
Tepat pukul 18.30 waktu setempat, Ziva baru saja tiba di kediamannya. Kemudian Ziva bergegas ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya dan tak lupa pula ia melaksanakan shalat Maghrib. Setelah selesai menjalankan ibadahnya, Ziva lalu berjalan menuju meja rias untuk menyisir rambutnya yang basah.
Sambil memperhatikan wajah nya di depan cermin, Ziva kembali mengingat kejadian tadi siang saat ia menghadiri pergelaran fashion show trendly yang banyak di hadiri oleh para pengusaha.
"Tidak kah para gadis itu malu memamerkan tubuhnya di depan khalayak" gumam Ziva yang sedang menyisir rambut panjang nya.
Saat menyaksikan pergelaran fashion show trendly Ziva sebagai seorang wanita merasa malu menyaksikan pergelaran fashion show tersebut yang menghadirkan para model dengan desain baju yang kurang bahan. Seandainya saja tadi ia batalkan jadwalnya tersebut.
Tok tok tok
"Masuk saja, tidak di kunci kok" ucap Ziva yang masih setia duduk sambil memandangi wajahnya di depan cermin.
"Nona Ziva, tuan besar menunggu anda di ruang kerjanya" ucap Maria.
"Baik mbok, katakan pada kakek ya mbok, bahwa cucu tersayang nya masih sibuk dandan" ucap Ziva disertai dengan senyuman manis nya.
"Siap non, kalau begitu mbok permisi dulu" ucap Maria.
Sejak kapan non Ziva suka dandan. Batin Maria.
Sementara Ziva langsung menyambar hijab praktis nya. Ya seperti itulah karakter Ziva di dalam rumah ia terkadang memakai cadar dan terkadang tidak. Dan untuk di luar rumah jangan di tanya lagi ia akan menjelma menjadi gadis yang tertutup dan sopan santun.
Lalu ia menuruni anak tangga untuk menemui kakeknya.
Tok tok tok
"Masuk" ucap tuan Harris dengan suara parau nya.
Ziva kemudian masuk dan berjalan menuju sofa yang diduduki oleh tuan Harris.
"Kakek rindu ya sama Ziva" ucap Ziva yang sudah duduk di samping kakeknya.
"Iya nak, kamu tahu, kenapa kakek menyuruh mu kesini?" tanya tuan Harris pada cucunya.
Sementara Ziva hanya menggeleng sebagai jawabannya.
Kemudian tuan Harris menghela nafasnya dalam-dalam dan perlahan-perlahan menghembuskan nya.
"Begini nak, sebenarnya kedua orang tua kamu masih hidup" ucap tuan Harris dengan suara berat.
Sementara Ziva yang mendengar ucapan Kakeknya bagaikan mendapat sebuah bintang yang jatuh dari langit.
Ziva hanya menutup mulutnya lalu memeluk sang kakek dan tak terasa tangisnya pecah mendengar Isak tangis dari sang kakek.
Hiks hiks hiks.
Hiks hiks hiks.
"Maafkan kakek ziva, karena merahasiakan kebenaran ini dari mu nak" ucap tuan Harris yang begitu menyesal.
"Tidak kek, Ziva cuman ingin berterima kasih kepada kakek karena sudah merawat Ziva sampai sekarang" ucap Ziva.
Hanya tangisan yang mengiringi mereka dalam ruangan tersebut.
Setelah keduanya merasa capek menangis lalu keduanya kembali tertawa.
Sementara di tempat lain
Donna baru saja tiba di club malam tempat yang menjadi jadwal mereka bertemu dengan Direktur utama perusahaan Alexander Group.
Dengan melakukan penyamaran ala-ala Ziva Donna tampak gugup memasuki tempat tersebut.
"Tolong perlihatkan hak akses anda nona?" tanya seorang penjaga club malam tersebut.
"Begini, saya dari perusahaan ZD Group ingin bertemu dengan tuan Darren Alexander Tiger dan kami sudah mengadakan janji di tempat ini" ucap Donna.
"Ooh maaf nona, mari saya antar ke ruangan pak Darren" ucap penjaga club tersebut.
Kemudian Donna mengikuti langkah sang penjaga dan tampak kerlap-kerlip lampu memenuhi ruangan tersebut dan bau dari minuman alkohol yang mendominasi ruangan tersebut, selain itu banyaknya muda-mudi yang bersenang-senang melepaskan beban mereka dengan jalan yang salah.
Saat berada di depan pintu ruangan yang begitu megah, kemudian Penjaga club mempersilahkan Donna untuk memasuki ruangan tersebut.
Dengan hati-hati Donna membuka pintu ruangan itu dan menampilkan beberapa sosok pebisnis yang sedang bersantai di ruangan tersebut ditemani sang penguasa perusahaan Alexander Group.
