Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Gadis cantik


__ADS_3

Ziva terus saja berenang kesana-kemari dengan hebohnya Ziva bahkan tidak menghiraukan dinginnya air kolam tersebut. Setelah dirasa puas berenangnya, Ziva kemudian naik ke permukaan dan kembali duduk di pinggir kolam.


"Aku harus membujuk ayah secepatnya. Aku tidak ingin terus tinggal di rumah hanya makan dan tidur" gumam Ziva.


Ziva lalu bangkit dan ingin berjalan masuk ke dalam rumah. Tapi baru beberapa langkah, ia terpeleset dan terjatuh akibat baju basah yang ia kenakan mengenai lantai di area kolam tersebut.


"Akhhh" teriak Ziva, sambil memegangi bokongnya yang sakit.


Ziva kembali ingin berdiri tapi kakinya begitu sakit untuk menopang tubuhnya sehingga ia kembali terjatuh.


Mau minta tolong area kolam renang tampak sepih di jam seperti ini. Karena beberapa para pelayan wanita sudah masuk ke kamar mereka masing-masing. Hanya kepala pelayan dan 2 pelayan wanita di rumah utama yang sedang siaga mengenai keperluan majikannya.


"Aduh sakit sekali, mana tidak ada pelayan di tempat ini" ucap Ziva yang kesakitan.


Tak berapa lama kemudian suara langkah kaki mulai mendekat ke arahnya.


"Boleh saya membantu nona" ucap pelayan wanita yang berpenampilan seperti Ziva dengan suara serak basah yang menyerupai suara wanita.


Ziva lalu mendongakkan wajahnya melihat orang tersebut.


Bukankah ini pelayan baru. Batin Ziva.


"Iya bibi. Saya kepeleset di sini" ucap Ziva yang kesakitan.


Kemudian pelayan wanita itu mulai membantu Ziva berdiri dan memapahnya untuk duduk di kursi taman.


"Aduh kakiku sakit sekali, bahkan aku tidak bisa berjalan sampai ke kamar ku kalau seperti ini" gumam Ziva yang sudah duduk sambil mengomel kesakitan.


Kemudian pelayan wanita itu mulai menjongkok lalu memegang kaki Ziva.


"Apa yang ingin kau lakukan bibi" ucap Ziva kaget. Karena pelayan wanita itu mulai menyibakkan baju Ziva dan menyentuh kaki Ziva yang sakit.


"Sepertinya nona keseleo" ucap pelayan wanita itu. Dan tanpa pikir panjang ia langsung memijat kaki Ziva yang sakit untuk memulihkan urat syaraf kakinya.


"Akkhhh... Sakit sekali bibi"ucap Ziva dan terdengar otot kaki Ziva berbunyi.


"Coba gerakkan kaki nona" ucap kembali pelayan wanita itu.


Ziva lalu menggerakkan kakinya dan ia tersenyum di balik cadarnya karena kakinya sudah tidak sesakit tadi.


"Terima kasih, untungnya bibi menolong ku. Oh iya aku tidak tahu nama bibi" ucap Ziva.

__ADS_1


"Nama saya Dara nona" ucap pelayan wanita itu yang bernama Dara sambil menunduk yang berdiri di hadapan Ziva.


"Lebih baik bibi dara duduk dulu" ucap Ziva yang menyuruh dara untuk duduk di samping nya.


Kemudian dara pun ikut duduk di samping Ziva.


"Aku sangat senang, ternyata bibi berpenampilan seperti ku" ucap Ziva tersenyum.


Aku lakukan semua ini, untuk membunuhmu gadis buruk rupa. Batin Darren yang meremas ujung hijabnya.


"Lebih baik nona masuk ke dalam rumah, nanti anda masuk angin dengan baju basah yang nona kenakan" ucap Dara lalu menunduk karena ia tidak ingin tatapan mereka bertemu.


"Ya sudah aku masuk dulu bibi dara"ucap Ziva yang sudah berdiri.


Namun keseimbangan tubuhnya oleng hingga ia hampir terjatuh, untungnya dengan zigap Dara berdiri lalu menarik pinggang Ziva hingga tidak terjatuh. Pandangan mata mereka kembali bertemu dan cukup lama mereka saling pandang di situasi seperti itu.


"Oh maaf nona" ucap Dara gelagapan."Biar saya antar nona ke kamar" ucap dara


Tanpa menjawab ucapan Dara, Ziva lalu menarik tangan dara untuk masuk ke dalam rumah.


Kini mereka sudah berada di ujung tangga. Kondisi rumah utama sudah sepi. Karena ayah dan ibunya mungkin sudah di kamarnya dan kakek nya jangan ditanya lagi pasti sudah tidur. Dan beberapa lampu penerangan sudah padam.


