Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Menjadi istri seutuh mu


__ADS_3

Sementara di mansion Fino...


Seluruh kerabat dekatnya sudah siap untuk mengantarkan Darren ke tempat acara yang akan dilangsungkan di kediaman Damanik.


Fino sudah terlihat gagah dengan setelan jasnya yang kini duduk berdampingan dengan tuan John yang merupakan ayah Rissa. Sementara Rissa sedang mondar-mandir sambil memainkan ponselnya mengabadikan momen keluarga mereka.


Untuk Darren sendiri baru saja selesai mengenakan texudo berwarna putih yang merupakan pakaian sakral untuknya di acara akad. Ia terlihat tampan dan kharismatik. Nyonya Ratu yang berada di kamar itu tersenyum melihat putranya yang begitu tampan.


"Apa kamu siap sayang" tanya nyonya Ratu.


"Iya ma, aku sudah siap, sebaiknya kita berangkat" ucap Darren yang sudah sangat antusias.


Kini Darren bersama keluarganya tiba di kediaman tuan Alvin. Mereka lalu memasuki kediaman tuan Alvin. Keluarga ziva langsung menyambut kedatangan mereka beserta para tamu undangan lainnya. Beberapa diantara para tamu undangan mulai memuji ketampanan Darren. Sementara pandangan Darren yang lurus ke depan langsung tertuju pada tempat yang sudah dipersiapkan untuk melakukan prosesi ijab Kabul. Tiba-tiba saja ia merasa gugup, saat melihat tuan Alvin sudah duduk bersama pak penghulu di tempat prosesi ijab Kabul.


Tuan john lalu menuntun Darren ke tempat itu. Karena ia sebagai paman Darren sehingga dialah yang akan menjadi wali nikah Darren. Kini Darren sudah duduk berhadapan dengan tuan Alvin. Dan beberapa para saksi.


Sementara Ziva masih berada di dalam kamarnya di temani oleh Lexa, Donna dengan baby nya, Lulu dan Nana. Ziva tampak cantik dengan balutan gaun pengantin yang sangat mewah nan indah. Donna yang sedang mengendong baby key terus saja menggoda Ziva untuk kesekian kalinya. Ziva hanya mampu tersipu malu. Tak berselang kemudian nyonya Ira menghampiri putrinya, lalu iapun menuntun putrinya menuju tempat prosesi ijab Kabul.


Kini Ziva sudah duduk berdampingan di samping suaminya. Biasanya mempelai wanita hanya di dalam ruangan saja saat prosesi ijab kabul, tapi kali ini Ziva sudah duduk berdampingan dengan suaminya. Toh sah-sah saja karena mereka sudah sah secara hukum dan agama. Darren lalu menatap kearah Ziva, tiba-tiba saja pandangan mereka bertemu saat Ziva juga menatap kearahnya.


“Hemm” deheman nyonya ira membuat mereka berhenti saling tatap-tatapan.


Nyonya Ira lalu meletakkan selendang putih di kepala mereka untuk melakukan prosesi ijab Kabul.


Pak penghulu mulai angkat bicara sepatah kata tentang syarat-syarat mengucapkan ijab Kabul. Setelah itu, ia menyerahkan kepada tuan Alvin sebagai wali nikah Ziva untuk memulai ijab kabulnya.


Tuan Alvin lalu berjabat tangan dengan Darren.


“Saudara Darren Alexander Tiger, saya nikahkan engkau dengan putri kandung saya Zivanna Damanik binti Alvin Damanik dengan mas kawin emas 1000 gram dan seperangkat alat Sholat dibayar tunai” ucap tuan Alvin sambil menghentakkan tangganya.


“Saya terima nikahnya Zivanna Damanik binti Alvin Damanik dengan mas kawin emas 1000 gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai”ucap Darren dengan sekali tarikan napas.


Lalu mereka pun menyatakan kata sah. Lalu pak penghulu mulai membacakan doa untuk pernikahan mereka. Darren dan Ziva bernapas lega akad nikah mereka berjalan dengan lancar.


Selanjutnya mereka melakukan prosesi adat sungkeman. Ziva memeluk ibunya dengan perasaan bahagia. Banyak pesan yang di sampaikan nyonya Ira kepada putrinya untuk menjadi istri yang patuh terhadap suaminya, lalu berpindah memeluk ayahnya. Tiba-tiba saja ziva menangis di pelukan sang ayah. Tuan Alvin mengucapkan sepatah kata untuk putrinya untuk menjalani kehidupan barunya.


