Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Merindukanmu


__ADS_3

Darren sangat marah menerima kenyataan bahwa Ziva meninggalkannya. Seluruh benda yang berada di atas meja kerjanya ia hamburkan dan melemparnya ke sembarang arah, termasuk beberapa berkas penting di dalamnya. Jones beserta Milan masuk ke dalam ruangan tuannya yang kondisinya sudah menjadi kapal pecah. Mereka berdua hanya saling pandang dan tak berani angkat bicara.


“Apa yang kalian lakukan, mengapa hal seperti ini bisa terjadi. Kau tahu aku tidak ingin kehilangan istriku. Cepat persiapkan keberangkatan ku untuk menyusulnya bodoh”teriak Darren sambil memegangi kepalanya yang sedikit pusing.


“Tuan jangan seperti ini, tolong tenanglah terlebih dahulu. Biarkan nona Ziva bertemu terlebih dahulu dengan keluarganya. Coba anda berada di posisinya, pasti anda akan melakukan hal yang sama”ucap Milan.


Darren semakin emosi, ia lalu menghampiri Milan dan langsung mencekik leher Milan.


“Apa yang kau katakan hah, aku tidak suka seseorang ikut campur dengan urusanku”ucap Darren dengan tatapan membunuhnya.


“Ampun tuan, saya tidak bermaksud ikut campur dengan urusan anda. Saya hanya ingin membantu tuan agar tetap bersama nona Ziva. Dan Inilah saatnya untuk anda berubah dan meminta maaf kepada keluarganya, bahkan meminta restu kepada keluarganya yang perlu anda lakukan”ucap Milan sambil terbatuk-batuk.


Darren lalu melepaskan tangannya, dan memilih duduk di sofa.


“Tuan bersabarlah, anda pasti akan bersatu kembali dengan Nona Ziva. Saya bersumpah akan mengorbankan jiwa dan ragaku untuk tetap berada di pihak tuan. Bahkan saya rela mati demi melindungi keluarga tuan”ucap Milan sambil bersimpuh dihadapan tuannya.


“Pergilah… dari hadapanku”ucap Darren dingin.


“Mohon maaf tuan, hari ini anda harus melakukan perjalanan bisnis ke Negara C. Seluruh persiapannya sudah saya siapkan tuan. Dan maslah nona Ziva, biarkan nona melepas rindu bersama keluarganya. Setelah itu, barulah tuan ikut menyusulnya dan meminta maaf kepada nona Ziva atas apa yang anda perbuat terhadap keluarganya"ucap”Jones dengan hati-hati.


Darren sama sekali tidak mengubris ucapan Jones. Ia pun mulai menyadari apa yang telah ia perbuat kepada keluarga istrinya. Lalu mereka bersama-sama meninggalkan perusahaan Alexander Group menuju Negara yang mereka tuju.


Hari demi hari berlalu dan tak terasa sudah 2 minggu lamanya Ziva bersama kedua orang tuanya. Setiap hari ia mengunjungi makam sang kakek untuk mengirimkan doa, agar tetap istiqomah dialam sana. Ia mulai menikmati momen kebersamaan dirinya bersama orang terkasihnya. Ziva pun terkadang memikirkan suami dan ibu mertuanya, tapi semua itu ia alihkan dengan melakukan aktivitas lain. Bisa saja membantu keperluan Lexa jika memiliki kendala, dan keduanya terlihat akrab layaknya kakak beradik, mereka berdua mulai saling terbuka dan sharing bersama.


Seperti saat ini, mereka sedang berada di ruang perpustakaan…


“Apa kau mencintai suamimu”tanya Lexa pada adiknya.


“Kenapa bertanya seperti itu kak Lexa” ucap Ziva yang menghentikan kegiatan membacanya.

__ADS_1


“Aku hanya ingin tahu tentang masalah rumah tanggamu, apa boleh buat kalau kau tidak ingin menjawabnya”ucap Lexa yang tersenyum.


“Aku belum bisa membuka hatiku untuk seseorang, apalagi harus mencintai lelaki yang jelas-jelas sudah membuat kakek terluka hingga tiada”ucap Ziva sambil menghela napasnya.


“Bukan seperti itu maksudku ziv, aku hanya tidak ingin kau membenci suamimu. Bagaimana pun dia sudah menjadi takdirmu dan jodoh terbaik yang dikirimkan Tuhan untukmu. Saat ini suamimu bertanggung jawab penuh atas dirimu, dia menafkahimu secara lahir dan batin. Jadi kau tidak boleh membantah segala ucapannya, bukannya aku sok tahu dan ikut campur masalah rumah tanggamu, tapi ingat, jika dia datang ke rumah ini untuk mencarimu, kau harus memperjuangkannya dihadapan ayah, karena dia benar-benar suami yang bertanggung jawab”ucap Lexa sambil meraba pergelangan tangan Ziva.


“Aku belum bisa memaafkannya”ucap Ziva dengan wajah datar.


