
Pagi harinya....
Matahari mulai bersinar cerah di pagi hari. Seluruh umat manusia mulai melakukan aktivitas nya kembali. Seperti halnya yang terjadi di kediaman Alexander.
Darren sudah terlihat rapi dengan setelan jasnya. Ia masih menatap dirinya di pantulan cermin. Dasi yang selalu bertengger di lehernya belum juga terpasang. Ia sama sekali belum melihat batang hidung istrinya pagi ini.
Biasanya pekerjaan tersebut dilakukan oleh istrinya. Dengan malas ia mulai memasang dasinya.
Setelah selesai, barulah ia berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar.
Darren sudah berada di meja makan, ia hanya mendapati Fino yang sedang menikmati sarapannya. Lagi-lagi ia tidak melihat keberadaan istrinya.
"Apa mama dan Zivanna sudah sarapan" tanya Darren pada Fino.
"Mama memilih sarapan di kamarnya. Barusan aku ke kamar mama untuk melihat kondisinya, yang lagi tidak enak badan. Dan Ziva, aku sama sekali tidak tahu apakah dia sudah sarapan atau belum, aku bahkan tidak melihatnya pagi ini" ucap Fino sambil menikmati sarapannya.
Kemana perginya Zivanna. Batin Darren.
Lalu iapun meminum kopi untuk menjanggal perutnya yang sudah menjadi kebiasaannya di pagi hari menikmati kopi hitam.
Setelah itu, ia lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar ibunya. Karena ia ingin terlebih dahulu menemui ibunya yang sedang tidak enak badan.
“Sayang kau belum berangkat ke kantor”ucap nyonya Ratu yang melihat kedatangan putranya.
Darren hanya tersenyum ke arah ibunya.
“Mama sakit”tanya Darren yang melihat wajah ibunya terlihat pucat.
“Mama hanya tidak enak badan sayang, jangan khawatirkan mama”ucap nyonya Ratu dengan senyuman yang merekah di bibirnya.
“Zivanna kemana ma, aku bahkan belum melihatnya pagi ini”ucap Darren yang tengah memijit kaki ibunya.
“Mama juga tidak melihatnya pagi ini”elak nyonya Ratu.
“Kemana perginya Zivanna, aku tidak akan membiarkan dia keluar dari rumah ini” gumam Darren.
“Aku ke kantor dulu ma”ucap Darren lalu mencium punggung tangan sang ibu.
“Iya sayang, jaga dirimu. Doa mama selalu menyertaimu”ucap nyonya Ratu dengan senyumannya.
Darren lalu meninggalkan kamar ibunya dengan perasaan tidak tenang. Sedangkan nyonya Ratu menatap kepergian putranya dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
Maafkan mama sayang harus berbohong kepadamu. Istrimu sudah pergi meninggalkan rumah ini, kuharap kau segera menjemputnya dan meminta restu kepada kedua orang tuanya. Hanya ini satu-satunya jalan agar tidak ada lagi permusuhan dengan keluarga Damanik. Dan semoga Ziva memaafkan kesalahanmu. Batin Nyonya Ratu sambil memegangi jantungnya yang sedikit nyeri. Ia kembali membayangkan saat Ziva berpamitan kepadanya.
Flashback
Ziva sudah rapi di dalam kamarnya, ia sama sekali tidak ingin melihat wajah sang suami yang tengah tertidur pulas. Ia lalu mengendap-endap keluar dari kamarnya. Dan tak sengaja penglihatannya tertuju pada jam dinding yang berukuran besar menunjukkan pukul 3 subuh waktu setempat. Rupanya ia memilki rencana untuk meninggalkan kediaman Alexander. Bukannya ia tidak ingin pulang bersama Riko, hanya saja ia tidak ingin mereka kembali celaka seperti sebelum-sebelumnya.
Maka dari itu ia memilih rencana tersendiri dan untungnya Tom bisa membantu nya melalui percakapan mereka tadi malam di rumah ayahnya, dan mereka sudah saling kenal seminggu yang lalu.
Hatinya sudah hancur mendengar kabar bahwa kakeknya sudah tiada, maka dari itu ia sangat membenci Darren dan dengan cara seperti ini ia harus pergi dari kehidupannya .
Ziva terlebih dahulu menghampiri nyonya Ratu di kamarnya. Apalagi di jam seperti ini nyonya Ratu sudah terbangun dan mungkin saja sedang melaksanakan sholat tahajud. Ia harus berpamitan terlebih dahulu kepada ibu mertuanya yang selalu bersikap baik kepadanya.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
Pintu kamar terbuka dan benar saja nyonya Ratu baru saja menunaikan sholat tahajud. Ziva langsung masuk dan berhambur memeluk nyonya Ratu, air matanya mulai mengalir dengan sendirinya. Isak tangis mulai terdengar di telinga nyonya Ratu. Nyonya Ratu hanya mampu mengelus punggung Ziva untuk menenangkannya.
Ziva lalu melepaskan pelukannya, kemudian mereka memilih duduk di sofa.