"Silahkan masuk nona" ucap salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Selamat malam semua"ucap Donna ramah dan berjalan mencari kursi yang kosong.
"Di sini saja nona" ucap lagi teman satunya.
"Sorry pak, tapi disini lebih nyaman" ucap Donna yang menunjuk kursi yang ditempatinya.
"Hemm" Deheman keras berhasil lolos dari sang penguasa Alexander Group. Yang berarti ia begitu kesal dengan tingkah orang-orang di sekitarnya.
Seketika mereka semua diam dan tak berkutik.
"Saya tidak menunggu kedatangan anda nona Donna" ucap Darren yang tidak mau berbasa-basi karena dari gerak-gerik yang mencurigakan ia mampu menebak seseorang yang ada di hadapannya.
"Saya bukan Donna, saa-ya Zivanna Direktur utama perusahaan ZD Group" ucap Donna yang mengelak mengikuti gaya bicara Ziva.
Darren Kemudian bangkit dari duduknya dan bertepuk tangan atas bakat akting yang ditunjukkan Donna.
"Ibu Donna lebih baik anda jujur, mengapa anda berpenampilan seperti nona Ziva" ucap Rey yang angkat bicara dan geram melihat kelakuan Donna.
"Saya ini Ziva Z-I-V-A, berapa kali saya harus jelaskan kepada tuan-tuan yang terhormat" ucap Donna yang lagi-lagi tidak mau kalah.
"Baiklah, jika nona tidak mau ngaku" ucap Darren dingin. Lalu kembali duduk dengan senyum licik diwajahnya.
Sementara Rey menekan tombol darurat di ruangan itu. Seketika para anak buah Darren yang merupakan anggota The Tiger berhambur masuk dengan membawa pistol mereka masing-masing.
Ruangan tersebut tampak memberikan aura dingin dan ibarat berada dalam kandang harimau yang bisa saja menerkamnya hidup-hidup. Dan untuk rekan bisnis Darren hanya bisa diam dan menunjukkan wajah tanpa dosa.
"Ada apa ini"ucap Donna yang tampak ketakutan.
"Beri wanita ini pelajaran dan kalau perlu lenyapkan saja" ucap Darren dingin yang menaikkan kakinya di atas meja.
Tidak butuh waktu lama seluruh anak buah Darren langsung merundung Donna dengan pistol mereka masing-masing dan siap melenyapkan Donna.
Donna yang ketakutan langsung ngaku dan membuka cadar dan hijab yang melekat di kepalanya. Kemudian ia bersimpuh memohon pengampunan dihadapan Darren.
"Tolong ampuni saya tuan Darren, saya mengaku salah telah membohongi tuan dengan berpura-pura jadi nona Ziva" ucap Donna ketakutan.
"Ha ha ha ha, hebat sekali anda nona meminta pengampunan dari saya. Cepat katakan mengapa boss mu tidak datang menemui ku hah!." bentak Darren dengan wajah yang marah. "kau tahu aku paling benci terhadap orang yang ingkar janji" ucap Darren dingin lalu menuangkan wine ke gelas nya.
"Ampuni saya tuan Darren, nona Ziva berhalangan datang, jadi saya yang menggantikan nya" ucap Donna jujur dengan suasana ketakutan yang menyelimutinya.
Brukk
Syukurlah kaulah penyelamat ku Gamal. Batin Donna
"Maaf atas kelancangan saya tuan-tuan" ucap Gamal.
Kemudian ikut bersimpuh di samping Donna.
"Hei apa yang kau lakukan bodoh" bisik Donna.
"Ini semua gara-gara kamu"balas Gamal.
"Maaf pak Gamal dan ibu Donna kedatangan anda di tempat ini tidak dibutuhkan. Jadi mohon hubungi nona Ziva untuk datang ke tempat ini sekarang juga, sebelum tuan Darren marah besar" Ucap Rey yang mengingatkan.
"Baaaaiikk tuan Rey" ucap Donna yang tergagap.
Kemudian langsung menghubungi Ziva untuk datang ke tempat tersebut.
Sementara Ziva yang masih diselimuti kesedihan plus kebahagiaan tampak duduk diam di ruangan sang kakek tanpa adanya obrolan.
"Maafkan kakek ziva" ucap tuan Harris yang angkat bicara dan siap menceritakan kejadian di masa lalu. "sebenarnya....." ucap tuan Harris terjeda, karena tiba-tiba bunyi dering ponsel Ziva menggema di ruangan tersebut.
"Maaf ya kek Ziva angkat dulu panggilan masuk dari ibu Donna" ucap Ziva lalu berjalan menjauh dari tempat tersebut.
Percakapan via telepon.
"Assalamualaikum kak Donna" ucap Ziva.
