Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Pemeriksaan


__ADS_3

Kediaman tuan Alvin gempar dengan adanya kabar bahwa ada pencuri. Seluruh penghuni di mansion tuan Alvin di periksa satu persatu terkhusus untuk para pekerja di mansion itu.


Para pelayan yang berada di kamarnya begitu terkejut karena mereka semua sudah tertidur dan terjadi pemeriksaan di kamar mereka masing-masing, yang membuat Riko bersama 4 anggota The Tiger yang bertugas menjadi keamanan di kediaman tuan Alvin turun tangan mengenai kejadian itu.


Rosalinda atau Milan ikut terkejut dengan masalah tersebut, karena terjadi keributan di kamar sebelahnya yang sedang berlangsung pemeriksaan. Kemudian ia kembali melakukan penyamaran dan menghubungi ketuanya.


"Halo tuan, kau dimana" ucap Milan khawatir, karena ia tidak ingin penyamaran ketuanya terbongkar.


"Dikamar, memang kenapa" ucap Darren dingin yang baru saja selesai mengobati lukanya.


"Gawat tuan, Riko dan pihak keamanan di mansion ini melakukan pemeriksaan kepada para pekerja. Saya harap mereka tidak mengetahui penyamaran kita"


"Oh"


Kemudian Darren mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Dengan gerakan cepat Darren membersihkan obat-obatan di kamarnya. Lalu kembali melakukan penyamaran sebagai pelayan yang bercadar.


Tak berapa lama kemudian, Riko beserta pihak keamanan kediaman tuan Alvin mulai bergerak memeriksa kamar Milan kemudian disusul kamar Darren.


"Apa kau tidak melihat seorang pencuri lari ke arah sini" ucap Riko dengan tegas.


"Tidak tuan" ucap Darren.


Sementara 2 pihak keamanan sedang melakukan pemeriksaan di kamar Darren.


"Hei kau, darah apa ini" tanya pihak keamanan kepada Dara atau Darren yang melihat bercak darah di kursi kamarnya.


"Aku habis mimisan tuan" elak Darren.


"Kau sedang sakit rupanya" ucap pihak keamanan lagi.


"Iya tuan"


Setelah selesai melakukan pemeriksaan di kamar Darren yang sama sekali tidak mencurigakan, lalu mereka meninggalkan kamar itu.


Lalu Darren pun kembali menghubungi para Ahli IT termasuk di dalamnya hacker yang selalu ia pekerjakan untuk menghancurkan perusahaan musuh maupun saingan bisnisnya.


"Misi kalian membuat perusahaan Alvin Damanik hancur. Aku tidak mau tahu yang namanya kegagalan, jika tidak berhasil maka nyawa kalian yang menjadi taruhannya. Aku tunggu kabar kehancurannya besok " ucap Darren dingin yang sama sekali tidak ingin dibantah.


"Siap tuan" ucap ahli IT yang sedikit ragu.


Tuan tahu sendiri kan bahwa kami sudah melakukan berbagai cara untuk membobol data penting perusahaan Damanik hingga beberapa tahun terakhir, tapi selalu saja gagal. Tapi kali ini, saya akan berusaha keras untuk membobol perusahaan mereka tuan. Batin ahli IT.


Namun Darren lebih memilih mematikan sambungan telepon secara sepihak, dari pada mendengar unek-unek Ahli IT nya yang kurang percaya diri. Toh ia masih banyak memiliki anak buah yang bisa diandalkan bukan. Lalu Darren kembali menghubungi seseorang yang mampu ia percaya kali ini.


Ya memang perusahaan Tuan Alvin Damanik bukanlah perusahaan yang bisa di hancurkan dengan mudah. Karena perusahaan Damanik merupakan salah satu perusahaan Raksasa di negara B yang bergerak di bidang industri tekstil, perhotelan, travel, properti dan masih banyak lainnya.


