Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 36


__ADS_3

Senja turun sambil membawa tas besar, Pak Arya yang melihatnya langsung menghentikan langkah sang putri. Sedangkan Bintang, Leo, Bima dan Daffa menunggunya diluar.


“Mulai sekarang aku akan tinggal dirumah Om Biru atau Tante Ara. Keberadaan Senja juga di sini sepertinya nggak dianggap. Papa selalu membela Laura, menurut pada ucapannya. Sadar karena aku bukan anak kandung Papa,” ungkapnya.


“Apa maksud kamu bicara seperti itu! Siapa yang bilang kalo kamu bukan anak kandung Papa?” ucapnya melotot saat mendengar perkataan terakhir dari sang putri.


Senja melanjutkan langkahnya dan dihentikan kembali oleh Pak Arya. Namun gadis itu tetap berjalan tidak menghiraukan perkataan Papanya. Laura dan Sea datang, dia mengelus sang suami menyuruhnya sabar menghadapi sikap Senja. Di basecamp, tidak ada yang berbicara satupun. Begitu juga dengan Bintang dan yang lain, mereka tidak ingin membuat Senja bertambah kesal.


Jam telah menunjukkan pukul 21.30. Pram yang sudah datang ke tempat balapan merasa heran karena tidak melihat keberadaan Senja dkk. 30 menit kemudian masih belum juga terlihat batang hidung sang pujaan hati, karena malam semakin larut maka Pram pun memutuskan untuk pulang saja. Di tempat lain, Biru berada dirumah Silla. Wanita tua yang melihat putrinya pulang bersama seorang pria pun tersenyum bahagia, mengira jika Biru adalah kekasih sang anak.


Dengan ramah dia menyapa dan menyuruh Biru masuk kedalam. “Udah malam nggak enak sama tetangga. Maaf ya Bu, lain kali saya mampir lagi,” ujarnya dengan sopan. Setelahnya mencium punggung tangan ibu Silla dan berpamitan pulang.


“Siapa itu nak? Calon mu kah?” tanyanya. Silla menggeleng dengan cepat, menjelaskan jika pria tadi merupakan bos nya. Kini dia bekerja di kedai Biru menggantikan posisi Nadia untuk sementara waktu. Si ibu hanya berseru oh, dia menghela napasnya dan kembali bertanya kapan putrinya itu akan menikah. Sudah banyak para pria yang melamar namun selalu ditolak. Sang ibu ingin melihat anaknya hidup bahagia dan meminang cucu.


“Dion sudah tenang di sana, kenapa kamu belum bisa move on juga nak. Ibu hanya meminta agar kamu cepat menikah sebelum umur ibu ini habis.”


“Ibu nggak boleh bicara kayak gitu, iya nanti Silla bakal nikah kok. Nunggu calonnya aja.”


“Nak-nak, calonnya sebenarnya banyak kamu aja yang menolak terus.”


“Belum ada yang cocok sama Silla Bu. Mereka hanya melihat paras Silla aja, nanti juga kalo udah bosen pasti ditinggalin. Emangnya ibu mau anaknya baru nikah udah jadi janda? Apalagi kebanyakan yang lamar Silla pria kaya, takutnya malah aku dinistakan di sana karena hidup kita yang serba kekurangan,” ungkapnya.

__ADS_1


“Ya sudah terserah kamu saja,” ucapnya. Si ibu berdiri berjalan menuju kamarnya. Tak lupa juga menyuruh Silla tidur. Biru yang baru balik terkejut dengan keberadaan Senja yang sudah rebahan disofa, matanya tertuju ke tas besar.


Besoknya, gadis itu terbangun. Dia mencari sang Om namun bujang lapuk itu tidak dirinya temukan. Dia berpikir mungkin saja Biru sudah pergi ke kedai untuk memantau. Saat akan masuk kamar mandi untuk ritual pagi, sebuah tangan memegang pundaknya.


“Kenapa pindah ke sini?”


Senja berbalik badan, nampak sang Om dengan tatapan tajam. “Senja kesel sama Papa. Kamar aku sekarang dipakai oleh adiknya Laura. Percuma juga tinggal di sana Om.”


