Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Berkenalan


__ADS_3

Ziva sudah berada di kediamannya sebelum Maghrib. Sehabis menunaikan ibadah nya tak lupa menyempatkan waktunya untuk tadarusan. Setelah selesai, barulah ia akan menuruni anak tangga untuk menemui kakeknya yang berada di ruang keluarga.


Tampak disana tuan Harris sedang duduk di kursi malasnya sambil menopang dagu.


"Kakek, lagi mikirin apa" ucap Ziva yang duduk di atas karpet sambil memijat kaki lemah sang kakek.


"Kakek sedang memikirkan orang tua mu" ucap tuan Harris sambil menyadarkan tubuhnya di kursi malasnya.


"Ya sudah kalau begitu lebih baik kita menemui mereka kek" ucap Ziva yang antusias sambil memijat kaki sang kakek.


"Tidak semudah itu nak, mereka sudah menganggap kita tiada dan kakek juga memikirkan keselamatan mu. Jangan sampai!... kehadiran kita hanya membuat bencana bagi kedua orang tua mu"ucap tuan Harris sambil menghela nafas panjang.


Ya akhir-akhir ini tuan Harris mudah letih, apalagi di usianya yang terbilang tua dan sudah termasuk jompo. Hanya berjalan menuju taman belakang saja, tuan Harris sudah kehabisan tenaga.


"Jadi kita tidak bisa lagi dong berkumpul bersama mereka" ucap Ziva sendu.


"Jangan bicara seperti itu nak, kakek juga ingin ke negara kelahiran kakek. Dan kakek sudah berjanji kepada mendiang almarhumah istri kakek untuk dimakamkan di sebelahnya. Baiklah kakek akan memerintahkan Gamal terlebih dahulu untuk menemui orang tua mu" ucap tuan Harris dengan suara seraknya.


"Benarkah kek, tapi Ziva tetap ingin kakek sehat sedia kala" ucap Ziva yang tidak ingin sang kakek meninggalkan nya.


"Ziva tidak sabar menemui mereka bahkan Ziva selalu ingin liburan ke negara itu, tapi.... Ziva juga tidak mau ninggalin kakek sendiri, hanya karena ingin bersenang-senang"ucap Ziva lalu buru-buru bangkit dari duduknya.


" Tidak masalah kakek ditinggal sendiri. Kau juga perlu bersenang-senang nak. Semoga kita bisa berkumpul kembali" ucap tuan Harris yang sudah bangkit dari duduknya.


Ziva langsung menghambur ke pelukan sang kakek. Tuan Harris selalu memberikan kasih sayang buat Ziva layaknya sebagai orang tuannya.


"Ziva tidak akan pernah tinggalin kakek, dimana pun Ziva berada kakek harus tetap sehat" ucap Ziva dengan suara isakannya.


"Jangan seperti ini, kau sudah tumbuh dewasa dan sebentar lagi mungkin kamu akan mendapatkan pasangan dan melupakan kakek" goda tuan Harris pada cucunya.


Dengan cepat Ziva melepaskan pelukannya.


"Itu tidak benar kek, lagian Ziva belum kepikiran tentang yang namanya pasangan. Dan Ziva akan menghajar para lelaki yang mendekati Ziva" ucap Ziva sambil mempraktekkan cara menghajar mereka.


"Kau ini, jangan sampai kemakan dengan ucapanmu sendiri nak" ucap tuan Harris tersenyum. "Ayo makan malam bersama" ajak tuan Harris yang melangkah lebih dulu menuju ruang makan.


Sedangkan Ziva cemberut mendengar ucapan sang kakek dan ia pun mengekor di belakang sang kakek. Lalu mereka duduk di kursi mereka masing-masing sambil menikmati makan malamnya tanpa adanya obrolan.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sementara di kediaman Darren.......


Darren sudah diruang makan dan tampak duduk di kursi dengan menatap tajam Fino sedangkan Fino yang berada di hadapannya memasang wajah datar. Tampak di atas meja sudah tersaji berbagai menu masakan yang menggugah selera.


Darren mengambil makanan yang ingin ia nikmati, begitu halnya dengan Fino.Kemudian mereka pun makan bersama tanpa adanya obrolan.


Fino lebih dulu menghabiskan makanannya. Lalu buru-buru berjalan menuju kamarnya. Saat berada dalam kamar, ia lang mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Sebuah pesan notifikasi dari ponselnya.


Dengan cepat Fino membukanya dan membacanya dengan seksama.


Nama: Zivanna


Umur : 21 tahun


Status: Belum Menikah


Profesi : Tenaga pengajar di universitas terbaik di negara C ( Dosen).


