
Ziva menjalani proses pemeriksaan kandungan yang di dampingi langsung oleh sang suami. Tak henti-hentinya pasangan suami istri itu, selalu saja tersenyum dengan penuh kebahagiaan saat keluar dari ruangan khusus dokter kandungan. Entah apa hasil nya, yang jelas kedua nya begitu bahagia.
Mereka pun berjalan menyusuri lorong rumah sakit sambil bergandengan tangan. Tangan Kiri Darren membawa sebuah amplop coklat yang merupakan hasil USG kandungan Ziva.
"Aku ingin sekali mencicipi buah jeruk" ucap Ziva manja.
"Sabar sayang, Jones akan membawakan untuk mu" ucap Darren.
"Lama banget, mending kita beli di supermarket di dekat rumah sakit ini" ucap Ziva yang sudah ngiler untuk mencicipi buah jeruk.
Kemana perginya jones, membuat istri ku menunggu lama. Batin Darren.
"Jones akan datang membawa buah jeruk untuk mu sayang, lebih baik kita menunggu di mobil saja" ucap Darren yang menenangkan istrinya.
"Baiklah, aku akan menunggu 5 menit. Jika lewat dari 5 menit. Kita ke supermarket saja ya" ucap Ziva sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Hemm"
Lalu mereka pun berjalan menuju parkiran mobil mereka.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil sudah lewat dari 5 menit mereka menunggu kedatangan Jones. Darren pun mengeluarkan kotak bekal yang berisi aneka macam buah segar yang sempat disiapkan pelayan untuk istrinya. Namun buah jeruk tidak berada di dalam kotak bekal tersebut.
"Lebih baik kamu makan buah-buahan ini saja" ucap Darren lalu menyuapi istrinya.
Ziva hanya menggeleng tidak mau memakan buah segar tersebut.
"Jangan seperti ini, aku tidak ingin anak-anak kita dalam perutmu, tidak tumbuh dengan baik" ucap Darren yang menandakan sebuah peringatan pertama dengan tatapan tajam.
"Tapi aku sama sekali tidak berselera untuk memakan buah itu" ucap Ziva.
Tapi Darren tetap kekeh untuk memaksanya memakan buah segar itu.
"Baiklah jika kamu tidak ingin memakan buah segar ini. Sepertinya cara lain harus aku lakukan" ucap Darren dengan seringai licik diwajahnya.
Darren kemudian memasukkan buah segar itu ke dalam mulutnya, lalu iapun memajukan wajahnya ke wajah sang istri.
Ziva pun menjadi heran dengan tingkah laku Darren.
"Kau mau apa" ucap Ziva dengan suara meninggi sambil membulatkan matanya melihat Darren terus memajukan wajahnya.
Darren pun menarik tengkuk Ziva, namun Ziva pun melakukan perlawanan dengan membenturkan kepalanya ke wajah Darren.
"Aduh...Kau ingin menghilangkan gigiku hah" bentak Darren yang terlihat kesakitan, bahkan buah di dalam mulutnya terjatuh.
"Salah mu sendiri, siapa suruh bertingkah aneh di dalam mobil" ucap Ziva dengan suara lantang.
"Aku hanya ingin membuat mu memakan buah segar ini dengan cara ku" ucap Darren dengan suara meninggi yang terlihat kesal.
"Tapi kau seperti ingin berbuat macam-macam kepada ku, dan kamu tahu aku merasa jijik dengan caramu yang seperti itu" ucap Ziva sambil menutup mulutnya, yang mulai merasa mual.
Hoek
Darren dengan sigap mengambil air mineral untuk istrinya.
"Kamu minum dulu"ucap Darren yang khawatir.
Ziva tidak mengambil air mineral itu, ia malah membuka tasnya dan mengeluarkan aromaterapi lalu ia oleskan di kening dan sedikit di pangkal hidung nya.
Setelah merasa enakan, Ziva kemudian mengambil kotak bekal tersebut, dan perlahan menghabiskan buah segar itu. Darren pun tersenyum melihat Ziva memakan buah segar tersebut.
Jadi seperti ini cobaan seorang suami terhadap istri yang tengah hamil. Sungguh cobaan ibu hamil membuatku pusing.
Aku harus sabar menghadapi Zivanna. Dan mengapa aku sampai membentaknya tadi.
