
Ziva terbangun seperti biasanya, ia merasa hanya bermimpi di peluk oleh sang suami, Ia lalu menyentuh wajah Darren yang sedang tertidur pulas.
"Apa kau benar-benar mencintai ku. Aku masih belum bisa mempercayai ucapan mu tuan Alexander. Ayahku belum bisa menerimamu, apalagi merestui hubungan kita" ucap Ziva yang sedang menatap wajah sang suami sambil menyentuh wajah itu dengan jemari tangannya.
"Kau seperti seorang bayi saat tertidur bahkan lumayan tampan juga" ucap Ziva sambil tersenyum.
Tiba-tiba saja Darren mengeratkan pelukannya.
Deg
Jantung Ziva kembali berdegup kencang.
Apa jangan-jangan dia terbangun. Batin Ziva.
Ziva dengan cepat memalingkan wajahnya. Ia jadi salah tingkah. Sehingga cara terampuh yang ia lakukan adalah memindahkan tangan Darren dengan hati-hati. Setelah itu, iapun mulai berlari masuk ke dalam toilet dengan jantung yang berdegup kencang.
Sementara Darren tersenyum melihat tingkah laku istrinya, yang berlari masuk ke dalam toilet. Ternyata ia mulai terbangun saat Ziva menyentuh wajahnya.
"Aku akan membuatmu mencintaiku Zivanna dan tidak akan pernah meninggalkan mu" ucap Darren sambil tersenyum.
Setelah itu, iapun lalu menyusul istrinya masuk ke dalam toilet.
Ziva yang sedang mengambil air wudhu sama sekali tidak mengetahui keberadaan suaminya. Ia hanya menyelonong keluar tanpa melihat sosok suami yang sedang bersandar di dinding memperhatikannya.
Darren hanya tersenyum
“Zivanna tolong siapkan perlengkapan sholat untukku”ucap Darren yang sedang bersandar di dinding.
Sementara Ziva terlonjat kaget melihat sosok suaminya.
“Astagfirullah, kau membuatku kaget. Baiklah akan aku siapkan untukmu”ucap Ziva yang berbalik badan yang sedang berada di ambang pintu toilet.
Perasaannya sempat tersentuh dengan ucapan suaminya yang memintanya menyiapkan alat sholat untuknya.
Ziva lalu menyiapkan perlengkapan sholat untuk suaminya. Ia terlebih dahulu menuju kamar sang kakek untuk mengambil perlengkapan sholatnya yang sempat ia simpan. Dan tak lupa mengambil perlengkapan sholat sang kakek untuk sang suami diantaranya baju kokoh, sarung, peci dan tak lupa sajadah.
Sementara Darren membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Setelah selesai, ia tak lupa mengambil air wudhu. Darren keluar dari toilet hanya menggunakan handuk yang ia lilitkan di pinggangnya. Ia melihat sang istri sudah menunggunya untuk sholat berjamaah. Sekilas Darren melihat perlengkapan sholatnya sudah tersedia di atas tempat tidur. Ia langsung memakainya, lalu menghampiri sang istri yang tengah menunggunya.
Ziva sudah siap dengan mukenah nya, dan dua sajadah yang sempat ia siapkan.
“Izinkan aku menjadi imam sholatmu Zivanna” ucap Darren yang sudah rapi dan terlihat tampan menggunakan baju kokoh dan peci yang melekat di kepalanya.
Ziva sangat bersyukur kepada Tuhan, akhirnya sang suami sudah berubah dan ingin menjalankan perintah Tuhannya.
Ziva pun hanya bisa mengangguk sebagai jawabannya, yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi melihat perubahan sang suami.
Untuk pertama kalinya sepasang suami istri itu melaksanakan sholat subuh secara berjamaah. Darren menjadi imam sholat istrinya. Mereka begitu khusyuk dan penuh haru melaksanakan sholat subuh dengan lantunan ayat suci Al-quran yang begitu pasih ditelinga. Tak terasa air mata Ziva mengalir dengan sendirinya saat mengakhiri sholat subuh. Ia sangat terharu dengan perubahan drastis sang suami. Ziva lalu menghampiri suaminya dan lansung mencium punggung tangan sang suami. Setelah itu, ia langsung memeluk suaminya.
“Terima kasih, kau sudah menjadi imam sholatku” ucap Ziva dengan suara tangisnya.
__ADS_1
Darren pun membalas pelukan sang istri, ia pun ikut terharu dengan mata yang berkaca-kaca ditambah ucapan istrinya yang sangat menyentuh hati.
