
Ziva masih saja geleng-geleng kepala melihat perbuatan suaminya. Ia menatap dirinya di pantulan cermin sambil memegangi bibirnya. Ia kembali membayangkan wajah Darren yang sedikit kesal saat menghentikan aksinya.
"Kenapa aku merasa bersalah kepadanya sih" ucap Ziva yang sedikit menyesal terhadap kelakuannya, lalu iapun kembali memasang hijab+cadarnya.
Kemudian Ziva ikut menyusul Darren menuju lantai dasar, berharap suaminya belum berangkat ke perusahaannya. Namun ia dikejutkan dengan suara nyonya Ratu yang sedang memanggil namanya.
"Menantuku Ziva, mama ingin mengajakmu ke perkebunan buah" ucap nyonya Ratu yang sudah terlihat cantik.
"Apa suamiku sudah berangkat ma" tanya Ziva yang sudah tidak melihat keberadaan Darren di ruang makan.
"Sudah nak, sekitar 10 menit yang lalu" jawab nyonya Ratu.
"Bukanya dia ingin mengajakku ke kantornya, tapi apa buktinya, dia malah ingkar janji"gumam Ziva.
"Ada yang salah nak" ucap nyonya Ratu memastikan gumaman Ziva.
"Tidak ada ma, lebih baik kita berangkat saja, aku sudah tidak sabaran untuk melihat perkebunan buah" ucap Ziva yang antusias.
Mereka lalu bergandengan tangan menuju pintu utama. Mobil Jeep tampak terparkir di halaman depan, supir lalu turun membukakan pintu mobil untuk mereka. Sementara para pelayan wanita yang berjumlah 5 orang sudah siap membawa keperluan majikannya yang sudah berada dalam mini bus bersama 3 anggota The Tiger salah satunya adalah Tom.
Ziva beserta nyonya Ratu duduk manis di bagian belakang. Tak berapa lama kemudian, Fino ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi samping kemudi. Mobil pun melaju meninggalkan pelataran rumah.
"Nak, kamu tidak ke kantor" ucap nyonya Ratu yang mulai angkat bicara.
"Tidak ma, biar Darren saja yang handel perusahaannya. Lagian lusa aku akan kembali ke negara B" ucap Fino yang melihat ke arah belakang. Dan tak terasa matanya sedikit berbinar melihat gadis pujaan hatinya duduk manis di samping ibunya.
Ziva hanya duduk diam mendengar pembicaraan ibu dan anak itu. Ada kerinduan yang terpendam, pada saat Fino mengatakan akan ke negara B. Bukankah itu negara kelahirannya dan tempat berkumpul keluarganya.
"Oh iya ziv, apa kau tidak berencana untuk menemui keluarga mu" tanya Fino.
"Aku belum bisa menemui mereka seorang diri, sepertinya aku perlu mempersiapkan diri bersama suamiku untuk mendapatkan restu dari keluarga ku" ucap Ziva sambil menunduk.
Sementara nyonya Ratu hanya mampu tersenyum mendengar ucapan menantunya. Untuk Fino sendiri merasa tidak suka dengan ucapan Ziva yang sudah mengklaim Darren dengan sebutan suami. Sampai saat ini, ia masih belum berdamai dengan diri nya untuk tidak menyukai Ziva yang sudah berstatus sebagai adik iparnya.
"Oh baguslah, semoga kalian mendapatkan restu dari kedua orang tua mu.
"Iya kak Fino" ucap Ziva yang tersenyum di balik cadarnya.
Kini mereka sudah tiba di perkebunan buah yang berhektar-hektar luasnya yang merupakan salah satu aset keluarga Alexander. Terdapat beberapa jenis buah-buahan segar mulai dari buah Apel, Jeruk Sunkist, Mangga dan masih banyak lainnya.
"Masya Allah ini sangat indah ma, aku sangat suka tempat ini" ucap Ziva yang menatap takjub buah-buahan segar yang sudah siap panen.
"Alhamdulillah, ternyata mama tidak salah pilih tempat" ucap nyonya Ratu dengan sedikit senyuman.
Sementara Fino sudah menghampiri para pekerja kebun yang sedang memanen buah.
"Ziva kemari, ikut denganku memanen buah apel ini" teriak Fino yang sudah berada di bawah pohon apel.
"Ma, aku ke sana dulu" ucap Ziva yang terlihat gembira.
Ziva terlebih dahulu memperhatikan Fino memetik buah apel. Setelah itu, barulah ia melakukannya. Nyonya Ratu tak mau kalah, ia bahkan memetik buah apel lumayan banyak sampai-sampai keranjang buah menjadi penuh. Mereka semua enjoy dan bahagia memetik buah bersama para pekerja kebun.