__ADS_1
Dokter sudah mengatakan bahwa mood ibu hamil akan berubah-ubah dan dapat mempengaruhi janinnya. Jadi jika Zivanna sedang sedih, pasti Dede bayi juga akan sedih. Batin Darren yang merasa bersalah sudah membentak istrinya.
Tak berselang lama kemudian, Jones baru saja tiba bersama 2 anak buahnya dengan membawa kantong kresek yang berisi buah jeruk permintaan tuannya.
Jones dengan hati-hati mengetuk pintu mobil tuannya.
Darren lalu menurunkan kaca jendela mobilnya dan mengambil kantor kresek tersebut.
"Sayang ini jeruknya, bukankah kau ingin memakan buah ini" ucap Darren dengan sedikit senyuman.
Sementara Ziva mengalihkan pandangannya ke sebrang jalan tanpa ingin menimpali ucapan suaminya.
"Aku ingin menemui keluarga ku" ucap Ziva tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Baiklah, setelah aku mengantarmu, aku akan ke kantor" ucap Darren.
Sementara Ziva hanya diam, entah mengapa ia merasa kesal dan sedih di bentak oleh suaminya.
Darren lalu mengibaskan tangannya untuk menyuruh Jones mengemudikan mobilnya.
Mobil yang membawa mereka berlalu meninggalkan area rumah sakit.
Sepanjang perjalanan hanya terjadi kecanggungan diantara sepasang suami istri itu. Darren berusaha bersikap manis kepada Ziva, namun Ziva seolah bersikap acuh terhadap nya.
Tak terasa hanya 30 menit mereka tiba di kediaman keluarga Ziva. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ziva turun dari mobil dan berjalan memasuki mansion ayahnya. Darren hanya mampu mengekor di belakangnya.
"Assalamualaikum ayah" ucap Ziva yang memberi salam kepada ayahnya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Waalaikumsalam putriku" ucap tuan Alvin sambil tersenyum melihat Ziva dan Darren.
Ziva langsung menghambur memeluk ayahnya.
Sementara tuan Alvin hanya tersenyum melihat tingkah manja putrinya. Ziva sama sekali tidak melepaskan pelukannya.
Darren lalu mencium punggung tangan ayah mertuanya.
"Saya titip Zivanna ayah, soalnya saya harus ke kantor" ucap Darren.
"Hemm". Hanya deheman yang berhasil lolos dari mulut tuan Alvin. Ia bahkan tidak meminta menantunya untuk berlama-lama.
Setelah selesai berpamitan, Darren pun meninggalkan mansion tuan Alvin.
"Dia bahkan tidak berpamitan dengan ku" ucap Ziva kesal sambil melepaskan pelukannya dari sang ayah.
Tuan Alvin hanya mampu tersenyum melihat tingkah laku putrinya yang menurutnya lucu.
"Sayang....mana suamimu" ucap nyonya Ira yang duduk di samping suaminya.
"Darren hanya mengantar Ziva kesini, terus dia ke kantor" ucap tuan Alvin.
"Putri ku.. bagaimana kondisi kehamilan mu" ucap nyonya Ira yang sedang memeluk putrinya.
"Alhamdulillah baik Bun. Aku ingin menginap di rumah ini dan tidur bareng bersama ayah dan bunda, boleh ya" ucap Ziva.
"Ya tentu boleh, kalau begitu kamu harus mencicipi masakan bunda yang sangat spesial untuk orang terkasih bunda dan dijamin tidak akan galau lagi" ucap nyonya Ira sambil tersenyum.
"Pasti masakan bunda sangat enak" ucap Ziva sambil tersenyum di balik cadarnya.
"Ayo sayang" ucap nyonya Ira. Lalu mereka bersama-sama menuju ruang makan.
Sepanjang perjalanan ke kantornya, Darren hanya mampu diam. Ia merasa bersalah kepada Ziva. Padahal ia baru saja mendapatkan arahan dari dokter untuk selalu menyenangkan istrinya yang tengah hamil.
Tidak hanya itu, Darren pun menjadi tidak enak hati kepada ayah mertuanya yang langsung menatapnya dengan tatapan tajam seolah ingin menghajarnya.
__ADS_1
Ditambah istrinya yang sedang ngambek, mungkin ia akan lebih banyak mengalah kepada istrinya untuk kedepannya.
🍁🍁🍁🍁
Sementara di kediaman Alexander....
