Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Makan malam bersama


__ADS_3

Pagi harinya......


Fino bangun lebih awal tidak seperti biasanya. Ia begitu bahagia di pagi yang cerah. Sambil memakai setelan jas mahal nya ia tak henti-hentinya tersenyum di depan cermin bahkan sesekali bersiul saking senangnya.


Entah berapa lama ia terus memperbaiki tatanan rambutnya dan memilih tatanan rambut tidak seperti biasanya.


"Uuh seperti nya ini sangat cocok, luar biasa! aku semakin sempurna" ucap Fino yang terus memandangi wajahnya di depan cermin.


Setelah itu ia pun melangkah cepat keluar dari kediaman Darren. Lalu kemudian meminta penjaga untuk mengeluarkan mobilnya dari garasi. Walaupun mobil tampak berjajar dengan rapi, tetap saja Fino tidak akan mengendarainya bila harus menggunakan supir.


Mengapa demikian karena jika ia menggunakan mobil Darren maka ia akan di jaga ketat oleh para sopir.


Sedangkan Darren baru saja terbangun dari tidurnya. Kemudian ia melangkah menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya. Hanya 20 menit Darren tampak segar keluar dari toilet yang hanya mengenakan handuk.


Tiba-tiba saja ponselnya berdering....


Dengan cepat Darren menggeser ikon berwarna hijau.


"Halo, ada apa pagi-pagi menelpon ku" tanya Darren dingin sambil memilah setelan jas di ruangan ganti dengan lemari panjang yang terhubung dengan dinding tembok.


"Saya sudah mengabari para petinggi perusahaan tuan, dan mereka bersiap untuk mengadakan rapat pagi ini" ucap Rey dengan laporannya.


"Hemm" ucap Darren.


Setelah itu Darren pun sudah berpakaian rapi dengan setelan jas dengan warna yang seperti biasanya yaitu hitam.


Kemudian ia pun berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan.


Saat tiba di meja makan....


"Hei kalian!, panggil Fino ke sini" ucap Darren pada pelayan nya.


"Baik tuan" ucap salah satu pelayannya.


Pelayan tersebut dengan tergesa-gesa menuju kamar Fino. Saat membuka pintu kamar tersebut sudah ada dua pelayan yang sedang merapikan kamar Fino.


"Apa kalian melihat tuan Fino" tanya pelayan tersebut kepada rekannya.


"Tuan Fino dari tadi meninggalkan mansion ini" jawab pelayan pada rekannya.


"Ya sudah kalau begitu aku melapor dulu pada tuan Darren ya" ucap pelayan tersebut.


Pelayan tersebut tampak takut melaporkan bahwa Fino sudah pergi pagi-pagi, apalagi belum sarapan.


"Tuan...tuan Fino sudah pergi dari tadi tuan" ucap pelayan tersebut dengan hati-hati.


Darren hanya menyeruput kopi hitam favoritnya.


"Iya tuan Darren, saya melihat tuan Fino terlihat rapi pagi ini" ucap kepala pelayan.


Mungkin Fino ke kantor. Batin Darren.


Setelah selesai sarapan Darren kemudian berjalan keluar mansion. Disana sudah terparkir rapi mobil mewahnya lengkap dengan supir pribadinya. Kemudian sang supir membukakan pintu mobil untuk tuannya lalu iapun masuk untuk mengemudikan mobil tersebut.


Hanya 30 menit Darren sudah tiba di kantornya dan tampak para karyawan sedang berbaris rapi melakukan apel pagi. Saat Darren berjalan melewati mereka dengan kompak seluruh karyawan membungkukkan badannya untuk memberi hormat kepada atasannya.


"Apa Fino sudah menunggu kedatangan ku"tanya Darren pada sekretarisnya yang terus melangkahkan kakinya menuju lift khusus diikuti oleh Rey yang mengekor di belakangnya.


Lalu mereka masuk ke lift khusus tersebut.


"Maksud tuan, tuan Fino menunggu anda" jawab Rey sambil menekan tombol lantai tertinggi.


"Hemm" ucap Darren sebagai jawabannya.


"Mungkin tuan salah, tuan Fino belum datang sampai saat ini" ucap Rey menyakinkan.


Darren hanya diam mendengar ucapan Rey, tapi dalam benaknya ia bertanya-tanya dalam pikirannya tentang keberadaan Fino.

