
Tak main-main Ziva menjual mobil sport pemberian kakeknya guna menutupi sebagian gaji karyawan perusahaan ZD Group dan sisanya ia gunakan untuk memulai bisnis baru.
Ziva mulai menyusun rencana dan strategi yang begitu brilian demi kelancaran bisnis kulinernya. Ziva menggambarkan seluruh idenya di papan tulis yang sempat ia bawa dari ruang kerja kakeknya. Layaknya seorang guru mengajar bahan ajarnya kepada murid-muridnya.
Bahkan mereka berdiskusi besar-besaran di ruangan itu untuk saling tukar pendapat. Setelah mendapat ide-ide yang kreatif dan inovatif mereka mengakhiri diskusi tersebut.
Dan kembali ke kamar mereka masing-masing guna mengistirahatkan tubuhnya, karena hari esok akan menanti mereka dengan aktivitas baru.
Matahari bersinar dengan terangnya di pagi hari. Seluruh insan di muka bumi kembali melakukan aktivitas mereka masing-masing. Seperti yang terjadi di kediaman tuan Harris. Seluruh penghuni rumah itu begitu di sibukkan di pagi hari.
Ziva beserta tuan Harris tampak duduk di ruang tamu menunggu para pelayan mereka bersiap ke lokasi.
"Kakek mohon doanya ya, semoga bisnis Ziva berjalan dengan lancar" ucap Ziva sambil memegang tangan kakeknya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Pasti nak, doa kakek selalu menyertai mu" ucap tuan Harris dengan senyum bahagia nya.
"Makasih kek" ucap Ziva dengan penuh haru.
Tak berapa lama kemudian Baron, Jonoh dan Luna ( Lulu dan Nana) sudah rapi dan menghampiri Ziva beserta tuan Harris.
"Kami sudah siap non" ucap Luna kompak.
"Baiklah ayo berangkat" ucap Ziva yang sudah bangkit dari duduknya.
Sementara Baron dan Jonoh sudah berjalan lebih dulu.
"Kalau begitu Ziva pergi dulu kek, assalamualaikum" ucap Ziva disertai dengan salamnya.
"Waalaikumsalam" ucap tuan Harris yang membalas salam cucunya.
Sambil menatap kepergian cucunya tak henti-hentinya tuan Harris memanjatkan doa kepada Tuhan demi keselamatan dan kesuksesan cucunya.
Maria dan kedua pelayanan lainnya juga turut berpartisipasi dengan menyiapkan bekal untuk mereka dan membantu mereka mempersiapkan baju ganti.
Mereka berangkat ke lokasi menggunakan mobil tuan Harris. Ziva duduk tenang di kursi samping kemudi , sementara Baron mengendarai mobil tersebut dengan hati-hati. Sedangkan Luna dan Jonoh duduk di belakang dan mereka lagi-lagi melakukan pertengkaran kecil.
Saat tiba di lokasi mereka begitu terkejut karena ekspektasi mereka terlalu tinggi mengenai lokasi bisnis baru nona mudanya. Dan kini mereka hanya mampu melihat sebuah bangunan tua dengan 2 lantai yang tidak terawat.
"Ayo masuk" ajak Ziva kepada mereka sambil membuka pintu bangunan itu.
Dengan penasaran Jonoh berjalan kedepan mendahului mereka. Diikuti Luna yang mengekor di belakangnya.
__ADS_1
"Apa yang perlu kami kerjakan non" ucap Baron sambil melihat di sekeliling ruangan bangunan itu.
"Kita perlu merenovasi bangunan ini, apa kalian sudah siap" tanya Ziva kepada mereka.
"Siap non" ucap Luna kompak.
Dengan semangat yang menggebu-gebu mereka melakukan kerja bakti merenovasi bangunan itu. Baron dan Ziva bertugas melakukan pengecatan pada bangunan itu, sementara Luna melakukan tugas membersihkan kaca jendela bangunan itu.
Apabila cat tembok bangunan itu sudah kering, giliran Jonoh yang mulai unjuk gigi. Bagaimana tidak, Jonoh memiliki kemampuan melukis yang luar biasa. Dia memiliki bakat melukis mural.
Sementara Ziva dan Baron melanjutkan pekerjaan mereka dengan membersihkan lantai di ruangan itu yang begitu kotor.
Tak berapa lama kemudian sebuah mobil pengangkut barang furniture yang habis di beli oleh Ziva terparkir didepan bangunan itu.
Ziva pun menginstruksikan mereka untuk menyimpan barang-barang tersebut di luar karena ia masih melakukan tahap renovasi.
Mereka pun melakukan renovasi bangunan itu dengan kompak. Cukup menghabiskan waktu dan tenaga seharian melakukan renovasi bangunan itu.