Saat mereka ingin menaiki anak tangga. Tiba-tiba di kejutkan suara seorang wanita.


"Saya sedang.." ucap Dara yang tidak bisa melanjutkan ucapannya.


Sial!, wanita tua ini bisa-bisa menggagalkan rencana ku. Batin Darren yang mengepalkan tangannya.


"Saya yang menyuruhnya bu Hana" potong Ziva cepat.


"Tapi nona, hanya pelayan yang bekerja di rumah utama yang boleh masuk di rumah ini"ucap Hana.


"Tidak apa-apa Bu Hana, bibi dara tadi menolong ku. Dan aku ingin mengajaknya ke kamar ku" ucap Ziva.


Sementara Hana hanya terdiam dan tidak ingin ikut campur urusan nona mudanya. Dan untuk Darren sendiri tersenyum kemenangan.


Beberapa langkah lagi aku akan menghabisi gadis buruk rupa ini. Batin Darren yang tersenyum kemenangan.


Lalu mereka berdua menaiki anak tangga menuju kamar Ziva.


Singkat cerita mereka sudah berada di kamar. Ziva menyuruh Dara untuk duduk di sofa karena ia ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Ziva melangkahkan kakinya menuju toilet.

__ADS_1


Sementara Dara atau Darren sedang melihat kondisi di sekelilingnya sambil melihat langit kamar Ziva, siapa tahu ada cctv-nya. Setelah melihat kondisinya aman. Lalu Darren melangkahkan kakinya menuju toilet dengan hati-hati agar langkah kakinya tidak terdengar.


Saat berada di samping pintu toilet Darren kemudian mengeluarkan pistol dari saku celananya. Bagaimana caranya Darren mengambil pistolnya padahal ia berpakaian syar'i, hanya Darren lah yang tahu.


Knop pintu toilet berbunyi, menandakan seseorang dari dalam toilet akan keluar. Sementara Dara atau Darren mulai bersiap dengan pistol nya di balik bajunya.


Saat ingin menodongkan pistol nya, tampak seorang gadis cantik keluar dari toilet yang hanya mengenakan jubah mandi dengan rambut panjang yang terlihat basah dan itu terkesan seksi. Bahkan gadis tersebut tersenyum manis ke arahnya.


Darren hanya mampu diam dan tak berkutik melihat sosok di hadapannya. Darren pun menelan salivanya dengan sudah payah. Pistol yang dipegangnya kembali masuk di saku bajunya. Bukankah tadi di saku celananya, ini kan beda lagi cari aja yang bisa disembunyikan benda tersebut.


Darren masih diam di tempat dan seakan terhipnotis oleh kecantikan Ziva. Pandangan mata nya tidak berpaling dari sosok wanita di hadapannya. Tidak seperti biasanya sang penguasa Alexander Group teralihkan dunianya. Padahal hampir setiap hari dikelilingi oleh gadis cantik nan seksi di sekitarnya. Hanya saja melihat sosok gadis yang dianggap nya buruk rupa ia bahkan tidak berkedip.


Ziva yang melihat pelayan wanita itu, hanya diam yang seperti sedang melamun mulai mengagetkan nya.


"Bibi Dara......bibi Dara" ucap Ziva yang mengagetkan Dara.


"Eh iya nona" ucap Dara gelagapan yang seperti tertangkap basah.


"Sini aku ingin memberi mu sesuatu" ucap Ziva yang menarik tangan Dara menuju ruang ganti.


Dara pun hanya mengikuti langkah Ziva.


Saat mereka berada di ruangan itu, kemudian Ziva memberikan paper bag untuk pelayan wanita itu.


"Ambillah bibi Dara" ucap Ziva yang memberikan paper bag tersebut.


Sementara Dara atau Darren hanya terdiam dan tidak mengambil paper bag tersebut.


"Ayo ambil bibi Dara" ucap Ziva kembali.


Lalu Dara pun mengambil paper bag tersebut.


"Terima kasih nona" ucap Dara. "Kalau begitu saya permisi dulu" ucap Dara yang tidak ingin berlama-lama di kamar Ziva.


Sementara Ziva memakai pakaian tidurnya lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dan tak berapa lama kemudian iapun terlelap.


Sedangkan Darren yang sudah berada di kamarnya hanya mampu membolak-balikkan pistol yang dipegangnya. Ia kembali membayangkan Ziva yang begitu cantik menurutnya.


"Apa yang aku lakukan. Aku tidak boleh tergoda kepada gadis buruk rupa itu. Sial kenapa aku seperti ini eeh..." ucap Darren frustasi sambil menjatuhkan beberapa benda di kamar itu.


"Aku harus menghancurkan keluarga Damanik" ucap Darren dingin.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2