
Darren baru saja tiba di kediamannya tepat pukul 20.00 waktu setempat, ia melihat ibunya sedang bersantai sambil membaca majalah dengan suguhan teh hijau dari para pelayan.
"Eeh kamu sudah pulang sayang" ucap nyonya Ratu yang melihat kedatangan putranya.
Darren langsung tersenyum ke arah ibunya. Lalu iapun menghampirinya sambil mencium pipi kanan ibunya.
"Mama sangat bahagia, sebentar lagi kakakmu akan menikah nak" ucap nyonya Ratu dengan wajah yang berseri-seri sambil memegang tangan putranya.
Darren ikut bahagia melihat sosok ibunya begitu bahagia.
"Aku ke kamar dulu ma" ucap Darren.
"Mama hampir lupa. Sarah mengajak Rissa dan Ziva ke tempat spa, tapi sampai sekarang mereka belum pulang. Mama sudah mengutus pengawal untuk menjemput mereka" ucap nyonya Ratu.
Darren malah berjalan menuju lift tanpa mendengar ucapan ibunya.
Nyonya Ratu hanya mampu geleng-geleng kepala melihat tingkah laku putranya.
Darren memasuki kamarnya dengan wajah yang terlihat lelah+kesal, entah mengapa ia menjadi kesal tidak mendapati istrinya di rumah.
"Beraninya kau berkeliaran di luaran sana, hingga lupa waktu, kau bahkan sudah melewati batas mu" ucap Darren yang tengah membuka satu persatu kancing kemejanya.
Lalu iapun menghubungi Jones dan Milan untuk mencari keberadaan istrinya.
Setelah itu, ia pun berjalan menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya yang lelah seharian bekerja.
Sementara Ziva baru saja makan malam bersama dengan Riko dan lainnya. Ziva menikmati makanannya dengan lahap bersama mereka.
"Alhamdulillah, terima kasih paman atas
jamuan nya, makanannya sungguh lezat. Aku sangat senang makan malam bersama kalian" ucap Ziva dengan sedikit senyuman dibalik cadarnya.
"Ini merupakan suatu kehormatan bagi saya, bisa makan malam bersama nona Ziva" ucap Riko.
__ADS_1
"Paman bisa saja" ucap Ziva dengan suara merdunya.
"Nona Ziva, Tuan Alvin ingin berbicara dengan nona" ucap Riko, lalu menyerahkan ponselnya.
Dengan mata berbinar Ziva meraih ponsel tersebut dengan perasaan bahagia. Untungnya panggilan masuk itu dialihkan menjadi video call. Ziva lalu membawa ponsel tersebut masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan oleh Riko untuknya.
"Assalamualaikum ayah" ucap Ziva dengan mata yang mulai berkaca-kaca melihat ayahnya.
"Waalaikumsalam nak, bagaimana kabarmu disana nak" tanya tuan Alvin lega melihat putrinya.
"Alhamdulillah baik ayah. Aku sangat rindu kepada ayah, apa ayah sehat disana" ucap Ziva.
"Alhamdulillah sehat nak" ucap tuan Alvin yang tersenyum bahagia. Nyonya Ira yang baru saja masuk ke ruang kerja suaminya dengan cepat menghampirinya, karena mendengar suara putrinya.
"Mana Ziva mas, aku ingin melihatnya" ucap nyonya Ira yang sudah tidak sabaran untuk melihat putrinya.
Tuan Alvin lalu memperbaiki posisi laptopnya agar mereka bisa melihat bersama wajah putrinya.
"Ziva juga rindu bunda" ucap Ziva dengan Isak tangis yang sudah diselimuti perasaan haru dan bahagia.
"Kami ingin sekali memelukmu sayang. Bahkan bunda ingin ikut menjemputmu nak" ucap nyonya Ira yang ikut terisak sambil memeluk lengan sang suami.
Ziva hanya mampu tersenyum sambil menghapus air matanya. Ia merasa lega melihat kedua orang tuanya, perasaan rindu mulai sedikit terbayarkan melihat mereka berdua.
"Mana kakek ayah, aku ingin sekali melihat nya" ucap Ziva dengan senyum manisnya.
Deg
Kedua pasangan suami istri itu hanya mampu saling pandang dan tidak bisa berkata-kata lagi mengenai pertanyaan putrinya.
"Ayah tidak akan membiarkan putra Alexander berbuat semena-mena kepada mu nak. Apalagi sampai membuat mu terluka, ayah tidak akan pernah mengampuni nya. Pulanglah malam ini bersama Riko. Karena ayah tidak ingin kau bernasib sama dengan kakek mu" ucap tuan Alvin tegas yang mengalihkan pembicaraan putrinya.
