
"Kau milikku malam ini".
Sementara Ziva yang mendengar ucapan Darren tampak tak berkutik. Iapun semakin gugup saat Darren terus menatap nya sampai tidak berkedip.
"Menyingkirlah, ak-aku mau tidur" ucap Ziva gugup yang terlihat gelagapan dan memalingkan wajahnya.
Sementara Darren masih saja menatap wajah cantik Ziva yang berada di bawah nya.
"Aku ingin......" . Ucap Darren dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Ziva.
Sementara Ziva membulatkan matanya melihat aksi Darren dan ia pun siap dengan tinjunya bila Darren berbuat macam-macam padanya.
Bahkan hembusan nafas Darren menerpa wajah Ziva. Sementara Ziva hanya mampu memejamkan matanya dengan jantung tidak karuan. Sedangkan Darren tersenyum melihat tingkah Ziva.
"Kenapa kau memejamkan mata mu" bisik Darren di telinga Ziva.
Sementara Ziva masih saja memejamkan matanya dan seakan ia tertidur dengan jantung yang tidak bersahabat.
"Aku tahu kau berpura-pura tidur karena takut kepadaku. Jika memang seperti itu, aku tidak akan menyentuh mu malam ini" ucap Darren sambil tersenyum.
Ziva yang berpura-pura tidur mengepalkan tinjunya, saat sebuah bibir menempel di keningnya. Ia pun siap menghajar Darren jika berbuat jauh terhadapnya.
Sementara Darren mulai menyingkir dari tubuh Ziva. Karena tiba-tiba saja hawa panas menyerang tubuhnya dengan gejolak tak terkendali. Ia begitu bernafsu terhadap Ziva, namun pikirannya ia buang jauh-jauh dan kembali berpikir secara logika.
"Ada apa dengan tubuh ku, kenapa bagian bawah ku tiba-tiba saja....akh...sial, ini pasti ulah gadis buruk rupa itu. Aku bahkan hanya mencium kening nya kenapa aku malah menginginkan hal lain" ucap Darren yang terlihat frustasi sambil berjalan menuju toilet.
Saat di dalam toilet. Darren hanya menyalakan shower dan air pun menguyur tubuhnya tanpa melepaskan baju yang ia kenakan.
Darren pun kembali membayangkan wajah Ziva yang menurutnya sangat mempesona sejak pertama kali ia melihat wajahnya. Pikirannya masih terbayang-bayang wajah Ziva sampai saat ini. Namun ia tidak ingin mementingkan perasaannya, apa lagi harus menyukai musuhnya sendiri.
Sementara jones dan kawan-kawan masih bercanda gurau dengan pesta kecil-kecilan.
"Hei mana minumanku" ucap lelaki yang bernama Tio kepada pelayan wanita.
"Aku sudah menaruhnya di situ tuan" ucap pelayan wanita.
"Hei kau berbohong padaku, lihatlah tidak ada. Hanya minuman yang beralkohol". ucap Tio marah.
"Tidak-tidak tuan".
"Ada apa ini" ucap jones yang bergabung dengan mereka.
"Aku tadi menyuruh pelayan ini untuk meletakkan minuman ku di meja itu i. Karena ada sesuatu hal yang harus ku urus bersama para mekanik kapal" ucap Tio. "Pas aku kembali minumanku sudah tidak ada, padahal aku sudah memasukkan sesuatu di minuman itu"ucap Tio menjelaskan yang terlihat kesal.
"Apa yang kau masukkan di minuman itu" ucap jones tegas.
"Kau tidak perlu tahu" ucap Tio acuh.
"Apa yang kau masukkan di minuman itu hah" ucap jones dengan tatapan tajam yang memegang kerah baju Tio.
Sementara Tio begitu takut dengan Jones bila sudah marah.
__ADS_1
"Aku memasukkan obat p*r***sang di minuman itu".
"Apa.... kau ingin mati ya....tuan Darren yang meminum minuman itu, karena kami pikir minuman itu hanya jus buah" ucap Jones dengan suara meninggi.
Sementara Tio hanya mampu membulatkan matanya.
"Kau sudah menggali kuburan mu sendiri. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di kamar tuan Darren".
"Mungkin tuan Darren sedang bercinta dengan gadis itu" timpal teman satunya yang setengah mabuk yang bernama Bimbo.
"Bodoh!, tuan Darren bukanlah lelaki seperti itu. Mungkin kita akan tamak di kapal pesiar ini" bentak Jones dengan wajah yang sulit diartikan.
"Maafkan aku, karena aku sudah membuat kesalahan besar" ucap Tio yang berlutut di hadapan teman-temannya.
"Kita harus cari cara, agar tuan Darren tidak murka kepada kita" timpal lainnya.
"Iya betul" teriak mereka kompak.
"Aku punya ide"ucap Bimbo.
Sementara jones hanya memicingkan matanya.
