Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Ziva hamil ?


__ADS_3

Nyonya Ratu yang sedang berada di kediamannya terus memikirkan putra dan menantunya. Ia belum mendapatkan kabar putranya semenjak memasuki kediaman Damanik.


Nyonya Ratu terus mondar-mandir di ruang keluarga, ia terus kepikiran dengan putranya. Padahal Darren menghubungi nya bahwa ia baik-baik saja. Tapi tetap saja perasaan dan rasa khawatir seorang ibu kepada putranya tidak bisa lepas. Kepala pelayan beserta 5 pelayan lainnya hanya mampu berdiri di samping majikannya.


"Bi Wira persiapan segala keberangkatan kita. Aku harus menyusul putraku, siapkan dirimu dan tunjuk 2 pelayan untuk ikut bersama kita ke negara B" ucap nyonya Ratu.


"Baik nyonya" ucap Bi Wira yang merupakan kepala pelayan di kediaman Alexander.


Beberapa pelayan mulai bergegas mengepak barang-barang keperluan nyonya Ratu yang ingin di bawa ke negara B. Untuk masalah Paspor, tiket pesawat dan lainnya urusan Bi Wira.


Setelah di rasa seluruh persiapan keberangkatan mereka sudah selesai. Lalu mobil pun membawa mereka menuju Bandara. Nyonya Ratu sama sekali tidak mengabari salah satu putranya bahwa ia akan ke negara B.


Sementara Ziva dan Darren baru saja bersiarah ke makam tuan Harris. Ziva mengajak suaminya ke makam sang kakek untuk memanjatkan doa, dan mengirimkan Al-fatihah agar almarhum tetap Istiqomah di alam sana. Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan yang terjadi di antara mereka.


Jones yang sedang mengemudikan mobil hanya fokus ke depan dan tidak ingin banyak bicara dengan tuannya. Mereka kini tiba di gerbang utama kediaman Damanik.


Para penjaga dengan cepat membuka pintu gerbang itu dengan menggunakan remote control. Mobil mereka berlalu masuk dan berhenti tepat di halaman rumah. Jones turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu mobil tuannya.


"Zivanna aku ada urusan penting, aku tinggal dulu. Dan kemungkinan besar aku akan pulang larut malam, kau tidak usah menunggu ku" ucap Darren.


"Iya, tapi aku akan tetap menunggumu" ucap Ziva sambil tersenyum di balik cadarnya.


"Kau ini, selalu saja tidak mendengar ucapan ku" ucap Darren sambil mencium kening istrinya.


"Terus apa rencana mu selanjutnya untuk meminta restu kepada ayah ku" ucap Ziva sambil mendongak menatap Darren.


"Ya aku akan tetap berusaha keras untuk mendapatkan restu ayahmu. Tenanglah, semua pasti ada jalan keluarnya, biar kita serahkan saja kepada Tuhan" ucap Darren yang kembali memeluk istrinya.


"Sampai kapan kau terus memelukku, lihatlah anak buah mu sedari tadi menunggu aku turun dari mobil" ucap Ziva.


Darren langsung melepaskan pelukannya.


"Jangan lupa kabari aku, aku sudah menyimpan nomor telepon ku di ponselmu" ucap Darren.


"Ok, jaga dirimu" Ucap Ziva yang tersenyum di balik cadarnya.


Jones membungkukkan badannya, setelah itu menutup kembali pintu mobil. Mobil pun melaju meninggalkan pelataran rumah tuan Alvin. Ziva hanya mampu melambaikan tangannya menatap kepergian mobil suaminya.


Tak berselang kemudian sebuah mobil Jeep memasuki halaman rumahnya. Lalu turun sosok lelaki dengan setelan jasnya membukakan pintu mobil untuk seorang wanita.


Ziva sangat mengenali siapa wanita itu, saat turun dari mobil. Lalu lelaki itu tersenyum ramah kearah Ziva yang sedang menatapnya.


"Terima kasih, kau sudah mengajakku jalan-jalan. Aku sedikit lega menjalani check up untuk hari ini. Untungnya kau datang menemaniku" ucap Lexa yang terlihat bahagia.


"Kapan-kapan aku akan kembali mengajakmu jalan-jalan nona Lexa" ucap lelaki itu.


"Hemm" Ziva berdehem menghampiri mereka.


"Ziva" ucap Lexa yang seperti tertangkap basah berduaan.


