
Ziva dan Darren duduk berdampingan sambil sesekali menatap pintu ruang kerja tuan Alvin. Mereka terlihat harap-harap cemas tentang apa yang mereka bicarakan di dalam sana. Darren lebih memilih merangkul istrinya untuk mengalihkan kecemasan Ziva yang jelas sekali terlihat di pelupuk matanya dan sesekali Darren mencium puncuk kepala istrinya.
Sementara Fino yang sudah bergabung dengan mereka beberapa menit yang lalu, tampak merasa iri dengan pasangan suami istri yang sedang mengumbar kemesraan. Ia pun langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah dan melihat sosok wanita yang sedang duduk tak jauh dari mereka, yang pernah ia lukai.
Maafkan aku Nona Lexa, aku bahkan tidak berani meminta maaf dihadapan mu. Untungnya Chiko bisa menemani hari-harimu. Aku berjanji akan menebus keselahanku dengan mencari pendonor mata untukmu. Batin Fino yang sedang menatap ke arah Lexa.
Kebetulan Fino mendapat kabar dari Chiko, bahwa ibunya sedang berada di kediaman Tuan Alvin. Dengan cepat ia bergegas ke kediaman Tuan Alvin untuk menemui ibunya, takutnya akan terjadi sesuatu.
“Apa yang mereka bicarakan di dalam sana, kenapa lama sekali”ucap Darren yang sedang merangkul istrinya, yang sudah lumayan lama menunggu mereka keluar.
“Aku juga penasaran, menjauhlah sedikit, aku bahkan merasa malu di lihat kak Fino”ucap Ziva dengan suara berbisik.
“Biarkan saja, aku hanya bosan menunggu, makanya aku senang merangkulmu agar kau tetap hangat bersamaku. Aku hanya tidak ingin kau kedinginan menunggu mereka keluar” ucap Darren dan kembali mencium puncuk kepala istrinya.
“Sudah hentikan, kau sama sekali tidak cemas dengan pertemuan kedua orang tua kita”ucap Ziva dengan wajah yang cemberut di balik cadarnya.
Darren kembali ingin menimpali ucapan istrinya, namun pintu ruang kerja tuan Alvin sudah terbuka lebar yang menampilkan Nyonya ira dan Nyonya Ratu. Sehingga ia pun menghentikan niatnya, kini aura dingin mulai menyelimuti pasangan suami istri itu.
Baik Darren dan Ziva dengan cepat bangkit dari duduknya begitu halnya dengan Fino yang ingin mengetahui apa yang ibu mereka obrolkan. Nyonya Ira dan Nyonya Ratu memasang mimic wajah yang sulit diartikan dan mereka terlihat tidak akrab satu sama lain keluar dari ruangan itu.
“Mama pergi dulu, persiapkan diri kalian dengan baik untuk beberapa hari ke depan.” ucap Nyonya Ratu yang terlihat tegas.
“Iya ma” ucap Ziva bingung dengan ucapan ibu mertuanya.
Nyonya Ratu beserta Fino lalu undur diri dari hadapan mereka. Mereka meninggalkan kediaman tuan Alvin menuju ke mansion Fino untuk segera mengambil langkah untuk persiapan kembali pernikahan Darren dengan Ziva.
Sementara Darren dan Ziva kini sudah berada di dalam kamarnya. Mereka berdua sedang membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Darren memeluk istrinya dengan erat yang sudah menjadi kebiasaannya sambil memejamkan matanya. Sementara Ziva belum bisa tidur dalam dekapan suaminya.
“Aku kepikiran dengan ucapan ayahku dan mama tentang hubungan kita. Apa mereka sudah sepakat untuk memisahkan kita, bahkan ayah dan bunda percaya dengan ucapan kak Lexa yang menganggapku hamil. Padahal semua itu hanyalah kebohongan”ucap Ziva yang sedang memasang wajah cemberut.
“Jangan terlalu kepikiran, semuanya akan baik-baik saja” ucap Darren lalu mengeratkan pelukannya.
“Eeeh aku tidak bisa bernafas, kau memelukku terlalu erat”omel Ziva.
“Ha ha ha, kau sangat menggemaskan istriku, makanya aku memelukmu dengan erat. Untuk ucapan kakakmu tidak masalahkan, bahkan dia sendiri mengatakan bahwa berbohong demi kebaikan sah-sah saja bukan” ucap Darren yang tertawa.
Sementara Ziva menjadi diam lalu mengubah posisinya menghadap ke arah suaminya dengan wajah yang cemberut.
