang merasa senang semua keluarganya berada di kedai. Entah kebetulan atau apa, dia membawa beberapa lolipop yang akan dirinya berikan kepada anak Ara. Padahal sehabis dia memeriksa usahanya, Biru berniat bermain kerumah sang adik. Namun karena Ara sekeluarga ada di sana maka Biru tidak perlu repot-repot pergi.
“Om Biru tambah ganteng aja,” ujar Shena memuji Omnya. Dia langsung mengambil lolipop yang ada ditangan Biru dengan cepat.
“Kak, kemarin aku lihat Echa ada di rumahnya.”
“Kali aja kangen sama Echa,” ucap Ara terkekeh.
“Udah bersuami, nggak mungkin gue kangen sama istri orang!”
Semua tertawa, Ara dan yang lain sudah berusaha mencarikan jodoh untuk Biru, namun tidak ada satupun yang cocok dengan si mantan ketua osis itu. Sulit baginya menerima sosok perempuan lain setelah putusnya dengan Echa. Padahal teman-teman dia mengharapkan Biru segera menikah, tapi orang yang diharapkan malah memilih untuk sendiri.
Dari kejauhan tanpa mereka sadari, seseorang tengah mengintip, memperhatikan semuanya. Dia adalah orang yang sama dengan yang mengirimkan pesan kepada Senja.
“Bi, gue denger besok malam bakal ada balapan antara gengnya Senja sama geng motor lain. Tuh anak ikutan, lu nggak larang atau nyuruh dia berhenti gitu?” ungkap Galang.
__ADS_1
“Serius? Dimana tempatnya biar nanti malam gue samperin mereka,” seru Biru.
“Kenapa sih larang-larang Senja buat ikut geng motor? Bukannya gue dulu juga sama? Biarin ajalah lagipula banyak yang jaga, nggak bakal kenapa-kenapa,” sahut Nadia.
Biru menjitak kepala sahabat perempuannya, dia tetap tidak suka jika gadis remaja itu mengikuti jejaknya menjadi ketua geng motor. Sudah beberapa kali dilarang namun gadis tersebut masih saja keluar bermain bersama teman cowoknya. Oleh sebab itu, Pak Arya selalu menyuruhnya untuk menginap dan menjaga remaja itu agar tidak keluyuran malam-malam. Usianya yang sudah tidak muda lagi, Pak Arya takut terjadi sesuatu kepada Senja, walau dirinya tahu kalo anaknya itu sangat pandai bela diri.
“Tapi btw gue kagum sih sama Senja, dia cewek bisa jadi ketua geng motor. Dan nggak nyangkanya banyak yang takut sama tuh anak,” sambung Nadia.
“Di ajarin jadi cewek feminim juga percuma, di make-up in malah nggak mau diem, udah kek turunan lu aja Bi,” ujarnya lagi.
“Gimana nggak kek turunan kak Biru, tuh anak penggemar beratnya. Sudah pasti ngikutin jejak dia,” ucap Ara menunjuk sang kakak.
Perbincangan terus berlanjut sampai tak sadar jika hari semakin siang. Kembali ke sekolah, Senja dan siswa lainnya sedang mendengarkan guru menjelaskan pelajaran. Lalu para anggota osis datang meminta izin waktunya sebentar memberikan informasi pada seluruh siswa.
Si osis menjelaskan jika beberapa hari lagi sekolah mereka akan mengikuti beberapa perlombaan. Mereka berharap jika kelas Senja ada perwakilan untuk mengikutinya. Semua terdiam, lalu dengan bersamaan menatap kepada siswi yang duduk dibelakang.
“Ngapain lu natap ke gue semua?” tanya Senja.
“Jadi perwakilan kelas, Sen,” ujar si ketua kelas.
“Nggak!” jawabnya singkat.
“Ayolah Sen, demi kelas kita. Bim bujuk dong temen lu,” sahut siswa lainnya.
Leo bertanya kepada anggota osis, lomba apa saja yang akan ada di perlombaan nanti. Mereka menjelaskan jika ada beberapa perlombaan yaitu, basket, voli, bernyanyi, matematika dan bahasa Inggris. Para anggota osis membutuhkan tiga orang lagi untuk mengikuti lomba tersebut. Mereka berharap Senja dan teman-temannya mau ikut berpartisipasi.
__ADS_1
“Kita ikut basket,” ucap Daffa dan langsung ditatap tajam oleh teman perempuannya.
“Hehe, nggak papa Sen. Kita ikutan aja,” sambungnya tertawa kecil.