Mafia Vs Gadis Bercadar

Mafia Vs Gadis Bercadar
Kembalinya ke negara A


__ADS_3

Keesokan harinya


Ziva dan Darren mulai bersiap untuk berangkat ke bandara. Rupanya mereka akan kembali ke negara A hari ini juga. Kini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga untuk berpamitan terlebih dahulu kepada kedua orang tua Ziva.


Nyonya Ira masih saja memeluk putri tercintanya, bagaimana pun seorang ibu merasa tidak rela jika putrinya meninggalkan kediaman nya.


Tapi kini putrinya bukan lagi tanggung jawab nya, karena sudah memiliki suami. Lexa hanya mampu menggenggam tangan Ziva.Sedangkan Tuan Alvin sedang berbincang-bincang dengan Darren. Untuk memberi nasihat kepada menantunya itu, agar tetap menjaga keutuhan rumah tangga mereka.


Setelah itu, mereka pun berpamitan, lalu saling memeluk satu sama lain. Lagi-lagi suasana haru menyelimuti mereka. Ziva memeluk erat kedua orang tuanya dengan mata berkaca-kaca, iapun merasa sedih akan meninggalkan mereka.


"Jaga dirimu nak, kapan-kapan kalian berkunjung ke sini" ucap nyonya Ira dengan penuh haru.


"Iya bunda, Ziva janji akan mengunjungi bunda" ucap Ziva dan air matanya berhasil lolos membasahi wajahnya.


Kini tuan Alvin merangkul Darren sambil menepuk pundaknya.


Darren pun tersenyum dengan tingkah ayah mertuanya yang mulai menerimanya.


"Jaga Ziva ku dengan baik, karena kau bertanggung jawab atas dirinya" ucap tuan Alvin.


"Pasti ayah, aku akan membahagiakan Zivanna" ucap Darren.


Setelah selesai berpamitan, Darren dan Ziva mulai berjalan menuju pintu utama. Nyonya Ira, Tuan Alvin dan Lexa mengantar mereka menuju pintu utama, dengan wajah murung.


Mobil pun tampak terparkir di halaman rumah.


Jones dengan sigap membuka pintu mobil, saat melihat kedatangan tuannya.


Darren dan Ziva masuk ke dalam mobil, setelah itu, jones pun ikut masuk dan duduk di samping supir.


Mobil pun melaju meninggalkan pelataran rumah tuan Alvin. Seluruh keluarga Ziva melambaikan tangan tanda perpisahan mereka. Ziva hanya mampu menatap mereka dari balik jendela mobil dengan mata berkaca-kaca.


Darren lalu merangkul istrinya, dan memegang tangan nya dengan erat. Sesekali ia mencium punggung tangan sang istri agar bisa tenang.


Kini mereka sudah berada di dalam pesawat jet pribadi Darren, yang akan membawanya ke negara tujuan yakni negara A dengan jarak tempuh sekitar 4 jam lamanya.


Sementara di tempat lain.....


Seorang gadis yang baru saja berstatus sebagai seorang istri, mulai mengerjakan matanya. Penglihatannya masih tidak begitu jelas dengan kepala sedikit pusing pastinya.


Ia baru saja terbangun tepat pukul 13.00 waktu setempat. Milan mulai mengumpulkan kesadarannya, sambil merentangkan otot-ototnya yang sedikit kaku.


Ia pun mulai mengumpulkan kesadarannya, melihat sekeliling ruangan. Kemudian Milan kembali memegangi kepalanya yang masih terasa berat, lalu penglihatannya beralih kepada tempat tidur yang ia gunakan.


Deg

__ADS_1


Bagaikan tersambar petir disiang bolong dan


betapa terkejutnya Milan, saat mendapati dirinya hanya mengenakan Selimut. Ia pun mulai duduk di tempat tidur sambil melihat kondisi tubuhnya. Dada nya terasa sesak, bahkan ia kesulitan bernafas saat melihat kondisi tubuhnya yang polos di penuhi tanda kiss m**k, terdapat gigitan dibahu dan lehernya, bahkan mahkota berharganya telah direnggut.