“Jangan memasang wajah seperti itu, atau aku akan mencium mu” ucap Darren dengan tatapan jail nya.
"Bukankah kita pasangan suami istri, cepat atau lambat kau juga pasti akan hamil, jadi lupakan ucapan kakakmu dan tidurlah”ucap Darren yang memindahkan anak rambut istrinya yang menghalangi kening istrinya.
Wajah cantik Ziva menjadi merona dengan ucapan suaminya. Bahwa cepat atau lambat dia akan hamil. Memirkan hamil saja Ziva menjadi malu, ia bahkan belum melayani suaminya dengan baik. Untungnya Darren mengerti kondisi istrinya, jadi ia tidak ingin meminta haknya secepat itu kepada istrinya. Ia akan melakukannya jika Ziva sudah siap.
“Tidurlah, aku mencintaimu istriku”ucap Darren lalu mencium kening istrinya.
Ziva merasa senang setiap Darren mengucapkan kata-kata manis untuknya. Sepasang suami istri itu mulai memejamkan matanya dan terbuai dalam mimpi.
Sementara di tempat lain…
__ADS_1
Jones dan Milan hanya melihat tontonan malam yang menurutnya menyenangkan di dermaga pelabuhan. Beberapa anggota the Tiger memukuli Zayn habis-habisan. Niat Zayn yang ingin meninggalkan Negara B dari kejaran Riko dan anggota Damanik berujung apes di tangan anggota the tiger.
“Jangan sampai membunuhnya, patahkan saja tulang-tulangnya. Agar dia menjadi cacat dan tidak menghina lagi putriku dan tidak ada lagi wanita yang akan mendekatinya”teriak Riko yang baru saja sampai di lokasi itu yang sedang menyaksikan Zayn sedang dipukuli.
“Ya kira-kira seperti itulah hukuman untuk lelaki yang hobi mempermainkan seorang wanita”ucap Jones yang menimpali Riko.
Setelah selesai membereskan Zayn, lalu mereka meninggalkan tempat itu. Dan tak berapa lama kemudian, 2 lelaki berbadan kekar mulai menghampiri Zayn yang sudah tidak berdaya di tanah. Rupanya mereka adalah anak buah Zayn, lalu mereka pun menolong tuannya dan membawanya ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan.
🍁🍁🍁🍁
Keesokan harinya.....
Ziva dan Darren merasa aneh dengan tingkah laku kedua orang tua Ziva, yang sudah tidak menyapa mereka lagi. Bahkan Lexa mulai menjauhi mereka berdua.
"Apa ayah, bunda dan Lexa membenci kita suamiku" tanya Ziva yang menatap kepergian mereka yang sama sekali tidak mengajaknya berbicara.
"Sudahlah, masih ada aku di samping mu. Jika seperti itu, lebih baik kita pergi saja dari rumah ini" ucap Darren yang tidak mau ambil pusing.
"Tidak boleh, kita meninggalkan rumah ini, bahkan ayahku belum berbaikan dengan mu" ucap Ziva yang berpikir jernih.
"Ya sudah, aku ke kantor dulu, banyak yang harus aku urus untuk pembangunan kembali anak cabang perusahaan ku di negara ini"Ucap Darren yang berpamitan kepada istrinya.
Ziva lalu mencium punggung tangan suaminya.
"Hati-hati, jaga dirimu. Jangan lupa bawa bekal ini, aku sendiri loh yang memasak untuk mu" ucap Ziva yang mengambil kotak bekal itu dari pelayan lalu memberikannya kepada suaminya.
"Terima kasih istri ku, aku akan menghabiskan nya" ucap Darren yang menerima bekal itu dengan senyum kebahagiaan di wajahnya.
Mobil pun sudah siap untuk mengantarnya ke lokasi perusahaannya.
Kedua belah pihak keluarga mereka, merahasiakan kembali pernikahan Ziva dan Darren yang akan dilangsungkan secepatnya. Berkisar hanya seminggu saja, keluarga mereka mempersiapkan segala sesuatunya.
Tuan Alvin menginginkan pernikahan putrinya digelar secara meriah. Agar kerabat dan rekan bisnisnya dapat turut menghadiri pesta pernikahan putrinya Ziva.
Mereka kembali melakukan rapat keluarga di ruang kerja tuan Alvin pagi ini. Tuan Alvin bekerja sama dengan nyonya Ira untuk mempersiapkan pernikahan Ziva dan Darren secepatnya.