Bahkan Fino mengabaikan momen mereka dengan spot foto yang keren.
Cepret
cepret
cepret
Fino lebih suka mengambil gambar Ziva dan ibunya yang sedang memetik buah yang begitu antusias.
Sementara di tempat lain..
Seorang gadis yang berada di lantai tertinggi perusahaannya terlihat sedang menangis tersedu-sedu di dalam ruangan nya.
Sudah 3 hari pertunangannya berlangsung, tapi masih saja dia tidak terima dengan apa yang terjadi. Ia sama sekali tidak ingin bertunangan dengan Fino yang selama ini ia anggap sebagai kakak lelaki nya.
Sarah terlihat frustasi, Ayahnya menuntutnya untuk tetap menjadi tunangan Fino bahkan kalau perlu menjadi istri Fino secepatnya, agar perusahaan ayahnya menjadi lebih maju dan para rekan bisnisnya menjadi segan terhadap keluarganya.
"Ini semua gara-gara Ziva, gadis itu pembawa sial dalam hidupku. Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan Darren, tidak ada kata menyerah bagi Sarah" ucap Sarah dengan marah.
Pintu ruangan nya pun terbuka dan menampilkan sosok Zayn.
"Apa yang terjadi, kenapa kau seperti ini" ucap Zayn yang khawatir terhadap sepupunya.
"Aku ingin kau melenyapkan Ziva" ucap Sarah dingin dengan mata memerah.
"Apa maksudmu, bagaimana bisa, Sarah yang aku kenal menjadi berubah seperti ini bahkan ingin melenyapkan orang" ucap Zayn dengan sedikit candaan.
"Aku bukan lagi Sarah yang dulu, aku tidak main-main dengan ucapan ku. Lenyap kan Ziva secepatnya" ucap Sarah dengan senyum liciknya.
Zayn hanya mampu bertepuk tangan melihat perubahan Sarah yang drastis.
__ADS_1
"Apa karena Darren Alexander, kau seperti ini" ucap Zayn tersenyum sinis.
"Iya betul kak Zayn, aku tidak akan menyerah sebelum memilikinya" ucap Sarah yang menatap tajam Zayn.
"Ha ha ha ha, kau tidak perlu repot-repot membuat rencana segala. Yang perlu kita lakukan hanya mengadu-domba kakak beradik itu. Lagian gadis cantik dan cerdas sepertimu menjadi incaran para lelaki, tapi hanya si Darren bodoh itu, yang tidak tertarik kepada mu. Kau jangan terlalu khawatir, dia menikahi Ziva hanya untuk balas dendam" ucap Zayn yang sudah duduk di kursi.
"Aku tidak percaya" ucap Sarah yang berkacak pinggang.
"Ayah Ziva bermusuhan dengan keluarga Alexander, mungkin sebentar lagi mereka akan pisah. Aku bahkan mendengar rumor bahwa gadis itu buruk rupa. Untungnya aku batal menikah dengannya" ucap Zayn yang lagi-lagi tersenyum.
"Terima kasih kak Zayn, tapi aku masih belum yakin jika dia buruk rupa. Tapi aku masih memiliki peluang untuk mendapatkan Darren, jika gadis itu benar-benar buruk rupa. Pantesan saja dia menyembunyikan wajahnya" ucap Sarah yang kembali tersenyum meremehkan Ziva.
"Ya..ya serahkan sepenuhnya kepada ku, biar aku yang mengatur segalanya" ucap Zayn yang terlihat membanggakan dirinya.
Sementara di perusahaan Alexander Group...
Darren baru saja selesai rapat dengan para petinggi perusahaan nya yang membahas tentang proyek terbaru perusahaannya yang secepatnya akan diresmikan.
"Jones apa yang dilakukan gadis itu" ucap Darren yang terus berjalan melewati lorong kantor.
"Nona Ziva sedang berada di perkebunan buah tuan" ucap jones dengan hati-hati.
"Oh, dengan siapa" ucap Darren yang sudah memasuki lift khusus.
"Nyonya Ratu dan tuan Fino" ucap jones.
Darren sempat termenung mendengar ucapan jones.
"Milan apa jadwal ku selanjutnya"ucap Darren yang sedikit melonggarkan dasinya.
"Jam makan siang anda akan bertemu dengan tuan John. Setelah itu, anda akan menghadiri peresmian rumah sakit Yayasan Alexander Lanjut...".