“Berilah aku kesempatan untuk menjalin kembali hubungan pernikahan kita, aku berjanji akan berubah, dan maafkan semua kesalahan yang pernah aku perbuat kepadamu dan kepada keluargamu, tolong maafkan aku istriku” ucap Darren yang sudah melepas pelukannya dengan mata memerah.
Ziva pun menatap mata sang suami yang begitu tulus.
“Tuhan pun memaafkan seluruh umatnya yang melakukan dosa. Bagaimana mungkin aku tidak memaafkanmu suamiku, aku pun hanya manusia biasa” ucap Ziva yang membasuh wajah sang suami.
“Terima kasih istriku, jadilah ibu untuk anak-anakku, aku sangat mencintaimu”ucap Darren lalu mencium kening istrinya.
Sementara Ziva hanya mampu tersenyum dengan air mata yang selalu saja berhasil lolos di pelupuk matanya. Dengan cepat Darren menghapus air matanya sambil tersenyum bersama. Lalu mereka pun kembali berpelukan di dalam kamar itu.
Pagi harinya……
Seluruh pelayan tampak sibuk menyajikan makanan di meja makan bersama nyonya Ira. Tak berselang kemudian Tuan Alvin dan Lexa sudah duduk di kursi meja makan.
Nyonya Ira lalu duduk di samping Lexa.
“Mana Ziva dan suaminya bunda”ucap Lexa yang sedang menikmati sandwich nya.
“Sayang kau tahu sendiri, mereka sepasang suami istri. Banyak hal yang sedang mereka lakukan” ucap Nyonya Ira sambil tersenyum
Sementara tuan Alvin sedikit membulatkan matanya dan sama sekali tidak suka topic pembicaraannya.
Tak berapa lama kemudian Ziva muncul sambil bergandengan tangan bersama suaminya.
Sebelum mereka mendekat di meja makan, dengan cepat Tuan Alvin menghentikan makannya lalu meminum teh hijau favoritnya. Setelah itu, ia lalu bangkit dan berjalan menuju ruang kerjanya.
“Temui ayah di ruang kerja”ucap tuan Alvin Setelah itu, ia menatap tajam Darren lalu melenggang pergi.
“Baik ayah”teriak Ziva yang merasa canggung, bagaimana tidak, ayahnya tiba-tiba menghentikan menikmati sarapannya saat melihat kehadirannya bersama suaminya.
Sedangkan Darren hanya memasang wajah datar dan ia belum yakin bisa di terima di keluarga Damanik.
Sepertinya ayah mertuaku sangat membenciku. Aku akan berusaha meminta restu dari nya. Batin Darren, yang jelas-jelas begitu yakin dengan tatapan tuan Alvin terhadapnya.
“Jangan pikirkan sikap ayahku” ucap Ziva sambil berbisik.
Ziva lalu menarik tangan sang suami untuk duduk di kursi. Nyonya Ira hanya tersenyum melihat kedatangan mereka.
“Ambilkan makanan untuk suamimu sayang, bunda akan ke rumah sakit bersama Lexa pagi ini”ucap nyonya Ira yang sudah menghabiskan sarapannya begitu halnya Lexa.
“Anggap rumah sendiri tuan Darren Alexander, jangan sungkan ya, biar adikku Ziva yang menemanimu sarapan” ucap Lexa.
“Baik tidak masalah”ucap Darren.
“Ya sudah bunda tinggal dulu, kalau butuh sesuatu nak Darren bilang saja sama Ziva” ucap Nyonya Ira.
“Iya nyonya”ucap Darren.
__ADS_1
"Panggil saja bunda, sama seperti putri-putri ku memanggilku dengan panggilan tersebut" ucap nyonya Ira.
"Baik bunda" ucap Darren.
Sementara Ziva hanya mampu tersenyum mendengar ucapan Darren yang begitu kaku.
Lalu nyonya Ira menuntun Lexa berjalan menuju pintu utama disusul baby sister Lexa. Mobil sudah siap untuk membawa mereka ke rumah sakit. Lalu mereka semua masuk ke dalam mobil, mobil pun melaju meninggalkan pelataran rumah menuju sebuah rumah sakit ternama di negara itu.
Sementara Ziva sudah berada di ruang kerja ayahnya bersama suaminya. Lagi-lagi mereka berpegangan tangan, seolah tidak ingin berpisah.