__ADS_1


Pintu lift terbuka, lalu mereka berdua berjalan menuju ruangan Darren. Setelah selesai mengambil beberapa berkas penting, lalu mereka kembali berjalan menuju ruang rapat yang sudah dipenuhi oleh beberapa petinggi perusahaan Alexander Group.


Darren tampak kesal duduk di kursi kebesarannya dan sudah dipenuhi oleh para petinggi perusahaan yang duduk tenang untuk mengikuti rapat tahunan perusahaan Alexander Group.


Tak henti-hentinya Darren menghubungi Fino untuk mengetahui kabar nya, tapi sang empu pun tidak menjawab panggilannya. Karena rapat kali ini merupakan rapat tahunan perusahaan diikuti selanjutnya rapat pergelaran acara ulang tahun perusahaan Alexander Group. Tapi sang empu pun tidak menjawab panggilannya.


"Kemana perginya Fino" gumam Darren yang begitu kesal dengan wajah yang sulit diartikan.


Kemudian Darren pun memilih menghubungi sekertaris Fino.


"Halo tuan Darren, ada masalah apa menghubungi saya tuan" ucap Chiko di seberang sana.


"Kemana perginya Fino" ucap Darren dingin yang langsung to the point.


"Saya tidak tahu tuan, bukanya tuan Fino bersama tuan Darren"ucap Chiko hati-hati.


Dengan cepat Darren mematikan ponselnya.


Karena pembicaraan mereka ternyata tidak berguna.


"Kita mulai rapatnya" ucap Darren dingin kepada sekertaris nya.


"Tapi tuan Fino belum datang tuan" bisik Rey pada tuannya.


"Apa kau membantah ucapan ku hah!" bentak Darren pada sekretarisnya.


"Ti-dak-tidak tuan, baiklah kita akan memulai rapatnya" ucap Rey tergagap.


Kemudian Rey pun membuka rapat tahunan perusahaan Alexander Group yang dipenuhi oleh para petinggi perusahaan dan baru pertama kalinya tidak dihadiri oleh Fino Alexander Group.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sementara Fino sedang melakukan jurus jitu mendekati Ziva. Walaupun Fino masih awam dalam urusan percintaan, tapi ia mampu melakukan berbagai jurus jitu melalui pemberitahuan lewat searching pada om g**gle.


Seperti saat ini, Fino bahkan rela menunggu Ziva di kampusnya, bahkan ia memarkirkan mobilnya di area parkir kampus dan bersebelahan pula dengan mobil Ziva.


Sudah hampir 4 jam ia berada di kampus tersebut. Dan untungnya ada sebuah kafe terdekat di area kampus tersebut.


Sambil menikmati secangkir kopi dengan beberapa cemilan menyehatkan, tak henti-hentinya pandangan Fino tertuju pada area parkir.


Untungnya keberuntungan masih berpihak kepadanya. Karena Fino mampu melihat Ziva berjalan ke area parkir.


Dengan buru-buru Fino mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkan ke pelayan kafe tersebut.


"Tuan kembaliannya" ucap pelayan kafe tersebut.


"Ambil saja" teriak Fino, kemudian buru-buru berjalan menghampiri Ziva.


Saat Ziva ingin membuka pintu mobilnya dengan cepat Fino menghadangnya.


"Kau harus menepati janji mu malam ini, makan malam bersamaku" ucap Fino yang tidak ingin dibantah dan terlihat cool di hadapan Ziva.


Apa-apaan orang ini, siapa yang berjanji dengannya. Batin Ziva.


"Maaf tuan, saya sangat sibuk jadi tolong jangan ganggu saya" ucap Ziva kesal dan terlihat matanya melotot ke arah Fino dan terlihat jelas menyuruh Fino untuk menjauh darinya.


Kemudian Ziva buru-buru masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya, kemudian berlalu meninggalkan kampus tersebut.


Sedangkan Fino hanya terdiam menatap kepergian Ziva.


"Bodoh!, apa yang aku lakukan. Harusnya aku mengejar mangsaku" gumam Fino lalu iapun dengan cepat menyusul Ziva dengan mengendarai mobilnya mengikuti mobil Ziva.


Tak butuh waktu lama Fino pun mampu menemukan jejak mangsanya yaitu dimana lagi kalau bukan restoran Ziva food.


Dari dalam mobil Fino mampu melihat Ziva memasuki restorannya melalui kaca jendela mobilnya, kemudian iapun turun dari mobilnya dan berjalan memasuki restoran Ziva.


Sebelum mencari meja yang kosong, Fino tak lupa memesan jus buah lalu ia mencari meja yang cocok untuk melihat gerak gerik Ziva yang berada di dekat ruangan Ziva dengan kaca transparan.

