
Keesokan harinya...
Keluarga Ziva mulai siap-siap untuk pulang ke negaranya. Ziva pun ikut membantu ibunya mengemas beberapa barang bawaan ibunya bersama kedua pelayan wanita di mansion tersebut.
"Harusnya bunda tetap disini selama beberapa hari. Soalnya Ziva bakalan rindu kepada bunda, ayah dan kak Lexa, tinggal beberapa hari ya" ucap Ziva sambil membujuk ibunya.
"Bunda akan mengunjungi mu setiap sebulan sekali. Dan kamu bisa menelpon bunda setiap hari, setiap jam kalau kamu merindukan bunda sayang" ucap nyonya Ira sambil tersenyum.
Walau bagaimanapun nyonya Ira tetap was-was akan kehamilan pertama putrinya, yang bisa saja merepotkan semua orang.
"Tetap saja, pelukan hangat bunda tetap Ziva rindukan" ucap Ziva lalu memeluk ibunya.
Sedangkan dua Pelayan wanita hanya mampu tersenyum melihat ibu dan anak itu.
"Sayang... untuk dua bulan kedepannya, kamu tidak boleh mengonsumsi aneka makanan seafood. Sesuai adat dan tradisi kita, kamu tidak boleh mengonsumsi makanan tersebut selama awal-awal kehamilan mu. Bunda hanya ingin kandungan mu tetap aman dan bayi dalam perutmu tetap sehat" ucap nyonya Ira, yang menasehati putrinya.
"Bagaimana jadinya, jika Ziva ngidam makanan tersebut bunda" ucap Ziva polos.
"Boleh saja, tapi jika kehamilan mu sudah memasuki 5 bulan ke atas" ucap nyonya Ira dengan cepat.
"Memangnya kenapa bunda, makanan seafood itu makanan yang kaya akan protein, kenapa tidak boleh ibu hamil mengonsumsi seafood" ucap Ziva yang ingin tahu.
"Pokoknya tidak boleh sayang dan cara menjelaskan nya juga susah, karena bunda dulunya juga di minta oleh Oma kamu untuk tidak mengonsumsi seafood saat bunda hamil kamu sayang" ucap nyonya Ira sambil mengelus punggung tangan putrinya.
"Ooh baiklah bunda, Ziva akan mengikuti perintah bunda untuk tidak mengonsumsi seafood" ucap Ziva sambil tersenyum manis.
"Syukurlah, kamu mau mengikuti titah bunda. Sebenarnya bunda juga ingin mengatakan bahwa tidak lama lagi kakakmu Lexa akan menjalani operasi mata. Doakan ya sayang, semoga operasinya berjalan dengan lancar" ucap nyonya Ira.
"Pasti bunda, Ziva selalu mendoakan keluarga Damanik untuk tetap dalam lindungan Allah SWT, termasuk kesembuhan kak Lexa" ucap Ziva sambil menatap manik mata ibunya.
"Jaga dirimu baik-baik sayang, maafkan bunda yang tidak bisa selalu berada di samping mu, selama masa kehamilan mu" ucap nyonya Ira yang langsung memeluk putrinya.
"Tidak apa bunda, bukankah putri mu ini gadis yang kuat. Jadi jangan khawatirkan Ziva ya" ucap Ziva sambil mengelus punggung ibunya.
Sementara para pelayan wanita mengambil alih mengemas barang majikannya. Setelah selesai, mereka pun undur diri. Sedangkan ibu dan anak itu kembali melakukan sesi curhat tentang pengalaman kehamilan nyonya Ira.
Sementara Darren bersama tuan Alvin sedang menikmati kopi dan cemilan di ruang tamu.
"Bagaimana perkembangan perusahaan mu" ucap tuan Alvin yang terlihat serius.
"Perusahaan ku semakin maju ayah bahkan pendapatan perusahaan kami meningkat setiap bulan dan tiap tahun" ucap Darren yang sedikit membanggakan kerja kerasnya.
"Baguslah jika seperti itu. Sebenarnya...aku ingin sekali putriku Ziva untuk menggantikan posisi ku di kantor dua tahun kedepannya. Karena sepertinya aku harus pensiun dan hanya perlu menikmati hari-hariku bersama cucuku. Kalau perlu izinkan Ziva untuk tetap menjadi wanita karier, karena sepertinya Ziva yang cocok menduduki posisi ku" ucap tuan Alvin sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Maaf ayah, saya tidak bisa mengizinkan Ziva untuk menjadi wanita karier, cukup hanya sebagai ibu rumah tangga yang mampu merawat anak-anakku. Bukankah saya kepala keluarga yang harus menafkahi istri dan anak-anakku" ucap Darren dengan cepat.
