
Darren menghampiri ibunya yang sedang sarapan bersama Fino di ruang makan.
"Pagi ma". ucap Darren sambil mencium pipi ibunya
"Pagi sayang, ayo sarapan bersama kami" ucap nyonya Ratu yang terlihat bahagia.
"Aku sudah sarapan bersama istri ku ma"ucap Darren sambil melirik Fino yang sedang menikmati sarapan nya.
"Mama tidak akan membiarkan mu ke kantor sebelum sarapan bersama kami" ucap nyonya Ratu yang kekeh. " Oh iya Ziva mana" ucap nyonya Ratu dengan penuh selidik,karena tidak melihat keberadaan Ziva.
Tak berapa lama kemudian, muncullah Ziva yang membawa tas kantor Darren.
"Pagi semua". ucap Ziva yang tersenyum di balik cadarnya.
"Ini baru hari pertama kalian menikah, mengapa kau sudah memperlakukan menantuku seperti ini. Menantuku Ziva berikan tas itu kepada Darren, kau itu seorang ratu di rumah ini, kau tidak boleh disuruh oleh Darren. Kau pasti lelah melayaninya semalam, mama tidak ingin kau capek dan lelah. Tidak baik untuk pengantin baru seperti mu bekerja keras, yang perlu kau lakukan hanya duduk manis dan memberiku cucu" ucap nyonya Ratu panjang lebar sambil tersenyum.
Sementara Fino keselek mendengar ucapan ibunya. Darren hanya mampu memasang wajah datar. Sedangkan Ziva menunduk malu mendengar ucapan ibu mertuanya.
"Duduklah, tidak baik menolak makanan" ucap nyonya Ratu dengan suara rendah yang memerintah mereka untuk sarapan bersama.
Tanpa membantah apalagi menolak, sepasang suami istri itu ikut sarapan bersama. Mereka terlihat romantis dengan menikmati sarapan sepiring berdua.
Fino yang melihat mereka tampak irih, dengan cepat ia menghabiskan sarapan nya. Lalu ia langsung meminum segelas susu hanya sekali tegukan. Dan buru-buru meninggalkan mereka, karena terbakar api cemburu.
"Habiskan susu dan kopi itu" ucap Darren dingin yang mulai bangkit dari duduknya.
"Ma aku berangkat dulu"ucap Darren sambil mencium pipi ibunya.
"Loh kok kamu hanya pamit sama mama, kau juga perlu pamit sama istrimu"ucap nyonya Ratu yang memegang tangan putranya.
"Aku berangkat dulu" ucap Darren dingin yang melirik Ziva.
Ziva hanya mampu mengangguk. Karena mulutnya sudah di penuhi makanan. Sedangkan Darren berlalu meninggalkan mereka.
"Darren memang bersikap seperti itu nak. Sepertinya hubungan kalian sudah membaik " ucap nyonya Ratu sambil tersenyum.
"Alhamdulillah ma".
"Bagaimana, apa Darren membuat mu begadang" tanya nyonya Ratu dengan penuh selidik.
Ziva jadi bingung mau jawab apa, lagian ia tidak begadang sama sekali.
"Mama cuman bercanda" ucap nyonya Ratu tertawa, karena ia mampu membaca pikiran Ziva.
Sementara di perusahaan Alexander Group.
Darren baru saja tiba di perusahaan nya. Ia malah berdiri di lobi perusahaan melihat satu persatu para karyawan yang mulai berdatangan.
Sementara Jones dan Milan ikut berdiri di belakang tuannya.
"Tuan Darren, mengapa kita berdiri di sini" tanya Jones.
Darren hanya mengangkat tangannya untuk menyuruh jones diam.
Para karyawan tampak takut melihat sosok direktur sedang berdiri di lobi. Sehingga bagi mereka yang datang terlambat jadi takut dan terlihat panik.
Darren hanya asik melihat para karyawan mulai memasuki perusahaan. Darren terus memicingkan penglihatannya khususnya karyawan yang sudah berkeluarga sedang bercengkrama dan berpamitan kepada keluarga mereka seperti anak dan istrinya.
"Sepertinya aku perlu melakukan cara yang sama" gumam Darren sambil tersenyum tipis.
Entah apa yang ia rencanakan untuk istrinya, yang jelas ia akan melakukan cara yang sama seperti yang ia lihat.
Darren lalu mulai berjalan menuju lift khusus petinggi diikuti jones dan Milan yang mengekor di belakangnya.
__ADS_1
"Panggil Pak Handoko ke ruangan ku" ucap Darren yang sedang memainkan ponselnya.
"Baik tuan"ucap jones, kemudian menghubungi Pak Handoko bagian HRD Keuangan di perusahaan Alexander Group.
Pintu lift terbuka, kemudian mereka berjalan bersama-sama menuju ruangan sang direktur.
