
Istirahat pun tiba. Ketika Bintang akan pergi ke kelas pacarnya untuk meminta maaf dengan kompak Senja, Daffa serta yang lain menghentikan langkahnya. Lima orang itu menghela napas bersamaan, menggelengkan kepala karena tidak habis pikir dengan satu sahabatnya itu. Sudah jelas jika dirinya dijebak oleh Cantika tapi dia masih saja ingin menemuinya.
“Kayaknya salah paham aja deh, gue harus ke kelas dia.”
Tamparan keras mendarat di pipi Bintang, beberapa siswa yang masih berada dikelas menelan ludah. “Sadar Bin! Jangan bego karena cinta, lu boleh bucin tapi nggak segitunya. Kita semua sayang sama lu.”
“Gue, Daffa, Bima, Leo dan Seon peduli. Kita nggak rela kalo lu difitnah kayak gini. Hargain kepedulian para sahabat lu, cewek masih banyak dan Cantika nggak baik. Bukti udah lu lihat sendiri kalo cewek yang lu bucinin itu jalan sama orang lain!” lanjutnya dengan tegas.
“Iya Bin, mending tinggalin aja. Gue mohon,” seru Bima.
Bintang menyunggingkan bibir, memasang wajah tak peduli akan perkataan temannya. Menunjuk telunjuknya ke arah lima orang itu. Setelahnya dia tidak berkata-kata lagi, berjalan keluar kelas meninggalkan Senja dkk. “Sorry guys! Makasih udah peduli dan sayang ke gue.”
Tanpa teman-temannya ketahui Bintang bersikap seperti tadi karena terpaksa. Dia sudah berjanji pada orang tua Cantika bahwa sebelum Mamanya mengembalikan hutang yang dipinjam maka Bintang harus tetap bersama putrinya. 3 bulan terakhir Bu Ana mengalami kesulitan, kebetulan saat itu Cantika datang ke rumah Gadis tersebut menawarkan pinjaman pada Bu Ana.
Didalam kelas Senja menggebrak meja dengan sangat keras. Daffa serta siswa lain tersentak kaget, mereka mengelus dadanya.
“Kenapa si Bintang bodoh banget sih! Harusnya tuh cewek yang minta maaf bukan malah dia.”
Daffa menenangkan Senja dengan membawanya ke roof top. Namun bukannya tenang gadis itu malah semakin kesal, sial bagi Daffa dan yang lain karena di bawah sana mereka melihat kebersamaan Bintang dengan cewek licik itu. Pram melihat kakaknya kesal merasa kasian, dia pun berinisiatif berbicara berdua dengan Bintang. Meminta cowok itu untuk mendengarkan apa perkataan teman-temannya.
“Lapangan aja yuk, kita diemin aja tuh anak sampe sadar sendiri,” ajak Leo. Seon mengangguk setuju begitu pun Senja dan dua lainnya.
Mereka berlima bermain basket bersama sedangkan Bintang hanya duduk seorang diri menunggu Cantika yang pergi ke kantin. Pram datang menghampiri, seperti niatnya tadi dia akan berbicara berdua. Senja yang melihat kebersamaan sang mantan dengan Bintang pun langsung melemparkan bola ke arah Leo.
“Woy! Lu punya dendam apa hah ke gue? Sakit, mana keras lagi lemparannya.”
__ADS_1
“Sorry Le.” Bima tertawa, Leo yang tengah pokus itu tiba-tiba ketiban bola.
......................
Sasa tidak sengaja bertemu Shena. Dia tahu anak kecil tersebut merupakan anaknya Ara. Melihat Shena seorang diri dengan wajah ketakutan Sasa pun langsung mendekat. Dengan suara lembut bertanya keberadaan Ara dan Galang.
“Tadi ibu izin beli barang suruh Shena nunggu. Tapi aku malah pergi ngejar Om itu, sekarang nggak tahu ibu dimana.”
Shena menunjuk ke arah lelaki tua yang berada jauh didepannya. Lelaki tersebut tersenyum, melambaikan tangannya menyuruh Shena untuk terus berjalan mengikuti. Tahu jika orang tersebut ingin berniat jahat maka Sasa segera menggandeng lengan keponakan Biru itu dan mengajaknya mencari Ara.
