Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Tidak tahu jalan pulang


__ADS_3

Ziva hanya mampu menatap gaun indah yang berjejer rapi tanpa ingin menyentuhnya. Sementara nyonya Ratu bersama Sarah sedang memilih gaun yang menurutnya cocok untuk dikenakan di hari bahagianya.


"Ziva sini, bantu aku memilih gaun yang cocok untukku" Teriak Rissa.


"Iya tunggu"ucap Ziva lalu menghampiri Rissa.


"Mana menurut mu cocok untukku, warna gold atau putih" ucap Rissa yang menunjuk gaun seksi tersebut.


"Semuanya bagus, namun kekurangan bahan. Itu tidak terlalu cocok dengan gestur tubuh mu, apa kau ingin selalu berpakaian seperti itu dan mempertontonkan tubuhmu secara gratis di luaran sana. Orang bisa saja berpikiran negatif jika gaya berpakaian mu seperti ini"ucap Ziva panjang lebar.


"Apa urusannya dengan mu, cara berpakaian ku seperti ini" ucap Rissa yang berkacak pinggang.


"Kodrat seorang wanita yaitu menutup aurat, dan haram bagimu jika berpakaian seperti ini didepan lelaki yang bukan mahram mu. Aku tidak bermaksud untuk menggurui mu, tapi setidaknya pilihlah gaun yang sedikit tertutup. Karena gaun ini sangat-sangat terbuka" ucap Ziva menjelaskan dengan sedikit senyuman dibalik cadarnya.


"Yeee kau sama seperti bibi, minggir aku tidak suka di ceramahi" ucap Rissa lalu melenggak pergi menjauh dari Ziva.


Ziva lebih memilih duduk di kursi tunggu, sambil melihat-lihat koleksi majalah dari butik tersebut. Tak berapa lama kemudian nyonya Ratu bersama Sarah menghampirinya.


"Kau tidak memilih gaun untuk mu nak"ucap nyonya Ratu.


"Tidak ma, masih banyak gaun yang belum Ziva pakai" ucap Ziva.


"Ya sudah kalau seperti itu" ucap nyonya Ratu.


Tak berselang kemudian, Rissa muncul dengan beberapa paper bag ditangannya. Lalu mereka berjalan bersama-sama menuju parkiran.


Satu mobil berisi beberapa anggota The Tiger yang melakukan pengawalan untuk mereka.


"Selanjutnya kita mampir di restoran dulu untuk makan siang dan mampir di mushola terdekat" ucap nyonya Ratu.


Lalu mereka semua masuk ke dalam mobil. Mobil pun melaju mencari restoran terdekat.


Sementara di perusahaan Alexander Group....


Darren baru saja melakukan sesi rapat bersama para petinggi perusahaan Alexander Group. Kini ia sudah berada di ruangan nya bersama kedua orang kepercayaannya.


"Tuan Darren sangat berbeda hari ini" ucap Jones yang memperhatikan gerak-gerik tuannya.


"Kalian semua orang yang berjasa untukku, untungnya kau cepat memberitahuku perihal rencana mama. Bila tidak, mungkin saja aku kehilangan gadis itu" ucap Darren sambil tersenyum bahagia.


"Itu sudah menjadi tugas kami tuan" ucap jones.


"Rissa dan sahabatnya juga turut andil dalam rencana kita, tapi bocah itu terlalu mengandalkan kekuatan dan perasaannya. Tapi sudahlah semua itu sudah berlalu, lagian kalian sudah memberinya pelajaran" ucap Darren dengan sedikit senyuman.


"Benar tuan" ucap Milan yang turut bahagia melihat perubahan tuannya akhir-akhir ini.


"Aku terlihat bodoh saat melakukan misi bersama Milan untuk membunuh gadis itu, sampai harus melakukan hal yang konyol, ha ha ha ha" ucap Darren diselingi dengan tawanya.


"Iya benar tuan, ha ha ha ha" ucap Milan yang ikut tertawa bila mengingat kejadian tersebut.


"Sepertinya tuan sudah jatuh cinta ya kepada nona Ziva" ucap Jones dengan sedikit senyuman.


Darren hanya mampu tersenyum tanpa menjawab ucapan Jones.

__ADS_1


Iya aku juga sepemikiran dengan jones tuan, semoga tuan Darren dan nona Ziva cepat diberikan momongan oleh Tuhan. Batin Milan.


Lalu mereka tertawa bersama-sama di ruangan itu dengan topik pembahasan tentang Ziva. Fino yang sempat mendengar pembicaraan mereka dengan cepat mendobrak pintu ruangan itu.


Milan bersama jones menghentikan tawanya. Sementara Darren masih terlihat jelas raut wajahnya sedang bahagia.


Fino hanya mampu menatap tajam mereka satu persatu, setelah itu ia meninggalkan ruangan itu dengan penuh emosi.


"Biarkan saja dia, tidak lama lagi dia akan menikah" ucap Darren yang kembali terlihat serius.


"Baik tuan" ucap Milan yang sedikit kikuk jika bertemu dengan Fino.


Jones baru saja mendapat laporan dari anak buahnya. Ia sempat mengerutkan keningnya melihat pesan tersebut. Kemudian ia langsung menyampaikan kepada tuannya.


"Ini tidak terlalu berbahaya, awasi saja dia. Aku tidak ingin seseorang mengkambing hitamkan mereka" ucap Darren.


"Siap tuan, saya hanya memerintahkan kepada anggota The Tiger untuk mengawasi mereka".


"Hemm".


"Apa jadwal ku selanjutnya Milan" ucap Darren yang sudah bangkit dari duduknya.