Dan kerja keras mereka membuahkan hasil yang maksimal. Yang tadinya hanya bangunan tua yang tidak terawat, sekarang menjelma menjadi sebuah restoran yang super keren yang bertuliskan 'Ziva food'.
Mereka begitu takjub dengan hasil kerja keras mereka seharian merenovasi bangunan tersebut.
"Wow ini luar biasa non" ucap Lulu yang begitu takjub dengan hasil kerja keras mereka.
"Lebih baik kita istirahat dulu dan kita lanjutkan lagi habis Maghrib" ucap Ziva kepada mereka.
Kemudian mereka secara bergantian membersihkan tubuhnya di toilet restoran itu. lalu beristirahat di sebuah kamar yang cukup luas.
Sedangkan Baron dan Jonoh beristirahat dan membersihkan tubuhnya di lantai dua.
Malam harinya mereka membuka grand opening untuk restoran tersebut. Seluruh meja dan kursi di dalam restoran tersebut sudah tersusun rapi. Lampu lampion berjejer dengan rapi yang akan menyinari seluruh pengunjung.
Baron sudah sibuk dengan alat spatula nya, di bantu juga dengan Ziva yang sibuk memotong sayuran yang diarahkan oleh Baron. Layaknya chef profesional Baron memasak dengan luapan api yang membakar makanan yang ia masak.
Sedangkan Luna dan Jonoh bertugas melayani pengunjung yang datang ke restoran tersebut.
Mereka bertiga berdiri di pinggir pintu restoran itu dan tampak heboh menarik perhatian orang yang lalu lalang melintas di jalanan itu. Hampir 2 jam mereka berdiri tapi belum satupun pengunjung yang mampir ke restoran tersebut.
"Bagaimana ini, bahkan satu orang pun tidak ingin mampir ke restoran kita" ucap Lulu yang sudah putus asa.
"Bersabarlah kita coba lagi, siapa tahu mereka tertarik untuk mampir di restoran ini" ucap Jonoh yang kembali menyemangati temannya.
__ADS_1
Sementara Ziva dan Baron baru saja menyelesaikan pekerjaan memasaknya. Kini mereka duduk di kursi pengunjung sambil menopang dagu, dengan mata melek menunggu kedatangan pengunjung.
"Silahkan mampir dulu tuan dan nona, kami menyediakan berbagai makanan yang super enak"ucap Jonoh yang sibuk mencari pengunjung.
"Jangan lupa mampir membawa kekasih anda, restoran ini menyajikan makanan couple" ucap Nana dengan hebohnya.
Akan tetapi kerja keras mereka untuk menarik pengunjung tidak membuahkan hasil.
Dengan langkah malas mereka bertiga masuk ke dalam restoran dan ikut duduk di samping kursi Ziva.
"Maaf non, kami belum berhasil mendapatkan pengunjung" ucap Lulu yang terlihat pasrah.
"Tidak masalah, besok kita coba lagi" ucap Ziva yang terlihat bersabar.
"Go go go fighting, Ziva food semangat" ucap Baron dengan nyanyian yel yel yel penyemangat mereka.
"Untuk makanan nya kalian habiskan saja"ucap Ziva, kemudian melanjutkan kembali ucapannya. "Setelah itu, lebih baik kita beres-beres untuk pulang ke rumah" ucap Ziva yang sudah bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruangan dimana ia menyimpan tasnya.
Saat mereka sudah siap untuk pulang, tiba-tiba sepasang kekasih mampir ke restoran mereka.
Dengan rasa bahagia Lulu mengarahkan mereka untuk duduk di kursi dan memberikan buku menu untuk pengunjung pertama itu.
"Apa menu spesial restoran ini?" tanya pengunjung wanita itu.
"Ramen couple dan tomyan sehati nona manis" ucap Lulu ramah yang sudah menghapal daftar menu dengan nama masakan kekinian.
"Satu ramen couple dan tidak pakai lama" ucap pengunjung wanita itu.
"Untuk minumannya nona manis" potong Lulu cepat.
"Jus jeruk saja" ucap pengunjung wanita itu.
"Siap nona manis" ucap Lulu kemudian undur diri.
Lalu berjalan dengan terburu-buru masuk kedalam ruangan chef dan memberikan catatan orderan kepada chef restoran itu.
Dengan cekatan Baron mengeluarkan kemampuan memasaknya dan cukup 10 menit ramen couple tersaji dengan mengiurkan selera.
Ziva hanya tersenyum sambil melap meja di ruangan itu. Ketika melihat Lulu dengan hati-hati nya membawa nampan yang berisi pesanan pengunjung.
Butuh waktu satu jam mereka menunggu kepergian pengunjung itu, yang memamerkan kemesraan. Setelah itu, mereka berberes dan siap untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
Bersambung.........
Terima kasih buat seluruh para pembaca setia Mafia Vs Gadis Bercadar yang sudah memberikan dukungannya melalui like, comment dan vote kalian 🙏.