"Waalaikumsalam nona Ziva, begini nona tolong selamatkan saya. Saya butuh pertolongan anda" ucap Donna.
Lalu Rey langsung mengambil ponsel Donna dan mematikan sambungan telepon nya.
"Halo, kak Donna, anda baik-baik saja" ucap Ziva.
"Halo halo kak Donna".
__ADS_1
"Astaga ternyata sudah di matiin sambungan telepon nya" ucap Ziva.
Ya Allah semoga kak Donna selalu dalam lindunganmu. Batin Ziva
Ziva kemudian bergegas menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Setelah dirasa cukup dengan pakaian santainya plus cadarnya, ia tak lupa menyambar jaketnya untuk menghangatkan tubuhnya.
Kemudian Ziva buru-buru menuruni anak tangga untuk berpamitan pada kakeknya.
"Kamu mau kemana nak?" tanya tuan Harris.
"Ziva ada urusan penting kek, kalau begitu Ziva pergi dulu. Assalamualaikum kek" ucap Ziva yang terburu-buru.
"Waalaikumsalam nak, hati-hati. Baron akan menyusul mu" Ucap tuan Harris.
Sementara Ziva tampak acuh dengan ucapan sang kakek, karena dari dulu setiap ia ijin keluar pasti Baron yang jadi pengawalnya.
Tak butuh waktu lama Ziva sudah sampai di depan club malam tersebut. Kemudian ia memarkirkan motornya di area parkir. Lalu Ziva berjalan menuju para penjaga club malam tersebut.
"Permisi pak, saya ada janji dengan pimpinan perusahaan Alexander Group di sini" ucap Ziva ramah.
"Perlihatkan identitas diri anda nona" ucap penjaga tersebut.
"Ini pak" ucap Ziva yang memperlihatkan identitas dirinya.
Para penjaga itu saling pandang.
"Ikuti saya nona" ucap penjaga itu.
Sebelum memasuki club malam tersebut Ziva lagi-lagi memohon perlindungan dari sang khalik.
Ya Allah ampunilah hamba mu ini yang harus masuk ke tempat laknat ini, lindungi lah hamba dari segala marabahaya. Batin Ziva.
Kemudian ia mengekor di belakang para penjaga club itu. Dan lagi-lagi Ziva hanya menundukkan pandangannya tanpa perlu melihat disekelilingnya.
Setelah mereka tiba didepan pintu, kedua penjaga club tersebut meninggalkan Ziva.
Tanpa menunggu lama Ziva langsung mendobrak pintu ruangan itu dengan keras dan seluruh penghuni di ruangan tersebut tampak memandang ke arah Ziva, termasuk Darren.
Ziva begitu marah melihat kedua sosok sekertaris nya sedang dirundung dengan pistol.
"Wah ternyata biang kerok nya muncul juga" ucap Darren yang sedang memainkan ponselnya.
"Apa yang sedang terjadi, dan mengapa sekertaris saya di rundung seperti ini" ucap Ziva dengan suara lantang.
"Ini semua karena ulah anda nona Ziva" ucap Rey.
"Ya itu semua salah kamu gadis buruk rupa" ejek Darren. "Dan sebagai balasannya perusahaan saya tidak akan melakukan kerja sama dengan perusahaan mu" ucap Darren.
"Bagus kalau begitu tuan, saya juga tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan yang bisanya merundung orang dengan cara licik" ejek Ziva.
Darren yang merasa terpancing dengan ucapan Ziva langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Ziva.
Satu langkah
Dua langkah
Hingga jarak Darren dengan Ziva begitu dekat. Sehingga terlihat jelas pandangan mata mereka bertemu.
"Coba ulangi lagi ucapan mu nona" ucap Darren.
Sementara seluruh penghuni ruangan tersebut tampak diam dan mati kutu, yang jadi nya ingin ke toilet terpaksa mengundurkan niatnya.
"Saya ingin memberi anda pelajaran" ucap Ziva, kemudian langsung mengarahkan tinjunya ke perut Darren.
Akan tetapi teknik beladiri diri Darren pun yang mumpuni dan tidak bisa di ragukan lagi dengan cepat menghindari serangan Ziva yang tiba-tiba.
"Yang tidak berkepentingan cepat tinggalkan tempat ini" ucap Darren marah.
Seketika mereka yang tidak berkepentingan langsung bergegas meninggalkan ruangan itu. Sementara Donna dan Gamal masih saja dirundung pistol oleh anak buah Darren sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Sehingga yang tersisa hanya Ziva dan Darren.
Bersambung......
Alhamdulillah aku balik lagi nih nulisnya.
__ADS_1
Semua ini berkat doa dan dukungan dari teman-teman sekalian.🙏🙏
Maaf ya bila alurnya tidak sesuai 🙏