
Ziva kembali terbangun seperti biasanya. Ia terlebih dahulu melihat sosok di samping nya yang masih saja setiap dengan bantalnya.
"Kenapa dia bersikap aneh akhir-akhir ini, bukankah dia membenciku dan menganggap ku sebagai musuhnya. Tapi dia malah menginginkan aku hamil, apa dia sudah menerima ku sebagai istrinya" ucap Ziva yang menatap Darren.
Ziva kembali terkejut, rupanya kancing baju atasnya terbuka dan parahnya lagi ternyata tangan Darren sudah menyelinap masuk memegang aset kembarnya.
"Parah, lelaki ini menjadi mesum. Mungkin esok malam aku sudah tidak selamat" ucap Ziva yang sedikit kesal yang sudah diraba oleh suaminya.
Dengan hati-hati, Ziva mulai memindahkan tangan Darren dengan omelan kecil.
"Dasar mesum, tangan mu perlu di hukum" ucap Ziva sambil mementil kecil tangan Darren dengan kekesalannya.
Untungnya sang empu masih tertidur pulas jadinya ia tidak melihat kekesalan istrinya. Bila tidak, maka akan terjadi perang dingin diantara keduanya.
Ziva kembali menjalankan rutinitas nya sebagai umat muslim untuk beribadah kepada Tuhan nya. Tak henti-hentinya gadis yang sudah berstatus istri Darren Alexander Tiger itu, memanjatkan doa kepada Tuhan nya demi keselamatan keluarganya dan berdoa agar suaminya menjadi imam yang baik di dunia maupun di akhirat.
Ziva kembali menghampiri Darren tanpa membuka mukenah nya.
"Aku ingin kau menjadi imam sholat ku, tapi aku tidak tahu harus berbuat apa, aku hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari dosa, biar Tuhan yang memberi mu hidayah" ucap Ziva sambil menatap Darren yang tertidur pulas.
Kini Darren sudah berpakaian rapi sambil duduk di sofa menatap Ziva yang sedang memperbaiki hijabnya. Rupanya Darren mau mengajaknya untuk melihat perusahaannya.
"Apa sudah selesai" tanya Darren yang mulai bosan menunggu.
"Sebentar lagi, aku hanya ingin terlihat rapi di depan karyawan mu" ucap Ziva.
"Jangan sentuh parfum itu, aku tidak ingin aroma tubuh mu dicium oleh orang lain" ucap Darren dengan suara meninggi yang selalu fokus melihat gerak-gerik istrinya.
__ADS_1
Dengan kesal Ziva mulai menyimpan kembali parfum yang sempat ia pegang.
"Kenapa si Alexander bersikap aneh, itukan hanya parfum, lagian baunya tidak menyengat, aku hanya memakai sedikit"gumam Ziva yang kembali menatap botol parfum tersebut.
"Ayo, kau membuat ku menunggu" ucap Darren kesal yang sudah bangkit dari duduknya.
"Kau duluan saja" ucap Ziva ketus yang tidak beralih dari cermin.
"Mama sudah menunggu kita, cepat ikut denganku" ucap Darren yang sudah berjalan lebih dulu.
"Sebentar lagi" teriak Ziva. Kemudian dengan cepat mengambil kembali parfum lalu memakainya seperlunya. "Aku sangat suka aromanya membuat ku semakin segar" ucap Ziva dengan sedikit senyuman lalu berjalan menyusul Darren.
Namun sialnya, ternyata Darren belum sepenuhnya keluar dari kamarnya sehingga aroma parfum tersebut masih menyeruak di dalam kamarnya.
"Ka-kau belum pergi"ucap Ziva tergagap yang melihat Darren sedang menatapnya dengan tajam.
"Ayo kita pergi, aku sudah siap" ucap Ziva antusias untuk mengalihkan Darren yang sudah berada di hadapannya.
"Kau mau kemana hah" ucap Darren yang sudah memegang pinggang ramping Ziva lalu mengendus-endus aroma tubuh Ziva.
"Lebih baik kita temui mama" ucap Ziva gugup sambil mendorong dada bidang Darren. Karena Darren malah memepetnya sambil mengendus aroma tubuhnya dan iapun merasa tidak nyaman.
"Aku sudah peringatkan kau untuk tidak menggunakan parfum" ucap Darren dingin sambil berbisik di telinga Ziva.
Ziva pun menjadi diam seribu bahasa.
Darren langsung mendorong tubuh Ziva hingga terjatuh di sofa. Kemudian ia pun langsung menindih tubuh Ziva.
__ADS_1
"Kau mau apa" ucap Ziva panik.
"Aku akan memberi mu hukuman" ucap Darren dengan seringai licik diwajahnya yang menatap tajam Ziva.
"Nanti saja, kita bisa ter.....".
Belum selesai menyelesaikan ucapannya, Darren langsung menarik cadar Ziva lalu membungkam mulut Ziva lewat bibirnya. Darren terus mencium bibir Ziva dan mel**** dengan lembut bahkan Darren menciumnya dengan penuh perasaan dan hasrat. Entah perasaan apa yang jelas Darren lah yang tahu.
Sementara Ziva hanya mampu pasrah di cium oleh suaminya. Hijab yang tadinya bertengger di kepalanya kini sudah lepas entah kemana. Lagian dia pun tidak tahu harus berbuat apa, mau melawan pun pasti Darren akan melawannya lebih parah lagi.
Darren pun melepaskan ciumannya, memberi ruang untuk ziva mengambil nafas tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sang istri. Setelah itu, ia kembali melancarkan serangannya dan seakan tidak akan melepaskan ciumannya.
Dan anehnya lagi, Darren menginginkan lebih. Ia kembali menghentikan ciumannya dan menatap intens Ziva. Ziva pun tampak ngos-ngosan dan menatap wajah suaminya dengan mata sendunya.
Darren pun mulai menyusuri wajah Ziva dengan jari-jarinya hingga turun pada kancing baju Ziva. Sedangkan penglihatan Ziva mengikuti arah jari-jari tangan Darren yang sudah memegangi kancing bajunya.
Ziva lalu menghentikan Darren dengan mata melotot, yang menandakan jika ia tidak suka bila suaminya berbuat lebih jauh. Sementara Darren tidak peduli, ia kembali mendekatkan wajahnya untuk mencium Ziva, sementara tangannya sedang membuka satu persatu kancing baju Ziva.
Ziva mulai geram, ia langsung memegangi tangan Darren dan mulai angkat bicara. " Sudah hentikan, kau bisa terlambat" ucap Ziva dengan suara ngos-ngosan yang tidak ingin melihat wajah Darren.
Darren pun mulai menghentikan aksinya, nafsunya yang sudah menggebu-gebu langsung down mendengar ucapan sang istri. Ia lalu bangkit sambil memperbaiki jasnya. Setelah itu, ia langsung meninggalkan Ziva tanpa sepatah katapun.
Gara-gara Parfum, aku dapat hukuman si Alexander, dasar lelaki aneh. Batin Ziva.
Bersambung......
Mohon maaf aku baru update, soalnya aku sakit 🙏.
__ADS_1