
Di kediaman Sarah......
Seluruh keluarga dan kerabat Sarah mulai meninggalkan rumah nya. Kedua orang tua Sarah sangat bahagia, karena sebentar lagi putrinya akan menikah dengan keluarga Alexander yang sangat terpandang di negaranya.
"Ibu tinggal dulu, cepatlah beristirahat. Besok adalah hari bahagia mu" ucap ibu Sarah.
"Iya Bu" ucap Sarah dengan sedikit senyuman.
Ibunya lalu meninggalkan kamarnya.
Tiba-tiba saja ponsel Sarah kembali berdering yang sedari tadi ia tidak angkat.
"Iya kenapa, apa lagi urusan mu dengan ku, aku sudah memberimu uang, apa masih kurang hah" ucap Sarah.
"Cepat keluar nona Sarah, aku menunggu mu di pos penjagaan, kalau tidak kau akan menyesal" ucap lelaki di ujung telepon.
Sarah lalu berjalan mengintip ke jendela melihat lelaki yang menelponnya.
"Baiklah, aku akan segera menemui mu" bentak Sarah. Lalu mematikan sambungan telepon nya.
"Ada apa lagi dengan anak buah Zayn yang tidak becus itu. Ini semua gara-gara Zayn yang begitu bodoh dalam menjalankan rencananya. Untungnya ia masih tutup mulut dan tidak melibatkan ku. Bila itu terjadi, perjuangan ku akan sia-sia selama ini" ucap Sarah.
lalu membuka lemarinya dan mengambil jaket milik nya. Setelah itu, berjalan menuju pintu pos penjagaan untuk menemui lelaki yang menelponnya.
Kini Sarah sudah berdiri di hadapan 3 anak buah Zayn, wajah mereka terlihat serius.
"Ini nona Sarah, uang yang pernah anda berikan kepada kami. Sepertinya kami tidak bisa menjalankan tugas kami untuk membunuh nona Ziva dengan gadis Mafia itu" ucap lelaki itu lalu menyerahkan amplop coklat yang berisi uang tunai.
"Apa maksud kalian, bukankah kalian pembunuh bayaran yang merupakan pekerjaan kalian. Ambil saja uang itu dan jangan berani-berani muncul di hadapan ku" ucap Sarah dengan tatapan tajam.
Ketika lelaki itu saling kode, meminta persetujuan temannya.
"Baiklah kami ambil uang ini, dan akan meninggalkan negara ini" ucap lelaki itu.
"Bagus...jangan sampai kalian tertangkap dengan anak buah Darren. Cepat pergi dari hadapan ku" bentak Sarah.
Ia tidak ingin sampai ada yang melihatnya dan merasa curiga dengan nya.
__ADS_1
Terdengar suara tepukan tangan dari arah belakangnya. Sontak Sarah berbalik dan betapa terkejutnya ia melihat siapa yang sedang bertepuk tangan itu. Beserta beberapa anak buahnya.
"Kak Fi-fino, ada apa ya menemui ku di jam seperti ini. Bukankah besok kita akan menikah" ucap Sarah dengan terbata.
"Wow, aku tidak menyangka gadis yang berpakaian muslimah seperti mu begitu jahat dan licik" ucap Fino dengan tatapan tajam.
Sarah menjadi diam seribu bahasa, tenggorokannya seolah tercekik mendengar tutur kata Fino.
Fino hanya mengibaskan tangannya kepada para anggota The Tiger untuk menangkap ketiga lelaki yang merupakan anak buah Zayn.
"Penjarakan mereka di bawah tanah" ucap Fino dingin sambil menatap tajam Sarah.
Lalu para anggota The Tiger mulai menangkap ketiga lelaki tadi yang tidak melakukan perlawanan. Setelah itu, membawanya masuk ke dalam mobil.
Sementara Sarah mulai meremas ujung jaketnya. Lalu mendekati Fino. Sarah langsung memeluk Fino, karena ia begitu panik dan tidak tahu harus berbuat apa lagi.
"Lepaskan pelukan mu, aku tidak Sudi di peluk wanita ular seperti mu" ucap Fino dingin lalu mendorong tubuh Sarah.
Sarah pun terjungkal ke belakang.