Milan habis mencicipi 4 buah jeruk yang sempat ia minta dari jones. Entah mengapa hanya melihat seseorang sedang memetik buah jeruk dari jendela kamarnya, ia merasa ingin sekali mencicipi buah jeruk yang dipetik oleh Jones dan anak buahnya.
Ehoekkk
Milan langsung menutup mulutnya, karena tiba-tiba saja ia langsung bersendawa. Milan pun tertawa mendengar suara sendawa nya yang begitu besar.
"Untungnya aku sendiri di taman ini, hampir saja Jones dan lainnya mendengar sendawa ku" ucap Milan sambil tertawa.
"Memang ya, bila seseorang mencuri buah majikannya. Maka akan bersendawa layaknya kuda nil" ucap seseorang dari belakang dan siapa lagi kalau bukan Fino.
Ada apa lagi ini, selalu saja mengikuti ku. Batin Milan.
"Hebat ya, kau hanya enak-enakan makan buah jeruk, sementara mama ku sedang sibuk memasakkan untuk mu hah" ucap Fino ketus dengan tatapan mengejek.
"Saya sempat membantu nyonya Ratu tuan, hanya saja...nyonya Ratu meminta saya untuk istirahat" ucap Milan sambil menunduk.
"Alasan saja kamu, mau makan buah yang gratisan" ucap Fino dingin.
Fino pun berjalan masuk ke dalam rumah, sementara Milan mengekor di belakangnya.
Suasana malam pun tiba. Berkat Omelan nyonya Ratu yang tidak mengizinkan pasangan yang baru saja menikah itu untuk pergi ke negara B, akhirnya batal.
Nyonya Ratu, Fino dan Milan sudah berada di meja makan untuk makan malam bersama. Mereka tidak menunggu kedatangan Darren dan Ziva, karena Ziva sudah memberikan informasi di sore hari, bahwa akan menginap di rumah ayahnya.
Setelah selesai makan malam bersama, nyonya Ratu mengajak Milan ke kamarnya.
Milan dengan canggung memasuki kamar ibu mertuanya.
"Kemarilah Milan" ucap nyonya Ratu yang melihat Milan masih berdiri di ambang pintu.
"Baik ma" ucap Milan.
Mereka pun duduk bersama di sofa. Nyonya Ratu langsung menarik tangan Milan, lalu memasang gelang berlian di pergelangan tangan kiri Milan.
"Ini hadiah dari mama untuk mu nak. Mama hanya ingin berpesan untuk menjaga keutuhan rumah tangga kalian. Memang kalian belum begitu akrab, namun lambat laun kalian pasti akan saling mencintai. Dan jangan lupa, cepat ikuti jejak Ziva ya, mama juga ingin menimang cucu dari kalian" ucap nyonya Ratu sambil tersenyum manis.
"Terima kasih ma, doakan saja semoga saya bisa mengikuti jejak Ziva" ucap Milan sambil menunduk.
"Pasti sayang" ucap nyonya Ratu.
Lalu mereka pun berpelukan.
Kini Milan sudah berada di dalam kamar Fino. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 waktu setempat. Milan pun baru saja mengganti pakaian nya dengan piyama tidur. Bahkan piyama tidur yang ia kenakan cukup seksi menurutnya.
"Mengapa semua piyama tidurnya seksi, aku bahkan malas gerak kalau seperti ini" ucap Milan sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia pun berjalan menuju sofa dan duduk cantik di sofa tersebut, takutnya piyama tidurnya tersibak.
Sementara Fino masih saja berada di ruang kerja nya. Entah apa yang ia lakukan yang jelas bekerja pastinya.
Setelah mata dan jari-jari nya sudah lelah, Fino pun mematikan laptop nya. Ia pun meregangkan otot-otot nya yang kaku. Dan berjalan menuju kamar nya.
Fino pun menghentikan langkahnya saat melihat Milan duduk di sofa sambil terlelap.
Dengan berinisiatif, Fino mulai mengendap-endap layaknya seorang pencuri menghampiri Milan.
"Sepertinya dia sudah tidur, biarkan saja... dia sudah terbiasa tidur seperti ini saat melakukan tugasnya" ucap Fino yang sama sekali tidak mau ambil pusing.
Fino pun kemudian mengganti pakaian nya dengan piyama tidur, setelah itu, iapun naik ke tempat tidur lalu mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
__ADS_1
Bersambung....