“Aku juga pernah berada di posisi ini ziv, kau tahu sendiri, hidupku menjadi hancur sejak pertama kali aku dinyatakan buta dan lumpuh. Aku bahkan ingin mengakhiri hidupku hari itu juga. Hari demi hari kulalui dengan penuh tangisan, kesedihan bahkan aku begitu rapuh dan tidak ingin bertemu dengan siapapun termasuk ayah, bunda dan ayahku. Untungnya mereka selalu memberiku dukungan dan motivasi untuk menjalani hidupku dengan baik. Dari situ aku percaya kepada Tuhan, bahwa ada hikmah dibalik semua ini. Aku menjadi sadar bahwa aku banyak dosa dimasa lalu dengan orang-orang di sekitarku, mulai dari menghambur-hamburkan uang ayah, membentak atau menghina para pelayan jika sedikit saja melakukan kesalahan, bahkan aku tidak segang-segang memecat mereka. Sunggah aku benar-benar jahat bahkan sampai sekarang para pelayan tidak ada yang ingin menyapaku”ucap Lexa dengan mata berkaca-kaca.


Ziva hanya mampu mengelus punggung sang kakak untuk tetap tegar dan semangat menjalani hari-harinya.


“Lambat laun aku mulai membuka diri, aku bahkan ingin menghirup udara luar rumah sakit. Untungnya Baby sister suruhan ayah merawatku dengan baik. Dia selalu membawaku ke taman rumah sakit untuk menghirup udara segar dari taman rumah sakit. Dan saat itulah aku bertemu dengan seorang lelaki, lelaki itu selalu menghiburku hampir setiap hari, dan selalu meminta maaf setiap kali berbicara denganku, bahkan baby sister dan para suster selalu mengatakan bahwa lelaki itu tampan. Bahkan dokter dan suster yang merawatku selama ini, mengatakan bahwa lelaki itu yang selalu menjengukku di saat aku koma. Akupun mulai senyum-senyum sendiri bila berada di kamar inapku membayangkan bagaimana wajah lelaki itu, Entah mengapa setiap berada di dekatku jantungku selalu berdegup kencang, mungkinkah aku jatuh cinta kepadanya. Perlahan aku melupakan penderitaanku, bahkan aku merahasiakan semua ini dari ayah” ucap Lexa yang kembali tersenyum mengingat kejadian itu.


“Hingga suatu saat, lelaki itu mengatakan sesuatu diluar dugaanku, bahwa dialah yang membuatku cacat. Senyum yang berada di wajahku menjadi pudar mendengar ucapannya. Perlahan aku mulai mendorong kursi rodaku dan tidak ingin lagi bertemu dengannya hingga aku terjatuh dan membuat tangan dan kakiku lecet. Lelaki itu tetap menolongku, bahkan tetap berusaha menemuiku di rumah sakit. Aku bahkan terus mengatakan bahwa aku sangat membencinya, namun berbeda dengan hatiku yang selalu ingin bersamanya…..dan akhirnya aku memaafkan lelaki itu, karena aku benar-benar mencintai lelaki itu dan tidak ingin kehilangan dirinya” ucap Lexa sambil bernapas lega.


“Aku tidak tahu nama aslinya, karena dia merahasiakan identitasnya. Tapi aku selalu memanggilnya tuan tampan dan dia selalu memanggilku nona Lexa. Jadi pikirkanlah baik-baik ziv, kita tidak tahu cinta itu kapan datangnya. Aku hanya tidak ingin kau menyesal, karena cinta itu butuh perjuangan dan pengorbanan”ucap Lexa yang menepuk punggung Ziva.


“Aku akan berusaha memaafkannya. Terima kasih kak Lexa sudah berbagi kisah denganku dan aku akan tetap menjadi pendegar setiamu” ucap Ziva sambil memeluk Lexa.


“Jangan sungkan-sungkan untuk cerita denganku, soal agama aku memang belum bisa hijrah seratus persen, tapi insyaallah aku akan tetap berusah menjadi seperti dirimu ziv yang berakhlak baik dan agamis” ucap Lexa yang kembali mengeratkan pelukannya dan merasa lega menceritakan semua itu kepada adiknya Ziva.


Semua yang dikatakan kak Lexa benar, aku membenci suamiku tapi…entah mengapa aku merindukannya saat ini. Batin Ziva.


Kini Ziva berada di kamar kakeknya, ia lebih suka tidur di kamar itu. Dan terkadang ia memimpikan kakeknya. Sungguh bahagia ia bila bisa bertemu langsung dengan sang kakek.


“Aku sangat senang menempati kamar kakek, semoga bisa memimpikan kakek lagi” ucap Ziva yang sedang membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


“Bagaimana ya kabar mama dan suamiku. Aku menjadi rindu kepada mereka. Ya Allah berilah mereka kesehatan dan keselamatan, semoga mereka selalu berada di jalan mu Ya Allah..amin”ucap Ziva lalu memejmkan matanya.

