
Echa menghela napasnya lalu meminta maaf kepada sang suami. Dia begitu hanya takut jika Bara akan pergi meninggalkannya bersama wanita lain. Keduanya berpelukan, meminta untuk saling mempercayai satu sama lain. Walau pernikahan mereka berawal dari perjodohan namun lambat laun tumbuh rasa cinta pada hati keduanya.
......................
Satu hari kemudian..., Senja serta yang lain sudah pulang dari liburannya. Sesampainya di rumah, gadis itu melihat sang Papa tengah tertawa bahagia dengan Laura. Mengetahui putrinya pulang Pak Arya pun menyambutnya dan menyuruh Senja berisitirahat. Sore harinya, mereka bertanya apa saja yang dilakukan sang putri saat liburan. Senja menceritakan keseruannya, jika dia bertemu teman baru. Mengajarkan dirinya bermain layangan dan melihat orang-orang memancing.
Sambil terus bercerita, matanya melirik ke arah kanan. Melihat Laura yang pokus merawat sang ibu, dia sangat telaten menyuapi wanita tua tersebut.
“Pah, Laura banyak perubahan ya?” tanya Senja.
“Iya sayang, Mama kamu itu sekarang sudah berbeda. Papa minta sama kamu jangan manggil dia nama lagi, sesekali panggil Laura dengan sebutan Mama.”
“Di usahain Pah, kalo dia udah benar-benar berubah. Aku bakal panggil dia Mama.”
Pak Arya tersenyum mendengar ucapan putrinya. Dia berharap Senja mau menerima Laura, memiliki keluarga yang harmonis merupakan impian setiap orang. Di malam hari, saat mereka akan pergi ke kamar masing-masing, tiba-tiba saja ketukan keras terdengar. Senja berdecak kesal karena suara itu tak ada hentinya. Dia membuka pintu dan melihat keberadaan Sea, wanita itu langsung masuk ke dalam tanpa izin terlebih dahulu.
“Kak, boleh kan aku tinggal sama kakak di sini?” tanyanya. Laura melihat ke arah suami dan putrinya. Dia tidak tahu harus menjawab apa karena dirinya tidak punya kuasa terhadap rumah tersebut. Senja menggeleng, dia tidak mau jika Sea kembali tinggal dirumahnya. Berbeda dengan Pak Arya yang merasa kasian, dia mengangguk mengizinkan adik istrinya itu untuk tinggal bersama.
“Apaan sih Pah! Ngapain ngizinin dia tinggal di sini. Kenapa nggak sama pacarnya itu,” ungkap Senja tak terima.
Ibu Laura setuju akan perkataan Senja, dia juga tidak mau melihat wajah anak kandungnya itu. Hatinya sudah sakit saat anaknya sendiri mendoakan dirinya mati. Sea menghampiri sang ibu yang duduk di kursi roda, dia meminta maaf di depan Pak Arya serta yang lain. Namun saat dirinya bangun, Sea berbisik kepada si ibu.
Karena sudah larut malam, Senja pun membiarkan Sea tidur dirumahnya. Di dalam kamar, Laura bertanya mengapa suaminya itu memberikan izin untuk adiknya. Pak Arya hanya mengulas senyum dan menyuruh sang istri untuk tidur. Keesokan paginya, Senja sudah siap dengan seragam sekolah, saat akan pergi ke garasi mengambil motor, tiba-tiba saja Sea dengan sengaja menabrakkan diri dan membuat teh yang dirinya bawa tumpah membuat baju Senja basah.
“Lu bisa nggak sih jangan nyari gara-gara sama gue?” ujar Senja kesal.
“Sorry nggak sengaja. Lagian repot banget tinggal ganti baju apa susahnya.”
__ADS_1
Senja mengusap wajahnya kasar, dia tidak berbicara lagi dan langsung kembali masuk ke kamar untuk mengganti seragamnya. Untungnya masih ada satu lagi, gadis itu berdecak tak suka akan sifat Sea tersebut yang seenaknya sendiri. Suara notif pesan terus terdengar oleh telinganya, ternyata teman-teman dia sudah menunggu lama dan menanyakan di mana Senja berada. Sebab bel masuk akan segera berbunyi.