Milan langsung menutup mulutnya dengan menggunakan telapak tangannya di barengi dengan mata yang berkaca-kaca. Ia begitu shock mendapati dirinya yang habis saja mendapatkan tindak pelecehan atau pemerkosaan. Milan sama sekali tidak tahu menahu tentang kejadian yang menimpa dirinya. Bahkan ia tidak tahu siapa lelaki yang sudah merenggut mahkotanya.


Dengan tubuh remuk, Milan lalu melilitkan tubuhnya dengan selimut, kemudian iapun turun dari tempat tidur dengan langkah tertatih. Walaupun selangkanya terasa sakit, tapi tetap saja ia tidak hiraukan. Milan mencari pakaian yang bisa ia gunakan, ia hanya mampu melihat kimono yang tergeletak di lantai. Ia lalu berjongok mengambil kimono itu, lalu memakainya tanpa menggunakan dalaman dengan perasaan marah dan hati yang terluka.


Setelah itu, ia mendapati kunci mobil dan ponselnya berada di sofa kamar itu, entah siapa yang menaruhnya. Milan lalu menyambarnya dan mulai berjalan tertatih meninggalkan kamar VVIP itu, tanpa memperdulikan tampilannya yang berantakan. Milan terus berjalan dengan buru-buru di setiap lorong club malam tersebut, hingga ia tidak sengaja menabrak dada bidang pengunjung lelaki club tersebut.


“Maaf nona saya tidak sengaja”ucap Seorang lelaki yang baru saja menabrak Milan.


Sementara Milan sama sekali tidak menimpali ucapan lelaki itu. Ia kembali berjalan buru-buru agar cepat meninggalkan club malam itu, kalau perlu ia ingin lenyap dari bumi hari itu juga.


“Gadis tadi lumayan juga, ia terlihat seksi menggunakan kimono itu. Sepertinya aku harus setiap hari berkunjung di club ini, agar bisa bertemu kembali dengannya”ucap lelaki itu sambil tersenyum memegangi ujung bibirnya yang terus menatap kepergian Milan.


Milan sudah berada di dalam mobilnya, ia kembali memukul-mukul stri mobilnya dengan perasaan marah dan hancur mendapati dirinya seperti itu. Lalu ia pun menancap gas dan berlalu meninggalkan club malam tersebut yang berkendara dengan kecepatan tinggi.


Hanya 30 menit Milan sudah sampai di apartemennya. Kini ia sudah berada di dalam toilet dengan tubuh basah dari guyuran air shower. Milan mulai menumpahkan amarahnya dengan menangis di dalam toilet, tubuhnya sudah merosot di lantai, dengan dada yang terasa sesak. Guyuran dari air shower menjadi saksi dirinya bahwa ia telah hancur.


“Ayah, ibu maafkan aku yang tidak bisa menjaga kehormatanku, hiks hiks hiks”ucap Milan dengan tangis yang mulai pecah.


Ia bahkan mengosok tubuhnya dengan keras yang sedang tersulut perasaan marah, kesal yang semuanya bercampur menjadi satu.


"Aku akan membunuh lelaki brengsek yang sudah menodai ku"ucap Milan dingin dengan mata memerah.


Ia sama sekali tidak bergeming di bawah guyuran air. Entah berapa lama ia berada di dalam toilet untuk melampiaskan amarahnya. Bahkan cacing-cacing di perutnya sudah berdemo, tapi tetap saja dihiraukan, bagaimana pun ia sedang tertimpa musibah. Milan sama sekali tidak berselera untuk makan.


Di kediaman Alexander


Seluruh pelayan terlihat sibuk untuk menunggu kedatangan Darren dan Ziva yang sebentar lagi akan sampai. Nyonya Ratu tampak bahagia memilah bunga mawar yang akan ia rangkai.


“Aku sudah tidak sabar menunggu kedatangan mereka”ucap Nyonya Ratu sambil tersenyum dengan penuh kebahagiaan.