__ADS_1


Sementara Darren mulai terlihat tidak bersemangat menjalani hari-harinya. Sejak kepergian Ziva, Darren begitu marah dan tersulut emosi bahkan ia ingin menyusul Ziva hari itu juga dan membawanya kembali. Untungnya kedua orang kepercayaannya dengan cepat menghentikannya. Mereka mulai memberikan jalan keluar untuk tuannya agar menjadi tenang. Mereka meminta tuannya untuk berubah terlebih dahulu sebelum menumui istrinya dan bisa dikatakan lebih banyak bersabar menunggu kepulangan istrinya. Namun Darren tidak mempedulikan ucapan mereka, ia masih tersulut emosi dan akan tetap menemui istrinya. Untungnya masalah perusahaan mampu menghentikan sang penguasa Alexander Group.


Tidak hanya itu, rencana pernikahan Fino dan Sarah dengan terpaksa di undur selama sebulan ke depan. Karena kondisi nyonya Ratu yang sedang kurang sehat akhir-akhir ini yang selalu memikirkan putra dan menantunya. Bahkan Nyonya Ratu tidak ingin berpesta tanpa kehadiran sang menantu. Sedangkan Sarah begitu senang dengan kabar tersebut, ia merasa senang Ziva kembali bersama keluarganya.


Tapi di lain sisi, Darren terus memikirkan Ziva, entah mengapa pikirannya sudah dipenuhi gadis yang bernama Zivanna Damanik yang sudah berstatus menjadi istrinya. Ia menyesali perbuatannya selama ini. Sikap Darren semakin dingin terhadap orang sekitarnya, hanya sedikit kesalahan yang diperbuat oleh anak buahnya, maka ia menjadi murka dan bertindak kejam kepada mereka. Tidak hanya itu, sejak pulang dari perjalanan bisnis beberapa hari yang lalu, kini hampir setiap malam Darren pulang larut malam, bahkan terkadang lebih memilih menginap di kantornya. Jones dan Milan merasa kasihan melihat tingkah laku tuannya akhir-akhir ini.


“Persiapkan keberangkatan kita besok, aku sudah tidak sabar untuk bertemu istriku. Dan semoga dia bisa memaafkanku dan menerimaku kembali atas apa yang aku perbuat kepada keluarganya. Kalian boleh pulang, aku masih ingin disini” ucap Darren dengan wajah lelah, rambut acak-acakan dan setelan jasnya yang sudah di lempar ke sembarang arah, bahkan kemejanya terlihat berantakan yang sama sekali bukan ciri khas seorang Darren yang selalu tampil rapi dan keren kapan pun itu.


Mereka berdua mulai meninggalkan tuannya dengan perasaan sedih pastinya. Untuk pertama kalinya mereka melihat tingkah laku tuannya yang berubah drastis akhir-akhir ini, hanya gara-gara ditinggalkan sang istri.


“Sungguh Nona Ziva membuat tuan Darren menjadi frustasi dan tambah mengerikan. Bagaimana ini, kalau sampai nona Ziva meminta cerai dan tidak ingin lagi bersama tuan Darren, maka tamatlah riwayat kita berdua”ucap Jones yang memikirkan nasibnya.


“Jangan berkata seperti itu bang jones, kita harus menyatukan mereka. Bagaimana pun caranya, aku tidak tega melihat tuan Darren seperti itu, tuan benar-benar merindukan nona Ziva bahkan sudah mencintainya. Kita harus mempertemukan mereka secepatnya. Jangan sampai seseorang memanfaatkan kondisi seperti ini” ucap Milan.


“Betul, ada seseorang yang mencoba mengadu domba tuan Darren dengan ayah Nona Ziva. Untungnya kau cerdik bisa menangkap mereka” ucap Jones.


“Ya aku sudah melenyapkannya, tapi kita belum tahu siapa dalangnya semua ini. Pasti orang tersebut memiliki kekuasaan. Dan kecurigaanku tertuju pada tuan Zayn, aku belum sepenuhnya yakin tapi aku sedang menyelidikinya.” Ucap Milan yang sudah berlalu masuk ke dalam lift bersama Jones.


“Jangan lupa datang lebih awal ke kediaman tuan, dan persiapkan semuanya dengan baik bang” ucap Milan.


“Baik boss Milan, semuga usaha kita mempertemukan mereka berjalan dengan lancar” ucap Jones sambil melakukan tos dengan Milan.


Sedangkan Darren masih duduk di kursi kebesarannya, sebungkus rokok ia timang-timang. Ia ingin menghisapnya untuk menghilangkan kegalauannya, tapi sampai saat ini ia belum bisa melakukannya. Pertama bisa-bisa ia menjadi kecanduan, kedua dapat merusak organ tubuhnya dan ketiga ia sangat mencintai kesehatannya. Ia lalu membuka bungkus rokok tersebut lalu mengeluarkan seluruh isinya. Kemudian menghancurkan seluruh batang rokok tersebut, lalu melemparnya ke sembarang arah.


“Akhhhh, aku sangat merindukanmu Zivanna” teriak Darren histeris sambil meninju-ninju dinding tembok hingga darah segar mengalir di kepalan tangannya, ia terus melakukannya berulang-ulang hingga puas. Setelah merasa puas, dinding tembok di jadikan pelampiasan, ia lalu berjalan ke toilet untuk membersihkan darah segar di tangannya.


Sungguh…rindu memang berat bagi orang yang memikirkannya, namun rindu menjadi-jadi bagi orang yang sangat di cintainnya.


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2