__ADS_1


Sudah 3 gelas jus buah dihabiskan oleh Fino, setelah merasa pegal duduk menunggu dan kesabarannya sudah habis. Fino kemudian menghampiri ruangan Ziva.


"Halo nona Ziva, kau terlihat sibuk bekerja" ucap Fino yang sudah duduk di sofa ruangan itu.


Ziva terlonjat kaget mendengar suara yang familiar ia dengar.


Orang ini lagi, apa sih maunya. Batin Ziva.


"Tolong tuan, keluar dari ruangan saya" ucap Ziva tegas.


Sementara Fino tampak membaringkan tubuhnya di sofa ruangan itu tanpa mendengar ucapan Ziva.


"Baiklah jika tuan tidak ingin keluar dari ruangan saya, maka saya akan menyuruh satpam untuk menyeret anda keluar dari ruangan saya" ucap Ziva yang kembali tegas dan sudah berdiri di hadapan Fino.


"Aku cuman ingin memastikan kau baik-baik saja nona Ziva dan ingat tepati janjimu malam ini untuk makan malam bersama denganku di restoran Mellion" ucap Fino yang sudah bangkit dan berdiri tepat di hadapan Ziva.


Sedangkan Ziva tidak menjawab ucapan Fino dan ia sama sekali tidak ingin berurusan dengan Fino.


Fino tersenyum hangat kearah Ziva.


"Dan satu lagi jika kau tidak datang malam ini, aku akan datang ke rumah mu untuk makan malam bersama dengan anggota keluargamu" ucap Fino dengan ancamannya.


Tanpa pikir panjang Ziva mengiyakan tawaran Fino.


"Baiklah tuan, saya terima tawaran makan malam tuan, tapi dengan satu syarat saya tidak terbiasa makan malam berdua dengan seorang lelaki" ucap Ziva.


"Oh tidak masalah, ajaklah keluarga atau kerabat mu yang terpenting kau harus makan malam bersamaku malam ini juga" ucap Fino tak kalah tegas, kemudian melenggang pergi meninggalkan ruangan Ziva.


Ziva menghela nafas panjang, kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Sementara Fino sudah berada di dalam mobilnya dan ia memeriksa ponselnya dengan 30 panggilan masuk dari Darren dan 10 panggilan masuk dari Chiko.


Fino tidak memperdulikan panggilan masuk mereka yang terpenting bisa menemui gadis pujaan hatinya. Lalu iapun melajukan mobilnya menuju kediaman Darren.


Malam harinya......


Fino tampak bersiap dengan setelan jas mewahnya dan Fino terlihat tampan dihadapan cermin. Setelah dirasa penampilan nya sempurna fino kemudian bergegas menuju parkiran untuk mengendarai mobilnya menuju tempat tujuannya.


Mobil Fino berpapasan dengan mobil Darren yang baru masuk di gerbang utama mansion Darren. Sementara Fino menancap gas tanpa ingin menyapa Darren.


Sedangkan Darren sempat menoleh ke arah Fino dengan wajah yang sulit diartikan. Lalu mobil yang membawa Darren masuk ke pelataran mansion mewah tersebut.


Singkat cerita


Fino sudah berada di restoran Mellion. Fino antusias menunggu kedatangan Ziva. Dengan memboking restoran mewah tersebut dan menyiapkan segala sesuatunya yang terlihat istimewa.


Tak berapa lama kemudian Ziva beserta rombongannya memasuki restoran tersebut.


Fino terlihat kaget melihat kedatangan mereka.


Ya rupanya Ziva mengajak seluruh anak Yayasan Bina Zivanna yang dibangun nya yakni merupakan anak jalanan yang terlantar.


Dengan jumlah sekitar 30 anak.


Fino hanya tersenyum kecut melihat kedatangan mereka.


Lalu Ziva beserta ibu ketua yayasan mengarahkan seluruh anak tersebut untuk duduk di kursi kosong.


Sedangkan Fino mendekati Ziva untuk duduk bersama dengannya. Akan tetapi Ziva memilih duduk di sebelah anak-anak tersebut.


Sial!, kenapa jadi begini. batin Fino sambil memegangi keningnya.


Bersambung.....


Mohon maaf bila alurnya tidak sesuai πŸ™


Terima kasih juga buat seluruh teman-teman yang sudah memberikan komentarnya berupa saran yang membangun untuk cerita ini😁

__ADS_1


__ADS_2