Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Jones Si Pemberani


__ADS_3

"Siapa orang yang akan menemani ku ke pesta, jangan-jangan bodyguard ayah yang badan besar dan berotot itu" gumam Rissa yang sudah berada di ambang pintu.


Iapun shock melihat sosok lelaki yang tampak rapi yang berdiri membelakangi nya. Lelaki itu terlihat cool dari arah belakang, namun bagaimana pun penampilan dari lelaki tersebut Rissa mampu mengenalinya.


"Si bujang lapuk nan buntung.... apa yang kau lakukan di rumah ku" ucap Rissa dengan suara bentakan yang begitu cempreng.


"Lebih baik kita berangkat nona Rissa" ucap lelaki itu yang tidak ingin berdebat dengan Rissa dan tidak salah lagi dia adalah Jones.


"Adakah lelaki lain yang bisa menemani ku, hufff tidak di kantor, tidak di rumah si bujang lapuk ini selalu saja nongol di hadapan ku...sial" ucap Rissa kesal sambil menghentak-hentakkan high heels nya mengikuti langkah kaki Jones.


Jones lalu masuk ke dalam mobil dan kembali menyalakan mesin mobilnya, sementara Rissa dengan mulut komat kamit membuka pintu belakang mobil jones dan tak lupa membanting pintu mobil itu dengan keras.


Jones pun menggepalkan tangannya, gadis ini tidak tahu terima kasih.. syukur-syukur dia mengikuti perintah tuan John yang begitu memohon kepadanya untuk mengantar anak gadisnya ke pesta. Namun apa yang diperbuat, Rissa malah ingin merusak mobilnya, tidakkah dia tahu dengan susah payah Jones membeli mobil itu dengan kerja kerasnya selama 3 tahun. Walaupun ia mendapatkan sebuah mobil pemberian dari tuannya, tapi tetap saja ia lebih senang menggunakan mobil hasil keringatnya sendiri.


Jones lalu menancap gas meninggalkan pelataran rumah tuan John. Ia benar-benar mendapatkan ujian berat jika terus bersama Rissa si bocah cerewet.


Sedangkan Rissa tampak duduk tenang sambil menyilang kan tangannya di depan dada. Ia menjadi menciut saat pandangan mata mereka bertemu dari kaca mobil, apalagi pandangan mata jones setajam pisau.


Kedua nya begitu canggung tanpa adanya obrolan, layaknya supir dan penumpang.


Tak terasa mobil yang membawa mereka tiba di sebuah club malam yang begitu terkenal di negara A. Rissa lalu buru-buru turun untuk meninggalkan Jones.


"Bisa malu-maluin aku membawa om-om ke pesta ulang tahun Sherly. Mau ditaruh di mana muka aku...iiih amit-amit" ucap Rissa sesekali melirik ke arah belakang, takutnya jones mengikutinya.


Jones tetap memasuki area club malam tersebut. Terdengar suara musik menggema di telinga. Para pengunjung mulai memenuhi area club malam dan mulai menyibukkan dirinya dengan bersenang-senang.


Pandangan mata jones tertuju pada lantai dua, yang tampak terdengar suara heboh seorang gadis diikuti suara terompet. Ia pun berjalan menuju area tersebut.


Kini ia duduk di meja bartender sambil memperhatikan Rissa berpesta bersama dengan teman-teman nya.


Rissa tampak tertawa dengan lepasnya, ia begitu bahagia berkumpul bersama teman-teman nya.


"Kamu lihat om-om itu... terus saja melihat ke arah kita, sepertinya dia terus memperhatikan mu" ucap salah satu teman Rissa sambil menunjuk ke arah jones.


"Masa.... orang itu hanya kurang kerjaan" ucap Rissa sambil tersenyum.


Terdengar suara tembakan dari bawah, beberapa pengunjung mulai berteriak histeris meminta tolong.


"Di bawah ada perompak, sebaiknya kita pergi" teriak seorang lelaki yang seumuran dengan Rissa yang begitu panik.


"Ya sudah ayo kita pergi sayang"ucap Sherly.

__ADS_1


"Aku ikut bersama kalian" ucap Rissa.


"Sebaiknya tidak usah Ris, kamu nanti repotin kita" ucap Sherly.


Sementara teman lainnya mulai berhamburan mencari jalan keluar untuk meninggalkan klub malam tersebut.