"Nanti saja, kamu lanjutkan jadwal ku"potong cepat Darren. Karena pikirannya masih kemana-mana.
Darren sudah memasuki ruangan nya, ia terlihat kesal dengan ucapan jones bahwa Fino bersama istrinya. Dia langsung menghubungi ibunya untuk mencari tahu istrinya.
"Halo ma" ucap Darren.
"Iya sayang, ada apa telpon mama" ucap nyonya Ratu, karena tidak biasanya putranya menelponnya hanya untuk menanyakan kabarnya.
"Apa istriku bersama mama".
"Iya dia bersama mama, apa kau ingin bicara dengannya" ucap nyonya Ratu dengan penuh selidik.
Lalu nyonya ratu memberikan ponselnya kepada Ziva.
"Halo" ucap Ziva dengan suara khasnya.
"Kau sedang apa".
"Panen buah, memang nya ada apa".
"Aku pulang larut malam, kau tidak perlu menunggu ku" ucap Darren yang sedikit kesal lalu mematikan sambungan telepon nya secara sepihak.
"Baik...ak...ya sudah di matiin"ucap Ziva yang sedikit kesal dengan sikap suaminya.
Tak berapa lama kemudian, sebuah notifikasi masuk di ponsel nya. Dengan cepat Darren membuka seluruh isi notifikasi yang berupa kiriman foto Ziva bersama Fino yang saling berpegangan tangan yang terlihat romantis.
Darren yang melihat foto tersebut, terbakar api cemburu. Ia langsung melemparkan ponselnya,
dengan wajah penuh amarah.
Malam harinya.....
Ziva sedang berada di taman belakang. Sambil menunggu kedatangan Fino untuk mengembalikan barangnya yang sempat tertinggal di mobil.
"Maaf aku membuat mu menunggu" ucap Fino yang sudah duduk di samping Ziva.
"Tidak kok, ini topi kak Fino" ucap Ziva menyerahkan topi itu.
"Kalau begitu, aku permisi dulu kak" ucap Ziva undur diri.
"Tunggu Ziva" ucap Fino yang menghentikan langkah Ziva.
Terdengar suara tepuk tangan di belakang mereka. Baik Ziva maupun Fino melihat sosok yang sedang bertepuk tangan.
"Bagus sekali, kalian berduaan di taman" ucap Darren dengan wajah yang sulit diartikan.
Darren langsung mencengkeram lengan Ziva dengan kuat, membuat Ziva meringis kesakitan.
"Darren jangan sakiti Ziva, ini tidak seperti yang kau lihat" ucap Fino yang berhasil menghentikan langkah Darren.
"Aku tahu, kau sangat menyukai istri ku. Dan aku tidak akan tinggal diam, karena dia milikku" ucap Darren dengan suara meninggi yang sudah tersulut emosi yang sudah melepaskan tangannya dari lengan Ziva.
__ADS_1
"Ya memang benar, sampai sekarang aku masih menyukai Ziva. Dan ingat baik-baik jika kau sampai menyakiti dia sekecil pun, aku tidak akan memaafkan mu. Aku sudah berusaha keras untuk melupakannya tapi tetap saja, begitu sulit bagiku" ucap Fino yang kembali duduk di kursi taman.
"Stop!!!, aku tidak ingin menjadi perdebatan kalian. Aku dan kak Fino tidak melakukan apa-apa seperti yang kau tuduhkan. Aku mengembalikan topi itu. Kau hanya salah paham"ucap Ziva menjelaskan.
Darren langsung mengangkat tubuh Ziva dan mengendongnya layaknya karung beras masuk ke dalam rumah.
Ziva hanya meronta-ronta untuk diturunkan. Tapi tetap saja Darren tidak peduli. Karena dia sudah tersulut emosi. Para pelayan wanita hanya menjadi penonton sepasang suami istri itu.
Darren langsung membuka pintu kamarnya kemudian menguncinya. Lalu ia menghempaskan tubuh Ziva diatas tempat tidur. Sementara Ziva menjadi waspada dengan sikap Darren yang sangat menakutkan.
Darren membuka jasnya dan melemparnya ke sembarang arah. Kemudian ia kembali membuka kancing kemejanya satu persatu.
"Bersiaplah aku akan membuat mu hamil" ucap Darren dingin yang menatap tajam Ziva. Kemudian berlalu menuju toilet.
Darren terlebih dahulu membersihkan tubuhnya yang sangat lelah.
Ziva hanya duduk diam mencerna ucapan Darren.
"Apa dia akan melakukannya. Aku jadi takut.. tidak, aku harus cari cara" ucap Ziva panik.
