
Ziva terus mengitari kamar mencari jalan keluar, setelah dirasa lelah bolak-balik. Kemudian ia pun duduk di sofa sambil menatap ke arah luar yang menampilkan birunya air laut melalui jendela kamar.
Pengusaha gila itu mau membawaku kemana. Aku tidak boleh terus berada di kamar ini, aku akan cari cara agar bisa kabur. Ya Allah tolong lindungi hamba mu ini agar bisa keluar dari tempat ini. Batin Ziva.
Ziva sama sekali tidak menemukan ide untuk kabur, karena kamar itu tidak memiliki akses untuk keluar. Lalu ziva berinisiatif untuk membuka pintu kamar. Dan beruntung nya pintu kamar itu tidak terkunci. Iapun sedikit tersenyum di balik cadarnya.
Cklek
Ziva membuka pintu kamar itu dengan sangat hati-hati. Setelah itu, iapun celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri layaknya seorang pencuri. Setelah dirasa aman, iapun mulai menjalankan aksinya.
Ziva terus berjalan dengan hati-hati dan terlihat waspada disekitarnya. Namun baru beberapa langkah ia kembali dikejutkan oleh langkah kaki seseorang.
"Anda sedang cari apa" tanya seorang lelaki yang mendorong troli yang berisi beberapa alat pembersih. Dan lebih herannya melihat Ziva yang mengendap-endap, lalu ia memperhatikan Ziva yang mengenakan gaun pengantin, namun aneh menurutnya karena wajahnya tertutupi sebuah kain.
"Aku ingin berkeliling di kapal pesiar yang mewah ini. Tapi aku, sama sekali tidak tahu jalannya" ucap Ziva yang antusias dengan berlagak bingung.
"Oh tunggu di situ, aku taruh dulu peralatan ini" ucap lelaki itu yang bertugas sebagai petugas kebersihan di kapal pesiar tersebut.
"Ok"
Kemudian lelaki itu dengan cepat menyimpan peralatan nya.
"Syukurlah, sepertinya lelaki tadi bisa membantu ku" gumam Ziva yang menyandarkan punggungnya di dinding kapal.
Tak berapa lama kemudian, lelaki itu muncul di belakang Ziva.
"Ayo, aku akan membawamu berkeliling di kapal ini" ucap lelaki itu ramah yang sepertinya beberapa tahun lebih muda dari pada Ziva. Lalu berjalan terlebih dahulu.
Kemudian Ziva mengekor dibelakangnya tanpa adanya obrolan. Mereka terus menyusuri lorong-lorong kapal layaknya sebuah kamar hotel.
"Namamu siapa nona" ucap lelaki itu yang mensejajarkan jalannya di samping Ziva.
"Zidam, kau sendiri"tanya Ziva.
"Boy, itu panggilan saya" ucap boy sambil tersenyum.
"Sejak kapan kau bekerja di sini" ucap Ziva.
"Sejak Ayahku meninggal 2 tahun lalu, jadi aku menggantikannya. Karena bagi kami, bekerja di keluarga Alexander sebuah kebanggaan tersendiri, dan keluarga kami mendapatkan kehidupan yang layak berkat kebaikan anak-anak tuan Alex" ucap boy.
Sepertinya boy bukan orang yang tepat. Kasihan juga dia, ayahnya sudah meninggal dan dia menjadi anak yang berbakti menggantikan pekerjaan ayahnya. Kalau aku minta tolong kepada nya bisa-bisa ia dapat masalah. Batin Ziva.
"Aku pergi dulu nona, soalnya ada yang harus aku urus" ucap boy.
Ziva pun hanya mengangguk. Kemudian ia pun melangkah kan kakinya menaiki tangga menuju outside cabin atau balkon.
"Uuh lelah juga, ditambah gaun ini berat" omel Ziva. Dan lelahnya terbayar saat mengarahkan pandangannya pada pemandangan lautan yang begitu indah ditambah sinar matahari yang lagi bersahabat. Dan ia pun tersenyum saat melihat sebuah kapal nelayan yang tidak jauh dari kapal pesiar yang ia tempati.
Ziva pun kembali terkejut, saat mengalihkan pandangannya dan melihat Darren mengobrol bersama beberapa orang yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Dengan cepat Ziva menghindar, jangan sampai Darren melihatnya. Ziva terus berjalan hingga ke pinggiran balkon.
"Apakah aku harus melompat turun dan berenang ke kapal nelayan itu" gumam Ziva yang melihat ke bawah laut yang kedalamannya tidak terukur.
Ada ketakutan dalam dirinya melihat ke bawah lautan lepas.
Ya Allah lindungilah hambamu ini dan jauhkanlah dari marabahaya. Hanya engkaulah yang maha pelindung, amin. Batin Ziva sambil memejamkan matanya.
