Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Perjodohan


__ADS_3

Perusahaan Damanik kembali beroperasi dengan baik. Tuan Alvin hanya mampu bersyukur kepada Tuhan, karena masih memiliki kesempatan untuk menjalankan kembali perusahaan nya. Masalah dalam perusahaannya mampu ia atasi bersama sahabat sekaligus rekan bisnisnya yang tidak lain adalah tuan Abdullah Syafei yakni pebisnis yang berasal dari timur tengah.


Sementara Ziva dan ibunya sudah diperbolehkan untuk mengunjungi Lexa di rumah sakit beberapa Minggu ini. Seperti saat ini, sehabis mengajar di kampus university HZ, Ziva akan di jemput oleh ibunya yang pastinya dengan pengawalan ketat. Kemudian mereka menuju rumah sakit untuk menemui Lexa.


Kini mereka sudah berada di depan ruangan Lexa di rawat selama berada di rumah sakit ternama di negara itu.


Tampak seorang gadis dengan rambut yang tergerai indah yang duduk di kursi roda dengan tatapan kosong tanpa adanya masa depan. Karena bagaimana lagi ia sudah menjadi gadis cacat dan tidak ada lagi yang bisa ia banggakan pada dirinya.


"Assalamualaikum" ucap Ziva dan nyonya Ira dengan kompak.


"Waalaikumsalam" jawab Lexa yang mencari-cari sumber suara tersebut.


"Bunda, Ziva" ucap Lexa yang sedikit tersirat kebahagiaan di wajah cantiknya saat mendengar suara yang sangat ia kenali.


Kemudian nyonya Ira memeluk putrinya. Begitu pun Ziva juga ikut memeluk mereka.


"Bagaimana kabarmu nak".


"Aku baik bunda, terus Daddy mana" ucap Lexa yang mencari keberadaan ayahnya.


"Ayah mu sedang sibuk di kantor, mungkin besok akan menemui mu nak". Ucap nyonya Ira yang duduk di kursi ruangan itu.


"Bagaimana dengan terapi yang kak Lexa jalanan" tanya Ziva.


"Terapinya cukup bagus, sedikit demi sedikit aku mampu menggerakkan kakiku" ucap Lexa.


"Alhamdulillah syukurlah kalau begitu" ucap Ziva penuh syukur.


"Kata dokter aku hanya perlu menjalani terapi selama 2 bulan di rumah sakit ini. Walaupun sepenuhnya aku tidak bakal berjalan dengan normal pastinya".


"Semua akan baik-baik saja nak" ucap nyonya Ira dengan mata berkaca-kaca. Kemudian menyajikan makanan yang sempat ia bawa dari rumah di meja.


"Lebih baik kak Lexa makan dulu, bunda sudah memasak semua menu kesukaan kakak" ucap Ziva.


Lexa kemudian mengangguk dan kembali keceriaan menghiasi wajahnya. Dengan penuh kasih sayang, nyonya Ira mulai menyuapi putrinya. Lexa dengan lahap menyantap makanan buatan ibunya.


Memang diawal-awal Lexa begitu iri kepada Ziva karena menganggap Ziva merebut kedua orang tuanya. Namun seiring berjalannya waktu beberapa hari ini, Lexa sudah mulai bersikap baik kepada Ziva.


Tidak hanya itu, Ziva sendiri selalu menunjukkan kasih sayang kepada Lexa dan menjadi adik yang baik untuk kakaknya. Bahkan setiap mengunjungi Lexa di rumah sakit tak henti-hentinya Ziva memberikan motivasi dan dorongan untuk Lexa kedepannya menjalani kehidupan nya.


Walaupun tidak sepenuhnya motivasi yang diberikan Ziva mampu Lexa terapkan. Karena bagi seorang Lexa hidupnya tidak berarti lagi di dunia ini. Ia hanya mampu berbuat baik disekitarnya tanpa adanya masa depan yang cerah.


Setelah selesai melepas rindu dan mengobrol bersama dengan Lexa. Kemudian ibu dan anak itu meninggalkan rumah sakit.