Darren tampak segar yang hanya mengenakan jubah mandi dengan rambut basah.
Tok
tok
tok
Terdengar ketukan pintu dari luar. Darren langsung berjalan membukakan pintu. Tampak Milan bersama 5 seorang wanita berdiri di depan pintu kamarnya yang tersenyum ramah bahkan terpesona dengan ketampanan Darren, 2 diantaranya menggunakan jas putih yang jelas sekali bahwa dia seorang dokter dan lainnya pelayan wanita.
Darren lalu berjalan menghampiri Ziva dan menyuruhnya untuk menemui 5 wanita di depan kamarnya.
Ziva berjalan lemas menemui mereka. Kemudian para pelayan menuntun Ziva untuk duduk di sofa ruang tamu yang berada di lantai 4.
"Kami akan memeriksa nona terlebih dahulu" ucap dokter itu ramah.
Ziva hanya mampu diam seribu bahasa, lehernya bagaikan tercekik melihat mereka semua.
Dokter tersebut dengan telaten memeriksa kondisi Ziva dengan lengkap mulai dari tekanan darah hingga mengambil sampel darah Ziva. Bahkan peralatan medisnya pun tersedia dengan lengkap.
Sementara Darren yang sudah berpakaian santai hanya mampu memperhatikan istrinya.
"Kondisi nona Ziva semuanya baik dan normal" ucap dokter tersebut.
"Untuk sampel darahnya, semuanya diatas rata-rata dan terbilang normal untuk wanita umur 20 an ke atas" ucap dokter yang satu.
"Pemeriksaan nya sudah selesai tuan Darren, kalau begitu kami permisi dulu" ucap dokter tersebut.
Darren hanya mampu mengangguk. Sementara Milan mengantar para dokter tersebut.
Kini giliran ke 3 pelayan wanita yang akan unjuk gigi.
Ziva menatap tajam Darren. Ia meminta penjelasan tentang semua ini. Tapi Darren hanya bersikap acuh lalu berjalan menuju lift.
Para pelayan sedang membantu Ziva membersihkan tubuhnya. Berkali-kali Ziva menyuruh mereka untuk pergi, tapi tetap saja mereka menolak. Karena bila melanggar perintah tuannya maka nyawa mereka yang menjadi taruhannya.
Ziva menjadi pasrah dan membiarkan mereka melakukan pekerjaannya. Setelah selesai, para pelayan kembali mengeringkan rambut panjang Ziva. Sementara pelayan satunya merias wajah Ziva.
Nona Ziva benar-benar cantik, ternyata dia menyembunyikan wajahnya selama ini dan tuan Darren sangat beruntung memilikinya. Batin pelayan wanita yang sedang merias wajah Ziva.
"Tolong kenakan gaun ini nona" ucap pelayan itu.
Ziva memegang gaun berwarna merah yang terlihat seksi dan mengangkat nya tinggi-tinggi.
"Gaun ini kurang bahan, aku tidak ingin memakainya" ucap Ziva dengan sedikit bentakan.
"Mohon kerjasama nya nona, kami hanya ingin tetap bekerja di kediaman Alexander" ucap para pelayan itu sambil bersimpuh di hadapan Ziva.
"Jangan lakukan itu, berdirilah" ucap Ziva yang merasa kasihan kepada mereka. " Baiklah saya akan mengenakan gaun ini, lebih baik kalian istirahat, ini sudah larut malam" ucap Ziva yang menyuruh mereka pergi.
Kini Ziva sudah mengenakan gaun berwarna merah yang begitu seksi yang tanpa lengan bahkan punggungnya terekspos dengan jelas. Dia menatap dirinya di pantulan cermin layaknya wanita penggoda.
"Apa lelaki itu sudah gila, membuatku berpakaian seperti ini" ucap Ziva kesal yang menatap dirinya di pantulan cermin.
Lalu iapun kembali mengambil kimono untuk menutupi tubuhnya.
Terdengar suara pintu terbuka dan menampilkan sosok Darren dengan wajah yang sulit diartikan yang langsung menatap tajam Ziva. Setelah itu, ia kembali mengunci kamarnya dan berjalan menuju tempat tidur untuk membaringkan tubuhnya yang lelah.
Ziva yang sedang duduk manis di kursi meja rias tampak gugup melihat keberadaan Darren.
Darren pun menjadi panas dingin melihat kecantikan Ziva, bahkan jantung nya sudah memompa lebih cepat.
Bersambung....
__ADS_1
Mohon maaf bila alurnya tidak sesuai 🙏