Lalu mereka bergantian melakukan sungkeman. Lanjut Darren yang melakukan sungkeman kepada orang tua Ziva. Tuan Alvin masih enggan memaafkan Darren, ia masih saja bersikap dingin kepada menantunya. Tapi ia tetap memeluk Darren.


“Jika sampai membuat putriku menangis, aku tidak segan-segan merebut putriku darimu”ucap tuan Alvin dingin yang berbisik di telinga Darren.


“Aku tidak akan membuat Zivanna menangis ayah mertua, jadi jangan khawatir”ucap Darren.


Para tamu undangan mulai menikmati jamuan nya. Ziva dan Darren duduk di kursi pengantin yang telah di sediakan. Beberapa tamu undangan mengabadikan foto bersama mereka. Ziva bersama Darren melemparkan buket bunga kepada para tamu undangan yang sedari tadi menyuruh pasangan suami istri itu untuk melemparnya agar mereka bisa mengikuti jejak mereka.


Buket Bunga itu ditangkap oleh Rissa dan Jones. Tiba-tiba saja Rissa ingin memiliki buket bunga itu seutuhnya, tapi jones tidak mau kalah iapun memegang buket itu Rissa lalu menariknya dengan keras sehingga ia hampir saja terjatuh karena ulahnya sendiri untungnya dengan sigap Jones menangkap tubuh Rissa yang hampir saja terjatuh. Para tamu undangan menjadi riuh melihat mereka. Sementara Tuan John hanya tersenyum melihat tingkah putrinya yang kekanakan.


Fino yang bersama dengan Donna dan lainnya hanya tersenyum melihat Rissa dan Jones. Sedangkan Milan bersama anggota The Tiger berada di halaman depan yang sedang melakukan penjagaan. Milan bersama anggota The Tiger hanya menyaksikan di layar monitor keadaan di dalam sana.


Sedangkan kedua orang tua Ziva mulai menghampiri tamu undangan. Banyaknya pujian yang di dapatkan tuan Alvin oleh rekan bisnisnya, karena memiliki menantu yang hebat yang paling di takuti di dunia bisnis.


Malam harinya….


Suasana hotel Damanik mulai dipenuhi oleh tamu undangan. Bukan main-main sekitar 6000 undangan tersebar oleh kedua belah pihak keluarga Darren dan Ziva. Para anggota The Manik dan The Tiger melakukan penjagaan di setiap penjuru lokasi, untuk tetap mengamankan resepsi pernikahan tuannya. Aula hotel tampak dihiasi oleh rangkaian Bunga mawar putih yang di rangkai indah. Seluruh dekorasi tampak mewah dan indah dipandang.


Ziva dan Darren berjalan memasuki aula hotel. Seluruh tamu undangan tertuju kepada mereka. Ziva tampak cantik dengan gaun pengantin syar’I berwana peach begitu halnya Darren menggunakan setelan jas yang senada dengan istrinya. Kedua orang tua mereka sudah berada di atas pelaminan yang sedang menunggu mereka. Darren menggandeng tangan istrinya menuju kursi pelaminan.


Fino tampak tersenyum saat melihat adiknya sudah berada di pelaminan. Ia sedang berbaur dengan para tamu undangan lainnya. Lulu dan Nana terus saja menguntit Fino kemana Fino pergi.


Donna bersama sang suami hanya tersenyum melihat tingkah konyol luna. Sementara Lexa tidak berada di resepsi itu. Lexa belum percaya diri untuk berbaur dengan orang banyak, jadi dia memilih tinggal di rumah.

__ADS_1


Para tamu mulai memberikan selamat kepada mereka. Darren terlihat bahagia menikahi Ziva sesekali ia tersenyum ke arah istrinya. Para rekan bisnisnya yang sekaligus sahabatnya mulai memberikan selamat untuknya dan ikut senang melihat Darren menikah.


“Aku tidak percaya, kau menikahi gadis yang selalu kau ejek itu bukan si buruk rupa”bisik Exel yang sedang merangkul Darren yang baru kali ini datang ke pernikahan sahabatnya.


“Hemm” ucap Darren yang hanya berdehem.


“Aku sama sekali tidak percaya wahai tuan Darren” ucap si bongsor playboy cap gajah yang ikut merangkul Darren.


“Apa aku perlu mengulanginya bodoh, jangan sekali-kali menyebut istriku dengan sebutan itu atau kalian akan menerima kebangkrutan perusahaan mu” ucap Darren dengan ancaman nya.