"Rangkaian acara akad akan di lakukan di rumah ini dan Hotel Damanik resepsi pernikahan mereka akan digelar, mulai sekarang perintahkan anak buah mu untuk melakukan penjagaan Riko" ucap tuan Alvin.
"Baik tuan" ucap Riko.
"Bunda dan Lexa mempersiapkan baju pernikahan Ziva dan suaminya. Untuk wedding organizer, katering dan lainnya nyonya Ratu yang akan mengurusnya. Dan kalian berdua tetap merahasiakan semua ini dari Ziva dan suaminya" ucap tuan Alvin dengan tegas.
"Iya mas".
"Ya sudah, mas akan pergi bersama Riko ke hotel Damanik" ucap tuan Alvin.
Dan rapat keluarga mereka berakhir.
Sementara di mansion Fino....
__ADS_1
Nyonya Ratu mulai bercerita tentang rencana pernikahan Darren dan Ziva yang akan dilaksanakan kembali. Fino terus saja tersenyum saat ibunya menjelaskan perihal rencana pernikahan mereka.
Astaga adikku harus menikah sampai ketiga kalinya, sungguh ini tidak masuk akal. Tapi itulah rencana Tuhan untuknya. Batin Fino dengan senyuman di bibirnya.
Waktu terus berjalan, hingga tinggal 2 hari lagi menuju hari H pernikahan Ziva dan Darren.
Para pelayan mulai sibuk mempersiapkan pernikahan mereka.
Ziva dan Darren hanya bingung melihat tingkah laku keluarga Ziva dan keluarganya. Bahkan Fino beberapa hari ini tidak ke kantor nya, apakah karena dia berada di negara ini, sehingga membuat Fino malas ke kantornya, ditambah ibunya yang tidak ingin menemuinya. pikir Darren.
Kediaman Ziva begitu pun a
Mereka berdua hanya menikmati sarapan pagi, tanpa ditemani oleh keluarga Ziva.
Nyonya Ira yang sudah beberapa hari mendiamkan mereka, merasa tidak setuju dengan rencana suaminya.
"Mas aku tidak bisa merahasiakannya lagi kepada mereka, lebih baik kita berbicara empat mata kepada Ziva dan suaminya" ucap nyonya Ira.
"Ya sudah jika seperti itu, ya sepatutnya kita tidak merahasiakan kabar bahagia mereka"ucap tuan Alvin yang menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Lalu nyonya Ira pun mengatakan kepada putrinya bahwa ia akan kembali melangsungkan pernikahan.
Ziva yang mendengar ucapan ibunya menjadi diam.
Ya Allah aku sudah berprasangka kepada orang tuaku. Ternyata mereka merahasiakan dari kami tentang pernikahanku kembali. Batin Ziva.
Pernikahan lagi, sudah berapa kali aku menikahi istri ku. Sungguh kehidupan ini begitu indah, aku bahkan terus saja menikahi istri ku. Batin Darren yang tersenyum tipis.
"Ayah mu merahasiakan semua ini dari mu, maka dari itu bunda menyampaikannya perihal pernikahan mu lagi. Dan untuk nak Darren untuk 2 hari ke depan, kamu tidak boleh bertemu istri mu dulu" ucap nyonya Ira dengan sedikit senyuman.
"Baik nyonya" ucap cepat Darren.
"Panggil saja aku bunda, tidak usah formal. Kau kan menantuku" ucap nyonya Ira sambil tersenyum.
"Baik bunda" ucap Darren dengan penuh kebahagiaan. Lalu dengan cepat memeluk istrinya.
"Akhirnya kita direstui" ucap Darren dengan suara lantang dengan penuh kebahagiaan.
Sementara Ziva ikut tersenyum dan sangat bahagia mendengar ucapan ibunya yang merupakan kabar bahagia untuknya.
"Iya aku sangat senang" ucap Ziva dengan senyuman manis di balik cadarnya.
Sementara nyonya Ira hanya geleng-geleng kepala melihat pasangan suami istri itu.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya. Tepatnya hari ini prosesi akad nikah akan dilangsungkan di kediaman tuan Alvin. Untuk resepsi pernikahan mereka digelar di hotel Damanik.
Seluruh tamu undangan yang merupakan kerabat dekat mulai berdatangan di kediaman Damanik. Pernak pernik dekorasi rumah itu tampak mewah dan indah. Background bunga yang lebih dominan dekorasi rumah tersebut.
Bersambung......
__ADS_1
Mohon maaf bila alurnya tidak sesuai 🙏🙏🙏
Dan terima kasih atas dukungan teman-teman semua tanpa terkecuali, pokoke author berterima kasih 🙏🙏