Jones tak sengaja melihat sosok Ziva yang ingin melompat turun ke laut.
Ziva mulai melakukan aba-aba untuk melompat turun. Dengan membaca basmallah Ziva menceburkan dirinya ke laut.
Byuuur
"Gadis itu melompat" ucap jones yang baru saja melihat Ziva melompat.
__ADS_1
"Gadis mana" ucap Darren.
"Gadis yang kau bawa tuan Darren".
Tanpa pikir panjang Darren lalu menyambar kacamata renang yang berada di atas meja dan berlari ke pinggir balkon untuk melihat ke bawah. Namun Ziva belum juga muncul ke permukaan.
Kemudian Darren melepaskan jasnya dan melemparnya ke sembarang arah. Lalu memakai kacamata renang dan ikut melompat turun.
Sementara Ziva malah terjebak di dalam air. Tiba-tiba saja kakinya kram dan gaun yang ia kenakan malah mencelakai nya. Karena ia tidak mampu naik ke permukaan. Hijab yang ia kenakan sudah lepas entah kemana. Ziva bersusah payah untuk naik ke permukaan bahkan ia sudah kehabisan nafas di dalam air.
Hanya asma Allah yang ia panjatkan dalam hati dan ia hanya mampu berserah diri. Jika memang Allah ingin mengambil nyawa nya dengan cara seperti ini.
Sedangkan Darren terus berenang ke kedalaman air mencari keberadaan Ziva. Dan untungnya ia mampu melihat warna gaun yang dikenakan Ziva di kedalaman air laut. Lalu Darren dengan cepat menarik pinggang Ziva dan membawanya naik ke permukaan. Ziva pun sudah kemasukan air laut di dalam tubuhnya.
Terlihat raut wajah Darren yang begitu khawatir melihat Ziva yang sudah tidak berdaya.
"Cepat ulurkan talinya. Dan lempar handuk itu" teriak Darren di bawah sana yang memerintah anak buahnya.
Sementara anak buahnya mengulurkan sebuah tali untuk mereka begitu pun handuknya. Lalu Darren melilitkan tali itu dipinggangnya dan menutupi wajah Ziva menggunakan handuk lalu iapun mulai mengendong Ziva. Sementara beberapa anak buahnya mulai menarik mereka naik ke atas.
Kini mereka sudah berada di atas balkon. Dan Darren menyuruh anak buahnya dengan kemarahan untuk pergi. Sehingga hanya mereka berdua yang berada di atas balkon. Lalu Darren membaringkan tubuh Ziva yang tidak berdaya itu.
Darren lalu memberikan pertolongan pertama. Ia terus menekan-nekan dada Ziva agar bisa mengeluarkan air yang bersarang di tubuh Ziva. Setelah itu, Darren lalu memberikan napas buatan. Darren melakukannya berulang kali, hingga Ziva terbatuk-batuk. Darren pun bernapas lega dan kembali mode serius.
"Uhuk-uhuk" Ziva pun memuntahkan air.
"Aku bahkan belum menyiksa mu. Kau sudah ingin mengakhiri hidupmu" ucap Darren yang mengejek Ziva.
Ziva tidak membalas ucapan Darren karena ia masih lemas.
Alhamdulillah terima kasih ya Allah, kau masih melindungi ku. Tunggu dulu, apa pengusaha gila ini yang menyelamatkan ku. Batin Ziva.
"Apa kau ingin tetap disini dan jadi bahan perhatian para awak kapal hah" bentak Darren yang melihat Ziva tidak bergeming di tempatnya.
"Pakai itu, aku tidak ingin wajah buruk rupa mu itu dilihat oleh orang lain. Dan yang perlu kau tahu hanya aku yang boleh melihat wajah mu itu" bentak Darren dengan suara meninggi. Lalu mengangkat tubuh Ziva dan mengendongnya menuju kamarnya.
Disepanjang jalan tidak ada obrolan di antara mereka berdua. Hingga tiba di depan pintu kamar mereka. Kemudian Darren membuka pintu kamar lalu menjatuhkan tubuh Ziva ke lantai kapal.
Brukk
"Kau terlalu berat" ucap Darren kemudian meninggalkan Ziva.
Sementara Ziva memegangi bokongnya yang kesakitan dengan tubuh lemas.
"Dasar lelaki menyebalkan, untungnya kau masih punya hati nurani karena masih menolong ku" ucap Ziva. Lalu berjalan gontai menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya.
"Bagaimana cara aku membuka gaun ini" ucap Ziva yang kebingungan.
Iapun melihat sebuah gunting di rak dinding toilet. Lalu Ziva menggunting gaun pengantin itu. Setelah selesai, ia pun merendam tubuhnya di dalam bathtub.
