
Walau demikian, hati Echa menjadi tak karuan. Dia takut jika Bara akan tergoda oleh Sasa, apalagi wanita itu selalu memakai pakaian seksi dan seperti berusaha menggoda Bara. Echa menghela napasnya kasar lalu menutup telpon. Kembali pada Pram, mereka semua tersenyum bersama. Bu Miya mengizinkan Pram untuk ikut dengan ibu kandungnya, dia sudah tidak dapat menahan putranya itu.
Ara serta yang lain mengucapkan terimakasih kepada Bu Miya sekeluarga, Pak Baba serta istrinya pun telah dimaafkan kembali oleh Biru. Melihat kepergian sang putra dengan keluarganya membuat Bu Miya menangis, dia sedikit tidak rela jika Pram pergi begitu saja. Sang suami menguatkan istrinya, itu lah sebabnya dari awal dia tidak mau identitas Pram terungkap, karena dirinya tak mau melihat sang istri seperti itu.
Sesampainya dirumah, Shena terdiam melihat kehadiran Pram dirumahnya. Gadis kecil tersebut langsung bersembunyi dibelakang suster yang tengah menjaga, namun setelah sang ibu menjelaskan bahwa laki-laki tampan tersebut merupakan kakaknya Shena mengintip. Dia memberikan senyuman manisnya kepada Pram. “Mulai sekarang kamu tinggal di sini bareng ibu sama ayah Galang.”
“Iya, terimakasih.”
“Nggak usah bilang makasih, kamu ini anak ibu. Dan iya, sekarang ibu akan memanggil nama kamu Nugraha, tapi kalo kamu mau dipanggil dengan sebutan nama masa kecil kamu juga nggak papa, atau nama yang sekarang.”
“Terserah ibu saja mau manggil Pram, eh Nugraha maksudnya gimana juga. Pram terima saja,” jawabnya. Ara tersenyum haru akhirnya setelah sekian lama mereka berpisah kini dipertemukan kembali. Anak laki-laki nya itu telah tumbuh menjadi lelaki tampan dan pintar, Ara sangat berterimakasih kepada keluarga Bu Miya karena merawat putranya sampai sekarang ini.
Siang berganti sore, Senja yang baru saja pulang kerumah sudah disambut tak baik oleh Laura. Wanita licik itu sengaja menaruh air dilantai sampai membuat Senja terpeleset. “Heh! Mahmud. Maksud lu apa hah, sengaja mau buat gue jatuh?” omelnya. Dia berusaha bangkit dari duduknya, memegangi kakinya yang sedikit sakit.
“Sorry sengaja,” jawab Laura menutup mulutnya. Pak Arya yang sudah pulang tak sengaja mendengar suara bising dari luar, dia pun menghampiri suara tersebut lalu sikap Laura langsung berubah memelas.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Pak Arya pada putrinya.
__ADS_1
“Aku jatuh gara-gara si Laura ini! Dia sengaja melakukannya Pah. Senja nggak suka sama nih wanita,” ujarnya mengadu.
“Nggak kok mas, aku benar-benar nggak sengaja. Lagipula aku kan lagi pel lantai tapi Senja malah nyelonong masuk gitu aja tanpa tanya dulu masih basah atau sudah kering,” seru Laura.
Senja berdecak kesal karena Papanya malah membela Laura dibandingkan dirinya. Saat dikamar dia melemparkan tasnya dengan kasar, menggerutu sendiri seperti orang gila. Semenjak kedatangan Laura hidup Senja menjadi tidak nyaman, bahkan Papanya sekarang lebih memihak istri mudanya. Hanya Biru orang yang dapat dia andalkan, lelaki yang sering dipanggil Om itu selalu peduli dan sayang bagaimanapun dengan keadaan dirinya.