“Tidak-tidak kami tidak akan menyebutnya"ucap mereka kompak.


"Jangan seperti ini bro, kalian pasangan serasi. Semoga kalian secepatnya diberikan momongan oleh Tuhan”ucap Exel.


Sementara Ziva tidak memperdulikan pembicaraan mereka. Lalu Exel dan si bongsor berpindah akan berjabat tangan dengan Ziva. Dengan cepat Ziva mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Para tamu undangan mulai menikmati pesta pernikahan mereka, dan mulai menikmati jamuan nya berupa makanan dan minuman yang mengunggah selera.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi para tamu undangan masih saja berdatangan. Sementara Ziva mulai lelah berdiri, bahkan kakinya terasa pegal. Darren yang melihat tingkah istrinya yang sudah bosan lalu menuntunnya untuk duduk.


Nyonya Ira lalu menyuruh Darren untuk membawa Ziva beristirahat di kamar hotel, karena nyonya Ira tidak ingin putrinya lelah, apalagi ia menganggapnya hamil.


Darren lalu mengangkat tubuh istrinya dan mulai berjalan meninggalkan aula hotel.


“Bunda meminta kita untuk menginap di hotel, apa kau setuju” ucap Darren sambil mengendong istrinya.


“Kita pulang ke rumah saja, aku tidak terbiasa tidur di kamar hotel”ucap Ziva.


“Baiklah, kita pulang ke rumah orang tuamu”ucap Darren sambil tersenyum.


Jones dan Milan sudah berada di samping mobil tuannya. Untungnya Darren dengan cepat menghubungi mereka untuk menyiapkan mobil. Karena area parkir sudah di penuhi kendaraan oleh para tamu undangan yang terus saja berdatangan.


Jones lalu membukakan pintu mobil untuk tuannya.


“Baik tuan”ucap Milan sambil menunduk dengan hormat. Milan lalu menutup pintu mobil.


Mobil pun melaju meninggalkan hotel damanik menuju kediaman orang tua Ziva.


Kini mereka sudah berada di kediaman tuan Alvin. Suasana rumah tampak Sepi, karena kedua orang tua mereka belum kembali dari pesta resepsi. Hanya beberapa pelayan yang beres-beres.


Darren masih saja menggendong Ziva berjalan menaiki anak tangga, padahal Ziva sudah meminta untuk diturunkan.


“Turunkan aku”ucap Ziva yang sudah berada di depan pintu kamarnya.


Darren sama sekali tidak menurunkan Ziva. Ia lalu membuka pintu itu dan membawa Ziva masuk. Dengan hati-hati Darren lalu meletakkan tubuh Ziva di sofa. Ia lalu berjongkok membuka high heels istrinya. Ziva menjadi diam ia hanya memperhatikan Darren melepas high heelsnya.


“Terima kasih” ucap Ziva.


Darren lalu bangkit dan sedikit membungkuk di hadapan istrinya.


“Aku tidak butuh terima kasih, aku ingin kau melayaniku malam ini”ucap Darren yang berbisik di telinga istrinya dengan seringai licik diwajahnya. Lalu iapun berjalan menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya.


Deg


Jantung Ziva tiba-tiba saja berdegup kencang mendengar penuturan suaminya.


“Tidak mungkin..ha ha ha, dia pasti bercanda” ucap Ziva yang tertawa.


Lalu iapun membuka cadarnya dan menghembuskan napasnya secara perlahan. Ziva lalu berjalan ke ruang ganti untuk membuka gaun pengantinnya yang begitu berat. Ia berusaha membuka resleting gaunnya tapi sulit baginya. Jadi ia lebih memilih menunggu Darren.

__ADS_1


Darren yang hanya mengenakan handuk masuk ke ruang ganti, ia menatap istrinya yang juga tengah menatapnya. Dengan cepat Ziva mengalihkan pandangannya ke sembarang arah dengan wajah merona dan jantung yang selalu saja maraton.


“Butuh bantuan”tawar Darren yang menghampirinya.


Ziva lalu mengangguk dan menunjuk ke arah belakang, bahwa ia kesulitan membuka gaunnya.


Darren lalu membantunya. Setelah selesai, ziva masuk ke dalam toilet untuk membersihkan tubuhnya.


Darren sudah berada di tempat tidur, ia sedang memainkan ponselnya sambil menunggu kedatangan istrinya.