Ditempat lain, Galang memarahi istrinya karena telah lalai menjaga Shena. Lewat telpon suaminya itu terus mengomel menyuruh Ara mencari sang putri. Setengah jam dia berkeliling akhirnya bertemu dengan Sasa. Ara mendorong tubuh mantan temannya itu dengan keras, dia mengira jika Sasa lah yang telah membawa pergi anaknya.
“Sorry Ra, gue nggak ada niatan buat bawa anak lu. Justru ini mau antar Shena, dia hampir saja dibawa sama orang nggak dikenal.”
“Serius Ra, lagian gue udah nggak ada niatan lagi berbuat jahat sama kalian. Gue minta maaf atas semua kesalahan yang pernah diperbuat,” ujarnya dengan kepala tertunduk. Sasa benar-benar meminta maaf dengan tulus, dia bahkan rela bersujud kepada Ara agar wanita itu percaya padanya.
“Ayo Shena kita pergi. Nggak baik lama-lama di sini.”
“Sebegitu bencinya kah Ara sama gue,” pikir Sasa sambil menatap kepergian ibu-anak.
Saat akan pergi dia tidak sengaja bertemu dengan orang-orang yang dulu mengejarnya. Mereka akhirnya menemukan Sasa yang kabur. Untungnya Bara melintas dan melihat mantan pekerjanya tengah dicegat beberapa pria. Mobil melaju pelan mendekat ke arah Sasa, lalu dibukakan pintu menyuruh wanita tersebut masuk. Bara mengantarkan dirinya kerumah Daffa, dia mengucapkan terimakasih dengan senyuman canggung.
“Lama banget, ayo cepet kerumah sakit,” ucap Echa. Dia sudah menunggu lama kepulangan suaminya.
“Yakin? Ca, apapun nanti hasilnya kamu jangan sedih ya. Kita terus berusaha,” seru Bara melirik pada sang istri.
__ADS_1
“Semoga doa kita dikabulkan Bar, aku merasa nggak berguna jadi istri kamu.”
“Ngomong apasih. Semua butuh proses, kita nggak boleh berhenti berdoa. Lagipula aku, Mama dan Papa nggak pernah memaksa kamu agar cepat-cepat memiliki anak.”
Bara tersenyum hangat membuat istrinya nyaman. Echa berterimakasih pada kedua orangtuanya telah menikahkan dia dengan Bara, teman kecil yang selalu ada bahkan sampai sekarang. Namun jika dia menikah bersama Biru pun pasti kehidupannya juga akan bahagia, terlihat dari Silla yang selalu diperlakukan bak ratu oleh suaminya.
Kembali kesekolah. Leo masih mengelus kepalanya yang terasa sakit akibat lemparan dari Senja. Dia ingin marah dan berkata kasar namun takut, sebab teman gadisnya sedang tidak baik-baik saja. Beberapa jam berlalu, hari berganti sore. seluruh siswa mulai berkeluar dari kelasnya masing-masing.
“Motor kamu udah ada dirumah, kita langsung pulang ke rumah ya,” ucap Laura lembut. Dia berusaha bersikap lebih baik pada putrinya. Berharap agar Senja menerima statusnya sebagai seorang ibu.
“Heh Laura, maksudnya mahmud! Gimana sih caranya jadi cewek feminim? Ajarin gue.”
“Nanti kalo kita udah sampai dirumah aku akan ajarin kamu. Mau mampir ke resto dulu nggak? Beli makanan buat nanti malam?” jawab sang Mama.
“Nggak perlu, biar gue yang masak. Lagian lu udah gede masih belum bisa masak, istri macam apa.”
Laura terkekeh, dia sebenarnya sudah belajar namun tetap belum merasa puas akan hasil masakannya. Setiap kali menyuruh Pak Arya mencicipi lelaki tua itu selalu memujinya dengan berkata jika makanan yang dibuat enak. Namun setelah dicoba sendiri rasanya begitu asin, terkadang hambar juga.
“Lu ajarin gue make-up dan lainnya, terus gue ngajarin lu masak. Gimana?”
“Okay, berarti kita hari ini masak sendiri?”
“Iya lah. Harus masak sendiri, sewa art percuma juga nanti tugas lu dirumah apa coba? Rebahan sambil ngedrakor?”
“Diam-diam suka merhatiin ya? Kok tahu kalo aku suka nonton?” goda Laura sedangkan Senja memalingkan wajahnya ke kaca.
__ADS_1