
Darren menghentikan ciumannya. Ia lalu menatap dalam mata istrinya. Untuk mencari jawaban, apakah Ziva akan melakukannya atau tidak.
"Apakah kau yakin Zivanna" ucap Darren yang kembali memastikan.
Dengan napas yang ngos-ngosan Ziva mengangguk dan langsung memalingkan wajahnya. Ia merasa malu ditatap oleh suaminya.
Darren tersenyum melihat tingkah Ziva dengan wajah memerah.
"Mengapa kamu tidak ingin menatap suamimu, apa mungkin kamu takut kepadaku" ucap Darren yang berbasa-basi yang berbisik di telinga istrinya. Hal itu untuk membuat dia dan istrinya rileks terlebih dahulu, sebelum melakukan hubungan sepasang suami istri.
"Aku hanya malu ditatap olehmu" ucap Ziva dengan jantung yang semakin berdebar kencang.
Darren lagi-lagi tersenyum dan mengontrol dirinya.
"Bismillah, aku akan melakukannya dengan penuh cinta istri ku. Izinkan aku untuk menafkahi mu secara lahir dan batin" ucap Darren dengan mata kelamnya.
"Apa kau sudah berguru dengan orang yang berpengalaman" ucap Ziva yang kembali menguji suaminya, dengan jantung yang sudah tidak bisa dikondisikan.
"Kau bertanya hal ini lagi, aku bahkan tinggal kelas, gara-gara berguru dengan pak Handoko" ucap Darren dengan candaannya sambil membelai rambut panjang istrinya.
Darren kemudian melafalkannya dalam hati amalan doa yang sempat dia pelajari sebelum berhubungan badan.
Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna.
Darren menatap dalam manik mata istrinya bahwa ia sudah siap melakukannya.
"Tapi kamu...."
Darren kembali mencium istrinya dengan lembut dan penuh cinta. Setelah puas, Darren mulai berpindah tempat dan memberikan tanda cinta di tubuh sang istri. Ziva hanya mampu menerima sentuhan dari suaminya dengan ikhlas.
Di bawah selimut mereka beradu kasih. Namun tiba-tiba saja Ziva memekik, saat suaminya mencoba untuk menjelajahi lebih jauh surgawi nya.
"Akkhh" ucap Ziva yang meringis kesakitan.
Dengan cepat Darren menghentikan aksinya melihat istrinya terlihat kesakitan.
"Kita hentikan saja, aku tidak ingin kau terluka" ucap Darren khawatir.
"Lanjutkan saja, aku ikhlas melayani mu. Dan jangan lupa kita harus tetap mengingat kepada Allah sebelum melakukannya" ucap Ziva yang kini mencengkeram lengan suaminya.
Mereka pun akhirnya melakukan hubungan suami istri dengan penuh cinta.
Lalu mereka bersama-sama berucap "Alhamdu lillaahi Lladzii Khalaqa Minal Maa I Basyaraa." Kemudian dilanjutkan dua kalimat syahadat yang mereka yakini amalan dalam melakukan hubungan suami istri.
Tak terasa air mata Ziva jatuh dengan sendirinya saat Ia sepenuhnya sudah menjadi istri seutuhnya Darren Alexander Tiger. Sungguh rasa haru kembali menyelimuti dirinya. Ziva berhasil melayani suaminya dengan baik dan bersama-sama mencari ridho Allah dalam sebuah ikatan pernikahan.
Sementara Darren untuk pertama kalinya ia menikmati surgawi istrinya. Ia berhasil menafkahi Ziva secara lahir maupun batin.
Darren kembali melakukannya berulang kali, bahkan rasa lelah yang ia rasakan terbayar dengan kenikmatan surgawi sang istri. Entah berapa ronde mereka melakukan hubungan suami istri.
Bahkan Darren begitu kebablasan dengan hal baru baginya. Dan untuk pertama kalinya mereka melakukannya.