"Apa aku boleh bergabung dengan kalian" ucap Ziva.


Mereka berdua menjadi salah tingkah.


"Kalau begitu saya permisi dulu, jangan lupa istirahat yang cukup" ucap lelaki itu yang begitu peduli dengan Lexa.


Lalu lelaki itu undur diri dari hadapan kakak beradik itu.


Ziva lalu memapah Lexa untuk masuk ke dalam rumah. Ziva terus saja mencari tahu siapa lelaki tadi.


"Apa lelaki itu, tuan baik kak Lexa" ucap Ziva penuh selidik.


"Iya..dia si tuan baik, kebetulan kami bertemu di rumah sakit saat bunda menemani ku check up ke rumah sakit. Dia meminta izin kepada bunda untuk mengajakku jalan-jalan. Dan kebetulan bunda sudah beberapa kali bertemu dengan nya, jadi bunda membiarkan aku untuk pergi bersamanya" ucap Lexa dengan sedikit senyuman dan jelas sekali bahwa dia menyukai lelaki tadi.


"Oh ya, semoga kakak berjodoh dengan lelaki itu" ucap Ziva yang sedang memegang lengan kakaknya.


Lexa hanya tersenyum. Lalu mereka pun masuk ke dalam lift jika malas menaiki tangga.


Sementara mobil yang membawa Darren sudah tiba di perusahaan Alexander Group yang dipimpin oleh Fino. Mereka masih di dalam mobil.


"Bagaimana keadaan Milan, aku belum sempat menghubungi nya untuk menanyakan kabarnya" ucap Darren.


"Milan sudah membaik tuan, untuk saat ini dia masih berada di mansion tuan Fino" ucap Jones.


"Hemm"


"Tuan aku tadi melihat sekertaris tuan Fino menuju kediaman nona Ziva" ucap Jones.

__ADS_1


"Chiko maksud mu" ucap Darren.


"Benar tuan, ada hubungan apa dia dengan keluarga Damanik" ucap Jones yang mulai kepo.


"Cari tahu sendiri, aku ingin menemui Fino" ucap Darren.


Jones lalu turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu mobil untuk tuannya.


"Kepala pelayan baru saja mengabari saya, bahwa nyonya Ratu baru saja tiba di mansion tuan Fino" ucap Jones.


"Mengapa mama tidak mengabari ku" ucap Darren yang sedang merapikan setelan jasnya. Lalu berjalan melewati lobi perusahaan.


"Mungkin nyonya Ratu ingin memberikan kejutan kepada tuan Darren dan tuan Fino" ucap jones yang mengekor di belakang tuannya.


"Ya sudah setelah masalah perusahaan ini selesai, aku akan segera menemui mama" ucap Darren yang sudah masuk ke dalam lift khusus untuk pimpinan perusahaan.


Kini Darren sudah berada di ruangan Fino. Mereka duduk bersama membicarakan hal yang menurutnya penting.


"Bagaimana urusan mu dengan ayah Ziva" ucap Fino yang menatap tajam adiknya.


"Tuan Alvin belum merestui pernikahan kami, aku sedang berusaha meminta restu nya. Bahkan dia menginginkan kami untuk bercerai" ucap Darren yang menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Berusahalah mengambil hatinya, cari tahu kesukaannya dan yang tidak ia sukai, cobalah berdamai dengan cara seperti itu terlebih dahulu" ucap Fino santai sambil tersenyum. Baru kali ini, ia melihat saudaranya terlihat pusing kepayang.


"Ya ya ya, kau hanya bisa berkata seperti itu. coba saja kau berada di posisi ku" ucap Darren yang menatap tajam kakaknya.


"Aku masih menyelidiki siapa dalang yang ingin mencoba membunuh Ziva. Chiko sudah mengerahkan mata-mata terbaik anggota The Tiger untuk menuntaskan masalah ini" ucap Fino.


"Tangkap secepatnya orang itu, aku tidak ingin dia menyakiti istri ku" ucap Darren yang mengepalkan tangannya.


"Betul, bukanya kamu ingin memintaku untuk bertukar posisi di perusahaan negara C" ucap Fino yang sedang membuka berkas penting perusahaannya.


"Hemm, sepertinya Ziva ingin selalu ingin dekat dengan keluarga nya" ucap Darren.