Ziva terlebih dahulu memilih diam, nyonya Ratu menatapnya heran.
“Maafkan aku ma, karena tidak bisa menepati janjimu, aku tidak bisa membuat suamiku berubah. Biar Tuhan memberinya hidayah, aku hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari dosa…Jadi maafkan aku yang tidak bisa menepati janji mama”ucap Ziva dengan mata berkaca-kaca.
Nyonya Ratu menjadi terkejut dengan ucapan Ziva barusan, kejadian seperti inilah yang selalu ia wanti-wanti.
“Mama selalu memaafkanmu nak”ucap nyonya Ratu sambil mengenggam tangan Ziva.
“Aku ingin pulang, aku tidak bisa hidup bersama dengan lelaki yang sudah membunuh kakekku” ucap Ziva sambil menundukkan kepalanya dengan rasa sakit dihatinya.
Deg
Nyonya Ratu menjadi diam seribu bahasa, ia sama sekali tidak bisa berkata-kata, yang jelas ia tidak ingin Ziva pergi dari kehidupan putranya.
Dengan cepat nyonya Ratu memeluk Ziva.
"Maafkan kesalahan putraku, yang sudah dia perbuat kepada keluargamu nak. Tolong jangan pergi aku sudah menganggap mu seperti putriku" ucap nyonya Ratu.
__ADS_1
Ziva hanya diam, ia tidak ingin menjadi beban bagi mertuanya.
"Putraku sepertinya sudah menyukai mu nak. Jangan menghukum nya seperti ini, jangan salahkan mama bila dia terus mencari mu" ucap nyonya Ratu dengan mata berkaca-kaca.
Ziva lagi-lagi tidak menggubris ucapan ibu mertuanya. Nyonya Ratu lalu melepaskan pelukannya, sambil menatap Ziva.
"Aku mengizinkan mu pergi, dengan satu syarat. Kau harus memaafkan putraku dan berjanjilah untuk tetap mempertahankan pernikahan kalian" ucap nyonya Ratu.
"Baiklah ma, aku akan berusaha untuk memaafkan suamiku" ucap Ziva.
Lalu iapun berpamitan. Nyonya Ratu turut mengantarnya hingga pintu kamarnya. Lalu Ziva pun berjalan menuju arah lift. Untungnya Tom sudah menginstruksikan nya untuk lewat pintu belakang, karena area tersebut tidak memiliki cctv dan penjagaan ketat. Tom sudah mengetahui seluk-beluk kediaman Alexander jadi ia menyuruh Ziva melewati area tersebut.
Kini mereka sudah meninggalkan kediaman Alexander. Mobil melaju kencang menuju bandara. Ziva hanya menatap jalanan yang ia lewati dengan perasaan campur aduk. Harusnya ia begitu senang karena sudah meninggalkan kediaman Alexander. Namun hatinya tidak demikian, ia tidak tega melihat nyonya Ratu menjadi sedih atas kepergiannya.
Rupanya tuan Alvin baru saja tiba di bandara menggunakan jet pribadi nya. Ucapan nya tidak main-main, ia pun ingin menjemput putrinya.
Tom yang sedang berkendara dengan cepat memasang earphone di telinganya, lalu iapun menghubungi tuan Alvin bahwa mereka sebentar lagi akan tiba di bandara.
Kini Ziva sudah berada dalam pesawat bersama ayahnya, lagi-lagi ia tidak percaya bahwa ayahnya benar-benar menjemputnya. Ia hanya mampu memeluk lengan ayahnya berharap semua ini bukanlah mimpi semata. Pesawat pun terbang menuju negara B, Ziva meninggalkan negara itu dengan penuh luka.
Flashback off
Sementara Darren menghubungi Jones dan Milan untuk mencari keberadaan istrinya. Untungnya mereka cepat siaga. Lalu iapun terlebih dahulu mengecek cctv di seluruh kediaman Alexander untuk mencari keberadaan Ziva.
Milan begitu lihai melihat rekaman video di setiap sudut ruangan. Cukup lama ia bersama para anak buah Darren menyaksikan rekaman video yang sedang berlangsung. Milan pun dengan cepat melebarkan matanya saat mendapati Ziva berjalan menuju pintu belakang dan tidak terlihat lagi.
"Tunggu sebentar, area yang dilewati nona Ziva tidak memiliki cctv. Sepertinya ada orang dalam yang membantu nona Ziva" ucap Milan.
Sementara Darren bersama Jones menyaksikan cctv bagian halaman rumah.
Darren mengepalkan tangannya melihat gerak gerik Tom yang mencurigakan hingga membawa istrinya kabur.
"Sial!... beraninya kau meninggalkanku Zivanna" ucap Darren dengan penuh amarah.
Ia lalu menghajar anak buahnya disekelilingnya.
"Bodoh, kalian semua bekerja tidak becus" ucap Darren yang menendang perut mereka satu persatu dengan amarah yang menjadi-jadi.
Bersambung...
Mohon maaf bila alurnya tidak sesuai 🙏🙏🙏
__ADS_1