"Makan siang bersama tuan Excel dan tuan Zayn" ucap Milan.


Ziva baru saja menunaikan sholat dhuhur bersama nyonya Ratu dan Sarah. Sementara Rissa tidak ikut sholat bersama mereka karena berhalangan. Selepas itu, barulah mereka makan siang bersama di restoran favorit Rissa.


Ziva dan lainnya menikmati makan siang mereka dengan enjoy diselingi dengan candaan yang memojokkan Ziva untuk cepat hamil.


Sementara Sarah tidak suka dengan candaan mereka. Ia sudah menyusun berbagai rencana untuk menyingkirkan Ziva tapi semuanya selalu gagal, bila Ziva berada di kediaman Alexander.


"Sepertinya Tante tidak bisa ikut, kau ajak saja Ziva, biar kalian jadi akrab" ucap nyonya Ratu.


"Betul kata bibi, Ziva kau harus perawatan biar Darren makin lengket dengan mu. Lagian banyak wanita penggoda diluaran sana yang menginginkan suamimu" ucap Rissa yang berpura-pura memihak kepada Ziva.


Sarah menjadi terbatuk-batuk mendengar ucapan Rissa.


"Tapi aku tidak terlalu suka...".


"Sekali-kali tak mengapa" ucap Sarah dengan senyum manisnya.


"Baiklah, aku akan ikut dengan kalian" ucap Ziva pasrah.


Bagus semoga rencana ku berjalan lancar. Batin Sarah.


Aku ingin sekali memberi Ziva pelajaran, berani sekali dia menceramahi ku. Batin Rissa.


Lalu mereka masuk ke dalam mobil Sarah sementara Nyonya ratu bersama para pengawal.


Mobil melaju menuju tempat yang mereka tuju. Sementara nyonya Ratu memilih pulang ke kediaman nya.


Di persimpangan jalan, Rissa menyuruh Sarah untuk menghentikan mobilnya.


"Cepat turun, aku tidak suka bersama gadis aneh seperti mu"ucap Rissa yang menyuruh Ziva untuk turun.

__ADS_1


Tanpa membantah Ziva memilih turun dari mobil tersebut.


Sementara Sarah tersenyum kemenangan.


Lalu mereka mulai meninggalkan Ziva di persimpangan jalan.


Rissa dan Sarah tertawa terbahak-bahak di dalam mobil. Mereka berhasil mengerjai Ziva.


Ziva hanya mampu menatap mobil mereka yang mulai menjauh.


"Aku memang tidak suka bergaul dengan mereka yang terlihat begitu angkuh" gumam Ziva lalu memilih menepi sambil berjalan di trotoar jalan.


Tak berapa lama kemudian, 3 orang preman yang merupakan suruhan Sarah mulai menghampirinya.


"Mau kemana cantik" ucap preman itu.


"Maaf pak, aku tidak memiliki urusan dengan kalian" ucap Ziva.


"Kami akan melenyapkan mu cantik".


Lalu ketiga preman itu mulai bersiap untuk menangkap Ziva.


Sementara Ziva terlebih dahulu memasang kuda-kuda untuk menghajar mereka.


"Wah sepertinya kau memiliki teknik beladiri yang hebat".


Lalu mereka pun mulai melawan Ziva. Sedangkan Ziva tidak tinggal diam, ia lalu melawan preman itu dengan teknik beladiri yang dimilikinya hingga membuat ketiga preman itu babak belur.


"Gadis ini bukan tandingan kita, lebih baik kita kabur" ucap preman itu yang merupakan ketua mereka. Lalu berlari menjauh bersama temannya.


Ziva hanya mampu bernafas lega, kemudian ia kembali berjalan menyusuri jalan, ia tidak tahu jalan pulang. Sepeserpun uang ia tidak miliki. Bukannya dirinya menikahi pengusaha kaya raya, tapi apa buktinya sepeserpun uang tidak ia pegang.


Setelah dirasa lelah berjalan, Ziva lebih memilih duduk di bangku taman. Terdengar suara tawa anak-anak mulai memasuki kawasan taman tersebut.


"Mengapa mereka harus meninggalkan ku seperti ini sih, aku kan jadi tidak tahu pulang" ucap Ziva.


Setelah itu, Ziva kembali melanjutkan perjalanan yang tidak tentu arah, hingga sore hari. Untungnya ia sempat mampir di sebuah masjid untuk menunaikan sholat ashar.


"Ya Allah sebentar lagi Maghrib, aku sama sekali tidak tahu jalan pulang" ucap Ziva yang sedang duduk di halte bus yang sudah panik tidak tahu jalan pulang ke kediaman Alexander.


Sebuah mobil sedan berhenti di depannya, kemudian kaca mobil tersebut sengaja di turunkan pemiliknya.


"Ayo masuk nona Ziva" ucap lelaki paruh baya tersebut sambil membukakan pintu mobil untuk Ziva.


"Paman Riko, apa aku tidak salah lihat" ucap Ziva sambil menajamkan penglihatan nya.


"Tidak nona" ucap Riko yang sudah berada di hadapannya sambil tersenyum.


Ziva terlebih dahulu menyalimi tangan Riko dengan wajah yang berbinar.


"Ayah mana paman" ucap Ziva antusias yang melihat ke dalam mobil.


"Lebih baik nona masuk terlebih dahulu, disini sangat bahaya untuk kita mengobrol" ucap Riko.

__ADS_1


Lalu Ziva pun masuk ke dalam mobil, dan duduk di kursi belakang. Sementara Riko duduk di samping supir. Mobil pun melaju meninggalkan halte bus.


Bersambung......


__ADS_2