Saat perjalanan pulang ke kediaman mereka. Tak lupa Ziva dan ibunya mampir ke sebuah masjid untuk menunaikan shalat Maghrib. Setelah selesai menjalankan ibadahnya. Kemudian Ziva dan nyonya Ira berjalan menuju parkiran di mana supir pribadinya sedang memarkirkan mobilnya.


"Kalian ada disini" ucap tuan Alvin yang baru saja keluar dari masjid bersama Riko dan tuan Abdullah.


"Iya mas, kami habis menjenguk Lexa, terus mampir di masjid ini untuk menunaikan shalat Maghrib" ucap nyonya Ira.


"Bagaimana kondisi Lexa, karena saya belum sempat temui dia di rumah sakit semenjak saya berada di negara ini" ucap tuan Abdullah

__ADS_1


"Alhamdulillah kondisi nya semakin membaik tuan".


"Syukurlah kalau seperti itu. Siapa gadis di samping anda nyonya"


"Oh iya kenalin ini anak saya Zivanna Damanik" ucap tuan Alvin yang memperkenalkan putrinya.


"Ziva om" ucap Ziva dengan ramah sambil mengatupkan kedua tangannya sebagai tanda salam.


"Wah kau sudah menjadi gadis pintar rupanya, mungkin sekarang kau tidak mengenali om, karena dulu kau masih kecil dan belum tau apa-apa, ayahmu sedikit cerita tentang dirimu bahwa kau seorang Dosen dan memiliki bisnis kuliner di negara tetangga ya" ucap tuan Abdullah.


"Iya benar om dan terima kasih atas pujiannya om" ucap Ziva.


Tuan Abdullah hanya tersenyum ke arah Ziva dan sedikit terkejut karena kedua putri sahabatnya memiliki kepribadian yang jauh berbeda.


"Kalau begitu kami permisi dulu ya. Tuan Abdullah jangan lupa mampir ke kediaman kami" ucap nyonya Ira ramah.


Tuan Abdullah lagi-lagi tersenyum sebagai jawabannya.


Kemudian Ziva dan ibunya meninggalkan tempat itu dan mobil melaju menuju kediaman Damanik.


"Hati-hati sayang" teriak tuan Alvin yang melambaikan tangannya.


Kemudian tuan Alvin dan tuan Abdullah masuk ke dalam mobil yang sama. Sementara 2 mobil lainnya hanya mengekor di belakang. Dan mobil pun melaju menuju tempat kediaman tuan Abdullah. Suasana di dalam mobil begitu hening tanpa adanya obrolan.


"Zivanna Damanik memberikan sebuah perubahan di keluarga Damanik" ucap tuan Abdullah yang mulai angkat bicara.


"Ya seperti anda lihat" ucap tuan Alvin yang tersenyum.


"Aku sedang mencari pasangan untuk putraku, sepertinya putrimu sangat cocok menjadi pendamping putraku".


"Kalau masalah itu tuan, lebih baik anak kita yang menentukan pasangannya" ucap tuan Alvin yang sedikit menolak semua itu.


Sementara Riko yang fokus menyetir tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.


Mengapa tuan Abdullah ingin menikahkan putranya dengan nona Ziva. Batin Riko.


"Putraku sudah cukup umur untuk menikah, aku sangat ingin kita menjadi sebuah keluarga dekat dengan cara menikahkan anak-anak kita".


"Sepertinya anda sudah sampai. Untuk masalah anak-anak, lain kali kita bicarakan tuan Abdullah"


"Baiklah saya akan menunggu jawabannya besok. Semoga anakmu setuju dengan perjodohan ini".


Tuan Alvin hanya terdiam, tanpa mengucapkan sepatah katapun pun. Sementara Tuan Abdullah berganti mobil untuk masuk ke kediaman nya dengan pekarangan yang super luas pastinya, jika berjalan kaki akan menempuh jarak yang cukup jauh pastinya.


Sementara mobil yang membawa tuan Alvin kembali melaju menuju kediamannya. Di sepanjang perjalanan tuan Alvin hanya terdiam hingga tiba di mansion mewahnya.


Kemudian Riko turun untuk membukakan pintu untuk tuannya.


"Tuan Alvin kita sudah sampai" ucap Riko yang melihat tuannya hanya melamun.


