
Mereka setuju dengan ide Senja. Untuk dana gadis itu yang akan menanggungnya, dia telah menjual beberapa hasil karya seninya yaitu lukisan dengan harga fantastis. Pak Arya selaku Papanya tidak tahu jika sang putri sering menjual karyanya kepada para pencinta seni. Uang saku dari Pak Arya tidak Senja gunakan, dia selalu menyimpannya dicelengan.
“Bintang, Senja! Coba hadap gue,” teriak Daffa pada kedua sahabatnya yang sedang berdiri didepan. Satu mencoret papan tulis dan satunya lagi mencoret kertas.
“Nice! Anjay kece bener nih bocah. Gue edit bentar jadiin anime ah, pasti tambah cakep,” ucap Daffa pelan. Ternyata dia memotret Senja dan Bintang untuk dirinya post di media sosial. Leo dan Bima mengintip Daffa, mereka berdua takjub dengan hasil editan temannya. Karena bagus jadi keduanya pun meminta Daffa untuk mengeditnya juga, dengan senang hati dia pun mengangguk.
Beberapa saat kemudian, waktu jamkos mereka telah selesai. Semuanya kembali melanjutkan pembelajaran, guru yang mengajar meminta beberapa anak muridnya untuk maju ke depan mengerjakan soal yang sudah dirinya jelaskan. Si ketua kelas sebagai orang pertama yang maju karena nama depannya yang berhuruf A, setelah itu disusul oleh Bima dan Bintang. Sedangkan Senja dan Leo mengelus dadanya masing-masing, mereka berdua selamat dari soal didepan.
“Baiklah, besok ada pelajaran ibu lagi. Jadi kalian akan melaksanakan ujian harian, soal yang baru saja ibu jelaskan akan ada di ujian, paham?” Semua murid menjawab serentak.
••
••
“Gimana ya caranya buat Bara tergoda? Susah amat, padahal banyak para cowok yang mau sama gue, kenapa suami Echa itu nggak?” pikir Sasa, wanita itu termenung sembari mencoret kertas di depannya. Dia tidak menyadari kehadiran Echa.
“Echa, ngapain kesini?” tanyanya.
Istri Bara tersebut melangkah dengan memasang wajah datar. “Stop untuk ganggu rumah tangga aku sama Bara! Mau sekuat apapun kamu menggodanya dia nggak akan pernah berpaling ke wanita lain. Kalo masih mau kerja di sini tolong jaga sikap, nggak usah jadi pelakor!”
Sasa menelan ludahnya tidak percaya jika Echa dapat berbicara demikian. Dia berdiri mendekat lalu berbisik, entah apa yang wanita itu katakan sampai membuat Echa menampar pipi halusnya. Dan tak lama Bara datang meminta Sasa untuk ikut meeting bersama, lelaki yang bergelar suami itu terkejut akan kehadiran sang istri ke kantornya.
“Loh sayang kamu ke sini kok nggak bilang?”
“Kenapa emangnya? Aku ke sini cuman mau ngasih makan siang aja buat kamu. Sekalian mau bicara sama Sasa. Karena aku udah selesai, ayo kita pergi,” jawabnya tersenyum. Bara menggandeng lengan Echa serta mencubit hidungnya gemas. Melihat pemandangan itu wajah Sasa langsung memerah.
__ADS_1
“Main kerumah gue guys,” ujar Senja pada temannya.
“Tumben. Biasanya kalo mau main kumpul dibase atau rumahnya Bintang,” seru Leo.
“Aelah lu semua lupa atau apa? Kita kan mau buat si Laura sial, oh iya coy. Kemarin pas gue pulang sekolah nggak sengaja denger suara anu.”
“Anu?” tanya keempat temannya serentak.
“Yang jelas kalo ngomong Senja sayang. Anu, anu, ambigu lu!” Senja terkekeh, dia ingin bilang ******* tapi ragu dan malu.
“Ah pokoknya anu lah. Jam 4 sore harus udah ada dirumah gue. Awas aja kalo ada yang telat,” jawabnya lalu pergi dengan motornya meninggalkan Bintang dkk.
Di tempat Ara, nampak Shena yang sedang berdiri di depan gerbang. Gadis kecil itu tengah menunggu kepulangan sang kakak. Pram yang mempunyai pribadi baik dan lembut langsung bisa mengambil hati sang adik, belum lama dirinya tinggal dirumah Ara Pram sudah bisa membuat Shena menempel terus dengannya.