Sementara di kamar ziva ibunya tidak ingin berpisah dengannya. Dengan terpaksa Ziva mengijinkan kedua orang tuanya untuk tidur lagi bersamanya.


"Mengapa tadi bunda ke kamar Ziva" tanya Ziva pada ibunya.


"Bunda tidak bisa tidur, bahkan memejamkan mata saja bunda tak mampu dan terus mencemaskan kamu nak"ucap nyonya Ira yang memeluk putrinya dan takut akan kehilangan nya.

__ADS_1


Sementara tuan Alvin yang baru kembali dari ruang kerjanya, hanya bisa tersenyum melihat istri dan anaknya.


"Bagaimana mas, apa pencurinya sudah di tangkap" ucap nyonya Ira yang melihat suaminya diambang pintu.


"Riko dan lainnya yang membereskan. Lebih baik kalian tidur saja".


Kemudian tuan Alvin meninggalkan mereka. Entah apa yang akan ia lakukan demi kedamaian di keluarganya. Yang jelas menunggu laporan dari Riko.


Baru saja Darren ingin memejamkan matanya, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Kemudian ia melihat panggilan masuk dari ponselnya dan tertera nama Fino.


"Ada apa"


"Kau dimana" tanya Fino di ujung sana.


"Kau tidak perlu tahu aku ada dimana sekarang" ucap Darren dingin.


"Chiko baru saja mengabari ku, bahwa terjadi masalah di perusahaan ku, beberapa karyawan tidak bekerja dengan baik, bahkan melakukan penyelewengan di belakang ku" ucap Fino panjang lebar dari laporan Chiko.


"Apa urusannya denganku. Percuma kau mempekerjakan sekertaris seperti Chiko yang sama sekali tidak disegani oleh karyawan mu sendiri" ejek Darren.


"Ya kau betul brother, tapi tolong bereskan masalah itu secepatnya. Kau tahu sendiri, aku masih lama di negeri orang. Apa kau tidak merindukan ku" ucap Fino yang memohon kepada adiknya.


Sementara Darren tidak menggubris ucapan Fino.


"Kalau kau tidak menjawab ucapan ku, berarti kau setuju kan".


Kemudian Darren mematikan sambungan telepon secara sepihak dan memang seperti itu kebiasaan buruk Darren terhadap orang disekitarnya. Lalu Darren kembali memejamkan matanya dan tak berapa lama kemudian, ia pun terlelap di alam mimpi.


Pagi yang masih gelap gulita Darren sudah terbangun, kemudian ia pun membersihkan tubuhnya untuk bersiap-siap menuju perusahaan kakaknya Fino.


"Akkh"


"Sial semua ini gara-gara gadis buruk rupa" ucap Darren kesal saat tak sengaja ia mengenakan pakaian mengenai lukanya kembali. Setelah dirasa beres pastinya.


Tak lupa Darren mengabari Milan bahwa ia ada urusan di luar dan kemungkinan besar tidak akan kembali ke kediaman Alvin Damanik.


"Aku hanya ingin bersenang-senang di luar dan melihat kehancuran perusahaan Damanik" ucap Darren dengan seringai licik diwajahnya.


Kemudian Darren melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang dengan membawa tas miliknya.


"Hei tunggu!, kau mau kemana Dara" tanya seorang wanita paruh baya yang merupakan pelayan yang melihat Darren dengan penyamaran yang pastinya, dengan membawa tas layaknya ingin pulang kampung.


"Anak saya sedang sakit, jadi saya ingin pulang ke kampung halaman" ucap Darren dengan akal-akalan nya dan terlihat sedih.


"Semoga anakmu cepat sembuh ya. Ini ada sedikit uang untuk pengobatan anakmu" ucap pelayan itu.


"Tidak usah mbak, saya masih ada uang" tolak Darren.


"Kumohon dara ambillah, ini tak seberapa nilainya, saya ikhlas memberinya" ucap pelayan itu.