"Bukan seperti itu maksudku, hanya saja putriku Ziva yang cocok untuk menduduki posisi ku, jadi pikirkan kembali ucapan ku. Aku tetap menginginkan putriku menjadi wanita karier" ucap tuan Alvin yang begitu kekeh terhadap pendiriannya.
"Tapi anda masih memiliki satu putri, lebih baik dia yang menggantikan posisi anda. Karena sampai kapan pun, saya tidak akan mengijinkan Zivanna istriku untuk bekerja dan menjadi wanita karier yang anda inginkan" ucap Darren ketus.
__ADS_1
Bagaimana mungkin aku mengizinkan Zivanna bekerja, siapa yang akan menjaga anak-anak kami. Apa-apaan ayah Zivanna, berpikiran seperti ini lagi, bukankah aku bisa menafkahi istri ku dengan baik dan memberikan semua keperluannya. Batin Darren.
"Aku hanya ingin Ziva yang menggantikan posisi ku dan bukan Lexa" ucap tuan Alvin dengan tegas.
"Tapi saya tidak akan pernah mengabulkan permintaan anda untuk menjadikan Zivanna wanita karier. Sebaiknya mulai sekarang anda hanya perlu membimbing Lexa untuk menduduki posisi anda di perusahaan, jadi jangan melibatkan istriku dengan perusahaan anda" ucap Darren yang tersulut emosi.
"Kau begitu posesif kepada putriku, sampai-sampai melarangnya menjadi wanita karier"ucap tuan Alvin yang tidak ingin terpancing emosi.
"Ya saya sangat posesif kepada Zivanna, karena dia sangat berharga untukku dan jangan pernah anda ikut campur dengan urusan rumah tangga kami, karena Zivanna adalah tanggung jawab saya dan bukan tanggung jawab Anda lagi" ucap Darren yang menggebu-gebu.
Ternyata Ziva tidak salah memilih suami. Darren lelaki sejati yang bisa menjaga putri ku. Sepertinya aku harus mengalah untuk tidak menjadikan Ziva wanita karier. Batin tuan Alvin sambil tersenyum tipis.
"Ada apa ini, mengapa namaku yang selalu naik undian dari ayah dan suamiku" ucap Ziva yang tersenyum menatap mereka.
"Kemari sayang, duduk di samping ayah" ucap tuan Alvin.
Ziva pun lalu berjalan mendekat ke arah mereka, namun sebelum itu, Ziva pun membungkukkan badannya di samping tempat duduk Darren.
Cup
Ziva berhasil mencium pipi kanan suaminya.
"Jangan cemberut, itu hadiah untuk mu di pagi hari" bisik Ziva di telinga suaminya.
Darren pun tersenyum dengan tingkah laku Ziva yang mulai meningkat yakni menciumnya di depan ayahnya.
"Kamu bahkan sudah berani mencium ku di depan ayahmu. Aku pun akan memberi mu hadiah nanti malam" bisik Darren yang menahan tangan istrinya.
"Hemm"
Ziva pun gelagapan, ia langsung melepaskan tangan suaminya, lalu duduk di samping ayah nya.
"Kalian pasti membicarakan aku, ayo ngaku" ucap Ziva dengan sedikit senyuman.
"Ayah sedang mengobrol tentang bisnis ayah dengan suami nak, bukan begitu Darren" ucap tuan Alvin sambil melirik menantunya.
Darren pun hanya mampu mengangguk, tidak mungkin ia mengatakan kepada istrinya bahwa ayahnya memintanya untuk menjadi wanita karier yang harus menggantikan posisi nya, yang berarti harus turun tangan mengurusi perusahaan ayahnya.
"Uuh pasti bapak-bapak selalu mengobrol tentang urusan pekerjaan" ucap Ziva sambil bersandar di pundak ayahnya.
"Apa kamu sudah makan sayang?" tanya tuan Alvin pada putrinya.
"Sudah ayah, bahkan dobel dua kali. Aku pun gampang lapar akhir-akhir ini. Untungnya aku tidak mual lagi ayah, berkat suamiku" ucap Ziva sambil tersenyum ke arah Darren.
Kau bersikap manja jika bersama ayah mu dan malah mengacaukan ku. Batin Darren yang terlihat kesal.
"Sudah sepatutnya suami mu melakukan tugasnya sebagai calon ayah. Jadi jangan sampai dia lengah menjagamu sayang" ucap tuan Alvin sambil tersenyum mengejek ke arah Darren.