Tak berselang kemudian, 3 mobil yang menjemput Ziva dan Darren dari bandara sudah memasuki pelataran rumah di kediaman Alexander. Kepala pelayan mulai melapor kepada Nyonya Ratu bahwa Darren dan Ziva sudah tiba, dengan riang gembira Nyonya Ratu berlari kecil untuk menyambut kedatangan mereka. Tampak para pelayan tengah berbaris rapi menunggu kedatangan mereka.


Ziva dan Darren turun dari mobil, mereka tampak tersenyum melihat nyonya Ratu menyambutnya. Ziva lalu mengucapkan salam kepada ibu mertuanya sambil mencium punggung tangan nyonya Ratu.


“Selamat datang sayang di kediaman Alexander”ucap Nyonya Ratu dengan senyum bahagianya lalu memeluk Ziva dengan penuh kasih sayang.


Ziva hanya mampu tersenyum di balik cadarnya.


“Sudah ma, lebih baik kita masuk. Zivanna butuh istirahat”ucap Darren yang berjalan terlebih dahulu memasuki rumahnya.


“Iya-iya, cepat bawa istrimu ke kamar”teriak Nyonya Ratu.

__ADS_1


Lalu Darren pun menghentikan langkahnya dan berbalik menunggu Ziva yang sedang berjalan menyusulnya. Saat Ziva sudah berada di sampingnya dengan sigap Darren lalu menggendong tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam lift yang akan membawanya naik ke lantai 4.


Sementara nyonya Ratu hanya tersenyum melihat tingkah laku Darren terhadap Ziva.


"Tidak lama lagi, aku akan mendapatkan cucu dari mereka" ucap nyonya Ratu sambil tertawa kecil lalu kembali melanjutkan kegiatannya merangkai bunga mawar.


Sementara di kamar Darren....


Ziva baru saja membersihkan tubuhnya, ia sudah mengenakan pakaian santai. Sedangkan Darren sudah berada di atas tempat tidur yang sedang menyandarkan punggungnya di badboard tempat tidur sambil menatap ke arah Ziva yang tengah menyisir rambut panjang nya.


"Zivanna".


"Hemm".


"Kau cantik" ucap Darren sambil terkekeh.


"Aku tahu, kau selalu mengatakan seperti itu" ucap Ziva lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tempat tidur.


Ziva pun duduk di tempat tidur di samping suaminya. Darren lalu menarik tubuh Ziva ke dalam pelukannya.


"Aku mencintaimu Zivanna" ucap Darren yang lagi-lagi mencium pipi kanan Ziva.


Ziva hanya mampu tersenyum dengan perlakuan suaminya.


"Hadiah apa yang akan kau berikan kepada kak Fino di hari pernikahan nya"tanya Ziva.


"Apa ya, aku belum memikirkan nya. Bagaimana kalau apartemen saja, lagian dia juga memberiku apartemen" ucap Darren yang tengah mengelus rambut panjang Ziva.


"Kok sama, harusnya bedalah" ucap Ziva sambil mendongak menatap Darren.


"Tidak masalah sayang, lagian aku pun tidak tahu harus memberi nya hadiah yang seperti apa" ucap Darren sambil mencubit pipi Ziva dengan gemes.


"Bagaimana kalau tiket hanymoon ke suatu negara" ucap Ziva antusias.


"Tidak perlu, Fino bukan lelaki yang romantis yang ingin berbulan madu ke luar negeri. Dia sama seperti ku sayang" ucap Darren sambil mencium pipi Ziva lagi.


"Apa kak Fino menyukai Sarah" tanya Ziva yang ingin tahu tentang mereka.


Darren hanya mampu mengangkat bahunya acuh dan mulai memejamkan matanya, akibat kelelahan perjalanan jauh.


"Jangan mencampuri urusan orang lain. Apa kau tidak ingin beristirahat, dari tadi kau terus saja mengajakku berbicara. Beristirahat lah atau aku akan membuatmu lelah untuk melayani ku"ucap Darren sambil memejamkan matanya yang merupakan tanda ancaman untuk Ziva.


"Baiklah mas Alexander, aku tidak akan berbicara lagi" ucap Ziva yang mengerucutkan bibirnya, padahal ia ingin tahu banyak tentang Sarah.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2