"Baiklah jika seperti, aku tidak masalah dimana-mana aku berada, yang jelas bisa meningkatkan pendapatan perusahaan kita" ucap Fino.


"Aku juga sedang meminta Chiko untuk mencari donor mata yang cocok untuk kakak Ziva yang bernama Lexa" ucap Fino yang sudah menandatangani beberapa berkas penting itu.


"Oh baguslah, jones tidak sengaja melihat sekertaris mu menuju kediaman tuan Alvin, entah apa yang dia lakukan" ucap Darren yang sudah memainkan ponselnya berharap sang istri menghubungi nya.


"Hemm, mama mungkin menghawatirkan ku" ucap Darren.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


tok


tok


tok


"Masuk" ucap Fino.


"Tuan Fino rapat tahunan akan segera di mulai, para petinggi perusahaan sudah berkumpul di ruang rapat" ucap Chiko yang melapor kepada tuannya.


Mereka lalu berjalan beriringan menuju ruang rapat tersebut.


Malam harinya......


Ziva tetap berada di dalam kamarnya. Ia lebih memilih menyendiri tanpa harus makan malam bersama dengan keluarganya, apalagi Zayn ikut makan malam bersama keluarga nya. Jadi ia memilih untuk makan cemilan di malam hari sambil menunggu kedatangan Darren.


Sementara di lantai dasar, Tuan Alvin, nyonya Ira dan Lexa sedang makan malam bersama dengan Zayn. Setelah itu, mereka kembali mengobrol di ruang keluarga.


"Bagaimana kabar ayahmu Zayn" tanya tuan Alvin.


"Kabar Abi baik om, dia nitip salam kepada om" ucap Zayn yang terlihat ramah.


"Waalaikumsalam, begini Zayn sedari dulu, om dan ayah mu menginginkan kau untuk selalu menjaga putri om. Untuk itu, om memintamu untuk menjaga Ziva, karena sebentar lagi dia akan bercerai dengan putra Alex" ucap tuan Alvin.


Seketika itu, seringai licik muncul di wajah Zayn.


"Tentu om, saya akan menjadikan Ziva sebagai istri ku,. eeeh maksud saya om menjaga Ziva dengan baik" elak Zayn dengan senyum liciknya.


"Mas jangan berbicara seperti itu, mereka bahkan belum bercerai, kau sudah meminta Zayn untuk menjaga putri kita. Mungkin Zayn sudah memiliki calon istri. Bagaimana nak Zayn, tidak mungkin tidak memiliki calon istri kan" ucap nyonya Ira sambil tersenyum tipis.


Lexa yang mendengar ucapan mereka hanya bisa menunduk, lalu undur diri.


Semoga nak Darren tetap memperjuangkan Ziva. Aku yakin mereka sudah saling mencintai dan tidak akan pernah berpisah. Batin nyonya Ira.

__ADS_1


Kasian Ziva, ayah bahkan meminta Zayn untuk menjaga Ziva yang berarti menikah dengan Zayn kan. Aku tidak ingin mereka bercerai jalan satu-satunya adalah mengatakan kepada ayah bahwa Ziva sedang hamil. Batin Lexa yang sedang berjalan bersama baby sister nya.


"Bi aku ingin duduk terlebih dahulu di lorong ruangan ini. Kalau bibi ingin pergi sebentar silahkan" ucap Lexa.


"Aku tidak ingin Ziva bercerai, aku harus melakukan sesuatu agar mereka tetap bersatu" ucap Lexa.


Terdengar suara seseorang sedang menelpon. Lexa pun berinisiatif untuk menguping sambil berjalan berpegangan di dinding tembok.


"Ada apa lagi, aku sudah katakan aku akan menemui mu kembali sayang setelah pekerjaan ku selesai. Aku sudah mentransfer uang di rekening mu.. bye" ucap Zayn sambil menutup panggilan telepon nya.


saat ingin melangkah tiba-tiba ponsel nya kembali berbunyi.


"Sarah" ucap Zayn yang tertera di layar ponselnya


"Hemm, Aku sedang berada di rumah Ziva, tenang saja, mereka akan bercerai. Dan aku akan mendapatkan Ziva" ucap Zayn.


"Bagus jika seperti itu, aku ingin tunggu kabar selanjutnya" ucap Sarah lalu mematikan ponselnya.