Sementara Rissa mulai panik iapun ikut berlari mengikuti langkah kaki teman-temannya. Namun ia terhentak kaget saat seseorang memegang tangannya.


"Ikut denganku nona Rissa" ucap Jones.


Rissa membulatkan matanya. "Kamu...ngapain ngikutin aku" ucap Rissa ketus.


Jones malah menarik nya dan membawanya menuruni anak tangga menuju pintu keluar. Sedangkan para perampok yang berjumlah 7 orang tampak menyandera manager dari club malam tersebut.


Langkah kaki Jones terdengar oleh para perampok menuruni anak tangga, Rissa mulai keringat dingin melihat para perampok itu yang masing-masing memegang senapan panjang.


Dengan santai jones berjalan menggenggam tangan Rissa. Salah satu tangannya sudah memegang sebuah pistol, Rissa sempat shock melihat Jones membawa pistol.


Dor


dor


dor


"Ha-aarta atau n-nya...." ucap salah satu perampok itu yang gemetaran.


Dor.


Belum menyelesaikan ucapannya sebuah peluru jones bersarang di kepalanya.


Sedangkan Rissa malah memeluk Jones dari belakang, ia menjadi takut dengan jones dan lainnya. Tapi apa boleh buat ia harus tetap berada di dekat jones.


Jones kembali mengarahkan pistolnya kepada ketiga perampok yang masih tersisa.


Dengan tubuh gemetaran, ketiga perampok itu bersujud di hadapan jones.


"Maafkan kami tuan, kami tidak tahu anda adalah anggota The Tiger... Tolong ampunilah kami yang tidak mengenali anda tuan" ucap Salah satu perampok itu yang mampu mengenali wajah Jones.


Mereka bertiga memegangi kaki jones untuk meminta pengampunan.


"Pergilah...aku tidak ingin melihat kalian, jika kalian masih saja berkeliaran seperti ini, aku tidak segan-segan melenyapkan kalian semua.. mengerti" ucap Jones dengan tegas.

__ADS_1


"Terima kasih tuan..terima kasih tuan" ucap mereka kompak, lalu berlari meninggalkan tempat itu, takutnya jones berubah pikiran.


Sementara Rissa yang masih saja memeluk jones sama sekali tidak ingin melepaskan pelukannya dari tubuh jones.


"Mereka sudah pergi, lepaskan tanganmu nona" ucap Jones.


Rissa pun mulai tersadar, ia langsung menjauhi jones dengan tingkah malu, Rissa berjalan menuju pintu keluar diikuti jones di belakangnya.


Mereka sudah berada di dalam mobil. Jones lalu mengendarai mobil nya meninggalkan tempat itu.


Rissa hanya mampu diam di dalam mobil, ia menjadi malu sudah memeluk jones cukup lama.


Tak terasa mobil yang membawa mereka tiba di kediaman tuan John.


Rissa lalu turun dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Jones hanya mampu geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Rissa yang masih saja seperti bocah. Setelah selesai mengantarkan Rissa, jones kembali melajukan mobilnya menuju apartemennya.


Sementara Rissa kembali mengintip jones dari balik jendela.


"Dia si pemberani, untungnya ayah mengajak nya" ucap Rissa.


Keesokan harinya


Ziva bersama anggota keluarga nya mulai bersiap-siap menuju Savana. Mereka tampak rapi yang sudah siap meluncur ke lokasi Savana. Para pelayan tampak sibuk membawa perlengkapan Ziva ke mobil.


Ziva dibantu oleh Darren berjalan menuju mobil mereka yang sudah terparkir di halaman depan.


Sementara tuan Alvin, nyonya Ira, dan nyonya Ratu satu mobil. Dan Riko yang mengemudikan mobil mereka.


Sementara satu mobil lainnya berisi pelayan yang akan membantu keperluan majikannya.


Ketiga mobil mulai meninggalkan pelataran rumah menuju Savana.


"Kita menginap saja di Savana, sudah lama aku tidak mengunjungi Savana" ucap Ziva dengan mata berbinar.


"Nanti kita lihat sayang, jika situasi dan kondisinya memungkinkan" ucap Darren sambil tersenyum kearah istrinya.


"Baiklah, sekalian kamu cicil hapalan mu ya di sana" ucap Ziva sambil bersandar di pundak Darren.


"Insyaallah, aku akan mencicil hapalanku untuk mu sayang, semoga Dede bayi juga senang mendengar suara ku mengaji" ucap Darren sambil mengelus perut buncit istrinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2