"Jangan seperti ini kak Fino, besok kita akan menikah. Bisa-bisa kau mengecewakan mama mu jika bersikap seperti ini kepada ku" ucap Sarah.
Air mata Sarah mulai bercucuran membasahi wajahnya.
"Pergilah dari negara ini malam ini juga, aku tidak ingin melihat wajah mu. Jika kau masih berada di sini. Maka nyawa kedua orang tua mu tidak akan selamat" ucap Fino dingin dengan ancaman yang mematikan nya.
Lalu iapun berjalan menuju mobilnya. Fino masuk ke dalam mobil dan membanting pintu mobilnya dengan keras.
Hingga membuat Sarah kagetan. Sarah pun tidak kuasa menahan air matanya, ia pun kembali berlari menuju mobil Fino.
Sementara Fino melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Sarah.
Sarah hanya mampu merosot di aspal dengan debu-debu jalanan yang berderai air mata.
Sedangkan Fino berkendara dengan kecepatan tinggi menuju kediamannya. Sesekali Fino memegangi kepalanya yang sedikit pusing.
"Aku sama sekali tidak menyangka Sarah berbuat jahat seperti itu, bahkan menyewa seseorang untuk melecehkan Milan" ucap Fino yang masih tersulut emosi.
__ADS_1
Kini ia sudah tiba di kediamannya, Fino masih saja berada di garasi mobil. Ia sama sekali tidak ingin keluar dari mobilnya.
Fino kembali teringat ucapan mata-matanya yang memintanya ke kediaman Sarah. Dan benar dugaannya ternyata Sarah melakukan persekongkolan bersama Zayn untuk membuat kejahatan.
Fino lalu menghubungi Chiko.
"Kau dimana" ucap Fino.
"Masih di persimpangan jalan tuan, sebentar lagi aku akan sampai" ucap Chiko.
"Urus semua berkas-berkas pernikahan ku" ucap Fino.
"Bukankah semua berkas pernikahan tuan sudah rampung bersama nona Sarah" ucap Chiko menjelaskan.
"Bukan bodoh, aku tidak akan menikahi Sarah si wanita ular itu" ucap Fino yang kesal jika menyebut nama Sarah.
"Terus tuan akan menikahi siapa" tanya Chiko.
"Aku akan menikahi Milan. Persiapkan berkasnya malam ini juga dan jangan banyak tanya" ucap Fino lalu dengan cepat mematikan sambungan telepon nya.
Fino lalu membuka pintu mobilnya. Kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat melihat ibunya sedang duduk di sofa sambil menatap nya dengan tajam.
"Sayang, kau dari mana saja di jam seperti ini. Mama menjadi khawatir kepada mu" ucap nyonya Ratu dengan tatapan tajam kepada putranya.
Fino lalu duduk di samping ibunya kemudian memeluk ibunya dengan erat.
"Fino baik-baik saja ma, jangan khawatirkan Fino" ucap Fino layaknya anak kecil yang sedang mendapat Omelan dari ibunya.
"Ya sudah, kau harus istirahat besok adalah hari bahagia mu sayang" ucap nyonya Ratu yang melepaskan pelukannya.
"Terima kasih ma, aku sangat menyayangimu" ucap Fino lalu mencium punggung tangan ibunya.
Lalu mereka pun berjalan sama-sama menuju kamar ibunya terlebih dahulu. Setelah selesai mengantar ibunya ke kamarnya. Kini Fino yang beralih menuju kamarnya.
Fino masih menghembuskan nafasnya dengan kasar, saat berada di dalam kamarnya. Ia duduk di tempat tidur dengan wajah yang sangat lelah. Fino menatap ke arah jendela yang menampilkan langit malam yang tampak gelap tanpa adanya taburan bintang.
"Aku tidak ingin ibu khawatir terhadap ku lagi. Semoga semuanya berjalan dengan lancar dan ibu bisa menerima kenyataan ini" ucap Fino.
__ADS_1
Kemudian ia pun masuk ke dalam toilet untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu, ia pun mengenakan piyama tidurnya lalu naik ke tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah. Dan semoga hari esok lebih baik lagi dari pada hari yang ia lalui.
Bersambung.....