Laura yang kebetulan lewat depan kamarnya tak sengaja melihat Senja yang masih berdiri sambil menatap ponselnya. Dia pun menegur mengapa Senja belum pergi ke sekolah padahal jam telah menunjukkan pukul 07.55.
“Bilangin ke adik lu itu jangan berulah dirumah orang.”
“Emangnya apa yang Sea lakukan?”
“Tanya sendiri, kalo gue telat dan dapat hukuman itu semua gara-gara adik lu!”
Setelah berkata demikian Senja keluar tanpa berpamitan kepada Laura. Dia tergesa-gesa menuju garasi mengambil motor. Di lihatnya Sea tersenyum dan melambaikan tangan, Senja pun membalas lambaian itu dengan menunjukkan jari tengah. 15 menit kemudian akhirnya gadis itu sampai di sekolah. Sayangnya gerbang sudah tertutup, Senja meminta pada satpam agar dibukakan, namun dia tidak mendapatkan izin masuk.
Selain dirinya ada juga beberapa siswa yang terlambat, mereka menunggu anggota osis atau guru yang membuka gerbang, tidak apa jika dihukum hormat yang penting mereka dapat masuk ke dalam. Tak lama datanglah seorang guru perempuan membukakan gerbang, dia menyuruh murid-murid yang terlambat itu masuk.
Satu persatu nama siswa dirinya catat lalu meminta mereka berdiri di lapangan sampai jam istirahat. Beberapa kali Senja menghela napasnya, cuaca saat itu sangat panas membuat keringat keluar dengan cepat. Selain itu perutnya pun terus berbunyi, dia tidak sarapan karena bangun kesiangan ditambah dengan kejadian waktu tadi.
“Laper banget Bu?” tanya Leo.
“Diem lu! Gue lagi makan,” jawab Senja.
“Buset galak bener. Pelan-pelan makannya keselek tahu rasa lu.”
Baru saja berkata Senja langsung tersedak. Bima dan Leo tertawa sedangkan Bintang membukakan botol minum. Setelah merasa kenyang, dia berdiri sembari tersenyum pada kedua temannya yang telah menertawakan. Leo memberikan aba-aba pada Bima agar mereka segera lari.
“Kok nggak di kejar?” tanya Daffa.
“Gue abis makan Daf, ya kali mau lari-larian ngejar mereka.”
__ADS_1
“Tahu lu Daf. Gimana kalo Senja turun bero,” seru Seon.
Tidak ada lagi obrolan sampai mereka tiba di kelas. Di sana Pram tengah duduk seorang diri sembari sibuk dengan ponselnya. Dia tidak melirik Senja sedikit pun membuat gadis itu langsung terdiam lalu mengajak Bintang, Daffa dan Seon pergi ke kantin. Semalam Pram mengirim pesan kepada Senja, pesan tersebut berisi berakhirnya hubungan mereka.
“Lah tuh anak dua ngapain?”
“Mana?” tanya Senja. Seon menunjukkan tempat Bima dan Leo berada, dua orang tersebut tengah berdiri sambil membagikan sebuah kertas pada siswa-siswi lain. Keempatnya pun menghampiri mereka berdua.
“Ngapain lu?”
“Kayang! Lu nggak lihat gue sama Leo lagi bagiin ini?”
“Lah ngegas, biasa aja kali. Emang apaan sih,” ucap Senja melihat kertas yang di pegang Bima. Ternyata itu adalah selembaran yang isinya tentang pertandingan basket antar sekolah.
“Kapan nih?” tanyanya lagi.
“Itu kan ada tanggalnya ibu Senja tersayang. Buta lu!”
“Sabar Bim sabar, orang sabar pacarnya empat,” ujar Seon sambil mengelus dada Bima.
“Lu kenapa sih Bim, ngegas mulu sama gue. Gue kan nanya baik-baik.”
“Tahu ahh!”
Selesai menyebarkan informasi tentang pertandingan itu, mereka mencari tempat duduk kosong. Senja merasa tidak sabar, dia sudah sangat merindukan bermain basket. Begitu juga dengan teman-temannya yang lain.
“Sekolahnya si Lea juga nanti bakal datang ke sini,” seru Leo. Mata Bima langsung berbinar, wajah murung seketika berubah senang saat mendengar nama Lea.
__ADS_1