"Bagaimana kalau kita grebek tuan Darren. Ini cara satu-satunya untuk menghentikan mereka" ucap Bimbo yang kembali menuangkan minuman ke gelasnya.
Sementara semua orang terdiam dengan ide Bimbo yang menurutnya sangat konyol.
Sementara Jones meninggalkan mereka diikuti Tio di belakangnya.
Kini Jones dan Tio sudah berada di depan pintu kamar tuannya. Mereka berdua hanya mondar mandir layaknya seorang bodyguard di depan kamar tuannya. Dan sesekali Jones menempelkan telinganya di pintu kamar itu untuk mendengar apa yang sedang terjadi di dalam sana.
Sementara Ziva yang berpura-pura tidur, malah tertidur pulas. Sampai-sampai ia tidak memperdulikan Darren yang berada dalam toilet.
Sudah hampir 2 jam lamanya Darren berada di dalam toilet dengan tubuh menggigil dan bibir pucat pasih bagaikan mayat hidup yang sedang terduduk di lantai di tambah air dari shower yang berjatuhan mengenai tubuhnya. Sehingga ketua mafia itu terlihat mengenaskan.
Ziva yang sudah terlelap kembali terbangun dengan suara dering ponsel yang begitu memecah pendengarannya.
"Huammm"
"Siapa sih yang menelpon malam-malam begini. Terus yang punya ponsel ini kemana" ucap Ziva yang masih ngantuk dan sesekali menguap. Melihat ponsel Darren diatas nakas.
"Jones" nama yang tertera di layar ponsel Darren
Dengan cepat Ziva menggeser ikon berwarna hijau.
"Halo".
Sementara Jones yang mendengar suara wanita tidak bisa berkata-kata kemudian ia langsung menutup panggilan nya.
"Orang ini menganggu saja" ucap Ziva lalu meletakkan kembali ponsel Darren.
"Kemana perginya pengusaha gila itu" gumam Ziva lalu berjalan menuju toilet.
__ADS_1
Saat membuka pintu toilet, ia pun mendengar suara gemercik air yang berjatuhan. Kemudian Ziva berjalan masuk dan melihat disekelilingnya dan betapa terkejutnya saat mendapati seorang lelaki layaknya mayat hidup.
"Astaghfirullah, Ya Allah".
Ziva pun berjalan mendekati Darren yang terduduk di lantai. Kemudian ia mematikan shower lalu berjongkok di depan Darren.
"Apa kau sudah gila" bentak Ziva kepada Darren.
Sementara Darren hanya menggigil kedinginan tanpa mendengar bentakan Ziva.
Ziva pun membantu Darren berdiri.
"Bajumu sudah basah kuyup, kau sepertinya sudah masuk angin karena terlalu lama berada dalam toilet" omel Ziva.
Sementara Darren hanya diam seribu bahasa dengan tubuh menggigil.
"Cepat buka bajumu atau aku yang bukakan" teriak Ziva yang khawatir dan seketika itu, ia pun menutup mulutnya karena baru menyadari apa yang barusan ia ucapkan.
Sementara Darren hanya menatapnya dengan mata sendunya.
"Bukan seperti itu maksudku, aduh bagaimana ini" ucap Ziva bingung.
Sedangkan Darren mulai oleng dan terjengkang ke belakang. Sehingga dengan cepat Ziva menangkap tubuh Darren dan tak lupa mengecek nadinya.
Kemudian dengan perasaan campur aduk, Ziva dengan terpaksa membuka satu persatu baju Darren. Setelah itu, Ziva kembali memakaikan baju Darren, lanjut memapah tubuh Darren yang berat menuju tempat tidur dengan tenaga ekstra pastinya.
"Uuh merepotkan sekali" ucap Ziva kesal sambil membasuh keringatnya bahkan bajunya pun ikut basah.
Kemudian iapun berlari menuju dapur untuk mengambil air hangat. Lalu iapun membantu Darren minum air hangat tersebut untuk mengurangi efek tubuhnya yang menggigil.
Darren pun hanya menurut dengan mata sendunya. Setelah itu, Ziva menarik selimut untuk menutupi tubuh Darren dan tak lupa mengecek suhu tubuh Darren.
"Beristirahatlah, kau sangat menyusahkan" ucap Ziva sambil menatap Darren yang terbaring lemah yang sudah memejamkan matanya.
Kemudian Ziva berjalan menuju toilet untuk mengganti baju nya yang basah.
Setelah selesai, Ziva pun kembali duduk di kursi samping tempat tidur sambil menatap Darren yang mulai tertidur.
Ziva pun berinisiatif untuk mengecek kembali kening Darren, namun dengan refleks Darren menangkap tangannya lalu menggenggamnya erat.
"Jangan tinggalkan aku.... Jangan tinggalkan aku" ngigau Darren dengan Isak tangis.
Ziva pun sempat terdiam.
"Jangan tinggalkan aku Ayah".
"Ayah" gumam Ziva.
Bahkan ziva membiarkan Darren menggenggam tangannya.
Bersambung......
__ADS_1