Tanpa menjawab kemudian tuan Alvin keluar dari mobil.

__ADS_1


"Oh iya Riko, bagaimana menurut mu tentang putra Tuan Abdullah" ucap tuan Alvin kepada sahabatnya sekaligus sekertaris pribadinya.


"Saya tidak terlalu mengenal putranya tuan, karena ia berada di negara A untuk mengembangkan bisnis ayahnya. Yang jelas putra tuan Abdullah bernama Zayn Syafei dan profesi sampingannya tidak jauh beda dengan nona Ziva, karena kebetulan dia pernah mengajar Lexa di kampus universitas HZ" ucap Riko.


"Jadi seperti itu, terima kasih untuk hari ini Riko. Lebih baik kau istirahat"


"Baik tuan"


Lalu tuan Alvin masuk ke dalam mansion nya. Kemudian berjalan menuju kamarnya dan tak sengaja matanya tertuju kepada istri dan anaknya yang sedang menyajikan makanan di meja makan bersama beberapa pelayan.


Apa aku harus merelakan putriku untuk menikah dengan putra tuan Abdullah. Dan pastinya ia akan meninggalkan ku dan memulai hidup baru. Ya Allah apa yang harus kulakukan. Batin tuan Alvin.


"Mas sudah pulang" ucap nyonya Ira yang mengagetkan suaminya lalu mencium punggung tangan suaminya.


"Iya sayang, mas masuk ke kamar dulu".


Nyonya Ira hanya mampu tersenyum, kemudian bergabung dengan Ziva dan tuan Harris di meja makan.


Kini mereka sudah lengkap di meja makan dan menikmati makan malam tanpa adanya obrolan. Setelah selesai makan malam bersama. Kemudian mereka mengobrol di ruang keluarga untuk bercanda gurau.


"Ziva ke kamar dulu ya Bun, soalnya mbak Luna dan Raihan mengirimkan Ziva email tentang laporan keuangan Ziva food" ucap Ziva menjelaskan perihal bisnis kuliner nya.


"Iya nak, jangan lupa istirahat dan jangan terlalu sibuk kerja ya" ucap nyonya Ira.


"Lihatlah cucuku gadis yang pekerja keras. Mungkin para lelaki akan beruntung memiliki istri seperti cucuku, dan tidak lama lagi kamu pasti menikah dan memberiku cicit ha ha ha ha" ucap tuan Harris yang selalu saja menggoda cucunya.


"Kakek" ucap Ziva cemberut kemudian berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Nyonya Ira ikut tersenyum, sementara tuan Alvin hanya terdiam. Ia kembali memikirkan ucapan tuan Abdullah.


"Ada masalah mas"


"Hemm, ini menyangkut Ziva"


"Ada apa dengan cucuku" timpal tuan Harris.


"Tuan Abdullah ingin menikahkan putranya dengan putriku. Kalian tahu sendiri bahwa tuan Abdullah selalu membantu perusahaan ku. Tapi aku tidak ingin menikahkan putriku layaknya pernikahan bisnis. Apa yang harus aku lakukan".


"Terima saja perjodohan itu, lagian itu merupakan niat baik dari Abdullah yang ingin menjadikan Ziva sebagai menantunya. Satu hal lagi, Abdullah dari keluarga baik dan ayah yakin anaknya tidak jauh berbeda dengan orang tuanya" ucap tuan Harris.


"Tapi ayah Ziva masih gadis kecil, dan belum..."


"Jangan sia-siakan niat baik seseorang. Mungkin ini adalah jodoh yang digariskan Tuhan untuk cucuku. Ditambah ayah sudah tua dan impian terakhir ayah melihat cucuku menikah" potong tuan Harris.


"Iya sayang sepertinya ucapan Ayah benar" ucap nyonya Ira.


"Baiklah jika seperti itu, berarti kita semua setuju menikahkan Ziva dengan putra tuan Abdullah" ucap tuan Alvin.


"Siapa yang ingin menikah" ucap seorang gadis di ujung tangga.


Bersambung.

__ADS_1


Maaf jarang update, soalnya aku sibuk bantuin emak jualan takjil 🙏🙏


Jangan lupa saran yang membangun untuk cerita ini.


__ADS_2