Sedangkan tuan Alvin yang tengah duduk di kursi kebesarannya tidak suka putrinya begitu lengket dengan anak musuhnya.
"Ini surat perceraian kalian, ayah sudah menyiapkannya beberapa tempo hari. Ayah ingin kau bercerai dengan lelaki ini" tunjuk tuan Alvin yang mulai marah.
Ziva menjadi bungkam dengan ucapan ayahnya, lidahnya terasa keluh bahkan tenggorokan nya seakan tercekik mendengar penuturan ayahnya. Darren pun ikut membulatkan matanya, ia sedang berusaha meminta restu ayah istrinya, malah mendapatkan pukulan telak bahwa ia harus bercerai.
"Ayah..kami tidak akan bercerai. Tolong ayah jangan seperti ini" ucap Ziva memohon.
"Maafkan saya tuan Alvin, yang sudah berbuat kesalahan kepada keluarga anda. Tolong jangan biarkan kami bercerai, karena saya sangat mencintai putri anda yang sudah berstatus sebagai istri saya"ucap Darren yang sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya.
"Kau bukanlah lelaki yang baik untuk putri ku, apa lagi sosok suami untuknya, aku bahkan tidak merestui pernikahan kalian. Jadi jangan menyebut nama putriku dengan sebutan istri" ucap tuan Alvin dingin.
"Saya memang bukanlah lelaki yang baik untuk putri anda, tapi saya akan membahagiakan Zivanna dengan sepenuh jiwa dan raga dan tidak akan pernah membuatnya terluka karena saya benar-benar mencintai putri anda tuan" ucap Darren dengan suara lantang.
"Cepat tanda tangani berkas itu, aku tidak ingin melihat wajah mu di rumah ku" bentak tuan Alvin yang sudah bangkit dari duduknya yang tersulut emosi.
Ziva pun menjadi panik dengan situasi itu. Ia ingin melepaskan genggaman tangannya, namun lagi-lagi Darren mengenggam nya dengan erat.
"Kami tidak akan bercerai, kami saling mencintai dan perceraian hukumnya haram di dalam agama. Jadi tolong tuan, buang jauh-jauh pikiran tentang yang namanya perceraian. Saya memang banyak dosa dan kesalahan selama ini, tapi saya sangat menyesali perbuatanku selama ini yang sudah menyakiti keluarga tuan. Tapi di sini, saya sangat tulus mencintai putri anda dan tidak akan pernah meninggalkan nya walau nantinya maut yang akan memisahkan kami. Jadi mohon restuilah pernikahan kami" ucap Darren yang untuk pertama kalinya memohon kepada seseorang, lalu Iapun menarik tangan Ziva untuk keluar dari ruangan itu.
"Berhenti...aku tidak akan membiarkan mu membawa putriku" teriak tuan Alvin sambil mengepalkan tangannya.
Sementara Darren tidak memperdulikan ucapan tuan Alvin. Ia malah membawa Ziva meninggalkan ruangan itu.
Ziva pun hanya mampu mengikuti sang suami, dilain sisi ia tidak ingin ayah dan suaminya bermusuhan. Darren terus berjalan sambil menggandeng tangan Ziva hingga tiba di taman belakang.
"Aku tidak ingin membuat ayahku marah, tolong jangan bawa aku pergi dari rumah ini" ucap Ziva yang mencoba lepas.
"Aku memang tidak ingin membawa mu pergi, aku hanya membebaskan diri dari kemarahan ayahmu" ucap Darren yang duduk di kursi taman.
"Dasar kau ini" ucap Ziva sambil mencubit lengan suaminya.
"Kau sudah berani mencubit lengan ku" ucap Darren yang sok marah, hingga mendudukkan Ziva di pangkuannya.
"Hei turunkan aku, pelayan nanti melihat kita. Dasar payah, kau malah kabur dari kemarahan ayahku" ejek Ziva.
"Sangat sulit jika seseorang terlanjur membenci kita, tidak ada hal baik yang mampu ia lontarkan kepada kita. Lihatlah tadi ayahmu sangat marah, aku pun tidak ingin terus-menerus membantahnya. Bisa -bisa kami saling memukul nantinya. Mendingan aku membawa mu kesini biar kita bisa berduaan" ucap Darren sambil tersenyum yang kembali melingkarkan tangannya di tubuh istrinya.
Sementara tuan Alvin yang menatap mereka dari balik jendela tampak mengepalkan tangannya. Ia lalu menghubungi Zayn untuk datang ke kediamannya malam ini.
__ADS_1
Bersambung......