__ADS_1
Ziva sudah kelelahan melayani suaminya. Terlihat jelas keringat mulai membasahi keningnya. Bahkan rambut panjang nya sudah acak-acakan bagaikan singa betina. Darren yang melihat itu, menghentikan aktivitas nya. Ia lalu mencium kening istrinya cukup lama.
"Terima kasih, kau sudah menjadi milikku" ucap Darren sambil tersenyum menatap wajah sang istri yang sudah kelelahan.
Ziva hanya mampu tersenyum menatapnya dengan pandangan mata lelahnya.
Setelah itu, Darren lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya sekaligus melakukan ritual mandi wajib. Karena sebentar lagi akan memasuki waktu sholat subuh.
Sementara Ziva yang berbalut selimut. Masih saja mengatur nafasnya dengan tubuh yang begitu lelah habis melayani suaminya. Ia pun mulai duduk di atas tempat tidur. Ziva mengikat terlebih dahulu rambut panjang nya. Ziva mencoba untuk turun dari tempat tidur.
Saat mencoba berjalan tiba-tiba saja, ia merasa kesakitan di bagian selangkangannya.
"Awww, sakit" ucap Ziva yang meringis kesakitan.
Darren yang baru saja keluar dari toilet, langsung menghampiri istrinya saat mendengar suara rintihannya.
"Apa masih sakit" tanya Darren.
Ziva hanya mengangguk.
Tanpa aba-aba, Darren lalu mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Ziva lalu membersihkan tubuhnya.
Kini sepasang suami istri itu, mulai melakukan sholat subuh bersama. Selepas sholat, mereka berdua kembali membereskan tempat tidurnya, lalu sepasang suami istri itu kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Mereka berdua tidak sempat tidur gara-gara melakukan malam pertama.
Ziva yang biasanya sehabis sholat akan melakukan aktivitas nya. Kali ini ia benar-benar lelah, hingga melanjutkan kembali tidur yang ia tunda bersama sang suami. Darren tampak memeluk tubuh istrinya dan ikut tertidur di samping nya.
Pagi harinya.....
Seluruh keluarga Ziva sudah berada di meja makan untuk sarapan pagi.
"Mengapa Ziva dan suaminya tidak sarapan bersama" tanya tuan Alvin.
"Mas biarkan saja, dia mungkin lelah melakukan berbagai prosesi pernikahan nya. Mas tidak tahu saja yang namanya pengantin baru"ucap nyonya Ira tersenyum.
Tuan Alvin membelalakkan matanya.
"Jangan sampai putra Alex membuat putriku kelelahan, apalagi Ziva sedang hamil saat ini" ucap tuan Alvin.
"Mas biarkan saja, toh mereka pasangan suami istri terserah apa yang ingin mereka lakukan. Kita tidak boleh ikut campur urusan mereka" ucap nyonya Ira sambil menggenggam tangan suaminya.
"Hemm iya, aku tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga putriku" ucap tuan Alvin, lalu menyeruput teh hijau kesukaannya.
Tak berselang kemudian, Darren menggendong istrinya menuruni anak tangga menuju ruang makan. Ziva terus saja minta diturunkan tapi Darren tidak mendengarkan ucapannya.
Dengan hati-hati Darren mendudukkan Ziva di kursi. Sementara kedua orang tua Ziva hanya mampu menyaksikan mereka. Tuan Alvin terus saja memperhatikan gerak gerik Darren yang begitu menyayangi putrinya.
"Dia mirip dengan ku, aku pun melakukan hal seperti itu. Saat Ira dinyatakan hamil" gumam tuan Alvin tersenyum melihat keromantisan putri dan menantunya.
Sementara nyonya Ira tersenyum ke arah suaminya.
"Tidak baik loh, wanita hamil terlambat sarapan" ucap nyonya Ira yang lagi-lagi tersenyum melihat pasangan suami istri itu.
__ADS_1
Ziva hanya menunduk malu dan merasa bersalah tidak mengatakan yang sejujurnya kepada orang tuanya. Sementara Darren hanya tersenyum canggung.