Laura yang berada diluar, melihat kehadiran kekasihnya. Wajahnya langsung panik apalagi Pak Arya berada disisinya. Dia terus memberi kode agar kekasihnya tersebut segera pergi. Dengan terpaksa si lelaki menurut, dia memasang wajah kesalnya karena gagal mengajak Laura berkencan. Malam harinya, keluarga Senja makan malam bersama. Laura terus membicarakan tentang anak tirinya yang harus keluar dari geng motor dan mencari teman perempuan. Hal itu jelas saja membuat Senja menjadi malas berlama-lama dimeja makan. Makanannya pun tidak dia habiskan dan langsung pergi ke kamar.
“Lauraaa, lu Mak lampir berasal dari mana hah?! Mau banget gue mutilasi sama jahit mulut lu itu supaya nggak banyak bacot lagi ke bokap!” teriaknya pelan di balkon. Biru yang berada dibawah tak sengaja melihat Senja tengah berdiri di atas, kedatangan dia adalah untuk memberitahu kabar gembira bahwa anaknya Ara telah kembali setelah hilang beberapa tahun lamanya.
“Kalo gitu mending tinggal bareng Om aja, gimana? Di sana kamu bebas dan nyaman juga loh. Nggak ada gangguan dari yang namanya mak lampir ataupun makhluk halus,” jawab Biru sama seperti Senja, dia melirik ke arah Laura.
“Ya udah Om ayo masuk, biar Senja buatkan minum dulu. Om Biru tunggu di sini ya, hati-hati ada makhluk halus yang terus merhatiin,” ungkapnya pelan.
Laura menyunggingkan bibirnya mendengar perbincangan antara Senja dan Biru. Dia merasa tersinggung karena disebut makhluk halus. Pak Arya yang sudah terlelap disofa tak mendengar. “Udah malam lebih baik kamu pulang saja. Kami akan istirahat,” ucap Laura kepada Biru.
“Lah siapa lu? Ngusir gue, tuan rumahnya juga biasa aja.”
__ADS_1
“Saya sekarang tuan rumah juga. Jadi berhak mengatur, dan kamu hanyalah tamu.”
“Dia tamu spesial, lagipula Om Biru disuruh Papa buat jagain gue. Jadi bebas aja dong buat Om gue masuk ke sini kapan yang dia mau. Lu cuman orang baru,” seru Senja dari belakang.
“Gue Mama lu, jadi harus nurut sama apa yang gue bilang. Mulai sekarang peraturan dalam rumah ini akan berubah,” jawabnya tak mau kalah.
“Hahaha...., sejak kapan gue anggap lu sebagai Mama. Sorry ya, nggak ada yang bisa gantiin posisi Mama gue dalam rumah ini.”
“Heh anak ingusan! Nyokap lu itu udah dikubur, bau tanah, jadi nggak usah lagi lu bangga-banggain. Gue bisa aja bujuk Papa lu buat Om tersayangmu ini nggak datang lagi ke sini.”
Perkataan Laura tentang Mamanya membuat Senja merasa sesak. Biru menarik lengan gadis kesayangannya pergi, itu semua dia lakukan agar Senja tidak berkelahi dengan Laura karena ada Pak Arya yang sedang tidur disofa. Didepan, Senja terus menggerutu, mengomel dan memaki Laura dengan kata-kata kasar.
“Udah biarin aja, kita ikutin permainan dia gimana, untuk saat ini harus terus bersabar menghadapi tingkah manusia ular seperti dia,” ujar Biru.
Senja memanyunkan bibirnya dan mengembangkan pipi. Gadis itu terlihat seperti anak kecil yang kesal karena tak dikasih permen. Biru terkekeh akan sikap gadis remaja disampingnya. Sungguh keimutan Senja dapat membuat Biru tak karuan, jika saja umur mereka tidak terpaut jauh mungkin Biru juga akan sama seperti lelaki lain, menyukai gadis kesayangannya.
“Kamu tahu nggak? Anaknya Tante Ara yang hilang itu sudah ditemukan sekarang. Dan dia adalah teman masa kecil kamu,” seru Biru.
__ADS_1