Ziva keluar dari ruang ganti dengan menggunakan piyama tidurnya. Ia merasa heran mengapa piyama tidurnya menjadi berubah model, siapakah yang sudah berani menggantinya pikir Ziva yang berjalan menuju tempat tidur. Ia terlihat menggoda dengan piyama tidur sebatas lutut. Walaupun terkesan tidak seksi, tapi mata Darren tidak berkedip menatapnya. Beberapa kali Darren menelan salivanya menatap sang istri.


Ziva lalu naik ke tempat tidur dengan perasaan dag dig dug, ia tidak peduli sedari tadi Darren menatapnya. Darren lalu meletakkan ponselnya di atas nakas. Perasaannya menjadi aneh saat melihat istrinya yang terlihat menggoda iman. Jantung nya pun berdegup kencang saat melihat Ziva di hadapannya.


Ziva ingin membaringkan tubuhnya, dengan cepat Darren menarik lengan Ziva hingga membuat Ziva menubruk dada bidangnya.


"Apa kau ingin menggodaku dengan pakaian seperti ini" ucap Darren yang sedang merangkul pinggang ramping istrinya.


"Eeh apa-apaan kau ini, piyama tidurku...." ucap Ziva yang kehabisan kata-kata.


Tidak mungkin ia mengatakan piyama tidur nya ganti model.


"Baiklah, bagaimana kalau kita lakukan saja malam pertama. Bukankah keluarga mu menganggap mu hamil" ucap Darren yang menaikkan salah satu alisnya yang mencoba menggoda istrinya.


Ziva membelalakkan matanya, dengan ucapan suaminya.


Ia refleks memukul dada bidang Darren. Membuat Darren dengan cepat menangkap tangannya.


"Wah tenaga mu ternyata masih kuat. Ada baiknya jika kita melakukannya malam ini" ucap Darren dengan sedikit senyuman.


"Aku sudah ngantuk" ucap Ziva lalu menarik selimut sambil memunggungi suaminya dengan perasaan gugup yang melandanya. Padahal beberapa Minggu ini, ia selalu tidur bersama dengan suaminya. Namun mengapa saat ini ia menjadi canggung dan gugup.


"Tidak masalah jika kau belum siap, aku akan menunggu mu" ucap Darren yang melihat tingkah istrinya yang mengacuhkannya.


Mereka pun membaringkan tubuhnya dengan perasaan yang sama-sama gugup. Darren bahkan tidak memeluk istrinya yang menjadi kebiasaannya.


Ziva berkali-kali memejamkan matanya tapi tetap saja ia tidak bisa tidur. Begitu halnya Darren.


Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari waktu setempat.


Ziva lalu bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju toilet. Sepertinya ia harus sholat, Darren pun mengekor di belakangnya. Dan ternyata iapun mengambil air wudhu.


Kini mereka sholat Sunnah berjamaah untuk menenangkan hati dan pikiran nya.


Setelah selesai sholat, Darren langsung memeluk Ziva.


"Aku sangat mencintaimu Zivanna" ucap Darren. Lalu melepaskan pelukannya.


Kini mereka kembali duduk di tempat tidur dengan posisi berjauhan. Darren lalu mendekati istrinya, ia benar-benar tergoda dengan istrinya yang menurutnya seksi lagi-lagi menggoda iman nya. Ia kembali memeluk Ziva.


"Zivanna aku menginginkan mu" ucap Darren yang sudah diselimuti nafsu. Lagian siapa suruh berpakaian seksi di hadapan Darren, jelas Darren tergoda karena ia lelaki normal.


Ziva hanya diam dengan degup jantung yang mulai berperang. Tanpa jawaban dari sang istri, Darren mulai bangkit ingin menjauh. Dengan cepat Ziva memegang tangannya.


"Baiklah aku siap melakukannya. Aku siap menjadi istri seutuh mu" ucap Ziva cepat.


Darren langsung mengangkat tubuh istrinya. Sementara Ziva mengalungkan tangannya di leher suaminya. Darren lalu menurunkan tubuh istrinya dengan hati-hati. Ia terlebih dahulu mencium kening istrinya cukup lama. Lalu berpindah mencium bibir Ziva yang sudah menggodanya sedari tadi.


Darren menciumi bibir ranum istrinya dengan penuh cinta, wanita yang sangat dicintainya. Ia terus memperdalam ciumannya, hingga aset berharganya sudah memberontak di bawah sana ingin memberikan nafkah batin untuk sang istri.

__ADS_1


Ziva hanya menerima ciuman suaminya. Sampai saat ini ia masih kaku dalam hal berciuman.


Bersambung.....


__ADS_2