Cukup 30 menit Ziva selesai membersihkan tubuhnya dan ia hanya mengenakan handuk dan berjalan menuju sebuah lemari mencari baju untuk ia kenakan.
"Astaga tidak ada pakaian wanita" ucap Ziva.
Kemudian ia pun mengambil salah satu baju kemeja panjang dan celana selutut, kemungkinan besar semua itu milik Darren. Kemudian Ziva kembali masuk ke dalam toilet untuk memakai baju itu.
Namun betapa terkejutnya ia.
"Astaga aku datang bulan, bagaimana ini" ucap Ziva yang panik, karena handuk yang ia kenakan terdapat bercak darah.
Kemudian Ziva hanya mampu duduk diam di dalam toilet.
Sementara Darren sudah membersihkan tubuhnya di kamar jones. Iapun tidak melihat keberadaan Ziva di kamarnya. Lalu ia membuka lemari pakaian untuk mengambil baju.
Darren membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
Tok
tok
tok
Kemudian Darren membuka pintu kamarnya dan mendapati seorang pelayan wanita membawa nampan berisi makanan.
"Taruh saja di situ" ucap Darren.
"Baik tuan"
Lalu pelayan wanita itu, menyajikan makanan diatas meja. Setelah itu, iapun undur diri.
Darren kembali memainkan ponselnya tanpa ingin menyentuh makanan di hadapannya.
"Kemana perginya gadis buruk rupa" ucap Darren.
Darren pun berinisiatif untuk ke toilet. Ia ingin membuka pintu toilet namun terkunci dari dalam.
"Hei buka pintunya, apa kau bersembunyi di dalam sana" ucap Darren sambil menggedor-gedor pintu toilet.
Ziva pun sama sekali tidak ingin membuka pintu toilet. Ditambah ia sudah kedinginan di dalam sana dengan tubuh sedikit lemas.
Tanpa pikir panjang Darren langsung mendobrak pintu toilet itu. Dan mendapati Ziva yang hanya mengenakan handuk dengan wajah pucat.
"Apa yang kau lakukan berlama-lama di dalam toilet" ucap Darren dengan suara meninggi.
"Itu bukan urusan kau, aku ingin seorang pelayan wanita, cepat panggilkan aku"ucap Ziva dengan suara keras.
"Untuk apa"
"Cepat panggilkan"teriak Ziva dengan suara keras, padahal ia pun lemas.
Darren pun menghubungi anak buahnya untuk membawa pelayan wanita ke kamarnya.
Tak berapa lama kemudian pelayan wanita menghampiri Ziva. Cukup lama mereka berbincang-bincang di dalam sana. Kemudian pelayan wanita itu meninggalkan kamar itu, dan tak berapa lama kemudian ia pun membawa sesuatu sambil memberikan Ziva.
"Terima kasih ya" ucap Ziva dengan sedikit senyuman.
Sementara Darren yang membaringkan tubuhnya tidak menghiraukan di sekitarnya.
Ziva pun keluar dari toilet dengan mengenakan baju kemeja Darren dengan rambut basah. Kemudian ia pun duduk di depan cermin sambil mengeringkan rambut panjang nya.
Darren sempat melirik Ziva di sampingnya dan memperhatikan Ziva mengeringkan rambutnya. Ada ketertarikan terhadap gadis cantik disampingnya yang sudah berstatus sebagai istrinya.
"Cepat makan makanan di atas meja itu dan habiskan"
Lalu Darren pun mulai memejamkan matanya.
Sementara Ziva memakan makanan itu dengan lahap. setelah selesai makan, Ziva membersihkan meja itu. Lalu iapun duduk di sofa sambil menyandarkan punggungnya.
"Aku tidak menyuruh mu beristirahat di sofa, kemarilah" ucap Darren.
Sementara Ziva tidak bergeming di tempatnya ia sama sekali tidak memperdulikan ucapan Darren.
"Aku hitung satu sampai tiga, kau masih disitu maka tamatlah riwayat mu" ancam Darren.
Dengan langkah malas Ziva mulai mendekat ke tempat tidur. Lalu Darren memberikan Ziva sebuah salep Kemudian Darren membuka baju yang ia kenakan sehingga terlihatlah tubuh atletisnya. Sementara Ziva dengan cepat berbalik badan.
"Cepat oleskan salep itu ke luka ku, kau sekarang sudah menjadi istri ku jadi kau berhak menyentuh ku, begitu pun sebaliknya".
Tapi aku tidak menganggap mu sebagai suamiku, kau cuman lelaki licik yang membuat keluarga ku terluka. Batin Ziva.
Bersambung......
__ADS_1