"Ada apa dengan kakek ayah, bagaimana bisa ayah mengatakan bahwa aku akan bernasib sama dengan kakek. Tolong jelaskan ayah " ucap Ziva bingung.
__ADS_1
Keduanya hanya saling diam dan lagi-lagi tidak mampu berkata-kata. Nyonya Ira mulai meneteskan air mata sambil menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.
"Mana kakek bunda. Aku ingin sekali melihatnya. Bunda tolong jelaskan apa yang terjadi dan mengapa bunda menangis" ucap Ziva yang ikut menangis melihat ibunya menangis.
Nyonya Ira semakin terisak sambil memeluk sang suami.
"Kau tidak bisa lagi melihatnya, karena dia sudah tiada.....Kakek mu sudah meninggal"ucap tuan Alvin dengan mata berkaca-kaca.
Deg.
Bagaikan tersambar petir mendengar ucapan ayahnya. Hatinya menjadi sesak, bahkan air matanya mengalir dengan sendirinya yang sudah membasahi wajahnya. Ziva sama sekali tidak percaya dengan ucapan ayahnya.
"Itu tidak benar ayah, jangan berbicara seperti itu....hiks... hiks..... hiks...aku sama sekali belum membahagiakan kakek..hiks...hiks... dan aku sangat menyayanginya, aku benar-benar takut kehilangan kakek dan kalian. Tolong jangan sakiti aku dengan ucapan ayah....bunda tolong katakan bahwa ucapan ayah tidak benar....aku tidak percaya" ucap Ziva yang meraung-raung dengan Isak tangisnya yang tidak bisa menerima kenyataan.
Nyonya Ira sudah tidak kuasa menahan air matanya, ia hanya mampu mengeratkan pelukannya. Sementara tuan Alvin terlihat tegar dengan mata berkaca-kaca.
"Semua ucapan ayah benar, kakek mu sudah tiada. Putra Alexander berhasil merenggut nyawa kakek mu. Jadi..ayah ingin kau pulang bersama Riko malam ini. Pokoknya kau harus pulang bersama Riko malam ini. Jika tidak maka ayah sendiri yang akan menjemputmu di kediaman Alexander"ucap tuan Alvin tegas dengan mata berkaca-kaca yang kembali diselimuti emosi jika mengingat kejadian tersebut.
"Mas sudahlah, ayah sudah tenang di alam sana. Mohon jangan ada lagi pertikaian antara kalian dengan keluarga Alexander. Aku tidak ingin melihat kalian semua terluka. Tolong pikirkan putri kita disana, aku tidak ingin Ziva kenapa-kenapa mas. Kumohon... lihatlah putri kita, dia sangat terpukul mendengar ucapan mu mas" ucap nyonya Ira dengan Isak tangisnya.
Ziva hanya mampu menangis sejadi jadinya, hatinya begitu sesak, ia begitu terpukul, kakek yang sangat disayanginya sudah tiada. Seandainya waktu bisa berputar ia lebih memilih mati bersama sang kakek.
"Ini semua salahku, aku membenci diriku yang tidak bisa menjaga kakek..hiks...hiks...hiks...Kakek...hiks....hiks.. mengapa kau pergi secepat ini kek....hiks...hiks...aku sangat menyayangimu kek..kau malaikat tak bersayap dalam hidupku, kau bagaikan ayah sekaligus seorang ibu dalam hidupku....Ya Allah kenapa secepat itu kau mengambil kakekku...hiks...hiks" ucap Ziva dengan tangisnya yang tidak terima kenyataan.
"Putriku...Ini sudah takdir Allah SWT....semua makhluk yang bernyawa pasti akan mati dan kembali ke asalnya. Kakek mu orang baik, Allah lebih menyayangi nya, jadi jangan salahkan dirimu nak. Kakek mu sudah tenang di alam sana" ucap nyonya Ira yang berderai air mata.
"Ayah tidak akan pernah memaafkan keluarga Alexander sampai kapan pun. Kau harus pulang bersama Riko malam ini juga dan jangan membantah ucapan ayah" ucap tuan Alvin tegas dengan mata berkaca-kaca. Lalu iapun memutuskan panggilan nya, karena tidak kuasa melihat putrinya bersedih.
Sementara Ziva sudah merosot di lantai. Air matanya mengalir dengan sendirinya. Ponselnya ia letakkan di sofa. Hatinya sangat sesak dan begitu hancur, ia masih belum percaya dengan kematian kakeknya. Ia hanya mampu menangis sejadinya di kamar itu.
Bersambung...
Makasih teman-teman atas komentarnya 🙏🙏, aku sepertinya oleng dalam menulis episode ini, sampai kepikiran terus ke nyonya Ratu. Tapi Alhamdulillah aku sudah edit ya 🙏🙏.
__ADS_1