"Baiklah" ucap Dara yang mengambil uang pemberian pelayan itu, bila tidak mengambilnya maka akan membuang-buang waktu nya saja.


Kemudian pelayan itu memeluk Dara sebagai tanda perpisahan mereka. Dan tak henti-hentinya ia menangis menatap kepergian Dara.

__ADS_1


Baiklah untuk pertama kalinya aku dipeluk oleh pelayan. Aku berjanji akan memberimu kehidupan yang layak. Batin Darren.


Karena wanita paruh baya itu begitu menyayangi Darren atau Dara layaknya anak sendiri dan selalu membantu pekerjaan Darren.


Dengan langkah lebar Darren terus berjalan hingga tiba di depan pintu gerbang kediaman tuan Alvin.


Para penjaga kembali menghentikan langkahnya. Akan tetapi dihentikan oleh Tuan Alvin dan Ziva yang habis joging.


Darren lalu menatap Ziva kemudian berganti menatap tuan Alvin dengan penuh kebencian.


"Mbak mau kemana ya" tanya Ziva ramah.


"Anak saya sakit nona, dan saya ingin pulang kampung. Mungkin beberapa hari kedepannya saya tidak bisa bekerja lagi di kediaman nona" ucap Darren atau Dara sambil menunduk yang tidak ingin bersitatap dengan para musuhnya.


"Saya turut prihatin mbak, semoga anak mbak cepat sembuh. Rumah ini selalu terbuka untuk mbak bekerja" ucap Ziva.


"Ayah tinggal dulu ya. Kalian mengobrol saja" ucap tuan Alvin yang terlihat terburu-buru.


Darren tanpa menjawab ucapan Ziva, ia hanya fokus melihat kepergian tuan Alvin.


"Mbak" ucap Ziva yang memegang tangan Dara.


"Iya mbak, saya sangat senang bekerja di kediaman nona" ucap Darren yang tersentak kaget dengan perlakuan Ziva.


Lalu Ziva mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku celananya yang sempat ia bawa.


"Terimalah, semoga uang ini berkah buat keluarga mbak"


"Terima kasih nona" ucap Darren lalu memasukkan uang pemberian Ziva ke saku bajunya.


Kemudian Ziva memeluk Dara atau Darren sebagai tanda perpisahan. Lagi-lagi Darren tersentak kaget dan jantungnya berdegup tidak karuan dengan perlakuan Ziva dengan posisi saling berpelukan.


Mereka saling menerka-nerka dengan pemikirannya masing-masing.


Ziva merasa aneh, mencium aroma parfum Darren pastinya.


Aroma parfum ini, begitu familiar di hidung ku. Ini seperti parfum...... Batin Ziva dengan pikirannya


Sementara Darren sendiri merasa aneh dengan jantungnya yang tidak seperti biasanya.


Ada apa dengan jantungku, kenapa terus berdemo seperti ini. Apa aku sedang sakit keras. Jika benar aku sakit keras semua ini pasti gara-gara gadis buruk rupa ini. Batin Darren dengan pikirannya yang tidak masuk akal.


Setelah itu, Ziva melepaskan pelukannya dan menatap mata Darren. Sedangkan Darren masih berkelana dengan pemikirannya.


Tunggu tatapan mbak Dara seperti tidak asing, tatapan nya mirip dengan pengusaha gila. Astaga ada-ada saja aku, malah mengingat pengusaha gila itu. Batin Ziva.


"Saya permisi dulu mbak" ucap Dara


Sementara Ziva hanya mengangguk sebagai jawabannya dan menatap kepergian Darren yang mulai menjauh.


Bersambung......


Mohon maaf ya teman-teman, aku sangat sibuk akhir-akhir ini jadi jarang update 🙏🙏🙏

__ADS_1


Selamat menjalankan ibadah puasa dan pastinya puasanya lancar 🤗


__ADS_2