Jones lalu membukakan pintu untuk tuannya. Setelah itu, ia ikut masuk bersama Milan. Lalu Milan membacakan jadwal sang Direktur hari ini. Setelah itu, mereka lalu undur diri untuk kembali mengerjakan pekerjaan nya.
Tok
tok
tok
"Masuk".
Kemudian pak Handoko dengan hati-hati membuka pintu ruangan itu. Sepanjang perjalanan menuju ruangan sang direktur tak henti-hentinya ia berdoa, kesalahan apa yang ia perbuat sampai-sampai sang direktur memanggilnya ke ruangannya.
"Tuan Darren memanggil saya"ucap pak Handoko dengan hati-hati yang melihat Darren sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Hemm, duduklah terlebih dahulu"ucap Darren dingin sambil menghentikan pekerjaannya.
"Sudah berada lama pak Handoko berumah tangga".
"Sekitar 25 tahun tuan".
"Berapa banyak anakmu".
"Anak saya baru 12 tuan"ucap pak Handoko sambil menunduk.
Darren langsung terlonjat kaget mendengar jawaban pak Handoko.
"APA 12, aku tidak salah dengar"ucap Darren dengan suara meninggi.
Apa gadis buruk rupa itu, bisa memberi ku anak sebanyak itu. Jangankan memberi ku anak, menciumnya saja dia sudah sampai mau mati kehabisan nafas. Aku baru memeluknya saja, kepala ku menjadi batoknya. Batin Darren sambil berdengus kesal.
"Apa kalian saling mencintai".
"Kami saling mencintai tuan, dan hasil dari cinta kami yaitu buah hati kami sekarang ini berjumlah 12 orang tuan".
"Oh baguslah, jones akan memberimu tip untuk kerja keras mu yang menghidupi anak-anak mu sebanyak 12 orang".
"Terima kasih tuan, saya sangat bersyukur atas kebaikan tuan".
"Hemm, sekarang kau boleh pergi" ucap Darren.
Dengan perasaan senang, pak Handoko keluar dari ruangan sang direktur dengan rasa syukur sambil tersenyum ke arah Jones dan Milan yang rupanya sedang menguping pembicaraan mereka.
Sore harinya....
Ziva beserta nyonya Ratu sedang asyik memasak bersama untuk makan malam nanti. Padahal terdapat 3 chef profesional yang bertugas memasak untuk keluarga mereka. Namun hobi nyonya Ratu yang suka masak untuk keluarga mereka yang tidak bisa diganggu gugat. Sehingga para chef tersebut hanya bisa membantunya memberikan resep masakan terbaru dan ikut bantu-bantu.
Selesai masak bersama, kemudian Nyonya ratu mengajak Ziva ke kamarnya.
"Mama sangat senang, kamu menjadi menantu ku" ucap nyonya Ratu yang langsung memeluk Ziva dengan penuh kasih sayang layaknya seorang ibu.
Ziva hanya mampu membalas pelukannya dengan senyum manisnya. Ia menjadi dekat dengan mertuanya yang sudah menganggap nya sebagai putrinya sendiri.
"Mama memintamu untuk membuat Darren berubah. Darren pembawaannya dingin dan cuek kepada orang disekitarnya. Akan tetapi, dia baik hati kepada orang yang dia percaya" ucap nyonya Ratu yang melepaskan pelukannya.
Ziva mulai menatap figura besar keluarga Alexander yang begitu harmonis yang saling merangkul bersama. Dan disana terlihat Darren dan vino masih di bawah umur.
"Itu foto kami, pada saat kami piknik di taman rumah sakit".
__ADS_1
"Dia terlihat tampan" ucap Ziva sambil tersenyum melihat foto Darren yang masih kecil.
"Berjanjilah untuk mengajarkan Darren tentang agama. Karena dia sama sekali buta terhadap agamanya" ucap nyonya Ratu dengan mata berkaca-kaca sambil menggenggam tangan Ziva. "Aku sebagai seorang ibu belum berhasil mendidik putra-putra ku dengan baik. Jadi aku memohon kepada mu nak, buatlah Darren menjadi taat beragama, aku sangat percaya kepada mu" ucap nyonya Ratu dengan penuh harapan.
"Insyaallah ma, tapi aku tidak bisa berjanji. Namun aku akan berusaha untuk membuatnya berubah" ucap Ziva dengan mata teduhnya.
"Terima kasih sayang, kau memang jodoh yang dikirim Tuhan untuk putraku" ucap nyonya Ratu dan kembali memeluk Ziva.
Kini para keluarga tengah berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama sambil menunggu kedatangan Darren yang belum juga pulang dari perusahaannya. Ziva juga ikut menunggu kedatangan Darren dan terlihat jelas dari matanya bahwa ia mengkhawatirkan nya.
"Sepertinya kita makan malam saja. Mungkin Darren masih banyak pekerjaan" ucap Nyonya ratu.
"Benar ma, Darren banyak jadwal untuk bertemu dengan kliennya. Baru saja jones menelpon, bahwa Darren akan pulang larut malam" ucap Fino sambil meminum air putih terlebih dahulu.