“Kamu harus tetap tinggal bareng Pak Arya. Dia Papa kamu, emangnya mau kalo terjadi sesuatu sama dia gara-gara Laura. Wanita licik itu bisa berbuat sebebas mungkin karena udah nggak ada kamu lagi di sana,” jelas Biru. Senja terdiam lagi dan lagi perkataan Biru menyadarkan dirinya. Jika dia tidak ada dirumah pasti Laura akan seenak jidatnya. Menguasai semua aset milik sang Papa.


“Okay aku pulang, mandi dulu abis itu kerumah Papa.”


“Pinter! Jangan lemah, masa preman sama anak geng motor berani kalo Laura nggak sih.”


“Siapa juga yang mau ngintip, emangnya Om cowok apaan,” ujarnya dengan menyunggingkan bibir.


“Dasar bujang lapuk! Om..., jangan lupa nyari calon istri biar ada yang ngurus,” teriaknya dari dalam kamar mandi.


15 menit kemudian, Senja telah rapi dengan seragam sekolahnya. Melihat Omnya yang memasak sendiri gadis itu kembali menggodanya. Karena tidak ada waktu lagi maka Senja pamit berangkat, dia akan kembali kerumah menyimpan baju-bajunya. Biru kesal padahal dirinya sudah masak tapi gadis kesayangannya tidak sarapan.


Sampailah dia dirumah, ingin masuk kedalam kamar tapi ada Sea yang masih tertidur. Dengan itu dia pun mengalah dan menaruh baju serta barangnya dikamar tamu. “Ck! Awas aja lu berdua.”

__ADS_1


“Kok pulang lagi sih? Om sama Tantenya nggak mau nampung kamu ya? Kasian banget mana kamarnya udah diambil lagi, sabar ya....,” ucap Laura.


“Nggak usah banyak bicara, mulut lu bau. Mending bangunin tuh adek lu, suruh bersih-bersih jangan tidur mulu, cuman numpang jangan sok-sokan jadi tuan putri!”


Notif pesan dari gengnya terdengar, dia langsung membuka chat. Bintang dan Daffa memberitahu jika mereka berdua akan pergi sekolah menggunakan angkutan umum, karena motornya sedang berada di bengkel. Senja yang sudah lama tidak naik angkot pun ingin ikut bersama kedua temannya. “Udah lewat 15 nih tapi angkot belum ada juga. Gimana kalo telat Bin?” ujar Senja melihat kanan kiri.


“Jalan kaki aja deh kalo gitu, nggak terlalu jauh juga sekolahnya. Senja dan Daffa mengangguk, mereka bertiga berjalan kaki sambil bercanda. Tak lama saat sudah ada diseberang jalan akan melintas, Senja malah terdiam ditengah jalan membuat Bintang serta Daffa berteriak. “Woy Sen gila lu hah? Cepetan itu ada mobil woy! Pe'a malah joget-joget, Senja buruan, gob**k,” ucap Daffa kesal. Berbeda dengan Senja yang malah tertawa mendengar omelan temannya.


“Kenapa sih Daf, masih pagi loh udah marah-marah aja,” ujarnya.


“Lu bosen hidup atau gimana? Kalo beneran mau mati sini gue bunuh lu,” jawabnya galak.


“Ngapain sih kayak tadi, nggak lucu Sen. Gimana kalo tadi lu ketabrak,” sambung Bintang dengan wajah dinginnya. Kedua teman cowoknya itu begitu peduli, dia merangkul dan mengajaknya masuk.


Sesampainya didalam kelas, Leo serta Bima sudah berada di sana. Mereka heran mengapa wajah kedua sahabatnya terlihat kesal sedangkan yang satunya bahagia. Sekali lagi Senja meminta maaf kepada Bintang, dia berjanji tidak akan mengulanginya.


“Sen semalam kemana? Kenapa nggak pada datang, padahal aku udah nunggu kalian di sana,” seru Pram.


“Oh iya aduh sorry Pram gue beneran lupa.”


“Iya nggak papa balapannya mau tetap dilanjut atau lewat?”

__ADS_1


“Nggak usah deh, sekarang giliran lu nerima tantangan dari gue berbicara tiga bahasa. Inggris, Mandarin dan Jepang. Gampang kok, udah belajar kan?”


__ADS_2