"Sepertinya suamiku harus mengubah penampilannya, aku ingin dia terlihat cute dan menggemaskan kayak remaja lagi deh. Bagaimana menurut ayah, apa suamiku masih bisa berpenampilan seperti anak remaja lagi" ucap Ziva sambil tersenyum menatap ke arah suaminya.
__ADS_1
"Sepertinya masih bisa, kalau tatanan rambutnya di jadikan plontos seperti anak SMA yang akan menjalani masa orientasi" ucap tuan Alvin sambil tersenyum dan diselingi tawa nya.
Ziva pun ikut tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan ayahnya yang masuk akal juga.
Bagaimana mungkin penampilan ku harus di rubah, bisa saja ketampanan ku berkurang. Ayah dan anak ini sama saja. Batin Darren kesal yang memperhatikan mereka.
"Benar yang dikatakan ayah, sepertinya suamiku harus berkepala plontos deh, pasti lucu dan sangat menggemaskan" ucap Ziva diselingi tawanya sambil menatap wajah suaminya.
Sementara Darren hanya meliriknya dengan tatapan tajam.
Awas saja nanti malam, aku akan mendapat jatah lebih dari mu. Batin Darren yang merasa tidak suka dengan candaan istri dan ayah menantunya.
"Suamiku sayang, aku ada permintaan kepadamu" ucap Ziva sambil mengedipkan matanya.
"Yang penting jangan meminta yang aneh-aneh" ucap Darren cepat.
"Rambutmu di botakkin ya, supaya aku gemes melihat mu suamiku sayang" ucap Ziva sambil tersenyum bahagia.
"Hah, apa kamu tidak salah sayang" ucap Darren yang terlonjat kaget.
"Tidak sayang, bagaimana ayah, pasti suamiku lucu kan" ucap Ziva yang selalu saja meminta persetujuan ayahnya.
Tuan Alvin hanya bisa tersenyum, bagaimana mungkin seorang pimpinan perusahaan Alexander Group berpenampilan dengan kepala plontos.
Aku pikir Zivanna hanya bercanda. Bagaimana ini citra ku di perusahaan akan menjadi...akh sial....ngapain juga Zivanna meminta permintaan yang aneh-aneh. Batin Darren.
"Bagaimana suamiku, apa kamu setuju atau tidak" ucap Ziva yang meminta jawaban.
"Nanti kita bicarakan lagi, soalnya kita harus ke bandara mengantar keluarga mu" elak Darren.
"Oke deh, aku tunggu jawaban mu entar malam" ucap Ziva.
Setelah selesai mengobrol bersama, mereka pun bersiap menuju bandara. Sedangkan para pelayan mulai sibuk memasukkan barang bawaan majikannya. Setelah semuanya beres. Mereka pun saling berpelukan untuk sebagai tanda perpisahan.
Mobil pun melaju meninggalkan pelataran mansion tuan Alvin menuju bandara.
Sementara di kediaman Alexander.....
Fino beserta Milan pun bersiap-siap menuju bandara. Mereka pun berpamitan kepada nyonya Ratu, dan tak henti-hentinya nyonya Ratu meminta Fino dan Milan untuk tetap menjaga keutuhan rumah tangga mereka.
Milan pun merasa tidak enak hati tidak berpamitan kepada Darren dan Ziva, sehingga ia hanya mengirimkan pesan kepada Darren dan Ziva, bahwa ia akan berangkat ke negara B dan akan menetap di negara tersebut.
Mobil pun meninggalkan mansion mewah tersebut menuju bandara. Sepanjang perjalanan, tidak ada obrolan di antara keduanya.
Selamat tinggal negara A, tempat ku mendapatkan perlindungan dan negara tempat ku mencari rezeki. Selamat tinggal semua kawan-kawan ku anggota The Tiger, semoga kita bisa berjumpa lagi. Batin Milan yang hanya mampu menatap jalanan ibukota.
Bersambung.....
Hai teman-teman, tak henti-hentinya author mau ucapin terima kasih kepada kalian semua yang masih saja menanti cerita iniπππ
__ADS_1
Oh iya, untuk kedepannya cerita Fino dan Milan aku akan buatkan novel baru. Eits tapi untuk rilisnya masih belum tahu. Karena aku masih fokus untuk tamatin cerita Mafia vs Gadis Bercadar. Jadi jangan berhenti mendukung aku ya, karena dukungan kalian sangat berharga untukku π€
Terima kasih ππ