Informasi lainnya:


Zivanna gadis yatim piatu dan saat ini tinggal bersama kakeknya. Memiliki bisnis kuliner dengan nama restoran 'Ziva food'.


Seperti itulah informasi yang didapatkan anak buah Fino yang merupakan anggota The Tiger.


Fino tersenyum saat membaca informasi tersebut.

__ADS_1


"Ternyata nama gadis itu Ziva, nama yang indah" ucap Fino senyum-senyum sendiri.


Aku akan mendapatkan mu Ziva. Batin Fino.


Lalu Fino mengambil jaket miliknya yang berada di dalam lemari. Bahkan ia lupa mengeluarkan kopernya dalam mobil sewaan nya. untungnya penjaga yang memarkirkan mobilnya dengan cepat membawa ke kamarnya. Fino memang menyimpan beberapa pakaiannya di lemari tersebut.


Setelah itu, ia mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar menuju pintu utama. Sementara Darren yang sedang duduk bersantai sambil memainkan ponselnya menghentikan langkah Fino.


"Mau kemana" tanya Darren dingin.


"Aku ingin cari angin sebentar" teriak Fino sambil terus berjalan keluar.


Lalu Darren tampak acuh dan ia baru teringat pada kedua anak buah nya yang sibuk mencari Fino di bandara. Kemudian menghubungi mereka bahwa Fino sudah ada di kediamannya. Bila Darren tidak menghubungi mereka, mungkin mereka berdua akan menginap di bandara tersebut.


Kini Fino sudah berada di dalam mobilnya lalu menyalakan mesin mobilnya dan berlalu meninggalkan mansion mewah Darren.


Rupanya Fino kembali ke restoran yang sempat ia datangi. Ia tidak mau hilang kesempatan untuk menemui Ziva. Setelah selesai memarkirkan mobilnya, ia kembali melihat tatanan rambutnya. Karena baginya tidak seorang pun gadis yang akan menolak pesonanya.


Walaupun Fino hanya mengenakan pakaian santainya ia masih terlihat dari kalangan orang elit.


Lalu ia masuk ke dalam restoran tersebut. Dan para pelayan wanita menyambutnya dengan genit. Begitu pun dengan para pengunjung wanita yang memuja ketampanan Fino.


Fino tidak ingin berlama-lama dengan mereka dengan cepat ia angkat bicara.


"Mana owner restoran ini" tanya Fino dingin kepada kedua pelayan tersebut.


"Untuk apa mencari boss kami tuan"ucap pelayan satunya sambil tersenyum.


"Cepat katakan di mana boss kalian"ucap Fino dengan suara mengancam.


"Eeh bos kami sudah pulang tuan"ucap pelayan tersebut.


Lalu menyenggol lengan teman satunya untuk segera menemui Baron sang manager restoran tersebut.


"Ba-baikkk tuan" ucap pelayan tersebut tergagap.


Sementara Baron dan Luna mendapat laporan dari pelayan tersebut dengan cepat menghampiri mereka.


Fino masih berada di tempat nya ia menatap para pelayan tersebut layaknya akan membunuhnya.


"Ada apa tuan mencari saya" ucap Lulu dan betapa kagumnya ia melihat sosok pemuda tampan dihadapannya.


Astaga tampan sekali pemuda ini, bahwa lebih tampan dari Raihan. Apa mungkin pemuda ini jodohku. Batin Lulu sambil menggigit bibir bawahnya.


"Cepat suruh boss kalian kemari untuk menemui saya" tunjuk Raihan pada Lulu dengan tatapan tajam.


Wow! tampannya pemuda ini, apalagi terlihat marah iih makin keren. batin Lulu dengan pikiran nya sendiri.


"Saya pemilik restoran ini, ada yang bisa saya bantu tuan" ucap Lulu berbohong dan terlihat menyakinkan bahwa ia pemilik restoran tersebut.


Akan tetapi Fino bukanlah orang yang mampu dibodohi.


"Apa kau ingin mati" ancam Fino pada Lulu.


"He he he tidak tuan" ucap Lulu cepat dengan tersenyum manis.


"Maaf tuan, anda bisa menemuinya besok" ucap Baron untuk mengakhiri perdebatan mereka.


"Baiklah jika kalian tidak mau mendengarkan ucapan ku, aku akan menemuinya sendiri" ucap Fino dengan seringai licik diwajahnya. Dan berpura-pura ingin berjalan keluar restoran.


Dengan cepat Baron menghentikan langkah nya "Jangan tuan, baiklah kami akan menghubungi boss kami" ucap Baron pasrah.