Mendengar suara motor kakaknya, Shena berteriak kepada sang ibu. Ara hanya tersenyum melihat putri kecilnya bersemangat seperti itu. Kini keluarganya sudah lengkap, memiliki keluarga yang harmonis merupakan impiannya. Galang sebagai suami selalu memperlakukan dirinya dengan sangat baik, Ara tidak menyesal menikahi mantan rival kakaknya dulu.
“Shena turun dulu, kak Nugraha nya mau ganti baju sama makan. Kamu di sini dengan ibu aja tunggu ayah pulang,” ucap Ara.
Senja yang baru sampai rumah heran mengapa pintu kamarnya terbuka. Dia curiga jika Laura sedang berada di dalam kamarnya. Benar saja setelah dilihat nampak Mama tirinya bersama dengan seorang perempuan muda. “Ngapain lu di kamar gue? Mau nyolong ya?” tanya Senja menyipitkan matanya.
“Ya udah Sea, ayo ikut kakak keluar. Pemilik kamarnya sudah pulang.”
“Jawab pertanyaan gue, ngapain lu di kamar gue hah! Dan siapa dia?”
Senja berdengus kesal pertanyaannya tidak Laura hiraukan. Dia menutup pintu kamarnya dengan keras, perempuan bernama Sea itu menyunggingkan bibirnya. Tidak lama kemudian suara bel terdengar, Laura pergi membukakan pintu ternyata yang datang adalah teman-teman anak tirinya. Bima tersenyum menyapa, wajah cowok itu terlihat seperti mengejek.
__ADS_1
“Siapa kak?” tanya Sea. Setelah melihat keempat cowok tampan, sikapnya seketika langsung berubah manis. Mata perempuan itu selalu mencuri pandang kepada Bintang.
“Wah datang juga ondel-ondel gue. Ayo-ayo masuk guys,” ujar Senja dari belakang.
“Misi Tante cantik,” ucap Bima menggoda. Leo menahan tawanya mendengar sang sahabat berkata cantik kepada Laura.
Di lantai bawah Sea bertanya pada kakaknya siapa keempat cowok tampan tadi. Dia juga berkata bahwa dirinya tertarik pada salah satu cowok tersebut. Laura tersenyum, dia menggoda sang adik. Sedangkan di balkon kamar Senja, Bima juga mempertanyakan siapa gadis cantik yang bersama Laura itu, sang sahabat menggeleng tidak tahu karena saat ditanya si Mama tiri mengabaikannya.
“Eh malam ini tanding sama Pram kan, Bin? Pura-pura kalah aja lu biar tuh anak berhasil dalam tantangan yang Senja berikan,” ucap Leo.
“Nggak! Mana bisa begitu, kalo lu dengerin omongan si Leo kita unfriend Bin. Biarin Pram berusaha sendiri lawan lu,” seru Senja.
“Santai aja Sen, lagipula gue tahu kok. Mau tuh anak menang atau kalah lu akan tetap nerimanya,” jawab Bintang tersenyum. Senja menghela napasnya tak menyangka jika Bintang tahu. Obrolan kelima anak remaja tersebut terhenti setelah pintu kamar dibuka Pak Arya. Lelaki tua itu menyuruh semuanya turun ke bawah untuk makan bersama.
Setelah berada dimeja makan, suasana canggung mulai dirasakan oleh Bintang dkk. Disela makannya, Laura memperkenalkan adiknya kepada sang suami, dia meminta izin agar Sea tinggal bersamanya. Senja terhenti mengunyah saat mendengar jika kamarnya akan dipakai oleh Sea.
“Nggak bisa gitu dong Pah! Masih banyak kamar kenapa harus punya aku? Lagipula dia kan tamu tidur aja dikamar tamu juga.”
“Kamu mengalah ya sayang,” ucap Pak Arya.
“Sekali aja Papa dengerin ucapan Senja jangan Laura terus. Kalo gitu caranya lebih baik aku ikut Om Biru aja,” jawabnya. Dia menghentikan makan dan berlalu pergi mengajak Bintang dkk.
“Aduh mas maafin aku ya, Senja jadi marah deh.”
“Nggak papa, ya sudah kalo Sea suka sama kamarnya Senja besok kamu tempati. Nanti malam biar saya yang bicara lagi sama dia.”
__ADS_1
“Makasih, maaf merepotkan. Kamar Senja sangat bagus dan nyaman, kak Laura tadi sudah mengajak aku masuk kedalamnya.”