"Dasar, kau pikir aku tidak menginginkan Ziva, aku akan menikahi Ziva kembali dan menghancurkanmu Darren. Setelah aku puas memiliki mantan istrimu, aku akan membuangnya..ha ha ha ha" ucap Zayn yang tertawa bahagia.


Sementara Lexa yang mendengar ucapan Zayn hanya bisa menutup mulutnya mendengar pembicaraan mereka.


Ia langsung buru-buru berjalan hingga tidak tentu arah sampai-sampai menabrak Zayn.


Brukk


"Apa kau tidak punya mata, hingga menabrak ku hah" bentak Zayn, lalu menatap orang yang sudah menabraknya.


"Astaga kau memang buta, aku menjadi kasihan kepada gadis cacat seperti mu. Siapa lelaki yang tidak beruntung yang akan memiliki mu kelak ha ha ha" ejek Zayn yang berbisik di telinga Lexa.


Sementara Lexa sudah mengepalkan tangannya, baru kali ini seseorang menghinanya dengan terang-terangan.


"Kau harusnya menggunakan matamu dengan benar tuan...di rumahku, apa aku juga perlu memanggilkan seorang pelayan untuk menuntun mu berjalan di rumahku" ucap Lexa dengan ketus.


"Wah bicaramu hebat juga, harusnya kau hanya perlu bersembunyi di dalam kamarmu gadis buta" ucap Zayn yang lagi-lagi mengejek Lexa.


Darren yang baru saja tiba mendengar ucapan Zayn yang menghina Lexa, ia lalu mengepalkan tangannya dan berjalan menghampiri Zayn.


Tanpa pikir panjang Darren langsung menonjok wajah Zayn dan memukuli nya habis-habisan. Sementara Lexa mulai melerai mereka.


"Tuan Darren hentikan, ayah bisa marah besar" ucap Lexa.


Darren pun berhenti memukuli Zayn. Tuan Alvin beserta nyonya Ira mulai menghampiri mereka saat mendengar sebuah keributan. Ziva pun ikut bergabung dengan mereka karena kebetulan salah satu pelayan melapor kepadanya.


"Ada apa ini" ucap tuan Alvin dengan suara lantang.


"Zayn obati lukamu terlebih dahulu, sebelum pergi" ucap tuan Alvin.


Setelah kepergian Zayn, Mereka semua lalu duduk bersama di ruang keluarga.


"Aku sudah mengatakan tempo hari, bahwa kalian akan bercerai. Cepat tanda tangani berkas itu, setelah itu.. kau harus keluar dari rumah ini. Karena aku sudah meminta Zayn untuk menjaga putri Ziva" ucap tuan Alvin yang kembali mengulang ucapan nya.


Ziva hanya mampu membulatkan matanya. Ia pun lalu angkat bicara.


"Ayah aku tidak ingin bercerai, tolong jangan memaksa kami untuk melakukan hal yang sangat dibenci oleh agama tentang perceraian" ucap Ziva sambil menggenggam tangan suaminya.


"Mas mereka saling mencintai, jika kau masih menyimpan dendam kepada keluarga Alexander tolong buang jauh-jauh, karena aku tidak ingin melukai hati putriku" timpal nyonya Ira.


"Ayah mereka tidak boleh bercerai, karena Ziva sedang hamil"ucap Lexa sambil menunduk, padahal ia hanya mengada-ada.


Semua orang yang berada di ruangan itu tampak membulatkan matanya.


Deg


Bagaikan tersambar petir mendengar ucapan putrinya. Tuan Alvin lalu bangkit dari duduknya dan dengan cepat ia menghajar Darren. Ia terus memukuli wajah Darren. Sementara Darren sama sekali tidak melakukan perlawanan.


"Beraninya kau menghamili putriku" bentak tuan Alvin sambil terus memukuli wajah Darren.


"Astaghfirullah mas, hentikan" ucap nyonya Ira yang langsung memeluk suaminya untuk melerai mereka dan membawa ke kamarnya untuk menenangkan kemarahan suaminya.


Ziva masih terdiam di tempatnya.


Mengapa kak Lexa berkata seperti itu, lagian mana mungkin aku hamil. Bahkan suamiku belum menyentuh ku sama sekali. Batin Ziva.


Darren hanya memegangi wajahnya yang sedikit babak belur. Ia pun sama sekali tidak percaya bahwa istrinya sedang hamil. Ziva lalu membantunya berjalan menuju kamarnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2