Lalu mereka makan malam bersama tanpa menunggu kedatangan Darren. Setelah selesai makan malam bersama, mereka kembali mengobrol di ruang keluarga sambil nonton video masa kecil kakak beradik yang sempat di abadikan.
Mereka semua tertawa melihat momen lucu kakak beradik itu yang hobi berantem.
"Lihatlah adikmu Darren sangat nakal, bahkan membuang mainan mu Fin" ucap nyonya Ratu yang terus tertawa.
Si Alexander sangat lucu, aku tidak bisa bayangkan dia menjadi lelaki dingin dan menjengkelkan seperti sekarang. Padahal dari kecil ia hobi bersembunyi di belakang kakaknya. Tapi jika sudah bosan, dia bahkan memukul Kak Fino tanpa ampun. Batin Ziva sambil geleng-geleng kepala dengan tawa ciri khasnya.
Mereka terus saja tertawa melihat tingkah laku Darren yang selalu memerintah Fino, jika sedang bosan bermain bahkan ia tidak segan-segan memukul Fino.
Aku sangat senang Ziva terlihat bahagia seperti ini. Batin Fino yang melirik ke arah Ziva.
Terdengar langkah kaki seseorang mulai mendekat ke arah mereka. Ziva, nyonya Ratu dan Fino masih saja tertawa terbahak-bahak sampai-sampai mereka tidak melihat keberadaan Darren yang menatap tajam ke arah mereka terutama istrinya yang tengah asyik melihat ke layar televisi.
Sambil mengepalkan tangannya, Darren lebih memilih pergi ke kamarnya. Ia lalu membuka pintu kamarnya dengan kesal, kemudian melepaskan jasnya dan membuangnya ke sembarang arah. Lalu membuka dasinya yang sudah seperti mencekik lehernya melihat istrinya sedang tertawa terbahak-bahak.
Lalu ia berjalan menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Di bawah shower, Darren mulai menenangkan dirinya dan kembali membayangkan Ziva tertawa terbahak-bahak bersama kakaknya Fino hingga terdengar di pintu utama.
"Aku tidak menyangka gadis buruk rupa begitu bahagia bersama Fino" ucap Darren kesal sambil meninju dinding toilet saking kesalnya.
Tak berapa lama kemudian Ziva mulai menaiki lift menuju kamarnya di sepanjang perjalanan ia masih saja tertawa dengan lepasnya.
"Si Alexander sangat menggemaskan, aku seperti ingin mencubit pipi gembul nya. Ha ha ha ha. Aku jadi ingat baby Key...Uuufh aku sangat merindukan baby Key ku" ucap Ziva yang sudah membuka pintu kamarnya.
Ziva tampak celingak-celinguk mencari keberadaan Darren.
"Rupanya dia sudah pulang". Lalu Ziva melihat jas dan dasi Darren yang di lantai. "Seperti ini ni kelakuan lelaki, taruh barang sembarang saja" ucap Ziva lalu mengambil jas dan dasi tersebut, lalu menaruh di keranjang pakaian kotor.
Darren baru saja keluar dari ruang ganti, ia terlihat fresh dengan rambut basah yang tetap saja tidak mengurangi ketampanan nya.
"Kau sudah pulang" ucap Ziva ramah sambil tersenyum melihat Darren. Pikirannya masih pada Darren kecil yang terlihat lucu.
"Kenapa kau tersenyum apa ada yang lucu"ucap Darren dengan suara meninggi.
"Aku baru nonton bocah kecil yang lucu" ucap Ziva tersenyum di selingi tawanya sambil menutup mulutnya agar tawanya tidak cempreng.
Darren langsung mendekati Ziva dan mendorong tubuh Ziva hingga terjatuh di tempat tidur. Kemudian ia pun langsung menindih tubuh Ziva.
Ziva terlonjat kaget, ia pun refleks memukul dada bidang Darren. Dengan cepat Darren mencengkeram tangan Ziva. Pandangan mata mereka kembali bertemu. Darren begitu terpesona dengan kecantikan Ziva begitu halnya Ziva yang menatap dirinya.
"Aku ingin kau hamil" ucap Darren dengan tatapan tajam yang mulai menyentuh wajah Ziva.
"Apa kau bisa membuatku hamil, tapi sebelum itu terjadi, kau harus berguru terlebih dahulu" ucap Ziva dengan tatapan meremehkan.
Sial...aku bahkan lupa berguru kepada pak Handoko hingga bisa memiliki 12 keturunan. Batin Darren yang sempat berpikir.
"Aku akan melakukannya, jadi bersiaplah" ucap Darren dingin dengan seringai licik diwajahnya.
Kemudian ia pun menggeser tubuhnya. Lalu menarik tubuh Ziva dan mendekapnya erat. Ziva hanya mampu membeku, ia merasa nyaman di situasi seperti itu.
__ADS_1
Bersambung......