Insyaallah kami sedang bekerja keras untuk memberikan cucu kepada kalian. Batin Darren.
"Mana kak Donna dan lainnya Bun" ucap Ziva.
"Mereka menginap di hotel, mungkin sebentar lagi mereka akan datang dan berpamitan kepada kami dan kamu sayang. Donna sempat mengatakan bahwa hari ini ia dan rombongannya akan pulang ke negara A. Ya sudah Mama tinggal dulu. Kalian nikmati saja sarapannya. Ayo mas" ucap nyonya Ira. Lalu menggandeng tangan suaminya.
Sementara di Mansion Fino.....
Nyonya Ratu, Rissa dan Tuan John sedang sarapan bersama. Hanya Fino yang tidak ikut sarapan bersama mereka.
Milan yang baru saja dari hotel mengambil barang milik nyonya Ratu, langsung menghampiri ibu majikannya.
"Nyonya, ini barang milik nyonya yang sempat tertinggal" ucap Milan yang menyerahkan paper bag.
"Terima kasih Milan. Oh iya sekalian kamu panggil Fino dikamar nya untuk sarapan bersama kami" ucap nyonya Ratu.
Milan sempat berpikir, mengapa dia yang harus memanggil Fino. Sementara pelayan wanita di mansion ini begitu banyak. Apa pelayan itu, takut membangunkan majikan nya, pikir Milan.
"Baik nyonya" ucap Milan yang tidak ingin membantah.
Ia lalu berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Ia sama sekali tidak tahu seluk beluk mansion ini. Bahkan kamar Fino sama sekali ia tidak tahu di mana tempat nya.
Milan terus saja berjalan di lorong kamar. Ia membuka satu persatu kamar itu untuk mencari keberadaan Fino. Saat tiba di depan pintu kamar yang tampak berbeda dari lainnya. Ia mencoba mengetuk pintu. Namun belum ada jawaban dari dalam. Sehingga Milan berinisiatif untuk membuka pintu kamar itu. Dan beruntungnya kamar itu tidak terkunci.
Milan lalu menyelonong masuk ke dalam kamar yang ia yakini itu kamar Fino.
Ia pun melihat sosok lelaki yang sedang tidur tengkurap membelakanginya.
Milan maju dua langkah dan mulai angkat bicara.
"Tuan Fino, nyonya Ratu meminta anda untuk bangun dan sarapan pagi bersama keluarga anda" ucap Milan yang begitu formal.
Sementara lelaki itu, sama sekali tidak ada tanda-tanda akan bangunannya.
Cukup lama Milan berdiri dan membangun orang itu. Tapi lagi-lagi orang itu tidak terbangun.
Kini kesabaran Milan mulai habis, ia lalu mendekat ke arah orang itu.
"Tuan tolong bangunlah, keluarga tuan sedang menunggu anda untuk sarapan bersama" ucap Milan kembali.
Orang yang tertidur mulai mengganti posisi tidurnya.
"Siapa yang menyuruhmu masuk di kamar ku. Kau sangat lancang" ucap orang tersebut dengan suara ciri khas bangun tidur, yang tidak lain adalah Fino.
"Saya hanya menerima perintah nyonya tuan, sepertinya anda sudah bangun, kalau begitu saya permisi dulu tuan" ucap Milan lalu berbalik badan.
"Tidak ada yang selamat, orang yang memasuki kamarku" ucap Fino dingin. Lalu iapun memencet remote control sehingga pintu kamar nya terkunci.
Sementara Milan sempat kaget, yang tiba-tiba saja pintu kamar itu tertutup. Namun iapun memasang wajah yang biasa-biasa saja. Karena ia selalu menghadapi situasi seperti itu, dan banyak nya marah bahaya yang sempat ia dapatkan.
__ADS_1
Bersambung.......
Terus dukung author, like, komen dan vote ya 🙏