Setelah Baron selesai menghubungi Ziva ia tampak bernafas lega karena Ziva ingin menemui orang tersebut.


"Lebih baik tuan duduk dulu dan kami akan buatkan pesanan tuan" ucap pelayan tersebut untuk mengarahkan Fino duduk di kursi pengunjung.

__ADS_1


Fino dengan cepat duduk di kursi. sementara mata pengunjung wanita dari tadi melihat ke arahnya. Tak berapa lama pelayan membawakan jus apel pesanan Fino.


Cukup lama Fino duduk di kursi yang menghadap pintu masuk restoran. Dari tadi mata Fino tertuju ke arah pintu masuk walaupun sesekali memainkan rasa bosannya menunggu.


Dan tak berapa lama kemudian sosok yang ditunggu nya berjalan dengan anggun ke arahnya. Tiba-tiba saja Fino merasa gugup bahkan dengan cepat jantung nya berdegup kencang.


Sedangkan Ziva malah berbelok arah untuk menemui Baron yang sedang berdiri di dekat meja pantri, agar ia tahu siapa yang ingin menemuinya.


"Maaf sudah menganggu waktu istirahat non Ziva" ucap Baron menunduk.


"Tidak masalah om, terus mana orang itu" ucap Ziva.


"Di meja 10 non, dari tadi dia menuggu non Ziva" ucap pelayan tersebut.


"Baiklah aku pergi dulu" ucap Ziva yang kembali berjalan menuju meja Fino.


Fino semakin gugup saat melihat Ziva berjalan ke arahnya, tadi ia seperti monster dihadapan para pelayan, tapi mengapa saat ini ia jadi diam dan tak berkutik.


Loh bukankah lelaki ini.... Batin Ziva....


yang tidak mampu melanjutkan suara hatinya.


"Selamat malam nona" ucap Fino ramah dengan jantung yang sudah komat Kamit.


"Malam tuan, ada apa ya ingin sekali bertemu dengan saya" ucap Ziva yang terlihat kesal.


"Saya cuman ingin berterima kasih kepada anda, karena sudah menyelamatkan nyawa saya" ucap Fino dengan senyum smirknya.


"Saya tidak mempermasalahkan kejadian itu tuan. Karena sesama manusia kita diwajibkan harus tolong menolong" ucap Ziva dengan kata bijak nya.


Tidak hanya pekerja keras ternyata gadis ini berhati mulia, sungguh menarik. Batin Fino.


"Nona sungguh berhati mulia" puji Fino.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu" ucap Ziva yang tidak ingin berlama-lama dengan lelaki di hadapannya.


"Tunggu dulu nona, saya belum berkenalan dengan nona" ucap Fino basa basi.


Ziva pun kembali menatap tajam Fino karena lelaki ini ingin sekali berkenalan dengannya.


"Namaku Zivanna, anda bisa memanggil saya dengan sebutan Ziva" ucap Ziva dingin yang sudah bangkit dari duduknya.


"Nama yang indah, aku Fino Alexander, panggil saja aku dengan sesukamu" ucap Fino yang tersenyum ke arah Ziva.


Sementara Ziva sudah melangkahkan kakinya menjauh dari Fino. Tanpa mendengar ucapan Fino.


"Ziva aku ingin mengajak mu besok makan malam bersamaku. Ingat tidak ada kata penolakan" teriak Fino yang mampu di dengar oleh para pengunjung termasuk Ziva.


"Dasar lelaki tidak waras" gumam Ziva yang terus berjalan keruangan nya.


Benar yang dikatakan Chiko dan dokter itu, aku benar-benar jatuh cinta pada gadis tadi. Batin Fino. Sambil kembali memegangi jantungnya.


Lalu iapun keluar dengan bahagia meninggalkan restoran tersebut. Kemudian mengendarai mobilnya menuju mansion mewah Darren.


Bersambung........


Maaf ya bila alurnya tidak sesuai πŸ™


Dan mohon maaf bila aku jarang update episode terbaru Mafia Vs Gadis Bercadar dan tidak membalas komentar teman-temanπŸ™


Aku sedang banyak kerjaan di dunia nyata, dimana aku harus belajar untuk mempersiapkan diri sidang skripsi, kadang tidak ada mood untuk nulis bila sudah capekπŸ˜’ Maaf aku jadi curhat 🀭


Terima kasih juga buat seluruh pembaca setia Mafia Vs Gadis Bercadar yang sudah memberikan dukungannya melalui like, comment dan vote teman-teman.


Author sangat berterima kasih πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2